header permata pengalamanku

Mawar? Terlalu Feminin Buatku

Posting Komentar

parfum mawar

Aku suka parfum. Sangat suka. Bagi yang sering mampir ke blog ini, mungkin sudah bisa menebaknya dari beberapa artikelku yang sering melibatkan aroma di dalamnya. Tentang reed diffuser, misalnya.

Namun, menjadi pencinta parfum tidak otomatis membuatku menyukai semua aroma. Salah satu yang dulu justru tidak membuatku tertarik adalah mawar.

Entah kenapa, dalam bayanganku saat itu, parfum beraroma mawar pasti terlalu feminin. Terlalu manis, terlalu jauh dari karakter aroma yang biasanya membuatku penasaran. Aku biasanya suka aroma kayu atau buah.

Jadi, meskipun mawar termasuk salah satu aroma paling klasik dalam dunia wewangian, aku tidak pernah benar-benar merasa perlu mencarinya.

Ketika Selera Parfum Tidak Lagi Hanya Tentang Aku

Namanya pernikahan itu memang efeknya luar biasa, ya. Ia bisa mengeluarkan hal-hal potensial dalam diri kita yang sebelumnya tersembunyi. Seperti ketika aku akhirnya tahu bahwa suamiku justru menyukai aroma mawar. 

Kejadiannya ya tidak sengaja. Sebab, biasanya suamiku ini enggak ribet soal pilihan parfumku. Terserah aja aku mau pakai aroma apa. Enggak pernah menyarankan satu jenis wewangian pun. Bahkan, parfumnya pun selalu aku yang pilih.

Kadang, selera memang berubah bukan karena seseorang meyakinkan kita bahwa sesuatu itu bagus. Kita hanya diberi alasan untuk mencobanya sekali lagi. Ternyata, percobaan berikutnya bisa mengantarkan pada kisah yang sama sekali berbeda.

Seperti yang pernah kuceritakan dalam artikel ini, aku mendapat bonus miniatur Bvlgari Rose Goldea saat membeli parfum. Aku pikir, kenapa tidak mencoba? Sayang kan, kalau dibuang begitu aja. Maka, resmilah ia menjadi parfum mawar pertamaku.

Ternyata, aku langsung suka. Hebatnya, suamiku sampai berkomentar bahwa dia suka sekali dengan aroma ini. Baru kali itu dia memuji parfum yang kupakai. 

Pengalaman tersebut membongkar prasangkaku sendiri tentang aroma mawar.

Ternyata, parfum mawar tidak selalu terasa mendayu-dayu. Mawar ternyata tidak punya satu wajah saja. Setiap jenis mawar bisa memberi kesan yang jauh berbeda. Jadi, mungkin selama ini masalahnya bukan aku tidak menyukai mawar. Aku hanya belum bertemu aroma mawar yang kusukai.

Bvlgari Rose Goldea

Pada Rose Goldea, aku menemukan mawar dalam komposisi parfum yang lebih kompleks daripada gambaran sederhana yang selama ini ada di kepalaku. Lagipula, apa salahnya jadi feminin? Toh, memang aku cewek.

Sejak itu, aku mulai lebih terbuka ketika menemukan kata rose dalam daftar notes sebuah parfum. Aku tidak lagi buru-buru berpikir, “Ah, pasti terlalu feminin.” Aku jadi berani memakai Volare dari Oriflame yang sebenarnya sudah jauh lebih lama aku kenal, tetapi selalu kutolak karena merasa bukan untuk aku.

Lucunya, sesuatu yang awalnya kucoba karena selera suami, lama-lama justru ikut menjadi aroma yang kunikmati. Aku jadinya malah penasaran dengan tiap parfum mawar, yang ini akan seperti apa?

Karena semakin banyak mencium parfum, semakin kusadari bahwa mawar bisa mempunyai banyak karakter. Bisa lembut, segar, bersih, manis, powdery, bahkan terasa lebih dalam ketika dipertemukan dengan musk, kayu-kayuan, rempah, atau oud.

Dan, dari situlah rasa penasaranku bergerak lebih jauh. Kalau setetes aroma mawar bisa memberikan karakter sedemikian berbeda dalam sebuah parfum, sebenarnya bagaimana perjalanan bunga mawar sampai akhirnya masuk ke dalam botol parfum?

Lalu, Aku Sampai di Thaif

mawar Thaif

Pertanyaan itu ikut kubawa ketika perjalanan umrah membawaku ke Thaif. Kota di dataran tinggi yang berhawa sejuk, dengan lahan bercampur ekstrem antara bebatuan besar dan tanah subur.

Kota ini memiliki hubungan yang erat dengan mawar. Sebagai pencinta parfum yang telah berdamai bahkan jatuh suka dengan aroma mawar, tentu saja aku berharap bisa melihat lebih dekat perjalanan bunga tersebut sampai menjadi wewangian.

Sayang, kami datang di bulan Desember. Bukan musim panen mawar yang biasanya berlangsung pada Maret-April. Sehingga, kami tidak berkesempatan melihat kebun yang sedang penuh bunga ataupun menyaksikan langsung mawar-mawar dipanen.

Namun, kami sempat mampir ke sebuah tempat pengolahan produk mawar. Di sebuah ruangan, kami duduk bersama sambil menyaksikan video mengenai proses pengolahan mawar. Seorang perempuan Arab menjelaskannya kepada rombongan kami dalam bahasa Indonesia.

Selama ini, kita bertemu parfum ketika semuanya sudah selesai. Botolnya cantik. Cairannya sudah diformulasikan. Kita menyemprotkan ke kulit, menunggu meresap, lalu memutuskan suka atau tidak.

Namun, apa yang terjadi jauh sebelum itu? Berapa banyak mawar yang diperlukan? Bagaimana aromanya diambil dari kelopak? Seperti apa aroma hasil ekstraksi pertama? Apa yang membuat minyak mawar tertentu sangat mahal? Dan, bagaimana seorang perfumer mengubah aroma bahan tersebut menjadi parfum mawar yang semerbak sekaligus tahan lama?

Itulah yang sebenarnya ingin kulihat, dan belum kesampaian.

Sebotol Minyak Mawar Berkeliling

Tentu saja, ada satu bagian yang langsung menarik perhatian pencinta parfum sepertiku. Sebuah botol mungil diedarkan.

Pemandu menjelaskan bahwa yang kami coba adalah minyak mawar sebelum diolah atau dicampurkan lebih lanjut menjadi produk wewangian. Kami bergantian mengoleskan sedikit dan mencium aromanya.

Aku sudah membangun ekspektasi tinggi. Mawar Thaif. Minyak mawar. Langsung di tempat pengolahannya. Seharusnya, semerbak sekali, kan? Ternyata, pengalaman hidungku berkata lain.

Aromanya terasa lebih lembut daripada yang kubayangkan dan tidak bertahan selama yang kuharapkan di kulitku. Bisa jadi karena yang kucoba memang bukan parfum jadi. Bisa juga karakter bahan tersebut memang berbeda dari parfum mawar yang selama ini kukenal setelah melalui formulasi.

Karena itu, pengalaman tersebut bukannya mengakhiri rasa penasaran.

Masih Mencari Mawar yang Membawaku ke Sumbernya

Thaif sudah memberiku sedikit gambaran, tetapi rasa penasaranku tentang parfum mawar belum terbayar.

Aku masih ingin mengunjungi kebun sekaligus tempat penyulingan atau pabrik parfum mawar berkualitas tinggi, terutama tempat yang memungkinkan pengunjung melihat perjalanan itu secara langsung: dari bunga yang baru dipetik, proses ekstraksi minyaknya, sampai akhirnya diracik menjadi parfum. Aku ingin mencium perbedaannya di setiap tahap.

Jadi, kali ini aku justru ingin bertanya kepada kalian. Pernahkah kalian mengunjungi kebun mawar, penyulingan minyak mawar, atau pabrik parfum yang proses produksinya bisa disaksikan langsung? Tidak harus di Thaif. Bisa di negara mana pun. Syukur-syukur kalau ada di Indonesia.

Ada rekomendasi?

Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar