Menjadi Orangtua Responsif, Modal Awal Membentuk Anak Mandiri

Menjadi penulis blog yang sekaligus menjalankan peran sebagai ibu itu sebuah tantangan tersendiri, ya. Karena harus pandai-pandai mengatur waktu antara menulis blog, mengurus rumah dan mengurus anak. Setelah membahas tentang tips sederhana dalam memanajemen rumah, kali ini aku akan berbagi tentang salah satu caraku memanajemen anak. Sehingga, sebagai ibu kita tetap bisa memiliki waktu untuk menyalurkan hobi, yaitu menulis blog.


Memiliki anak tentu sebuah anugrah tersendiri. namun kebahagiaannya datang sepaket bersama kerepotannya, Ketika anak baru satu, saat itulah seorang perempuan mulai belajar menjadi ibu. Ini berlaku bagi perempuan mana pun, ya. Walaupun dulunya sudah sering mengasuh adik, keponakan atau anak orang sebagai baby sitter, perawat, pengasuh di Tempat Penitipan Anak atau pun guru TK, tetap saja ada sensasi yang berbeda ketika yang diasuh adalah anak sendiri, di dalam keluarga sendiri.
Sensasi yang tak tergantikan adalah bagaimana ketika kita yang masih dalam kondisi lemah usai melahirkan sudah harus segera berinteraksi dengan bayi. Jika memungkinkan, bayi diusahakan agar bisa mendapatkan Inisiasi Menyusui Dini. Dan sejak itu, kita akan mulai sering mendengarnya merengek minta ditimang. Kalau pun bayi kita kebetulan termasuk bayi yang anteng dan selalu terlelap, kita tetap harus membangunkannya 2 jam sekali untuk bersama-sama berlatih menyusui. 

Sungguh suatu pekerjaan yang tidak bisa dipandang ringan ya, menjadi ibu itu? Lalu, bagaimana cara kita mengatur agar di tengah berbagai kesibukan mengurus anak kita tetap memiliki waktu untuk menulis blog? Inilah beberapa contoh usaha yang kulakukan. Tentu saja, semuanya membutuhkan proses dan tidak memberikan hasil yang instan. Namun percayalah, kita tidak akan pernah menyesali telah melakukannya walau mungkin itu berakibat kita harus rela kehilangan waktu menulis blog untuk sementara.

Apa Sih, Orangtua yang Responsif Itu?

Responsif artinya segera merespon setiap kali anak menunjukkan tanda-tanda membutuhkan perhatian dari orang di sekitarnya. Pola asuh semacam ini terutama perlu diterapkan bagi anak pada tahun-tahun awal kehidupannya, yaitu di usia 0-3 tahun. Kita berusaha mengenali tanda-tanda yang dia sampaikan jika sedang lapar, haus, mengantuk, akan pipis atau pup, tidak nyaman, sakit, gerah, kedinginan, bosan, takut, bingung, terkejut dll. Dan segera meresponnya dengan cara yang sesuai dengan yang diharapkannya, yaitu melayani dan memenuhi kebutuhannya. 
Bahkan, sebisa mungkin, kita tidak menunggu dia memintanya. Namun sudah menyiapkan berbagai kebutuhannya dan justru menawarkannya terlebih dulu terutama jika sudah ada pola harian yang terbentuk. Kapan kira-kira waktunya ganti popok, berapa suhu ruangan yang nyaman untuknya, apakah dengan sinar matahari sedemikian teriknya dia tetap merasa nyaman dengan pakaiannya dll.

Responsif Membuat Anak Manja?


Bukannya memanjakan ini namanya? Ya, mungkin ada yang berpendapat begitu. "Jangan digendong terus, nanti bau tangan. Jadi rewel kalau diturunin."
"Biasa dikipasi atau pasang AC sih, di rumahnya. Jadinya rewel deh kalau pergi-pergi kena panas."
"Mainannya kok banyak sekali? Ini kan pemborosan. Masa bola saja punya begini banyak. Macam-macam lagi ukurannya."

Ya, aku tahu ada banyak gaya pengasuhan yang diterapkan oleh para orangtua di dunia ini. Mungkin tiap orangtua memiliki gaya favoritnya masing-masing. Bisa jadi, untuk tiap anak diterapkan gaya yang berbeda pula menyesuaikan karakter anak.
Namun, aku memilih gaya responsif untuk mengasuh anak-anak usia dini. Selain terasa lebih nyaman bagiku dan anak-anak, juga menurutku anak-anak di awal usianya itu cenderung polos. Apa yang diminta adalah kebutuhan-kebutuhan dasarnya sebagai manusia. Bukan karena serakah, ingin menang sendiri atau pun manipulasi. 

Menjadi Orangtua Responsif, Repot Juga Ya?

Setiap kali bayi menangis, langsung dihampiri. Melirik jam dinding, apakah sudah waktunya dia lapar dan haus lagi, diperiksa popoknya apakah ada kotoran, diperiksa bajunya apakah basah oleh keringat, diperiksa sekujur tububnya apakah ada bekas gigitan serangga yang mengganggu, diperhatikan gerak tubuhnya apakah dia menggigil kedinginan, didengarkan betul irama tangisnya apakah dia mengeluh, menjerit atau sekadar memanggil karena rindu.
Saat bayi sudah bisa duduk atau merangkak, senantiasa didampingi bermain. Jika dia menarik tangan kita, maka segera kita mengikutinya dan meninggalkan apa pun yang sedang kita kerjakan saat itu. Saat dia menunjuk barang ini-itu, kita berikan padanya sambil mengawasi agar dia tetap memainkannya dengan aman.
Repot betul, ya? Kapan bersih-bersih rumahnya? Kapan menulis blognya? Kapan istiraharnya?Tampaknya sih, begitu. Kenyataannya? Ya, memang begitu. Hahaha... Namun itu hanya repot di awal saja, kok. Segera memenuhi setiap kebutuhan dasar anak akan menjadi investasi berharga bagi waktu kita dan tumbuh kembang anak sendiri.

Orangtua Responsif, Apa Hasilnya?

Dan sepertinya, aku semakin merasa cocok dengan gaya ini. Apa lagi setelah melihat hasilnya pada anak-anakku yang lebih besar. Ternyata, kekawatiran orang-orang bahwa anak-anak menjadi manja, egois atau selalu mencari perhatian tidak terbukti.

Bayi yang selalu dilayani kebutuhannya setiap kali menangis dan digendong saat kita tidak menemukan apa pun yang bisa menjadi alasannya untuk menangis, justru akan menjadi bayi yang lebih tenang. Rata-rata mereka baru akan menggeliat 2 jam sekali untuk meminta ASI. Mereka akan tidur nyenyak 4 jam di siang hari dan 6 jam di malam hari. Waktu yang cukup jika diambil sela-selanya untuk mengerjakan yang lain dan beristirahat, kan? Menulis blog? Bisa!
Maka, tak perlu kawatir mendahulukan kebutuhan anak dibandingkan pekerjaan yang lain. Semuanya bisa menunggu, kok. Bahkan jika ternyata beberapa pekerjaan rumah sempat terbengkalai, kita tetap tidak merugi karena telah mengutamakan yang terpenting.

Lagi pula, rata-rata anakku justru menjadi pribadi yang mandiri di usia-usia selanjutnya. Mereka seperti punya batas yang jelas apa aktivitasnya bayi kecil dan apa aktivitasnya anak yang lebih besar. Dan mereka cenderung tidak mau diperlakukan seperti adik bayinya. Tampaknya, mereka sudah terpuaskan kebutuhannya di saat bayi dan tidak mau mengulangi lagi. Karena mereka lebih bersemangat untuk menjalani perannya sebagai anak yang lebih besar. 
Di usia 5 tahun, mereka mulai bisa merasakan sendiri apakah sebuah barang yang dipajang di toko dan menarik perhatiannya itu adalah sesuatu yang ingin dia miliki ataukah sesuatu yang memang dia butuhkan. Proses selalu mendapat apa yang dibutuhkannya dan seringnya mendapat apa yang diinginkannya membuat dia mengenal rasa jenuh ketika memiliki sesuatu yang hanya berdasarkan keinginan. Tak ada barang-barang yang dibeli semata didorong oleh rasa penasaran karena selalu ditolak jika memintanya. Mereka jadi cenderung memilih untuk membeli yang memang dibutuhkan dan sesekali saja memilih barang karena menuruti keinginannya sendiri.

Ya, inilah pilihanku, inilah yang kujalani dan inilah yang kunikmati saat ini. Anda tertarik mencoba?



Komentar

  1. Sangat bermanfaat mbak..makasih sharingnya... ^^

    BalasHapus
  2. Mbak anaknya banyak ya 6 MasyaAllah rezekibya mbak, aku mah belum dikasih satu pun 😀

    BalasHapus
  3. Makasih sharingnya Mba... bermanfaat banget buatku yg sedang menunggu launching si baby :)

    anakku yang pertama tipe hard willing, blm nemu treatment yang pas buat dia :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga ketemu solusinya sejalan dengan waktu ya mbak arina :)

      Hapus

Posting Komentar

Hai, terimakasih sudah berkunjung.
Jejakkan komentarmu di sini ya... ^_^