Traveloka, Jadi Bisa Menjalani LDM di Usia Senja

Tetap tekun bekerja di usia senja

"Pung, kapan pulang? Sudahlah, kerja di sini aja," ucap Nenek di seberang sana.
"Duh, aku ini kan baru mulai. Masih perlu banyak belajar," jelas Opung.
"Ya kirim dong, uangnya," canda Nenek.
"Walah, baru 2 minggu apa yang bisa dikirim?" kata Opung cekikikan.

Dialog di atas mungkin sangat familiar bagi pasangan yang menjalani pernikahan dalam keadaan terpisah jarak tempat tinggal. Long Distance Marriage (LDM) alias Pernikahan Jarak Jauh, istilahnya. Dan kejadian semacam ini bukan hanya monopoli pasangan pengantin baru yang kehidupan ekonominya masih pada tahap merintis. Bahkan pasangan manula seperti Ayah dan Bundaku ini pun masih juga mengalaminya. Beliau berdua yang sejak memiliki cucu pertama jadi kerap saling memanggil dengan sebutan Opung dan Nenek untuk membiasakan cucu-cucunya.
Ya, dinamika hidup siapa yang bisa mengira. Pasang-surutnya alur cerita manusia sangat beragam. Apa pun bisa terjadi pada diri setiap manusia mau pun pasangan. Tanpa mengenal sudah selama apa usia pernikahan mereka.

Setelah mendapat keputusan untuk "istirahat sementara di rumah" dari tempat bekerjanya yang terakhir, praktis Ayah tidak memiliki mata pencaharian. Ayah memahami bahwa istilah "istirahat di rumah" artinya Beliau tidak bekerja dan tidak menerima gaji hingga batas waktu yang tidak dapat ditentukan.
Istilah ini tidak sama dengan pemecatan. Karena suatu saat jika situasi kembali membaik, maka Ayah akan dipanggil untuk bekerja lagi seperti sebelumnya. Biasanya hal ini dilakukan saat perusahaan menganggap perlu merampingkan biaya pegawai karena kondisi keuangan. Sehingga beberapa pegawai yang dianggap kurang produktif (salah satu pertimbangannya dari sisi usia) diminta beristirahat dulu, tidak bekerja.

Dalam keadaan ekonomi yang tanpa kepastian semacam itu, tentu saja kedua orangtuaku harus memutar otak lagi bagaimana bisa mendapatkan sumber penghasilan kembali. Ya, Beliau berdua bukanlah orangtua yang begitu saja mencukupkan diri dengan menadahkan tangan ke hadapan anak-anaknya.
Walaupun kalau ditilik dari segi umur, keduanya sudah termasuk kategori lanjut usia. Dan bagaimana pun kondisi anak-anaknya, pastilah kami akan berusaha untuk tetap dapat menghidupi keduanya dengan layak. Sayangnya, orangtuaku tidak pernah mau merasa menjadi beban bagi anak-anaknya.
Maka, di sinilah Ayah sekarang. Tinggal bersama keluarga kami untuk dapat memberikan nafkah bagi istri tercinta. Yang itu artinya, harus terpisah kota dan provinsi darinya.

Supermoon di atas rumah semalam

Semalam, untuk yang ke sekian kalinya, kembali Bunda menelepon Ayah menanyakan kepastian kapan Ayah pulang. Di bawah naungan supermoon yang tidak terlalu super dari sisi ukuran. Namun sangat cemerlang kilaunya saat tabir awan mendung bergerak tersibak perlahan menjauhi Sang Bulan.

Ternyata, keesokan paginya alias hari ini, Ayah berencana pulang sebentar menemui Bunda. Hal ini ditunjukkan secara serius dengan mengemas pakaiannya ke dalam tas travelnya.
"Carikan tiket kereta api ke Surabaya, ya. Yang ekonomi saja, berangkat siang ini. Oh ya, beli Tahu Bakso dan Intip di mana? Nenek suka sekali itu. Kemarin Nenek minta dibawakan," kata Ayah.
Kalau dipikir, wajar saja, ya. Suami mana yang tak galau berulang kali menangkap nada kekawatiran Sang Istri dalam percakapannya. Walau tanpa rengekan atau keluhan, namun cukuplah bagi Ayah untuk memahami kecemasan yang diderita Bunda setiap hari.

"Tahu Bakso dan Intip sih mudah didapat, Pung. Di mana-mana juga banyak yang jual. Nanti bisa beli di toko camilan tempat biasa kita beli tiap pagi itu aja," jawabku. Suami pun teringat dengan oleh-oleh yang baru dibawanya kemarin dari Purbalingga. Sekalian saja ditambahkan sebagai buah tangan untuk Bunda.

Oleh-oleh yang didapat sepanjang perjalanan kembali dari Purbalingga

"Oh, iya. Ayah kan juga harus beli nomor kartu SIM yang baru," kata Suami, "Nanti aku belikan, deh. Sekalian jalan buat kerja."

Tinggal tiket kereta apinya ini. Apa bisa mendapatkannya di saat mendadak begini? Apa lagi kemarin aku mendapatkan pesan melalui aplikasi WhatsApp dari salah satu temanku. Pesan itu terkait dengan pengumuman yang diedarkan tentang acara orasi yang akan diadakan para pengemudi angkutan kota pagi ini. Alamat macet, deh. Lagipula, tempat orasi yang dipilih adalah di jantung pusat kota.

Pengumuman tentang acara orasi yang berpotensi kemacetan pagi ini

Fiuh! Harus berpikir cepat dan tepat, nih! Selain mencari rute yang sekiranya tidak terkena imbas macet selama berkeliling ke sana ke mari, kami juga harus bisa mendapatkan tiket kereta api ekonomi ke Surabaya yang berangkat siang ini. Yang artinya, kami hanya punya waktu beberapa jam sebelum jadwal keberangkatan! 
Untuk mengejar membeli tiket ke stasiun dulu jelas sangat riskan dan bisa dibilang hampir tidak memungkinkan. Karena ada beberapa agenda yang harus dilakukan Ayah dan Suami di tengah ancaman kemacetan sebelum Ayah berangkat ke Surabaya. Suami harus bekerja sebentar, kemudian membeli nomor perdana kartu SIM dan oleh-oleh pesanan Bunda. 
Jadi, pilihannya hanya satu. Kita harus sudah mendapatkan tiket sejak sebelum memulai perjalanan keluar rumah. Memangnya bisa mendapatkan tiket kereta api tanpa keluar rumah?

Traveloka menyediakan berbagai layanan

Syukurlah, jadi bisa dengan Traveloka. Karena Traveloka ini menyediakan berbagai layanan akomodasi serta perjalanan. Salah satunya, kita bisa memesan tiket kereta api secara daring di sini. Jadi, selama kita memiliki akses internet, kita tetap bisa melakukan transaksi sambil duduk manis di hadapan gawai.
Beruntungnya lagi, ternyata Traveloka ini memiliki salah satu keunggulan, yaitu yang disebut last minute booking. Dengan begini, kita masih bisa memesan tiket kereta api sampai dengan 3 jam sebelum waktu keberangkatan. Kalau dihitung-hitung, masih sempat nih, kami memesan tiket kepulangan Ayah untuk siang nanti.

Sip, deh! Urusan tiket jadi bisa beres dengan Traveloka. Tinggal berangkat saja menjalani agenda satu per satu.
"Nanti dari stasiun ke rumah naik apa, Pung?" tanya Suami.
"Kata Nenek, aku diminta naik bus aja," jawab Opung, "Nanti aku dijemput Nenek, diajak makan bareng di warung soto langganan." Aih! Pasti asyik syalala deh ya, membayangkan pertemuan Beliau berdua nantinya.
"Nanti jam 10 aku jemput ya, Pung. Aku antar ke stasiun," kata Suami sebelum berangkat kerja.

Seperti yang sudah dapat diduga, kemacetan membuat urusan kerja Suami pun tidak berjalan mulus. Pada jam yang dijanjikan, Suami masih terdampar dekat Pantai Utara. Kami pun memutuskan Ayah berangkat ke stasiun dengan ojek saja. Sambil mampir sebentar untuk membeli oleh-oleh.

Aku masih kawatir nanti Ayah menemukan kesulitan teknis selama di stasiun dan tidak bisa kita ketahui. Berhubung telepon genggam Beliau tidak memiliki kartu SIM. Jadi aku meminta Suami sesegera mungkin menyusul Ayah di stasiun sebelum keretanya berangkat. Untuk menyerahkan kartu SIM yang sudah terlanjur dibelinya, sekaligus memastikan bahwa Ayah benar-benar berhasil berangkat menaiki kereta sesuai yang dipesan. Takutnya Beliau kebingungan mencetak tiketnya.

Menantu ketinggalan kereta

Apa mau dikata, Suami datang 3 menit sebelum jadwal keberangkatan. Beliau tidak bisa langsung bertemu Ayah. Hanya menitipkan kartu SIM ke petugas dan meyakinkanku bahwa semua penumpang sudah naik karena kursi di stasiun sudah kosong. Toh, di sana banyak petugas yang siap membantu para penumpang jika ada kesulitan.


Check In Counter untuk menukar bukti transaksi di Traveloka dengan tiket kereta api

Uff, leganya... Beruntung sudah memegang bukti transaksi tiket beberapa jam sebelumnya. Jadi urusan selanjutnya bisa diserahkan kepada petugas stasiun yang baik-baik itu.

Stasiun Poncol menjadi saksi. Di sinilah tempat melepas bayangan lambaian tangan para cucu menuju bentangan lengan milik Sang Istri yang siap memeluk penuh rindu. Bahkan di usia senja pun, ujian pernikahan tetap melanda. Namun dengan Traveloka, kedua orangtuaku jadi bisa menikmati setiap jarak yang terbentang sebagai nada penuh sabar dan syukur.

Hmm, siapkah kita menjalani berbagai situasi tak tertebak di sepanjang pernikahan kita?

Komentar

  1. Ya Allah ga kebayang udah sepuh masih mrnjalani LDR semoga sehat selalu opung dan nenek. Aku pernah ngalami masa ini mbak dr awal nikah sampe nadia umur 4th

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin... iya yang penting tetap sehat dan bahagia. umur cuma masalah angka :)

      Hapus
  2. Semoga sehat2 terus ya ayahnya mba ida. Salut dengan semangatnya mencari nafkah hingga LDR.. barokallahu yaaa

    BalasHapus
  3. Mumpung anaku suka naik kereta api, coba pesen tiket pakai traveloka ah

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, praktis banget pesan di traveloka :)

      Hapus
  4. mau kemana dan apapun niat liburannya. ya traveloka ajah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe.. Kalau ini niatnya mudik :)

      Hapus
  5. Traveloka mempermudah saat travelling

    BalasHapus
  6. Sempat LDR tiga setengah tahun juga, jadi bisa paham gimana sukadukanya.
    Cuma waktu itu nda bisa pesen tiket kereta, lha wong paksu nya di Korea 😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi.. Berat di ongkos ya kalau sering pulang :)

      Hapus
  7. Sehat sehat selalu ya, traveloka membantu sekali ya. lain kali kalau mau beli tiket kereta api, mau lewat traveloka saja dech

    BalasHapus
  8. traveloka emang praktis yaa jadi memudahkan kita traveling.

    BalasHapus
  9. Salut sama yg bisa ldm :) btw aku juga suka order lewat traveloka,.praktis

    BalasHapus
    Balasan
    1. yoi, membantu sekali ya Traveloka :)

      Hapus

Posting Komentar

Hai, terimakasih sudah berkunjung.
Jejakkan komentarmu di sini ya... ^_^