BIG, Menata Geospasial Baru untuk Mendukung Ibukota Baru

Sumber: big.go.id


Tahukah Teman-Teman bahwa Pemerintah berencana memindahkan ibukota negara kita ke luar Jawa? Wacana yang sebenarnya sudah bergulir sejak era Presiden Soekarno ini akan segera direalisasikan Pemerintah. Rencana detil pemindahan telah dibahas 3 Juli 2017 lalu.

Ngomong-ngomong, kalian setuju tidak, jika ibukota negara kita pindah ke luar Jawa? Kalau aku pribadi sih, terus terang setuju saja. Selain karena sepertinya Jakarta sudah terlalu sarat dengan berbagai tugasnya sebagai ibukota dan pusat berbagai kegiatan masyarakat baik di bidang politik, ekonomi, sosial maupun budaya, hal ini juga akan memicu terciptanya pembangunan yang lebih merata. 

Badan Informasi Geospasial Membantu Pengkajian Ibukota Baru

Namun, tentu saja, memindahkan ibukota bukanlah perkara ringan bagi sebuah negara. Diperlukan berbagai penelitian dan persiapan yang memadai agar ibukota yang baru nantinya mampu mendukung arah pembangunan yang terus membaik. Nah, kajian tentang pemindahan ibukota ini sedang digarap Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan ditargetkan rampung tahun ini.  

Ada beberapa aspek yang dikaji dalam pemindahan ibukota ini. Mulai dari penentuan lokasi, estimasi pendanaan, dan tatakota. Nah, Bappenas meminta bantuan Badan Informasi Geospasial (BIG) untuk pengkajian ini. Sebentar, sebentar... Geospasial itu apa? Menurut UU No.4 Tahun 2011 pasal 1 disebutkan:
Geospasial atau ruang kebumian adalah aspek keruangan yang menunjukkan lokasi, letak dan posisi suatu objek atau kejadian yang berada di bawah, pada, atau di atas permukaan bumi yang dinyatakan dalam sistem koordinat tertentu. 
Sederhananya, informasi geospasial itu adalah apa yang biasa kita kenal dengan sebutan peta. BIG inilah yang bertugas memetakan Indonesia dengan berbagai detil informasi sesuai kebutuhan sebagai alat bantu untuk perumusan kebijakan, pengambilan keputusan, atau kegiatan yang berhubungan dengan tata ruang kebumian. Makanya, BIG perlu menyiapkan informasi geospasial baru untuk menyusun infrastruktur ibukota kita yang baru nantinya.

Ibukota Baru, #Geospasial Baru

Lho, kok butuh informasi geospasial yang baru? Bukannya selama ini sudah ada peta? Iya, kalau sekadar peta yang memuat bentuk daratan, lautan, lokasi kota, jalan, sungai, gunung, danau dll seperti yang kita kenal di masa sekolah dulu sih, tentu sudah ada ya. Bahkan untuk membuat peta umum seperti ini saja tetap dibutuhkan pembaruan secara berkala, lho. Seperti peta NKRI terbaru diluncurkan 15 September 2017 lalu di Km 0 Sabang.
Hal ini disebabkan oleh dinamika pembangunan yang kadang menuntut pemekaran atau pembagian suatu wilayah tertentu demi menerapkan strategi yang lebih efektif. dan untuk mendukung proses pembangunan, dibutuhkan informasi geospasial yang lebih dari sekadar informasi batas dan letak wilayah. Pemerintah membutuhkan juga berbagai informasi pemetaan penting lainnya seperti penyebaran penduduk, kandungan sumber daya alam, kejadian bencana alam dll. 
Ketika Pemerintah memutuskan untuk memindahkan ibukota, itu artinya lokasi ibukota yang baru membutuhkan penelitian yang lebih mendalam agar menghasilkan keputusan yang tepat dalam setiap tahap persiapan dan pelaksanaannya. 

Kebijakan Satu Peta untuk Mengkaji Ibukota Baru

Kebijakan Satu Peta (Sumber: tanahair.indonesia.go.id)
Kebijakan yang diluncurkan melalui Perpres 9/2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Kebijakan Satu Peta (KSP) pada Tingkat Ketelitian Peta Skala 1:50.000 ini diharapkan menjadi solusi perbaikan data spasial dan peningkatan akurasi perencanaan dalam pembangunan nasional. Pemetaan yang terperinci hingga tingkat desa akan membantu menyelesaikan berbagai masalah dalam semua aspek kehidupan yang terkait dengan tataruang. 
Rupanya, Pemerintah membidik Kalimantan sebagai lokasi ibukota berikutnya. Untuk kepentingan pengkajian ibukota baru ini, Presiden mengamanatkan agar pelaksanaan Perpres tersebut diprioritaskan di Pulau Kalimantan. Kepala Pusat Pemetaan Tata Ruang dan Atlas BIG, Mulyanto Darmawan, mengatakan, peta dasar untuk Kalimantan skala 1:50.000 sudah siap. Bahkan skala 1:250.000 sudah lebih siap. Hanya saja data dasar dan detilnya skala 1:5000 sedang disiapkan.

Hasil kinerja BIG ini bisa dinikmati melalui situs http://www.tanahair.indonesia.go.id/. Kita bisa mendapatkan citra satelir beresolusi tinggi yang memiliki banyak kelebihan dibanding Google Map, lho. Dengan relief lebih detil dan tampilan atribut yang berguna untuk analisis spasial karena memungkinkan dilakukannya tumpang-tindih dari berbagai layer yang ada.

Bagaimana? Terbayang kan, betapa besarnya peran geospasial untuk kita? Bersama BIG, yuk kita dukung berbagai usahanya untuk menata Indonesia yang lebih baik!

Referensi:

  1. http://www.tribunnews.com/nasional/2017/07/04/pemerintahan-jokowi-serius-pindahkan-ibu-kota-ri-ini-sejumlah-calon-ibu-kota-pengganti-jakarta
  2. https://www.youtube.com/watch?v=WgKoqVdbHVc
  3. https://twitter.com/infogeospasial
  4. http://www.beritasatu.com/kesra/442823-big-bantu-pemetaan-terkait-rencana-pemindahan-ibu-kota.html

Komentar

  1. penting banget geospasial utk negara seluas Indonesia apalagi ditambah pembangunan di Indonesia yg terus berkembang

    BalasHapus
  2. aduuh ini penting banget krn negri kita ini kan luas banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaa.. dengan pemetaan yang detil, kita jadi lebih tahu ya harus berbuat apa :)

      Hapus
  3. Setuju aja ibukota pindah asal Indonesia masyarakat nya makin makmur

    BalasHapus

Posting Komentar

Hai, terimakasih sudah berkunjung.
Jejakkan komentarmu di sini ya... ^_^