Kamis, 27 Desember 2018

Triple Filter Test, Alat Penguji Berita Viral


Belajar menjadi warga digital yang efektif adalah perjalanan yang menarik dan terkadang menantang. Triple Filter Test di atas diajukan oleh filsuf Yunani Kuno, Socrates. Tes ini sangat membantu kita menilai kualitas interaksi dan perilaku di dunia maya bahkan nyata agar tetap sehat dan positif.

Saat kita menerima dan ingin menyebarkan suatu berita di dunia maya, ajukan 3 pertanyaan ini:

  1. Apakah ia benar?
  2. Apakah ia baik?
  3. Apakah ia berguna?

Berita yang pantas diviralkan adalah berita yang memenuhi ketiga kriteria di atas. Nah, bagaimana caranya memastikan bahwa suatu berita itu memang benar, baik dan berguna? Yuk, periksa hal-hal berikut ini:

1. Judul Provokatif dan Ajakan Menyebarkan


Berita palsu sering menggunakan judul sensasional yang provokatif. Misalnya dengan memojokkan suatu pihak atau menggunakan kata-kata yang menimbulkan kekawatiran dan ketakutan. Biasanya juga menggunakan kalimat persuasif agar orang tertarik untuk menyebarkan.

2. Kecenderungan Pribadi


Manusia cenderung mudah terkena bias konfirmasi. Ia menyukai konten yang memperkuat kepercayaan yang sudah ada dalam dirinya. Jika Anda membaca berita yang secara sempurna mengukuhkan keyakinan Anda, Anda harus lebih berhati-hati dan tidak buru-buru membagikannya. 

3. Referensi Terpercaya yang Mendukung 


Kita bisa menggunakan mesin pencari untuk memastikan apakah informasi tersebut ditulis juga oleh situs berita lain yang kredibel dan dikenal luas dalam dunia informasi. Atau jika itu terkait dengan keilmuan, periksa apakah dia mencantumkan sumber referensi yang terbukti keabsahannya.

4. Domain dan URL Situs Berita Tersebut


Sangat penting untuk mengecek apakah berita tersebut berasal dari situs yang bermutu atau tidak. Periksalah apakah situs yang memuat berita tersebut menggunakan URL yang benar atau bukan. Kadang, ada pihak yang menggunakan URL yang mirip atau sangat berbeda untuk menipu.

Berita yang berasal dari situs media yang sudah terverifikasi Dewan Pers akan lebih mudah diminta pertanggungjawabannya. Menurut catatan Dewan Pers, di Indonesia terdapat sekitar 43.000 portal berita di Indonesia. Namun yang sudah terverifikasi hingga tulisan ini dibuat baru 2.583 saja. 

5. Keberimbangan Sumber Berita


Idealnya, sebuah berita dikemas sesuai dengan kode etik jurnalistik. Salah satunya, dengan menyediakan sumber berita dari kedua belah pihak atau lebih. Jika hanya ada satu sumber, pembaca tidak bisa mendapatkan gambaran yang utuh.

6. Perbandingan Jumlah Fakta dan Opini dalam Berita


Sebelumnya, tentu kita harus lebih dulu memahami perbedaan antara fakta dan opini. Fakta adalah peristiwa yang terjadi dengan kesaksian dan bukti. Sementara opini adalah pendapat dan kesan dari penulis berita. Semakin banyak fakta yang termuat di sebuah berita, makin kredibel berita itu.

7. Gambar/Foto/Ikon dalam Berita


Katanya, foto itu berbicara lebih banyak daripada 1000 kata. Namun, sering kali pembuat berita palsu juga melakukan pengeditan foto untuk memprovokasi pembaca. Jangan langsung percaya begitu saja, apalagi jika fotonya tidak masuk akal. Cek di Google Image dulu, siapa tahu ada foto aslinya.

8. Reputasi Penulisnya


Penting untuk mengetahui siapa penulis berita tersebut. Karena saat ini banyak sekali berita yang dibuat hanya agar menjadi viral di media sosial dan penulisnya mendapatkan keuntungan dari membludaknya kunjungan ke situsnya.

9. Informasi dari Pihak Terkait


Perlu sekali kita menggali informasi dari pihak yang berkepentingan di bidangnya. Misalnya, jika itu terkait iklan menggiurkan, kita bisa menghubungi call center dari institusi atau perusahaan yang disebutkan.

10. Grup Anti-Hoax


Justru aku membagikan ini untuk klarifikasi, apakah ini benar atau tidak beritanya.

Terdengar akrab? Sering kali, itulah dalih para penyebar berita ke berbagai media sosial. Sebenarnya, itu adalah semangat untuk mencari kebenaran atau kemalasan untuk meneliti terlebih dulu berita yang diterimanya?

Jika kita memiliki keterbatasan untuk mengecek sendiri dengan langkah-langkah di atas, mengikuti grup diskusi anti-hoax sangat membantu warganet. Kita bisa bertanya, apakah suatu informasi merupakan hoax atau bukan, sekaligus melihat klarifikasi yang sudah diberikan oleh orang lain. 

Di Facebook terdapat sejumlah fanpage dan grup diskusi anti-hoax. Misalnya: Forum Anti Fitnah, Hasut dan Hoax (FAFHH), Fanpage & Group Indonesian Hoax Buster, Fanpage Indonesian Hoaxes, dan Grup Sekoci.

11. Pendapat Ahli


Tanyakan dulu pendapat ahli terkait dengan berita yang ingin kita sebarkan. Tentu mereka lebih berkompeten dalam menimbang kebenaran, kebaikan dan manfaat dari tersebarnya sebuah berita. Karena bahkan berita yang baik dan benar pun kadang justru berbahaya untuk disebarkan.

Jadi, jangan lagi ada alasan semacam, "Ya, saya nggak tahu kalau itu hoax. Yang penting kan, ambil pelajarannya saja." Tettot!

Selanjutnya Apa?


Rumit juga ya, langkah-langkah yang harus kita tempuh untuk memverifikasi sebuah berita? Makanya, jika kita tidak punya cukup waktu dan tenaga untuk melakukan itu semua, membiarkan berita itu berhenti pada kita adalah cara yang lebih aman daripada menyebarkannya.

Sebagai penyeimbangnya, seringlah membagikan hal-hal positif tentang lingkungan sekitar yang memang kita pahami betul keadaannya. Tak perlu menyibukkan diri mengurusi hal-hal buruk yang tidak bermanfaat. 

Teko yang berisi air hanya akan menuangkan air. 

Rajin mengisi hari-hari kita dengan konten positif akan membuat kita hanya bisa membagikan hal-hal yang positif pula. Ini akan meningkatkan level pemikiran kritis kita sebagai upaya memerangi informasi yang keliru.

Selanjutnya, pahamkanlah orang-orang di sekitar kita tentang cara menyaring berita seperti di atas. Terutama, bagi anak-anak kita yang masih polos. Biasakan dengan konten positif agar radar mereka untuk mendeteksi keburukan suatu konten dapat bekerja dengan presisi.


14 komentar:

  1. Itulah hebatnya filosofi yaa, dia berada paling atas untuk semua ilmu sehingga tidak lekang oleh waktu dan teknologi...jadi, kita masih bisa merujuk ke Socrates.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya, dalam hal ini, Socrates cukup bijak menyikapi sebuah berita yang akan diterimanya

      Hapus
  2. Bun...tulisanya itu selalu asik dan menarik...sukaa banget ama tulisanya....betul daku jarang banget share berita, kalau gak yakin bener hihi...terima kasih untuk tulisannya yang indah hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah, terimakasih apresiasinya. semoga bermanfaat :)

      Hapus
  3. Di filsafat kita dkajarkan untuk berpikir kritis agar terhindar dari sesat pikir. Thanks mbak, bahasanya sangat renyah. Menyenangkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah, terimakasih atas apresiasinya :)

      Hapus
  4. Setuju mba, kudu cek dan ricek dulu kebenarannya baru dishare ya, kita sudah terlalu over load berita

    BalasHapus
  5. Sip cara yag wajib dilakukan sebagai warganet yang baik,,,agar terhindar dari berita hoax dan bukan termasuk penyebar hoax,,,mari suarakan internet indonesia tanpa hoax

    BalasHapus
  6. Informasi ini sangat penting untuk mengetahui kebenaran sebuah informasi yang banyak bertebaran di dunia maya saat ini. karena dengan semakin dekatnya pilpres hal ini akan selalu di sebarkan orang pihak yang tidak bertanggung jawab.

    Terima Kasih yaa..

    BalasHapus

Hai, terimakasih sudah berkunjung.
Jejakkan komentarmu di sini ya... ^_^