Sabtu, 31 Maret 2018

Tanpa Kertas, Bakat Terpendamku Bisa Terhempas

Sumber: pixabay

Di usia menjelang kepala 4 begini, apa sih hal yang menarik bagiku namun belum sempat aku dalami? Ada banyak sebenarnya. Namun jika itu dikaitkan dengan bakat, bisa jadi aktivitas hand lettering adalah jawabannya.

Jumat, 30 Maret 2018

Tips Menghadapi Perbedaan Pola Asuh dengan Orangtua

Sumber: pixabay

Adakah diantara pembaca yang tinggal bersama orangtua? Atau mungkin secara berkala menitipkan anak kepada kakek-neneknya karena suatu keperluan? Sering kali, hal ini memicu masalah akibat perbedaan pola asuh kita dengan orangtua, ya. 

Kamis, 29 Maret 2018

I Have Zero Tolerance for Liar!

Sumber: pixabay

Hmm... Sebenarnya agak susah lho, membuat aku benci seseorang. Kadang walau ada sesuatu yang tidak aku suka atau setuju, tetap perasaannya tidak sampai benci. Ya sekadar kita berbeda, aku nggak nyaman dll.

Selasa, 27 Maret 2018

[Cerpen] Rezeki Sang Bloger


"Ibu, ini kami sarankan untuk melahirkan di rumah sakit ya, Bu. karena Ibu memiliki 3 faktor risti alias risiko tinggi," papar Bu Bidan. Sang Ibu hanya bisa mengangguk gamang. Rumah sakit, terbayang serentetan angka di benaknya.

Disampaikannya hal tersebut ke suaminya. Suaminya segera mengangguk setuju dengan mantap. Semudah itukah?

Dan pertanyaan dalam hatinya segera terjawab saat mereka melewati ruang bersalin di Puskesmas itu menuju jalan pulang. Sang Suami berhenti sebentar, mengamati kembali bagian dalamnya dari balik jendela, seperti pagi tadi.

"Sayang sekali ya, tidak bisa melahirkan di sini. Padahal tarifnya sangat murah dengan tempat yang nyaman dan cukup terjaga privasinya. Sarana lengkap, petugasnya telaten dan sabar. Bahkan dokter perempuan spesialis kandungan pun ada," Sang Suami menghela nafasnya perlahan.

"Tapi di sini tidak ada ruang operasi. Sedangkan kondisi sepertiku berisiko tinggi mengalami pendarahan hebat pasca persalinan. Katanya, jika terjadi pendarahan, penanganannya tidak bisa ditunda lama. Hitungan detik itu sangat berarti," ulang Sang Ibu menirukan penjelasan Bu Bidan.

"Iya, tidak apa-apa. Kita cari rumah sakit untukmu sekarang, ya," jawab Sang Suami.

***

Tergambar jelas olehnya bagaimana sore itu sayup-sayup Sang Suami menanyakan petugas kemungkinan bisa menekan biaya lagi dari yang sudah tercantum di bagian kasir. Ia mengenal suaminya. Walaupun berulang kali meyakinkan Sang Ibu pasti ada rezeki untuk membayar semuanya, namun perilaku tersebut menunjukkan bahwa Sang Suami pun sebenarnya belum tahu dari arah mana rezeki itu datang.

Hidup di perantauan tanpa memiliki asuransi jenis apa pun membuat mereka harus selalu siap untuk membayar biaya rumah sakit dengan tarif umum. Sayu mata Sang Ibu menatap daftar yang dibuatnya sendiri tentang perkiraan biaya persalinan dan berbagai pernik renik yang menyertainya. Entah apa yang bisa membuat tiap poin di dalamnya bisa tercentang tanda sudah dilunasi.

Pemasangan maupun penulisan artikel blog yang dibiayai oleh pihak sponsor tentu tak cukup menyesuaikan nominalnya. Menang lomba? Huff, entah mengapa, belakangan ini hadiah-hadiah utamanya hanya melayang-layang dan akhirnya terbang menuju para pemenang. Jangankan hadiah mobil seperti yang didapat Khoirun Nizam, bloger muda asal Surabaya itu. Yang hadiahnya 'sekadar' jutaan, tak satu pun yang singgah mengetuk pintu rumahnya.

Ah, iya. Sebenarnya Sang Ibu sempat menaruh harap pada jumlah rupiah yang disebut di dalam surat elektronik untuknya. Cukuplah untuk menutup biaya paket persalinan dengan kamar VIP di rumah sakit. Sebuah tawaran yang menggiurkan dari situs yang ingin memasang iklan di blognya selama 3 bulan.

"Fiuh, mengapa teman-teman bloger membahas ini di grup, sih?" keluh Sang Ibu dalam hati. Namun segera ia menyadari kekonyolan pikirannya. Tentu saja mengetahui kebenarannya itu lebih baik.
Rupanya tidak hanya Sang Ibu yang mendapat tawaran tersebut. Ramailah grup bloger itu membahasnya. Dan akhirnya terbuka bahwa sesungguhnya itu adalah situs judi berkedok situs berita.
"Huhuhu... Kalau sudah tahu, mana mau aku menjemput rezeki dengan cara begini," desah Sang Ibu.

***

"Kalau bisa jangan minggu ini ya, Bu. Mulai minggu depan lah semoga bayinya sudah lebih besar dan siap untuk dilahirkan," saran dokter spesialis kandungan setelah melihat perkiraan berat janin melalui USG.

Minggu depan itu adalah minggu ini. Sang Ibu tak tahu apakah kini berat janinnya sudah aman untuk dilahirkan. Namun cengkeraman itu terasa semakin sering dari dalam tubuh. 

Perlahan namun pasti, sensasi sakit terus bertambah tekanannya. Sang Ibu mengajak suaminya bersiap ke rumah sakit. Anak terkecilnya yang serta-merta merengek pun turut dibawanya.

Ruang IGD adalah tujuan utama mereka. Segera Sang Ibu dipersilakan perawat berbaring di atas ranjang yang tersedia. Dan pecahlah tangis anaknya mengetahui dirinya tak dapat tetap di samping Sang Ibu. Samar terdengar suara tangisannya makin menjauh. Sepertinya Sang Suami membawanya keluar rumah sakit agar tidak mengganggu penanganan Sang Ibu oleh pihak medis.

"Bukaan 4 ya, Bu," kata Bu Bidan begitu selesai melakukan pemeriksaan dalam.

Perawat kembali memompa alat dalam genggamannya. Matanya menatap lekat gerak cairan yang turun di hadapannya. Sudah berkali-kali ia melakukannya. Seakan tak ada puasnya. Rupanya ia kawatir salah mengukur tensi darah Sang Ibu.

"Ibu sedang takut?" tanya perawat. Ah, pertanyaan macam apa ini. Walau bukan pengalaman pertama, tentu saja menghadapi proses yang banyak orang menyebutnya sebagai pertaruhan nyawa ini wajar saja membuat Sang Ibu tegang.

Bukan salah perawat juga jika keheranan. Karena memang riwayat tensi darahnya selalu normal selama kehamilan. Bidan pun menelepon dokter yang selama ini memeriksa kehamilan Sang Ibu.

"Ibu ingin pipis?" tanya bidan.
"Tidak," jawab Sang Ibu.
"Tapi ini diminta dokter mengambil sampel urin untuk memeriksa penyebab tingginya tensi Ibu. Ibu pipis dulu, ya. Nanti urinnya ditampung di sini," bidan itu menyodorkan tabung plastik kecil. Sang Ibu hanya bisa meringis menahan kontraksi yang kembali datang.

Begitu agak reda, Sang Ibu perlahan menuruni ranjang. Baru saja akan melangkah menjauh, Sang Ibu kembali memilih untuk merapatkan tubuhnya ke ranjang. Karena gelombang cinta itu kembali hadir dan dia benar-benar ingin buang air kecil sekarang!

Setelah kontraksi kembali berangsur menghilang, Sang Ibu mendekati tim medis dan berusaha menyampaikan keinginannya untuk pipis di atas ranjang saja. Sepertinya ia sudah tak kuat lagi untuk berjalan.

Belum sempat mengutarakan maksudnya, kembali perutnya mengalami tekanan sedemikian dahsyat. Para perawat melihat perubahan mimik mukanya dan segera menyarankan Sang Ibu untuk duduk dulu.

"Baiklah, mari lakukan dengan cepat!" bisik Sang Ibu dalam hati begitu remasan dalam perutnya mengendur. Ia bertekad segera menyerahkan sampel urin yang dibutuhkan.
"Di mana kamar mandinya?" tanya Sang Ibu pada perawat. Ternyata kamar mandinya dekat saja di dalam ruangan. Bergegas ia masuk dan berusaha mengeluarkan air seninya.

Ah, rupanya dorongan yang muncul kali ini bukan ingin buang air kecil, melainkan besar. "Baiklah, tuntaskan saja dulu hajatnya," tekadnya kembali. Begitu Sang Ibu mengejan, ia segera menyadari bahwa yang terbuka adalah jalan yang berbeda!

Tak mungkin lagi dia menahannya. Tak sanggup pula Sang Ibu berdiri untuk meminta pertolongan. Tampaknya takdir mengharuskan dia merengkuh seluruh kepercayaan dirinya untuk menyelesaikan proses ini sendirian. 

Dengan satu helaan nafas panjang, tangis lembut itu pun pecah. Segenap kekawatiran berubah lega. "Bu Bidan! Tolong bayinya!" teriak Sang Ibu sambil berusaha membuka kunci pintu untuk meminta penanganan lebih lanjut.

***

Sang Ibu telah dibersihkan dan dijahit lukanya. Agak gusar ia menunggu, "Mengapa lama sekali bayinya belum diantar ke sini? Sehatkah ia? Normalkah? Apakah terjadi sesuatu padanya di toilet tadi? Apakah dia harus diinkubasi karena terlalu kecil?"

Sejurus kemudian perawat datang dan meletakkan Sang Bayi dalam pelukannya, "Selamat ya, Bu. Bayinya sehat, normal, beratnya 2,4 kg, perempuan."
"Perempuan?" Sang Ibu antara tak percaya dan bahagia. Semua kabar yang disampaikan perawat itu adalah kabar gembira. Terlintas di benaknya lembaran daftar perkiraan biaya yang dibuatnya.

Tidak. Ia memang tetap tidak bisa mencentang semua poin yang tertulis sebagai tanda telah lunas. Ia tidak perlu melunasinya.

Karena yang ia dapatkan adalah jalan untuk mencoret banyak poin di sana. Ia mencoret poin biaya dokter, karena Sang Ibu tidak menggunakan bantuan dokter saat persalinan. Ia mencoret poin biaya operasi, karena ia tidak menjalaninya. Ia mencoret biaya NICU, karena bayinya dinyatakan normal. Ia bahkan mengurangi biaya aqiqah 2 kambing, karena ternyata bayi yang lahir bukan laki-laki seperti hasil USG selama ini. Semua biaya yang terhapus itu jumlahnya sudah melampaui yang ditawarkan situs judi dulu.

Menjadi bloger memang bisa menjadi jalan rezeki. Rezeki yang menanti di jalan ini pun bisa recehan hingga ratusan juta. Namun yang namanya rezeki tidak melulu mendapatkan harta yang banyak. Menghemat banyak biaya juga sebuah rezeki tak ternilai.

Ditimangnya Sang Bayi cantik itu. Tak sabar rasanya mengabarkan pada Sang Kakak baru bahwa adiknya perempuan, seperti impiannya. Ngomong-ngomong, ke mana tadi perginya Sang Suami untuk menenangkan anaknya, ya?

"Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway Sinizam.com"

Minggu, 25 Maret 2018

Ternyata Membuat Kerajinan dari Barang Bekas Itu Mudah!


Demi apa coba, aku bisa kasi tutorial membuat kerajinan dari barang bekas? Memangnya sudah ahli nih, ceritanya? Mentang-mentang putri sulungnya dulu rajin ikut kursus Eco Craft? Yang mau lihat beberapa hasil karya putriku, ada di artikel: Merekam Jejak Memori, Mengasah Asa dan Cinta.

Sabtu, 24 Maret 2018

Si Unyil, Boneka Kesayanganku di Masa Kecil

Sumber: muspen.kominfo.go.id

Apa mainan kesayanganmu di masa kecil dulu? Kalau aku sih, boneka Si Unyil. Konon, katanya aku ini susah sekali dipisahkan dari boneka satu ini. Mau sampai lecek, kotor dan bau juga jangan sekali-kali berusaha mengambilnya walau barang sebentar. Bisa-bisa tangisan manis pun menggelegar!

Jumat, 23 Maret 2018

6 Caraku Menjunjung Etika di Dunia Maya


Sebenarnya, tidak terlalu berbeda apakah kita berinteraksi di dunia nyata maupun maya. Walaupun tampaknya kita hanya berhadapan dengan layar saat berinteraksi di media sosial, namun sejatinya kita sedang berhadapan dengan banyak orang di luar sana. Keduanya membutuhkan sikap positif dalam menjalaninya. Maka, pastikan hal-hal ini tetap kita perhatikan sebagai bagian dari menjunjung etika di dunia maya:


1. Umur

Menaati peraturan, disiplin dan tidak berlaku curang adalah salah satu bentuk etika. Kita mengetahui bahwa batas usia minimal untuk membuat akun di dunia internet rata-rata adalah 13 tahun. Batasan ini tentu bukan tanpa alasan. Pertimbangan kematangan akal dan psikis dinilai telah memadai di usia tersebut. 
Makanya, kalau aku pribadi, tidak mengizinkan anak-anak memiliki gawai dan akun pribadi di dunia maya hingga usianya telah memenuhi syarat. Memang mereka masih bisa menggunakan gawai dan kadang kala membutuhkan suatu akun untuk mengakses informasi. Namun semuanya dalam status meminjam orangtuanya sebagai penanggung jawab.

2. Privasi

Seseorang yang beretika tentu memiliki pertahanan yang kuat untuk melindungi dirinya dari bahaya. Dimulai dari menerima pertemanan. Ada baiknya kita mengutamakan keluarga dan orang-orang yang memang kita kenal di dunia nyata untuk dilanjutkan interaksinya di dunia maya. Sedangkan untuk teman yang hanya bertemu di dunia maya, pastikan bahwa dia memang akan memberikan pengaruh positif bagi kita. Tetap merawat hubungan baik dengan semua orang yang telah kita kenal dan terus memperluas jaringan pertemanan dengan orang-orang positif, itu intinya.

Berbagi cerita, pengetahuan dan pendapat bukan berarti memberitahukan semua keadaan pribadi. Kita harus pandai-pandai memilih mana yang akan diberitahukan pada orang-orang, dan mana yang sebaiknya tetap disimpan demi keamanan. Baik itu data yang tercantum dalam profil kita, maupun cerita tentang keseharian kita dalam status media sosial atau blog.

Sebaliknya, kita harus menghargai privasi orang lain dengan tidak menanyakan atau menyebarkan hal-hal yang dianggap pribadi olehnya. Sering kali kita tidak mengetahui batas privasi setiap orang. Maka selayaknya kita selalu meminta izin jika hendak memuat hal-hal yang bersifat pribadi milik orang lain, misalnya: kisah hidup, foto, nomor telepon, alamat dll.

3. Kebenaran

Sampaikanlah hanya kebenaran. Tak perlu bumbu-bumbu kebohongan hanya sekadar untuk menarik hati orang lain. Hati-hatilah, jangan sampai kita menyebarkan berita atau cerita yang tidak jelas asal-usul dan validitasnya.

Jika kita mendapati sebuah wacana, sebaiknya kita membaca dan memeriksa fakta yang diajukan dari berbagai pihak. Gunakan timbangan yang adil sebisanya dalam menilai sesuatu. Jika ragu, tak perlu memaksakan diri untuk menyampaikan pendapat. 
Toh, diam itu lebih baik daripada kita berbicara sembarangan. Tak ada yang memaksa kita untuk ikut berkomentar. Berbicara benar atau diam, itu pilihannya.

Sebaliknya, jika kita yakin dengan kebenaran yang kita ketahui, bagikan pendapat kita bukan semata karena dorongan emosi. Berani menyampaikan kebenaran walau sendiri. Dan tak perlu ikut-ikutan sesuatu yang tidak kita ketahui walau kebanyakan orang melakukannya. 
Contoh mudahnya, berbagi kabar yang jika ditanyakan kembali maka kita hanya bisa menjawab, "Tidak tahu. Saya cuma berbagi saja." Fiuh, kita bisa jauh lebih beretika daripada sekadar menyebarkan berita tidak jelas.

4. Manfaat

Sudah seharusnya kita selalu berusaha hanya melakukan hal-hal yang bermanfaat. Termasuk apa-apa yang kita sampaikan di dunia maya. Kadang, walaupun kita mengetahui kebenaran suatu fakta, tidak semuanya bisa kita sampaikan saat itu juga. Jika hal itu tidak memiliki pengaruh positif bagi pembacanya, atau justru membuat kekacauan, maka sebaiknya disimpan dulu untuk mendapatkan momen yang lebih tepat agar terasa manfaatnya. Tulisan yang menambah pengetahuan, membangkitkan perasaan positif atau mempermudah urusan orang lain adalah contoh yang sangat layak untuk disebarkan.

5. Bahasa

Bahasa adalah salah satu poin penting yang aku perhatikan dalam berinteraksi, termasuk di dunia maya. Sebaiknya kita berusaha memilih bahasa yang tepat dan santun dengan siapa pun. Hargailah orang lain. 

Cara mudahnya, kita bisa memperhatikan gaya bahasa yang digunakan seseorang saat bertemu di dunia maya sebelum berkomentar atau meresponnya. Sehingga kita bisa menyesuaikan gaya bahasa agar bisa diterima dengan baik olehnya. Jika seseorang tampak cenderung suka menggunakan bahasa daerah asalnya, timpali saja dengan bahasa dari daerah yang sama jika kita juga memahaminya. Hal ini sering kali dinilai lebih beretika dan mempercepat timbulnya suasana akrab.
Jika lawan bicara kita menggunakan bahasa yang kasar? Ups! Tetap merespon dengan bahasa yang santun bukanlah sebuah kesalahan. Tidak balik berkata kasar pada lawan bicara adalah bentuk penghormatan kita padanya.

6. Tanggung Jawab

Tak ada gading yang tak retak. Siapa pun dapat melakukan kesalahan, termasuk juga ketika berinteraksi di dunia maya. Mungkin pemilihan kata yang terlalu tajam, sempat menyebarkan berita bohong, melanggar hak pribadi orang lain dll. Mengakui kesalahan, meminta maaf, melakukan perbaikan dan bertekad tidak mengulangi kesalahan yang sama adalah bagian dari etika kita di dunia maya.

Ada berapa poin di atas yang telah Anda jalankan? Masih ada celah? Aku sendiri bukan pribadi yang benar-benar telah memiliki etika yang bagus selama ini. Yuk, bersama-sama terus memperbaiki iktikad baik kita di dunia maya dan saling mengingatkan ^_^

Selasa, 20 Maret 2018

Cara Mudah Menikmati Gizi Lengkap dan Seimbang


Hai, Teman-Teman! Bagaimana kalian biasanya mengatur konsumsi makanan sehari-hari? Masa sih, asal makan, asal enak, asal kenyang? Nggak dong, ya. Eh, iya? Sama, nih, aku juga! Hihihi...

Intip 5 Tempat Wisata Jaman Now di Surabaya

Sebagai pusat bisnis dan industri, padatnya kegiatan sehari-hari membuat warga Surabaya membutuhkan fasilitas memadai untuk melepas lelah. Menghabiskan waktu bersama keluarga adalah pilihan terbaik untuk menyeimbangkan kerja dan kehidupan pribadi. Namun, pusat perbelanjaan bukan hanya satu-satunya tujuan untuk bersantai. Alternatif wisata lain pasti lebih menyenangkan, seperti 5 tempat wisata jaman now berikut ini.

Sayangi Kami, Jangan Eksploitasi Kami


Anak-anakku suka sekali hewan. Tentu saja aku mendukung kegemaran mereka ini. Karena berinteraksi dengan hewan, selain menambah pengetahuan mereka tentang dunia fauna, juga mengasah empati kepada sesama makhluk hidup.

Minggu, 18 Maret 2018

Alquran, Buku yang Paling Mampu Mengubahku



Klise sangat, ya? Menjadikan kitab suci sebagai buku yang paling berpengaruh dalam mengubah kehidupanku. Tapi bagaimana lagi. Aku memang gagal menemukan buku lain yang bisa menyaingi perannya membawaku pada perbaikan diri.

Jumat, 16 Maret 2018

Mengapa Menjadi Bloger Begitu Berharga


Aku memutuskan untuk (kembali) menulis blog sekitar 2 tahun yang lalu. Dimulai dari domain gratisan di sini. Dan setahun kemudian, aku memenangkan undian mendapatkan nama domain TLD (.info). Maka inilah blog keduaku yang akhirnya lebih aktif karena lebih menghasilkan. Hehehe.

Selasa, 13 Maret 2018

Perempuan Penuh Inspirasi



Bicara tentang perempuan yang cukup kental memberi inspirasi dalam hidupku, sepertinya agak sulit ya. Karena tentunya bukan hanya satu perempuan yang sanggup melakukan itu. Namun, baiklah. Di antara sekian banyak perempuan istimewa di mataku, aku akan berbagi inspirasi dari salah satunya.

Minggu, 11 Maret 2018

Kisah Menuju Acara Tidur Malamku


Hai, hai... Kali ini kita mengobrol santai saja, yuk! Tentang apa, nih? Bagaimana kalau kita ikuti post tematik dari Kumpulan Emak2 Blogger? Untuk 2 minggu ini, temanya tentang rutinitas menjelang tidur malam. 

Jumat, 09 Maret 2018

Prive Uricran untuk Kesehatan Ratu Bernama Perempuan

uri cran
Setiap perempuan adalah ratu

Ya, setiap perempuan sejatinya adalah ratu. Mereka adalah sumber kecantikan, keagungan dan kebahagiaan di tengah keluarga. Jika ratu terawat, dihargai dan merasa gembira, maka keindahannya pun mengisi seluruh relung dan sudut rumah. Cintailah ratu, maka ia akan menghujani orang-orang di sekelilingnya dengan cinta yang berlipat-lipat.