Jumat, 29 Juni 2018

Menyesap Koka Cheese Tea di Loffle Pop Up Dessert


Akhirnya, aku berkesempatan juga mampir ke sini. Tahu, nggak? (Enggaakk...) Sejak pertama pindah ke Semarang dan melihat gerainya yang berlokasi di Jalan Tirto Agung nomor 50 Tembalang itu, aku tuh pingiin... banget mampir.

Maklum, aku ini kan penggemar makanan manis. Jadi kalau melihat ada restoran khusus hidangan pencuci mulut begini, ya aku mengiler jaya, dong. Diam-diam, aku jadi makin penasaran dari hari ke hari.

Namun apalah daya, jika aku mengingat tempatnya yang tampak cukup minimalis di sana. Lha anakku saja 6 orang. Begitu datang, bisa-bisa langsung jadi sesaklah ruangan di situ. Mana setiap kali melewatinya selalu ramai. Siang ramai, malam apa lagi.

Kala Loffle Kembali Menggoda dengan Koka Cheese Tea

Belakangan, nama Loffle terngiang lagi di kepalaku. Gara-garanya, tanpa sengaja aku melihat foto di akun IG temanku yang baru menikmati hidangan di Loffle. Bukan hanya satu orang. Namun ada beberapa kontakku yang memajang aneka menu makanan dan minuman sajian khas Loffle.

Dan kalau aku perhatikan tempatnya, sepertinya tidak sama dengan yang biasa aku lihat, nih. Ternyata benar saja. Saat aku menyimak caption foto-foto yang bertebaran, memang beberapa di antaranya bukan berada di Loffle yang di Tembalang, melainkan yang di daerah Semarang bawah. Tepatnya di Peleburan.

Wah, rupanya gerainya tidak cuma satu, ya? Kupikir kalau gerainya kecil berarti belum berkembang. Ternyata, itu pikiran yang salah besar, Kawan! 

Aku pun mulai kepo mencari akun Instagram Loffle. Dan begitu aku menemukannya, pandanganku langsung cerah ceria oleh dominasi warna kuning dan aneka menu yang disajikan dalam foto-foto yang cantik. Bukan hanya bagus, namun akun IG Loffle juga terkelola dengan baik. Rajin update, isinya informatif dan adminnya sangat interaktif. Pokoknya profesional, deh.

Hohoho… jadi Cinta Lama Bersemi Kembali, nih. Rasa mupeng yang dulu sempat terhibernasi, kini merekah kembali. Apa lagi saat aku mendapati ada menu minuman baru yang ditawarkan di sana, yaitu Koka Cheese Tea.

Cheese Tea? Wow! Ada ya, di Semarang? Yang aku tahu, minuman ini memang sedang trending banget di beberapa negara di dunia. Misalnya di Taiwan, Vietnam, Malaysia, Singapura, Cina dan Amerika Serikat. Cuma ya aku belum pernah merasakannya sekali pun.

Teh diberi keju? Bagaimana rasanya, ya? Kalau aku membayangkan, sih… Teh itu kan harum dan agak ada pahitnya gitu di sensasi belakangnya. Sedangkan keju, rasanya mesti lebih tebal dan berlemak. Biasanya akan terasa asin, mungkin gurih dan bisa jadi ada yang membuatnya dengan sedikit sensasi manis. Hmm… Kalau Koka Cheese Tea ini diramu bagaimana?

Mungkin untuk perbandingan yang paling dekat, Koka Cheese Tea bisa disejajarkan dengan teh susu, ya? Kalau teh susu sih, aku suka. Dan ini juga jenis minuman favoritnya Suami.

Tapi mestinya Koka Cheese Tea harus bisa dibedakan dari teh susu, kan? Sama-sama gurih dan berlemak. Namun susu biasanya agak manis, sedangkan keju lebih ke asin. 

Duh, daripada berandai-andai terus, mending aku segera mengagendakan untuk mencicipinya langsung saja. Untuk membuktikan apakah Koka Cheese Tea ini berhasil memadukan teh dan keju dengan kekuatan citarasanya masing-masing.

Dan Kesempatan Mereguk Koka Cheese Tea Itu Datang

Siang itu, aku mendapat kabar gembira karena pekerjaanku diterima dan honorku langsung cair. Yeay! Spontan saja aku mengajak Suami kencan.

“Makan-makan, yuk. Aku traktir, deh. Aku cuma minta sumbangan bensinmu aja,” ajakku dengan manis semanis dessert.
Hm? Makan di mana? Kapan?” Suami menanggapi dengan pandangan mata tetap melekat ke layar monitor laptop sambil ketak-ketik papan kuncinya.
“ Sore ini. Di Loffle yang sering kita lewati itu, lho. Aku kan sudah sering bilang kalau pingin icip-icip di sana,” jawabku penuh semangat dan optimis bahwa tidak akan tertolak.

Suami berhenti mengetik sebentar, “Hah? Lho, aku kan ada acara nanti sebelum Magrib sampai malam. Nunggu Ayah aja, deh. Biar kamu diantar Ayah. Atau besok saja?”
“Sore ini, dong. Sama kamu. Ayah kan ngga suka yang dingin-dingin. Jam 4 sampai jam 5 aja. Nggak lebih. Janji!” berondongku tanpa ampun.
Hmm… OK, deh. Sampai jam 5 aja, ya. Anak-anak diajak juga?” Nah, kan dapat!
“Iya. Yang mau ikut ya diajak aja.” Aku bilang begini sambil berharap gerai Loffle sore itu agak lengang karena hari libur.

Dan syukurlah, ternyata yang berminat untuk ikut cuma satu anak. Hahaha… Ibu macam apa aku ini kok girang sekali tidak digelendoti anak. Kebetulan sore itu anak-anak lain sudah terlalu asyik dengan aktivitasnya masing-masing. Mungkin juga karena hawa liburan masih berhembus. Paling-paling mereka cuma minta oleh-oleh saja.

Kesan Pertamaku tentang Loffle Pop Up Dessert



Syukurlah, doaku terkabul. Sore itu baru kami yang mendatangi tempat ini. Gerainya, sebagaimana yang aku hafal betul, desainnya bergaya industrial yang sederhana, rapi dan minimalis. Perpaduan warna energi yang dipakai adalah hitam, putih dan sedikit aksen kuning menyesuaikan logonya. Dindingnya bergelombang seperti permukaan atap seng. 

Perabotannya kebanyakan berbahan kayu yang sebagiannya tetap dibiarkan dalam warna aslinya. Beberapa bagian dekorasi sengaja dibiarkan seolah unfinished. Seperti colokan listrik dengan untaian kabel yang dibiarkan terekspos nyata dan bola-bola lampu yang menggantung begitu saja di atas meja pengunjung.

Gerai ini terdiri dari 2 lantai. Didampingi dengan sebuah lahan parkir yang cukup lega di sampingnya. Lantai bawah merupakan tempat kita memesan di mana kita bisa melihat langsung aktivitas dapur yang terletak di belakang meja kasir. Di depan kasir ini terbentang sebuah meja panjang dengan beberapa kursi bar yang tinggi.


Saat aku datang, pelayannya langsung menghampiri dan menyapa dengan ramah. Aku pun meraih salah satu buku menu yang berjejer di meja kasir.
“Silakan dipilih menunya. Mau lihat-lihat aja dulu atau sambil dijelaskan?” Mbak Pelayan menawarkan kebaikannya dengan asertif.
“Wah, mau dong, dijelaskan,” jawabku penuh semangat. Dan aku pun mulai membuka halaman demi halaman sambil tekun menyimak penjelasan Sang Pelayan yang seru bak buku cerita.

Lha, bagaimana tidak seru? Memandang foto-foto sajiannya saja aku takjub. Apa lagi saat diuraikan satu per satu bahan-bahan di dalamnya.

Terbitlah air liurku dan bingunglah otakku menentukan pilihan. Yuk yuk yuk… Harus berpikir cepat karena waktuku tak banyak. Akhirnya aku memutuskan untuk memesan Honey Toast Milo pilihan anakku dan semangkuk Oriental Dessert Mango untukku karena katanya masih menjadi menu terlaris sejak pertama kali Loffle dibuka.

Tentu saja tak lupa aku memesan Koka Cheese Tea. Putraku memilih yang Original yang sebenarnya sudah menjadi incaranku. Ya sudahlah, aku mencoba varian lain saja. Dan pilihanku jatuh pada Lychee Koka Cheese Tea. Untuk Suami? Beliau memilih jadi pasukan bersih-bersih jika nanti belum habis sedangkan waktu sudah mepet untuk pulang. Hihihi…

Pelayan meminta kami menunggu dan menyodorkan sekeping alat berwarna merah. Katanya, itu adalah pager yang akan menyala dan berkedip jika pesanan kita sudah siap. Hihihi… Unik, ya?

Kami pun memilih tempat duduk di lantai atas agar terasa lebih lega buat pandangan. Rupanya, pilihan kami tidak salah. Selain ruangan semi terbukanya cukup luas, juga karena kami tidak langsung terpapar kendaraan yang lalu-lalang. Pepohonan yang rindang mengelilinginya membuat pemandangan semakin sejuk di mata.

Bagaimana Ya, Rasanya Koka Cheese Tea dan Lainnya? 



Begitu pesanan siap, kami pun menikmatinya dengan antusias. Oriental Dessert adalah semacam sup krim berisi aneka bahan pencuci mulut dengan tambahan 2 bulatan es krim di atasnya. Krimnya ini ada beberapa pilihan, yaitu: taro, pisang, teh hijau, alpukat, mangga dan melon. Dan aku memilih rasa mangga.

Isinya unik-unik, lho. Ada kacang merah, bola taro, cincau, egg custard, gelembung mutiara, potongan jeli dan bulatan jingga dari bahan apa ya itu? Sepertinya singkong.
“Mau pakai kacang merah atau tidak? Karena kadang ada yang tidak suka kacang merah,” begitu pertanyaan pelayan saat aku memesan.

Wah, sayang sekali kalau tidak pakai kacang merah. Karena kacang merahnya itu super empuk dan ada sensasi kenyal. Tapi yang paling aku suka dari Oriental Dessert ini sih, egg custard-nya. Lembut…


Bagaimana dengan Honey Toast? Pasti mudah ditebak ya, bahwa rasanya tentu tidak mengecewakan. Melihat bahan-bahannya saja sudah sangat menjanjikan kelezatan. French Toast yang diolesi krim vanila, gula icing, bubuk kayu manis dan lelehan madu. Untuk varian pilihan anakku, ada tambahan bubuk Milo, potongan pisang, pasta cokelat, es krim vanila dan hiasan 2 batang Pocky cokelat.


Kalau Koka Cheese Tea? Aku mencicipi Koka Cheese Tea yang Original terlebih dulu. Bukannya apa-apa. Karena menurutku, setiap hidangan versi original itu adalah karakter asli yang hendak ditunjukkan oleh pembuatnya. Sedangkan varian lain biasanya diciptakan untuk memenuhi selera para pembeli. Jadi untuk menyebut suatu hidangan itu enak, dia seharusnya memang sudah enak sejak versi original-nya.

Dan harus kuakui bahwa Koka Cheese Tea adalah juaranya di antara semua pesananku hari itu. Busa kejunya benar-benar otentik. Seperti sedang menjilati krim keju namun dalam tekstur yang lebih ringan. Rasa tehnya juga kental. Keduanya berpadu dengan cantik dalam tiap sesapan. Sedangkan yang varian Lychee Koka Cheese tea, rasa tehnya lebih tipis. Namun tetap menggunakan busa keju yang sama lezatnya.

Cara Spesial Menikmati Koka Cheese Tea

Oya, untuk dapat menikmati Koka Cheese Tea dalam performa terbaiknya, ada cara tersendiri yang disarankan, lho. Langkah-langkahnya sebagai berikut:
  1. Buka tutup kemasan
  2. Teguk dan rasakan keju dari permukaan gelas
  3. Seruput minuman dengan memiringkan gelas 45 derajat untuk menikmati kombinasi Koka Cheese Tea yang nikmat
  4. Jangan minum dengan menggunakan sedotan

Ini adalah cara minum yang aku banget sebenarnya. Bukan hanya saat menikmati Koka Cheese Tea. Namun hampir setiap minuman yang disajikan secara berlapis aku nikmati dengan cara begini. 

Karena dengan cara ini, kita bisa merasakan kelezatan setiap unsur dalam minuman secara individual. Juga, kita bisa mencampurnya sedikit demi sedikit secara bertahap hingga sampai pada komposisi sesuai selera kita saat meneguknya. Jadi lebih puas deh, dibanding jika menikmatinya dalam keadaan tercampur rata yang hanya memberikan satu sensasi.


Pulangnya, tak lupa aku minta dibungkuskan untuk anak-anak di rumah. Pilihanku adalah Mille Crepes dan Cheese Tart. Sayangnya, untuk Cheese Tart harus menunggu 30 menit dulu. Hua… Tak cukup waktu. Yang begini ini yang malah bikin penasaran, ya. Secara tampilan di foto saja penampakannya sudah sangat menggiurkan.

Jadinya aku cuma membawa Mille Crepes ke rumah. Aku pilih yang pakai krim vanila. Rasanya? Ya, enak lah. Crepenya tipis dan lembut. Krimnya ringan dengan tingkat kemanisan yang pas. Lelehan cokelatnya? Hohoho… Tak perlu diragukan lagi kelegitannya. Sepotong saja bisa memuaskan banyak anak. Jadinya potongan yang lain bisa untukku. Hahaha…


Sudah tempatnya asyik, pelayanannya ramah, menunya lezat, pantas saja begitu populer di kalangan anak muda. Dengan kualitas bagus yang dimilikinya pada sejumlah kriteria tersebut, tak heran jika Loffle ini termasuk 3 Resto Dessert Terbaik di Semarang, lho. Kalau kamu tinggal atau sedang di Semarang, sempatkan mampir ya. Jangan kawatir, ada WiFi gratis juga kok, di sini.

Tentu saja kamu harus memasukkan Koka Cheese Tea dalam pesananmu. Wajib sangat dicoba bagi yang suka manis-manis sepertiku dan butuh penawar panasnya cuaca Semarang. Aku saja masih penasaran deh, dengan Koka Cheese Tea rasa yang lain. Worth to try!

Rabu, 20 Juni 2018

Berburu Oleh-Oleh Khas Tasikmalaya, Jangan Lupa Beli Makanan Lezat Ini

Liburan ke Tasikmalaya belum lengkap kalau tak membawa makanan khas kota ini sebagai oleh-oleh. Ada banyak pilihan jajanan khas Tasimalaya yang bisa kamu bawa pulang ke rumah. Rata-rata berbahan dasar ketan yang kemudian diolah menjadi aneka camilan. Selain sebagai oleh-oleh, biasanya makanan ini juga jadi teman di perjalanan naik bus Primajasa. Awas, jangan sampai habis sebelum sampai rumah ya!

5 Tempat Terbaik Untuk Menghabiskan Libur Musim Dingin di Prancis




Para turis di seluruh dunia kerap menolak berkunjung ke benua Eropa saat musim dingin. Padahal, pada suhu dingin itu menandakan musim liburan akhir tahun sudah datang, dan banyak negara di Eropa yang menawarkan pengalaman menakjubkan seperti Prancis. 

Rabu, 13 Juni 2018

Animals in The Nest was So Good


"Bilqis, kamu tidak puasa hari ini?"
"Umi, puasaku sudah selesai. Kan aku sudah janji. Tahun ini aku puasa penuh 7 hari. Lebih banyak dari tahun kemarin. Kan kemarin aku puasa penuh 6 hari."
"Ya, kali mau nambah. Kan mumpung masih ada beberapa hari lagi puasanya."
"Nggak, Mi. Aku mau pegang janjiku."
Gedubrak!

Minggu, 10 Juni 2018

3 Kegiatan Anak Homeschoolers di Musim Liburan


Sejak bulan lalu, hawa liburan sudah berhembus, ya. Dan masih akan terus berlanjut hingga Bulan Juli nanti. Wah, panjang juga ya, masa liburan sekolah tahun ini. Lha, memangnya ada dampaknya untuk anak homeschooling?

Jumat, 08 Juni 2018

Harga Terbaru TV LCD Panasonic Terbaik


Panasonic merupakan salah satu brand alat elektronik yang menawarkan berbagai macam jenis produk – produk alat elektronik tertentu seperti salah satunya TV LCD. Seperti yang telah diketahui bersama, TV LCD sendiri memiliki beragam keunggulan dibandingkan dengan jenis TV biasa atau tabung. Harga terbaru TV LCD sendiri tergolong sangat beragam sekali dan juga disesuaikan dengan tipe, ukuran dan juga beragam fitur lainnya yang disematkan pada produk tertentu. Hal itulah yang menjadikan harga TV LCD berbeda – beda seperti yang ditawarkan oleh Panasonic. Selain itu, brand tersebut sudah dikenal oleh banyak orang di seluruh dunia karena teknologi dan fiturnya yang lebih maju.

Rabu, 06 Juni 2018

Mewujudkan Indonesia 2020 Bersama Sembutopia


Pernahkah engkau mendengar nama Sembutopia? Aku pernah dong, baru-baru ini juga. Hehehe... Saat aku mengikuti lomba blognya. Artikel yang aku ikutkan lomba bisa dibaca di sini:
3 Aplikasi Penunjang Gaya Hidup Sehat

Senin, 04 Juni 2018

Saat Surai Singa Pun Terjinakkan

Emeron Soft Smooth

"Hai, Rambut Singa!" Itulah sapaan iseng teman-teman SMU padaku. Hal ini tak lepas dari kondisi rambutku yang memang kering, kasar, kusut, merah, bercabang dan susah diatur. Penampangnya yang tebal dan jumlahnya yang lebat cukup sudah membuatnya tampak mengembang kaku seperti surai singa.