header permata pengalamanku

Mengapa Membaca Novel Tidak Bisa Digantikan oleh Film atau Buku Nonfiksi? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Posting Komentar
manfaat membaca novel

Pernah mendengar seseorang mengatakan bahwa membaca novel hanya membuang waktu? Lebih baik membaca buku nonfiksi karena bisa menambah pengetahuan. Atau, kalau ingin menikmati cerita, mengapa harus menghabiskan berhari-hari membaca novel ketika filmnya bisa ditonton dalam dua jam?

Sekilas, pendapat tersebut terdengar masuk akal. Buku nonfiksi menyajikan informasi yang bisa langsung diterapkan dalam kehidupan. Film pun mampu menyampaikan cerita melalui perpaduan gambar, suara, dialog, dan ekspresi para pemerannya.

Namun, ada sesuatu yang berbeda ketika kita membaca novel. Perbedaan tersebut ternyata bukan sekadar persoalan selera atau nostalgia terhadap buku cetak.

Sejumlah penelitian di bidang psikologi kognitif dan neurosains menunjukkan bahwa membaca cerita fiksi melibatkan proses mental yang khas. Proses tersebut berhubungan dengan kemampuan memahami orang lain, membangun gambaran mental, hingga mengolah bahasa.

Artinya, novel bukan sekadar hiburan yang bisa digantikan begitu saja oleh bentuk hiburan atau bacaan lainnya.

Membaca Novel Membuat Otak Menyimulasikan Pengalaman

Bayangkan kita sedang membaca novel tentang seseorang yang tersesat sendirian di tengah hutan. Penulis menggambarkan suara ranting yang patah, udara dingin yang menyentuh kulit, dan langkah kaki yang semakin cepat ketika tokoh menyadari bahwa ada sesuatu yang mengikutinya.

Padahal, kita sedang duduk dengan nyaman di rumah. Tidak ada hutan, tidak ada suara ranting, dan tentu saja tidak ada sesuatu yang mengejar kita. Akan tetapi, pikiran kita bisa membangun pengalaman tersebut.

Dalam penelitian berjudul Reading Stories Activates Neural Representations of Visual and Motor Experiences yang diterbitkan di jurnal Psychological Science pada 2009, Nicole K. Speer dan rekan-rekannya menemukan bahwa ketika seseorang membaca cerita, otaknya melibatkan sistem saraf yang berkaitan dengan pemrosesan tindakan, lokasi, serta tujuan tokoh.

Penelitian menggunakan pencitraan otak ini mendukung gagasan bahwa pembaca memahami cerita dengan membangun simulasi mental mengenai kejadian yang sedang berlangsung.

Dengan kata lain, membaca cerita tidak hanya melibatkan kegiatan mengenali kata dan memahami kalimat. Otak juga menyusun representasi tentang dunia yang diceritakan.

Tentu saja, simulasi tersebut tidak berarti pengalaman membaca sama persis dengan mengalami kejadian secara langsung. Namun, proses mental inilah yang membuat sebuah novel terasa hidup meskipun hanya disampaikan melalui rangkaian kata.

Novel Bisa Membantu Kita Memahami Pikiran Orang Lain

Salah satu kemampuan penting manusia adalah memahami bahwa orang lain mempunyai pikiran, perasaan, keyakinan, dan alasan bertindak yang mungkin berbeda dari kita. Dalam psikologi, kemampuan ini berkaitan dengan konsep Theory of Mind.

Misalnya, kita melihat seseorang tiba-tiba marah kepada sahabatnya. Kita mungkin langsung menilai orang tersebut kasar atau tidak dewasa. 

Namun, bagaimana jika kita mengetahui bahwa ia sebenarnya sedang mengalami tekanan berat, merasa dikhianati, dan tidak mampu mengungkapkan kekecewaannya? Penilaian kita mungkin berubah.

Novel sering membawa pembaca ke dalam situasi seperti itu. Kita tidak hanya menyaksikan tindakan seorang tokoh, tetapi juga mengikuti konflik batinnya, mengetahui pengalaman masa lalunya, dan memahami alasan di balik keputusannya.

Hal ini didukung oleh penelitian ilmiah.

Pada 2024, Lena Wimmer dan rekan-rekannya menerbitkan dua meta-analisis dalam Journal of Experimental Psychology: General. Salah satunya menggabungkan hasil 70 eksperimen mengenai dampak membaca fiksi terhadap kemampuan kognitif.

Hasilnya menunjukkan adanya manfaat positif yang relatif kecil tetapi terukur, terutama pada empati dan kemampuan memahami keadaan mental orang lain.

Temuan tersebut diperkuat oleh tinjauan sistematis dan meta-analisis yang diterbitkan dalam Frontiers in Psychology pada September 2026. Penelitian ini juga menemukan hubungan positif antara membaca teks sastra dan kemampuan mengambil perspektif orang lain.

Namun, ada catatan penting: membaca novel tidak otomatis membuat seseorang menjadi lebih berempati. Besarnya pengaruh yang ditemukan umumnya kecil dan dapat berbeda-beda sesuai pembaca, jenis cerita, serta keterlibatan mereka dalam membaca.

Walaupun demikian, novel menyediakan kesempatan untuk mencoba memahami kehidupan dari sudut pandang yang mungkin tidak pernah kita alami sendiri. 

Kita tidak harus menyetujui tindakan seorang tokoh untuk memahami mengapa ia melakukannya. Kemampuan membedakan antara memahami dan membenarkan inilah yang membuat pengalaman membaca novel menjadi menarik.

Buku Nonfiksi Memberikan Penjelasan, Novel Memberikan Pengalaman Naratif

Buku nonfiksi tentu sangat penting. Dari buku psikologi, kita dapat mempelajari penyebab trauma. Dari buku sejarah, kita mengetahui dampak peperangan. Dari buku sosiologi, kita memahami persoalan kemiskinan dan ketimpangan sosial.

Namun, membaca novel mengenai seseorang yang mengalami trauma, peperangan, atau kemiskinan memberikan bentuk pengalaman yang berbeda.

Ambil contoh kemiskinan.

Buku nonfiksi dapat menjelaskan bagaimana kemiskinan struktural terbentuk, berapa besar tingkat pengangguran, atau bagaimana kebijakan ekonomi memengaruhi kehidupan masyarakat. Sementara itu, sebuah novel dapat mengajak pembacanya mengikuti kehidupan seorang ayah yang kehilangan pekerjaan.

Kita membaca bagaimana ia berusaha menyembunyikan kecemasannya dari anak-anak, bagaimana ia menghitung uang yang tersisa, dan bagaimana harga dirinya perlahan terkikis ketika berulang kali ditolak bekerja.

Keduanya sama-sama memberi pengetahuan. Namun, cara pengetahuan tersebut disampaikan berbeda.

Nonfiksi ekspositoris terutama dirancang untuk menjelaskan informasi atau gagasan, sedangkan novel membangun pengalaman melalui rangkaian peristiwa, tokoh, konflik, dan konsekuensi.

Tentu saja, tidak semua nonfiksi bekerja dengan cara yang sama. Biografi, memoar, dan jurnalisme naratif juga dapat menghadirkan pengalaman emosional yang mendalam. Karena itu, tidak tepat mengatakan bahwa hanya novel yang mampu membangkitkan empati.

Keistimewaan novel justru terletak pada kebebasan fiksi untuk membangun dunia, tokoh, dan konflik yang tidak harus pernah benar-benar terjadi, tetapi tetap memungkinkan kita memikirkan persoalan manusia secara serius.

Mengapa Menonton Film Tidak Sama dengan Membaca Novel?

Saya tidak menganggap film sebagai media yang lebih rendah daripada novel. Film mempunyai kekuatan tersendiri dalam menyampaikan emosi melalui akting, sinematografi, musik, dan penyuntingan.

Namun, membaca novel dan menonton film merupakan dua aktivitas kognitif yang tidak sepenuhnya sama.

Ketika menonton film, sebagian besar tampilan visual telah disediakan. Kita bisa langsung melihat wajah tokoh, bentuk rumah, pencahayaan, hingga ekspresinya ketika menangis. Sebaliknya, ketika membaca novel, pembaca perlu membangun sendiri banyak unsur tersebut berdasarkan deskripsi yang diberikan penulis.

Coba berikan satu paragraf deskripsi sebuah rumah tua kepada sepuluh pembaca. Gambaran rumah yang terbentuk dalam pikiran mereka mungkin tidak akan persis sama.

Ada yang membayangkan rumah besar dengan dinding kusam. Ada yang membayangkan rumah kecil dengan jendela kayu. Sebagian bahkan mungkin menghubungkannya dengan rumah yang pernah mereka kunjungi.

Penelitian Sebastian Paul Suggate yang diterbitkan dalam Psychology of Aesthetics, Creativity, and the Arts pada 2025 memberikan bukti menarik mengenai perbedaan ini.

Dalam eksperimen terhadap 239 orang dewasa, peneliti membandingkan pengaruh menonton cuplikan film dan membaca teks yang kaya dengan deskripsi terhadap kemampuan melakukan tugas imajinasi mental.

Hasilnya menunjukkan bahwa peserta yang sebelumnya menonton cuplikan film pada awalnya membutuhkan waktu lebih lama dalam tugas tersebut dibandingkan setelah membaca teks.

Peneliti menafsirkan temuan ini sebagai indikasi bahwa membaca dapat lebih merangsang aktivitas pembentukan gambaran mental dalam kondisi yang diuji.

Penelitian tersebut memang tidak membandingkan membaca satu novel utuh dengan menonton adaptasi filmnya. Jadi, hasilnya tidak boleh digeneralisasi terlalu jauh.

Namun, temuan ini menunjukkan bahwa perbedaan proses mental antara membaca dan menonton bukan sekadar dugaan. Film memperlihatkan sebuah dunia kepada penontonnya, sedangkan novel mengajak pembaca ikut membangun dunia tersebut di dalam pikirannya.

Keduanya dapat sama-sama mengharukan, tetapi pengalaman mental yang terjadi tidak identik.

Membaca Novel Berhubungan dengan Kemampuan Bahasa

Pernah merasa lebih mudah merangkai kalimat setelah cukup lama membaca buku? Ada alasan mengapa membaca sering dikaitkan dengan perkembangan kemampuan berbahasa.

Dalam meta-analisis Wimmer dan rekan-rekannya pada 2024, peneliti menggabungkan hasil 114 studi korelasional. Mereka menemukan hubungan positif antara paparan bacaan fiksi sepanjang hidup dengan sejumlah kemampuan kognitif.

Hubungan yang paling menonjol ditemukan pada kemampuan verbal, meskipun besarnya hubungan keseluruhan tergolong kecil.

Hal ini masuk akal. Ketika membaca novel, kita berhadapan dengan kosakata, struktur kalimat, dialog, sudut pandang, dan gaya bahasa yang beragam. Kita juga perlu memahami makna yang tidak selalu disampaikan secara langsung.

Misalnya, kalimat "Aku baik-baik saja" dalam sebuah percakapan bisa berarti sesuatu yang berbeda ketika pembaca mengetahui bahwa tokoh tersebut baru saja kehilangan orang yang dicintainya. Memahami makna semacam itu membutuhkan kemampuan menghubungkan bahasa dengan konteks.

Meski begitu, penelitian korelasional tidak bisa memastikan bahwa membaca novel merupakan satu-satunya penyebab meningkatnya kemampuan bahasa. Bisa saja orang yang sudah memiliki kemampuan verbal baik memang lebih menyukai kegiatan membaca.

Yang jelas, novel menawarkan ruang yang kaya untuk berinteraksi dengan bahasa dalam konteks cerita yang panjang dan saling berkaitan.

Novel Mengajak Kita Hidup Bersama Ketidakpastian

Dalam kehidupan nyata, manusia tidak selalu terbagi menjadi orang baik dan orang jahat. 

Seseorang bisa melakukan kesalahan karena alasan yang kita pahami. Orang yang kita anggap benar pun terkadang mengambil keputusan yang melukai orang lain. Novel memungkinkan pembaca berhadapan dengan kerumitan semacam ini. 

Kita bisa menyukai seorang tokoh, kecewa terhadap tindakannya, lalu kembali bersimpati setelah memahami sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui. Bahkan, kita mungkin sampai pada akhir cerita tanpa mendapatkan jawaban yang benar-benar pasti.

Di sinilah pengalaman membaca menjadi lebih dari sekadar mencari informasi. Pembaca diajak mempertimbangkan berbagai kemungkinan, menafsirkan motif tokoh, dan menghadapi persoalan yang tidak selalu mempunyai penyelesaian sederhana.

Akan tetapi, kita juga perlu berhati-hati dengan klaim bahwa membaca sastra pasti membuat seseorang lebih kreatif atau berpikiran terbuka.

Penelitian Wimmer dan rekan-rekannya yang diterbitkan dalam Creativity Research Journal pada 2024, misalnya, tidak menemukan perbedaan yang signifikan pada sejumlah ukuran kreativitas dan keterbukaan kognitif antara peserta yang membaca cerita sastra dan mereka yang membaca esai nonfiksi.

Jadi, nilai novel tidak perlu dibela dengan menganggap semua manfaat psikologisnya telah terbukti.

Bagi saya, kesempatan memasuki kehidupan tokoh yang rumit, memikirkan pilihan-pilihannya, dan menemukan makna sendiri sudah merupakan alasan yang cukup berharga untuk membaca.

Jadi, Apakah Membaca Novel Lebih Baik daripada Nonfiksi atau Film?

Menurut saya, pertanyaannya bukan media mana yang paling baik, tetapi pengalaman apa yang ingin kita dapatkan.

Ketika membutuhkan informasi tentang penyakit, misalnya, kita tentu perlu membaca sumber medis yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan mengandalkan cerita fiksi. Ketika ingin memahami suatu peristiwa sejarah, buku sejarah mempunyai peran yang tidak bisa digantikan oleh novel sejarah.

Begitu pula ketika menikmati film. Ada kekuatan gambar bergerak dan ekspresi manusia yang tidak dapat sepenuhnya disampaikan melalui tulisan.

Namun, novel menawarkan perpaduan tersendiri: bahasa, imajinasi, keterlibatan emosional, dan kesempatan mengikuti kehidupan tokoh dalam rentang cerita yang panjang.

Tinjauan ilmiah Raymond A. Mar dan rekan-rekannya yang diterbitkan dalam Current Opinion in Psychology pada Juli 2026 juga menegaskan pentingnya penelitian mengenai manfaat membaca fiksi naratif, mulai dari kemampuan bahasa dan pemahaman sosial hingga kesejahteraan psikologis.

Manfaat-manfaat tersebut tidak berarti setiap novel pasti menghasilkan perubahan positif. Namun, bukti ilmiah cukup memberikan alasan untuk tidak memandang bacaan fiksi sebagai kegiatan yang tidak berguna.

Buku nonfiksi, film, dan novel seharusnya saling melengkapi, bukan dipertentangkan.

Membaca Novel Bukan Membuang Waktu

Di tengah kehidupan yang semakin menuntut segala sesuatu serba cepat dan produktif, membaca novel sering dianggap sebagai kegiatan yang kurang bermanfaat.

Kita mungkin merasa harus selalu mendapatkan pengetahuan praktis, keterampilan baru, atau sesuatu yang langsung bisa menghasilkan uang dari setiap kegiatan. Padahal, tidak semua hal yang berharga harus menghasilkan manfaat yang langsung terlihat.

Membaca novel memungkinkan kita menghabiskan waktu bersama kehidupan yang tidak kita jalani, mengenal orang-orang yang tidak pernah benar-benar ada, dan memikirkan persoalan yang barangkali tidak pernah kita temui secara langsung.

Tentu saja, sebuah novel bukan pengganti pengalaman hidup. Membacanya juga tidak otomatis menjadikan seseorang lebih bijaksana, cerdas, ataupun baik hati.

Namun, novel menyediakan kesempatan untuk menggunakan pikiran dengan cara yang berbeda dari ketika membaca informasi atau menonton gambar bergerak.

Itulah alasan saya menganggap membaca novel tetap penting, bahkan ketika kita memiliki akses terhadap begitu banyak bentuk pengetahuan dan hiburan lainnya.

Sebab, ada perbedaan antara mengetahui apa yang dialami seseorang dan mengikuti sebuah cerita hingga kita mulai memahami bagaimana rasanya berada dalam situasi orang tersebut. Dan untuk pengalaman membaca yang satu itu, tidak selalu ada jalan pintas.

Apa pendapatmu tentang novel?

Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar