WhatsApp Group Alumni, Selangkah Lebih Maju


Apakah Anda pemakai telepon genggam secara aktif? Apakah telepon genggam Anda terhubung dengan aplikasi WhatsApp? Apakah Anda juga bergabung dalam grup WA? Berapa banyak? Apakah diantaranya juga termasuk grup alumni?



Bicara tentang grup alumni di WA, ada banyak cerita seputar ini, ya. Ada yang merasa senang bergabung di dalamnya karena bisa berkomunikasi lagi dengan teman lama, mengetahui kabar masing-masing anggotanya walau terpisah jarak sambil bernostalgia tentang kehidupan di masa sekolah dulu. Namun ternyata banyak juga lho, yang mengeluhkan grup alumninya dan akhirnya memutuskan untuk keluar.

Keluhannya biasa seputar isi obrolan yang tidak jelas juntrungannya. Mengingat memang grup alumni dibentuk atas dasar berkumpul kembali dengan kawan lama, ya. Bukan untuk tujuan menimba ilmu, mendukung profesi, syarat administrasi suatu lembaga dan yang semisalnya. Hal ini membuat topik pembicaraan di grup alumni tidak ada patokan jelas arahnya ke mana.


Nah, grup yang isinya cuma asal kumpul-kumpul ini yang kemudian membentuk pola khas seperti ini:

1.   Kangen-Kangenan. Dimulai dari sini. Setiap anggota biasanya berminat bergabung dalam suatu grup alumni karena rasa rindu ingin berjumpa dengan kawan lama. Begitu melihat namanya dalam daftar anggota, hati menjerit histeris dan berlanjut dengan saling sapa di grup. Mengungkapkan rasa kangen, ingin tahu penampakannya sekarang seperti apa sambil membandingkan dengan sosok culunnya saat masih satu sekolah dulu dst.
Di sini, potensi untuk merasa tidak nyaman berada di dalam grup sudah bisa muncul. Misalnya, ketika mengetahui ternyata di dalam grup tersebut juga bergabung seorang teman yang belum selesai urusannya dengan kita dan meninggalkan sebuah luka di hati. Entah itu karena pernah ada masalah, pernah menyakiti kita, pernah bertengkar, utang belum dibayar, mantan pacar yang menyebalkan atau justru yang terindah. Ups!

2. Saling Menanyakan Kabar. Setelah kangen-kangenan, selanjutnya, biasanya kita akan terdorong ingin mengetahui bagaimana perkembangan yang dialami oleh teman-teman kita ini. Melanjutkan sekolah di mana, bekerja di mana, sudah menikah atau belum, sudah punya berapa anak, sekarang tinggal di mana dsb.
Nah, titik ini juga berpotensi bagi seseorang untuk mulai merasa rikuh di dalam grup. Tidak semua orang memiliki nasib yang baik. Mungkin saja diantaranya ada yang putus sekolah, pengangguran, belum menemukan jodoh, masih sedang berikhtiar untuk mendapatkan momongan dll. Titik-titik pembahasan yang bisa jadi sensitive bagi sebagian orang ini bisa menjadi alasan mereka untuk diam-diam menarik diri dari grup karena merasa malu atau tidak pantas dibandingkan teman-teman lainnya.

3.    Bernostalgia. Di sela-sela rasa kangen-kangenan dan saling menanyakan kabar, tak jarang letupan-letupan memori mulai muncul tentang teman-teman kita. Postur tubuhnya, gaya dandannya, tingkah lakunya, kebiasaannya, pengalaman kita bersamanya atau kejadian-kejadian berkesan lainnya. Memori itu meluncur begitu saja diungkapkan dalam tulisan yang kemudian menjadi topik seru untuk dibahas. Saling melengkapi potongan memori satu sama lain dan rasa lucu saat mengingatnya.
Lagi-lagi, hal ini bisa membuat beberapa orang jadi tidak betah berlama-lama di dalam grup. Mungkin karena dia menjadi sasaran bullying dalam grup, teman-teman mengingatkannya pada kenangan buruk di sekolah atau justru membahas kembali kisah cintanya dengan mantan. Ouch!
Jika kita menyimpan kenangan itu di dalam hati, mungkin kita masih bisa berdamai dengan diri sendiri. Tapi kalau sudah dibahas bersama oleh banyak orang? Mungkin kita bisa tahan membacanya, bagaimana dengan pasangan kita? Tak jarang hal semacam ini membuat pasangan mengetahui sisi lain dari kehidupan kita dan ternyata tidak menyukainya. Demi menjaga perdamaian dalam rumah tangga, tombol “keluar dari grup” pun akhirnya dipencet.

4.  Obrolan Beruntun. Ya, yang namanya kegiatan kangen-kangenan, saling menanyakan kabar dan bernostalgia seperti di atas, melibatkan puluhan orang atau bahkan ratusan orang, tentu menciptakan obrolan yang panjang hingga ratusan bahkan ribuan dalam sehari.
Tak jarang, hal ini menyita waktu dan perhatian kita dari aktivitas dan orang-orang di sekitar kita. Pekerjaan bisa terbengkalai, orang-orang tersayang bisa terabaikan, atau justru telepon genggam kita yang jadi sering ngadat tak mampu menampung arus obrolan sedemikian deras. Maka, beberapa anggota pun akhirnya memilih untuk keluar dari grup karena alasan ini.

5.  Topik Mulai Tidak Jelas. Setelah semua fase di atas terlewati, setelah ramainya bunyi notifikasi pesan baru mengisi hari-hari kita selama beberapa minggu atau beberapa bulan, bahan obrolan pun mulai menipis. Kabar masing-masing anggota telah kita ketahui satu per satu. Berbagai nostalgia telah diperbincangkan semuanya. Lalu? Grup pun mulai sepi dan mengambang. Isi obrolan mulai tidak jelas. Kemudian, muncullah beberapa anggota yang berusaha menghidupkannya dengan perang gambar.
Gambar-gambar ini sangat mudah memenuhi memori telepon. Tak jarang konten gambar yang dipilih mengandung pornografi dengan alasan agar seru. Beberapa anggota pun mulai memilih untuk keluar saja dari grup dan melanjutkan hari-hari normal seperti sebelumnya.

Terdengar akrab? Ya, begitulah dinamika grup alumni. Pertanyaannya, apakah memang grup alumni akan selalu seperti itu? Seru di awal dan menjadi gajebo (ga jelas, bo!) di belakang? Apakah memang sebaiknya kita tidak perlu bergabung di grup alumni saja? Banyak memang yang akhirnya memutuskan demikian.
Bagaimana dengan semangat untuk menambah dan memelihara relasi? Kita tentu menyadari bahwa manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Menjalin hubungan dengan manusia lain adalah sebuah keniscayaan. Memang, setiap relasi memiliki potensi untuk memberikan kebaikan maupun keburukan bagi kita. Kita juga tahu, betapa sulitnya memperoleh relasi yang baik dan menjaganya agar tetap utuh.  
Maka, menemukan tempat berkumpulnya teman-teman dalam sebuah wadah ibaratnya mendapatkan harta karun besar yang telah lama terpendam. Bagaimana pun, kita pernah berteman dengan mereka. Hal ini tentu lebih memudahkan bagi kita menjalin hubungan kembali dibandingkan jika harus memulai membangun relasi dengan orang yang sama sekali belum pernah kita kenal. Tinggal bagaimana caranya kita memaksimalkan efek baik dari relasi ini.

Apakah sebaiknya kita bergabung dalam grup alumni, memilih-milih mana teman yang baik, kemudian melanjutkan membina relasi dengan mereka lewat jalur pribadi dan kemudian meninggalkan grup yang biasanya akan berkembang tak tentu arah itu? Ya, banyak pula yang memilih langkah demikian.

Tapi… Hey! Siapa tahu kita bisa berbuat lebih baik lagi? Bukankah ada banyak hal yang tidak bisa kita lakukan sendiri atau berdua saja bersama teman kita yang baik itu? Tidak bisakah kehadiran grup alumni ini kita tingkatkan lagi potensi kebermanfaatannya?

Berkaca pada salah satu grup alumni yang aku tergabung di dalamnya, yaitu grup teman sekelas saat SMP dulu, aku pun terinspirasi untuk menularkannya pada dunia. Kita bisa kok, membuat grup alumni menjadi lebih baik lagi dalam mengisi hari-hari kita.


Ini dia langkah-langkah yang bisa kita ambil bersama untuk menciptakan suasana grup alumni yang lebih sehat. Langkah-langkah ini sebenarnya berlaku untuk semua jenis interaksi kita dengan manusia lain, ya. Baik di dunia maya maupun nyata.

1.   Jaga Konten. Di dunia maya, kita punya kesempatan untuk menata tulisan kita sebelum akhirnya kita kirimkan ke grup dan dibaca oleh semuanya. Apakah tulisan kita menyakiti seseorang? Apakah kita mempermalukannya di depan umum? Apakah tulisan kita bisa menimbulkan situasi yang tidak nyaman?
Demikian juga dengan konten selain tulisan, seperti: foto, video dan audio. Selain isinya, sebaiknya kita juga memperhatikan frekuensi pengirimannya. Jangan sampai terlalu sering sehingga menyusahkan teman-teman yang lain mengingat konten-konten tersebut memakan lebih banyak memori dibandingkan tulisan.

2.    Jangan Mudah Baper. Jika Anda menghindar dari mengelola perasaan di dunia maya yang tidak saling berhadapan langsung dengan lawan bicara, bagaimana Anda mampu mengatur perasaan Anda di kehidupan nyata? Jika Anda kesulitan mendamaikan hati dengan orang yang sudah Anda kenal, apatah lagi dengan orang yang tidak dikenal? Bukankah akan lebih banyak prasangka dalam benak kita jika kita bermasalah dengan orang asing?
Sebenarnya, teman-teman masa kecil kita adalah tempat yang bagus bagi kita untuk berlatih menghadapi dunia. Karena bisa jadi, mereka lebih mengenal kita, mengerti kita dan bisa melihat sisi innerchild dalam diri kita sehingga lebih memahami cara berinteraksi dengan kita.

3.    Tuntaskan Masalah. Masih ada ganjalan dengan teman lama? Selesaikan! Kalau berutang, ya dibayar, dong. Atau dia yang berutang? Tagih saja atau ikhlaskan. Masih sakit hati? Bicarakan lewat jalur pribadi atau lepaskan saja rasa sakit itu. Mantan? Hei, namanya mantan ya tempatnya di masa lalu. Sekarang dia cuma teman seperti yang lain. Iya, kan?
Memang tidak semua masalah bisa kita selesaikan dalam sekejap. Beberapa diantara membutuhkan proses yang mungkin agak panjang. Namun, jika kita sudah menemukan solusinya, mengetahui cara-cara untuk menempuhnya, maka selanjutnya kita tinggal telaten menjalaninya. Sambil menunggu hasilnya, kita tetap melakukan berbagai hal sebagaimana mestinya.

4.    Hiduplah Di Masa Kini. Tak terelakkan memang, dalam grup alumni, mau tidak mau pasti ada sesi bernostalgia. Titik kelucuan sebuah kenangan justru karena dia hanya sebuah kenangan. Tidak akan menjadi lucu lagi jika hal itu masih terjadi hingga sekarang. Mau membolos beramai-ramai lagi? Mau dimarahi guru lagi? Mau malu-malu lagi mengintip idaman hati di kelas sebelah? Please deh, itu justru akan memperumit kehidupan kita sekarang.
Maka, letakkanlah semua kenangan itu di belakang. Ibarat spion, kita hanya mengintipnya sesekali untuk membantu kita menyusuri langkah ke depan dengan benar dan aman.
Manusia itu dinamis, mereka akan senantiasa berubah. Maka, sikapilah teman-teman kita sebagaimana apa adanya dia sekarang. Hargailah prosesnya. Yang dulu berdandan menor, bisa jadi sekarang sudah berhijab. Yang dulu pemalu, bisa jadi sekarang istrinya empat. Yang dulu preman, bisa jadi sekarang sangat penyayang.

5.    Atur Waktu. Ya, jangan sampai aktivitas di WA membuat kita melalaikan berbagai tugas dan orang-orang di sekitar kita, ya. Alokasikan waktu dengan baik agar semua pekerjaan dapat terselesaikan dan interaksi kita dengan orang di dunia nyata maupun maya tetap terjalin dengan baik.

6.    Manfaatkan Teknologi. Mengeluh karena memori mudah penuh gara-gara ikut grup? Suara notifikasi yang ribut? Coba pelajari sedikit tentang cara menggunakan WA yang nyaman. Bagaimana agar foto/video/audio tidak otomatis terunduh ke telepon kita, bagaimana cara membersihkan memori agar telepon kita tidak tiba-tiba macet karena aktivitas WA, bagaimana mematikan suara notifikasi, bagaimana menghapus pesan-pesan yang mengganggu tanpa kehilangan pesan-pesan yang berguna dll. Teknologi seharusnya memudahkan kita, bukan mempersulit. Maka, manfaatkan yang ada dengan sebaik-baiknya.

7.  Rumuskan Visi dan Misi Bersama. Hal ini sangat penting agar keberadaan grup tetap bermanfaat secara berkesinambungan. Pikirkan apa lagi yang bisa dilakukan oleh kita yang telah berkumpul bersama teman-teman ini. Dengan kualitas relasi yang sedemikian lama dan terjalin baik, tentu ada hal lebih yang bisa kita lakukan daripada sekadar berkumpul membicarakan hal-hal tidak penting.

Misalnya nih, seperti grup alumniku yang satu ini. Menjelang Bulan Puasa kemarin, akhirnya kami bersepakat untuk mengadakan agenda sosial secara berkala. Agenda pertama dijalankan bersamaan dengan jadwal buka puasa bersama yang memang sudah direncanakan jauh hari. Untuk memberikan nilai lebih, kami pun memulainya dengan berbagi menu takjil ke sekitar lokasi bukber sebelum adzan Maghrib berkumandang.

Pengalaman reuni dengan kawan lama dalam suasana Ramadan diiringi aktivitas sosial bersama itu rupanya meninggalkan kesan yang begitu mendalam bagi kami. Hati ini terasa terbalut tebal oleh cinta. Pada Sang Pencipta, pada teman-teman dan orang-orang tak dikenal. Bahkan seorang kawan laki-laki mengaku menangis terharu sepanjang perjalanan pulang. Dan aku yakin, dalam kesunyian, masing-masing batin kami pun meneteskan bulir syahdu.

Maka, kami pun mengagendakan acara sosial berikutnya menjelang acara bukber yang kedua. Tak puas dengan jumlah takjil yang ternyata terlalu sedikit untuk dibagikan, kali ini kami memutuskan untuk melakukan bakti sosial ke panti asuhan. Sejumlah anak yatim dan keluarga fakir miskin berkumpul di sana. Sisa donasi yang terkumpul disumbangkan untuk membangun panti yang memang sedang berbenah itu.

Saat buka bersama, kami mendiskusikan agenda tetap aktivitas sosial yang akan kami jalani. Ya, akhirnya kami sepakat untuk mengadakan pertemuan bermanfaat tiap 3 bulan sekali dan mengutamakan kegiatan sosial ini dengan sasaran teman-teman maupun guru-guru SMP kami dulu.

Bisa dibayangkan, hari-hari ke depan grup ini akan lebih berwarna. Dengan kabar tentang teman-teman yang belum bergabung, tentang kesulitan diantara teman-teman dan guru-guru yang perlu dibantu, serta berbagai hiruk-pikuk persiapan kegiatan itu sendiri.



Jadi, apakah Anda siap menghidupkan kembali grup alumni Anda?

Komentar

  1. Kereeeeeen poollll, lop you pull maakkk

    BalasHapus
  2. Kereeeeeen poollll, lop you pull maakkk

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah. . love u too. . :)

      Hapus
  3. Paling sering tuh kalau mau out dari grup jadi ngak enak. Pahadal isi grup udah makin ngak bermutu hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya ya. mau out itu kita bagian dr alumni. tapi mau tetap di sana jg buat apa? hihihi. . dilema memang

      Hapus
  4. Awalnya seru rame 24 jam. Tergantung anggota grup WA itu sendiri sih. Ada yg tetap asik berada di dlm grup, ada juga yg lama2 kok kurang bermanfaat ya hehehe aku sih ga banyak join grup teman lama... sedang2 aja lah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihii... yaaa gitu deh. awalnya seru lama2 ngga jelas ya? :P

      Hapus
  5. Wahahahahaaaa. grup WA alumni ini emang seru sekaligus kadang bikin ribet yaaa. Hihihii

    BalasHapus
    Balasan
    1. hohoho... berasa banget kayaknya nih ya soal grup alumni di WA :P

      Hapus
  6. Oke banget nih tipsnya Mbak, yang ada mau left group karena obrolan makin ga jelas juntrungannya😑. Bisa dicoba ide baksos nya...😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup. udah tabiatnya grup alumni kali ya. padahal isinya jg bukan org2 buruk kan? cuma ga ada visi misi aja sekadar ngumpul. jadi mestinya bisa lbh diberdayakan :)

      Hapus
  7. Tempat minta like, share, dan komentar, juga, ya, mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha... terkadang sih. tidak selalu :)

      Hapus
  8. Keren tuh, grup Alumni bisa diarahkan jadi gerakan baksos. Diambil yang baik-baiknya saja. Reuni alumni bisa seru yaaa...

    BalasHapus

Posting Komentar

Hai, terimakasih sudah berkunjung.
Jejakkan komentarmu di sini ya... ^_^