Andai Menyusun Menu MPASI Bisa Semudah Ini

Sebenarnya menyusun menu MPASI (Makanan Pendamping Air Susu Ibu)  itu memang mudah, kok. Apa lagi jika kita mengikuti panduan dari WHO (World Health Organization) yang terbaru yaitu keluaran tahun 2010. Inti Panduan MPASI WHO untuk mudahnya dikenal dengan prinsip AFATVAH: age, frequency, amount, texture, variety, active responsive feeding, dan hygiene.

Umur

Ya, ini adalah patokan penting untuk menentukan kapan bayi dinyatakan siap menerima MPASI dan MPASI seperti apa yang kita berikan padanya. MPASI sangat disarankan untuk mulai diberikan saat usia 6 bulan. Karena pada usia tersebut, bayi memerlukan tambahan makanan selain ASI dan organ pencernaannya pun telah siap mencerna sumber nutrisi yang lebih padat.
Perlu diingat bahwa karena sebutannya adalah sebagai Makanan Pendamping, maka menu yang akan kita susun adalah bentuk asupan sampingan sebagai pelengkap dan sarana belajar bagi bayi untuk mengenal makanan padat. Untuk bayi usia di bawah 1 tahun, ASI tetap menjadi bagian terpenting dari makanan bayi. Berikan sesuai permintaan sepanjang hari dan malam.

Frekuensi

Dengan memperhatikan faktor umur, maka kita memberikan menu utama pada bayi dengan frekuensi yang meningkat secara bertahap. Yaitu ketika awal usia 6 bulan, MPASI diberikan 2 kali sehari. Dan jika bayi tampak siap serta membutuhkan, frekuensi ditambah menjadi 3 kali sehari hingga usia 12 bulan nanti.
Di samping menu utama, aneka camilan sehat seperti buah-buahan, sayuran dan umbi-umbian dapat diberikan sebagai tambahan asupan sebanyak 1x sehari di usia 6-9 bulan, dan ditambahkan menjadi 2x sehari di usia 9-12 bulan.

Jumlah

Berdasarkan tingkat usianya, kita berusaha memberikan porsi makan yang meningkat secara bertahap. Yaitu diawali dengan 2 sampai 3 sendok setiap makan pada usia 6 bulan sebagai pengenal rasa. Kemudian berangsur-angsur porsinya ditambah secara berkala hingga bisa mencapai 125 ml sekali makan begitu menginjak usia 12 bulan.

Kepekatan

Harus cukup pekat/kental untuk diberikan dengan tangan. Jadi sejak awal MPASI, bayi sudah mengonsumsi makanan kental, ya Ibu-Ibu, bukan makanan encer. Indikasi makanan yang cukup kental adalah: jika disendok dan kemudian sendok dibalik, makanan tidak langsung tumpah. Makanan yang kental menunjukkan kepadatan kandungan gizinya.
Setelah berusia 8 bulan, bayi sudah mulai makan makanan yang bisa ia pegang. Berikan makanan keluarga yang dipotong-potong. Soal ukurannya, disesuaikan dengan kemampuan bayi menjumput, menggenggam, memotong dengan gusi/gigi serta mengunyahnya.

Variasi

Mulai dengan makanan pokok, seperti: jagung, gandum, nasi, padi-padian, kentang, ubi atau bahan berkalori tinggi seperti pisang atau kentang yang dilumatkan. Kemudian berlanjut dengan segera memberi menu yang bervariasi ya, Bu. Terutama jika memang tidak ada tanda-tanda alergi.
Segera sajikan menu lengkap 4 bintang. Artinya terdiri dari 4 kelompok bahan pangan penting bagi tubuh. Jadi, setiap waktu makan menunya berisi karbohidrat, protein hewani, protein nabati serta sayuran dan buah. Jika Ibu memberikan makanan yang mengandung minyak atau lemak kepada bayi, berikan tidak lebih dari setengah sendok teh per hari.
WHO merekomendasikan untuk menyusun menu MPASI dengan menggunakan bahan lokal. Jadi, kita tidak harus repot-repot beli bahan impor ya, Ibu-Ibu. Hanya karena sedang mencontek resep MPASI dari situs negara Barat. Kita bisa mengadaptasinya sesuai dengan kearifan lokal.
Cukup disamakan saja dengan bahan pangan yang akan diolah untuk keluarga hari itu. Jadi, bayi langsung beradaptasi memakan menu harian keluarga. Tinggal kita sesuaikan masalah porsi dan tekstur makanannya dengan usia dan kemampuan bayi.

Pemberian makan secara aktif/responsif

Pemberian MPASI harus memperhatikan perkembangan ketrampilan bayi. Bayi mungkin perlu waktu untuk terbiasa dengan makanan lain selain ASI. Bisa saja di awal pemberian MPASI, bayi bukannya mengunyah dan menelan makanannya. Melainkan justru menjulurkan lidahnya sehingga makanannya keluar mulut.
Hal ini tidak selalu berarti dia tidak menyukai makanan tersebut. Namun semata-mata dia masih beradaptasi dan berlatih mendorong makanan ke dalam mulutnya. Kesabaran dan dukungan Ibu kepada bayi sangat diperlukan di masa ini.
Tidak perlu memaksa bayi untuk makan. Biarkan dia mengunyah makanannya walau pelan. Dan batasi waktu makan hingga maksimal 30 menit walaupun makanan belum habis untuk menghindari rasa bosan bayi pada acara makan.

Kebersihan

Perhatikan selalu kebersihan bahan pangan, alat-alat pengolah serta alat makan bayi untuk menghindarkan dari risiko diare atau penyakit yang lain.

MPASI-ku: Aplikasi Pendukung MPASI


Setelah berbekal pengetahuan di atas, menurut Ibu-Ibu, menyusun menu MPASI itu mudah atau sulit, ya? Bisa dibilang gampang-gampang sulit, ya. Untuk mengurangi kepanikan sehari-hari, ada baiknya nih, disediakan aplikasi yang dapat membantu para ibu menyusun daftar menu MPASI harian yang ideal sesuai saran para ahli kesehatan.

Dalam bayanganku, ada baiknya aplikasi yang dapat diunduh melalui telepon genggam tersebut memiliki fasilitas untuk mengatur jadwal menu bayi usia 6-12 bulan. Jadwal ini dapat disusun sejak dini sebagai persiapan sebelum waktu pemberian MPASI dimulai. Penyusunan jadwal ini juga membantu Ibu untuk menyusun menu keluarga karena kan tinggal disamakan bahan-bahannya.
Namun, di tengah jalan, jadwal yang telah disusun ini tetap dapat disesuaikan dengan kondisi harian yang terjadi selama masa MPASI. Misalnya terkait dengan ketersediaan bahan pangan. Ada kalanya Ibu tidak mendapati suatu bahan di pasaran sehingga tidak dapat mengolahnya hari itu. Atau sebaliknya, Ibu baru saja mendapat kiriman bahan pangan tertentu dari kerabat sehingga sayang sekali jika tidak segera diolah. Bisa juga jika ternyata ada alergi yang muncul pada bayi terhadap bahan tertentu. Sehingga Ibu tidak dapat memasukkan bahan tersebut di dalam menu. Hal ini membutuhkan fitur untuk mengubah menu harian agar tetap bisa disesuaikan.
Nah, itu berarti aplikasi ini juga seharusnya dilengkapi dengan beberapa alternatif ide menu/bahan pengganti jika suatu bahan tidak dapat digunakan hari itu, atau justru sebaliknya ingin digunakan pada hari itu. Maka bahan ini akan diidentifikasi untuk menggantikan bahan sejenis yang sudah tercantum pada menu awal yang telah disusun. Misalnya, kentang dapat digunakan untuk menggantikan bahan nasi karena sama-sama karbohidrat.
Selain itu, dalam jadwal MPASI ini juga memiliki tempat untuk mencatat reaksi bayi terhadap menu yang disediakan. Apakah dia tampak suka, apakah timbul gejala alergi, berapa banyak jumlah porsi yang dihabiskan, apakah dia kesulitan mencerna makanan tersebut dll.

Juga, ada baiknya aplikasi ini mampu mengatur menu yang tinggi zat besi. Mengingat kasus kekurangan zat besi banyak menyerang bayi di usia 6 bulan ke atas. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya kebutuhan zat besi pada usia ini yang tidak didukung dengan asupan yang memadai.
Penyediaan menu yang tinggi zat besi dapat dilakukan dengan cara:
  • menyarankan penggunaan protein hewani terutama daging merah
  • menyarankan penggunaan sumber zat besi dari tumbuhan yang selalu diiringi dengan sumber Vitamin C untuk mengoptimalkan penyerapan zat besi dari tumbuhan
  • tidak mengumpulkan bahan pangan sumber zat besi dan kalsium dalam satu menu karena salah satunya akan terhambat penyerapannya
Bisa juga ditambahkan fitur lain untuk mendukung diet yang banyak dibutuhkan oleh bayi di usia MPASI. Misalnya: diet gluten, diet sumber protein tertentu pencetus alergi dll. Juga, tentunya memiliki berbagai informasi seputar makanan dan tumbuh kembang bayi yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan terkini.

Wah, sebagai ibu hamil, saya tentu sangat berharap dan bersyukur sekali jika aplikasi semacam ini bisa terwujud. Apakah Anda juga memiliki ide tentang suatu aplikasi yang bermanfaat? Yuk, salurkan idemu dengan mengikuti IWIC (Indosat Wireless Innovation Contest) yang ke-11 tahun ini. Dapatkan keterangan lengkap tentang ajang ini di situs resminya, ya.
Jangan lupa untuk mengambil bagian dalam acara ini dengan menyumbangkan idemu dan daftarkan ke sini paling lambat 20 November 2017 Semoga ide kita bisa diadopsi dan diwujudkan untuk dimanfaatkan seluas-luasnya bagi kepentingan sesama manusia. Siapa pun pasti punya ide brilian. Tidak percaya? Buktikan saja!


Referensi tulisan: https://www.unicef.org/indonesia/id/PaketKonseling-3Logos.pdf
Sumber foto: freeimages.com

Komentar

  1. Inget banget waktu nyusun menu MPASI anak pertama. Rasanya mengalahkan efort menyiapkan draft lomba blog kwkwkw. Trus rasanya kayak patah hati saat di lepeh, di sembur, atau anaknya GTM kwkwkw. Asli mengalahkan patah hati di putusin pacar *LOL

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi.. Iya. Biasanya ancang2nya dah sejak sebulan sblmnya ya. Trus pas hari-H bayi ga doyan, bahan ga tersedia, tumbul alergi.. Aargghh.. Kacau semua jadwal yg disusun :😅

      Hapus
  2. Belum bisa bikin mpasi baru baca aja, soalnya debaynya belum lahir 😀

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe.. Moga segera jadi rizkinya ya :)

      Hapus
  3. Asik dapet pengetahuan baru. Ya meskipun belum punya krucil yang bisa dibuatin MPASI :)

    BalasHapus
  4. Makasih Mba... Bentar lagi akan berkutat dengan MPASI lagi nih.. Kudu mulai disiapin.
    Lbh oke lg klo ada mobile apps-nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih. Enak ya kalau ada aplikasinya :)

      Hapus
  5. Bikin mpasi anak ini benar-benar tantangan euy. Sudah bikin dengan semangat eh anaknya nggak mau makan. Heu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi.. Begitulah. Kalau ada alat untuk mencatat sih enak ya jd bisa untuk evaluasi :)

      Hapus

Posting Komentar

Hai, terimakasih sudah berkunjung.
Jejakkan komentarmu di sini ya... ^_^