Alquran, Buku yang Paling Mampu Mengubahku



Klise sangat, ya? Menjadikan kitab suci sebagai buku yang paling berpengaruh dalam mengubah kehidupanku. Tapi bagaimana lagi. Aku memang gagal menemukan buku lain yang bisa menyaingi perannya membawaku pada perbaikan diri.

Cinta Pertama

Aku pertama kali mengenal buku ini dari lingkungan rumah, seperti kebanyakan keluarga muslim pada umumnya. Buku itu dibacakan oleh ayahku dengan lantunan suara beratnya yang menyejukkan. Ayahku membacanya bukan dengan qira'ah yang mendayu-dayu. Beliau membacanya secara tartil saja, dengan nada rendah yang tenang.




Setiap kali Ayah membacanya, seolah dunia mendadak sunyi dan berputar-putar pelan di sekelilingku. Tak ada lagi hal yang lebih menarik untuk kulakukan saat itu kecuali mempertajam pendengaran dan menyimaknya hingga selesai. Walau aku tak tahu artinya, namun mendengarkan bacaan Ayah selalu membuatku merasa sedang belajar sesuatu. Entah apa itu.

Sejak kecil, salah satu hal yang membuat Ayah terkenal di kampung halamannya adalah bacaan Alqurannya. Beliau suka ikut membaca bersama anak-anak lain di surau. Bacaan ini terdengar seluruh kampung melalui pengeras suara. Dari 114 surat yang ada, yang paling sering Ayah bacakan adalah Al-Anbiya'. Karena itu Beliau dikenal dengan nama Si Anbi di kampungnya.

Dan menurutku, walau banyak para imam salat yang bacaannya jauh lebih indah dari Ayah, namun tidak ada yang mampu memberikan efek sedahsyat jika Ayah yang membacanya. Berdiri di barisan makmum saat Ayah mendapat giliran mengimami salat tarawih di kompleks kami adalah hal utama di Bulan Ramadan yang sama sekali tak ingin aku lewatkan. Sensasinya seperti merindukan masakan ibu di tengah berbagai makanan lezat yang beredar di pasaran.

Sayangnya, keindahan lantunan itu tak otomatis menurun padaku. Karena Ayah bukanlah orang yang piawai dalam mengajar. Jadi, tetap saja kami, anak-anaknya, dikirim ke TPQ untuk belajar membaca Alquran setiap sore.

Selama di TPQ, kami diajari cara membaca Alquran. Yang mana hasil tajwidnya masih berantakan. Mungkin karena terlalu banyak murid dengan waktu belajar yang terbatas. Jadinya guru tidak dapat fokus memperhatikan ketepatan bacaan tiap anak satu per satu. Boro-boro berlatih melantunkan bacaan dengan indah.

Membahas artinya pun tidak pernah sama sekali dilakukan di TPQ. Hanya kadang dikupas dalam pelajaran agama di sekolah. Jadi ada beberapa kosakata dalam Alquran yang aku tahu maknanya.

Cinta Kan Membawamu Kembali

Selepas SD, aku jadi semakin jarang berinteraksi dengan Alquran. Karena tidak umum anak usia SMP belajar di TPQ. Membaca mandiri di rumah? Sepertinya tidak pernah. Alquran hanya disentuh di masa Pondok Ramadan atau menjelang EBTA Praktik Agama.

Titik balik itu terjadi pada caturwulan terakhir saat duduk di kelas 3 SMU. Saat di mana aku memantapkan hati untuk memperbaiki diri dalam segala hal. Dan tentang memperbaiki hubunganku dengan Alquran, baru mulai aku titi di awal masa kuliah.

Masa perkenalan kuliah yang relatif masih mudah, belum banyak tugas. Aku manfaatkan waktuku untuk lebih mendalami buku ajaib ini. Bagaimana caranya?
Aku masih bingung belajar ke mana. Orang-orang baik yang kukenal sepertinya semua sibuk dengan tanggung jawabnya masing-masing. Maka aku memulainya dulu sendiri, sebisaku.

Aku membeli sebuah Alquran yang lengkap beserta terjemahannya. Aku pilih yang ukurannya paling kecil agar praktis. Setiap selesai salat, aku membaca beberapa lembar kemudian menghayati terjemahannya.
Aku tahu ilmuku masih sangat tumpul. Namun dengan begitu saja, jiwaku sudah terisi deras oleh berbagai sensasi. Aku suka hubungan ini. Aku suka kedekatan ini. Aku suka membaca surat cinta dari Zat Yang Maha Mencintai.

Mau Dibawa Ke Mana

Membaca adalah hobiku. Tentu saja aku sangat suka membaca buku sejak aku mampu mengeja huruf. Diantara buku-buku itu, tentu ada yang menancapkan kesan yang lebih mendalam dibanding yang lain.

Namun ada kebiasaan kutu buku yang ternyata tidak aku miliki. Sangat dimaklumi bahwa para pecinta buku suka sekali mengulang-ulang membaca buku. Apa lagi jika itu termasuk buku favoritnya.
Hal ini berbeda denganku. Sebagus apa pun sebuah buku itu menurutku, jarang sekali aku membacanya ulang. Aku merasa sekali membaca sudah cukup. Dan aku akan mengenang dalam ingatan apa pun kesan yang kutangkap dari buku tersebut.

Tapi itu tak berlaku untuk sebuah buku bernama Alquran. Sejak aku CLBK dengannya di awal zaman kuliah, aku masih suka sekali membolak-balikkan lembarannya. Belum juga habis antusiasmeku memetik hikmah dari dalamnya. Setiap selesai melewati satu ayat, bertaburanlah aneka hal-hal baru dari ayat sebelumnya yang melengkapi. Membuatku ingin kembali membaca ke belakang.

Aku suka mengoreksi pemahamanku, kawatir kalau-kalau ada yang keliru. Beberapa ayat bahkan ada yang aku sangat suka mengingatnya huruf per huruf. Aku sukaaa... sekali membuatnya terus mengiang-ngiang di telingaku, di otakku.

Itu saja? Aku mencintainya sekadar sebagai bacaan? Tentu tidak. Buku ini benar-benar motivator sejati. Dia bisa membakar semangatku kapan pun. Dia bisa menunjukkan apa yang harus kulakukan. Karena itulah jalan untuk terus berusaha memahaminya dengan benar aku rintis setapak demi setapak.

Aku masih diliputi oleh dahaga. Untuk mereguk lautan ilmunya yang luas. Aku yang bahkan masih belum mampu berenang-renang menikmati keseluruhan rasa segarnya.

Yang aku tahu hanyalah dia sangat bisa diandalkan untuk mengurai kebingungan. Membuatku berbuat sesuatu yang tak terpikirkan sebelumnya. Saat aku ingin menerjang semauku, tunjukkan padaku isi buku ini. Maka aku tak akan mampu melawannya.

Dia... telah memiliki hatiku. Dia mampu menggerakkan, juga menghentikanku. Bagaimana denganmu? Semoga Alquran memberi pengaruh lebih luar biasa dalam kehidupanmu. Aamiin...

Komentar

  1. Kalo setelah baca Al-Qur'an, hati dan perasaanku jadi ayem tentrem mbak. Aku juga dulu belajar di TPQ-MDA. Tapi sayangnya nggak sampai MDW.

    BalasHapus
    Balasan
    1. MDA MDW itu apa? Kelapangan waktu utk belajar quran itu suatu nikmat ya😊

      Hapus
  2. Subhanallah mbk. Aku juga mengenal Al-Qur'an dr lingkungan keluarga, tp smpai aku bru lulus kuliah ini, blum prnah membaca artinya smpai habis. Aku merasa sedih. Trimakasih sudah mengingatkan mbk. Semoga menjadi amal jariyah. Amin. Salam, muthihauradotcom

    BalasHapus
  3. Subhanallah semoga kita semua istiqomah dalam membaca dan mengamalkan isi Al-Qur'an ya mba :)

    BalasHapus
  4. Semoga kita istiqomah dalam.membaca ayat suci Al quran setiap hari serta mentadaburi artinya juga diterapkan dalam keseharian kita ya 😇

    BalasHapus
  5. Semoga kita istiqomah dalam.membaca ayat suci Al quran setiap hari serta mentadaburi artinya juga diterapkan dalam keseharian kita ya 😇

    BalasHapus

Posting Komentar

Hai, terimakasih sudah berkunjung.
Jejakkan komentarmu di sini ya... ^_^