Teliti Sebelum Membeli, Daripada Menyesal Nanti

Tugu Muda, Semarang
Sebagaimana yang pernah aku ceritakan di sini, kedua orangtuaku beserta kakak sulungku datang mengunjungi kami yang baru saja pindah ke kota Semarang ini. Sekarang, aku mau bercerita tentang pengalaman saat kami mengantar Beliau bertiga ke stasiun untuk pulang kembali ke rumah.

Kalau sebelumnya saat datang ke sini ketiganya turun di Stasiun Poncol, maka kali ini untuk pulangnya melalui Stasiun Tawang. Kami memilihkan Stasiun Poncol sebagai tempat kedatangan karena memang lokasinya lebih dekat dari rumah kami dibandingkan Stasiun Tawang. Sedangkan saat pulang, kami memilih dari Stasiun Tawang karena semua kereta api dari Stasiun Poncol pasti akan lewat Stasiun Tawang. 

Supaya perjalanan lebih pendek saja, begitu maksud kami. Lagipula, kami sekeluarga juga belum pernah ke Stasiun Tawang. Jadi sekalian ingin tahu suasananya walau hanya numpang lewat. Karena rencananya memang kami hanya menurunkan keluargaku di stasiun, tanpa berlama-lama di sana.

Kedua orangtuaku sepakat ingin pulang hari Senin pertama di awal bulan ini. Berdasarkan permintaan ayahku, Beliau menginginkan agar jam berangkatnya tidak terlalu pagi karena waktu persiapannya jadi mepet. Maka pilihan satu-satunya untuk kereta api ekonomi menuju Surabaya adalah KA Maharani.

Memesan Tiket Kereta Api Online

Seperti biasa, aku pun mencarikan tiket kereta api yang dimaksud secara online. Ya, sejak pertama kali kami menggunakan jasa moda transportasi umum yang satu ini, kami selalu memesan tiketnya melalui internet. Karena tentu saja lebih praktis dan leluasa bagi kami untuk memilih dibandingkan jika harus bersusah payah ke stasiun. Syukur-syukur jika mendapatkan promo tiket kereta api yang sering bertebaran jika kita memesannya secara online.
Mengantre seperti ini di stasiun? Nggak lagi-lagi deh
Membeli tiket kereta api langsung ke loket stasiun tentu lebih banyak membuang waktu dan tenaga. Belum lagi kalau terjebak oleh antrean yang panjang. Duh, payahnya. Karena kami pernah mengalami hal tersebut saat masih tinggal di Bogor.
Waktu itu, kami mengantre untuk membeli tiket Kereta Rel Listrik (KRL) atau commuter line di Stasiun Bogor. Antrean di depan loket tampak lebih panjang dan ramai dibandingkan biasanya. Dan semakin lama ternyata semakin sesak saja oleh para calon penumpang.
Usut punya usut, rupanya kami lupa kalau saat itu adalah masanya menjelang mudik Hari Raya Idul Fitri. Para calon pembeli tiket saat itu kebanyakan adalah orang-orang yang belum berpengalaman membeli tiket kereta api, sehingga prosedur pembelian yang dilakukan tiap orang menjadi sangat lambat.
Apa lagi, ternyata jajaran mesin top up tiket saat itu sedang manja. Mereka hanya bisa beroperasi jika uang kertas yang dimasukkan masih dalam keadaan mulus tanpa ada bagian yang lecek walau sedikit, lebih-lebih lagi bekas lipatan. Makanya, sepanjang pemesanan tiket kereta api masih bisa dilakukan sambil duduk manis di rumah, kami memilih cara itu saja. 

Sayangnya, entah mengapa, saat memesan tiket pulang untuk keluargaku, aku tidak bisa menggunakan tombol 'Pilih Kursi.' Apa jaringan internetnya sedang macet, ya? Tentu saja kedua orangtuaku tidak mau mendapatkan sembarang kursi. Kawatirnya, nanti mereka bertiga mendapatkan tempat duduk yang berpencar.

Setelah mencoba berkali-kali sambil dijeda waktu pemesanannya secara berkala, ternyata hasilnya masih sama. Suami pun akhirnya berinisiatif untuk memesan tiket kereta apinya di minimarket saja. Kebetulan memang saat itu ada beberapa barang keperluan yang juga akan kami beli. 
Maka meluncurlah kami ke minimarket terdekat. Semua proses transaksi mulai dari mengantre di depan kasir, memesan tiket, memilih tempat duduk dan membayarnya dilakukan oleh Suami. Aku memilih duduk manis saja bersama anak-anak di bagian cafe yang disediakan oleh minimarket tersebut. Begitu selesai, kami pun pulang dan Suami menyerahkan tiket kereta api yang baru dibeli tersebut ke ayahku. Beres!

Waktunya Pulang!

Hari yang dipilih untuk pulang pun tiba. Seperti yang bisa ditebak, hari ini diwarnai dengan beberapa drama dari kedua anakku yang merajuk ingin ikut Opung dan Neneknya ke Surabaya. Setelah memberikan mereka pengertian panjang-lebar dan melancarkan berbagai rayuan, akhirnya mereka bisa menerima juga untuk rela melepas kepergian Opung dan Neneknya tanpa mereka bisa turut serta. 
Mengintip Kampung Pelangi
Perjalanan menuju Stasiun Tawang adalah perjalanan yang cukup panjang. Hampir-hampir kami seperti sedang mengelilingi separuh wilayah pusat kota ini. Kami melewati Kampung Pelangi, Tugu Muda, Kota Lama dan banyak lagi ikon khas kota Semarang.

Stasiun Tawang
Hingga akhirnya, kami tiba juga di Stasiun Tawang. Sesuai rencana, kami hanya menurunkan orangtua dan kakakku di stasiun. Usai berpamitan, kami langsung meluncur keluar menuju sebuah mal karena memang ada kebutuhan yang harus dibeli di sana.

Di tengah perjalanan, aku mendapatkan SMS dari kakakku. Sebuah kabar yang mengejutkan! Katanya, tiket kereta api yang dibeli ternyata tertanggal tiket kemarin untuk Hari Minggu, bukan Hari Senin. Tiket pun hangus, sama sekali tidak dapat ditukarkan. "Kita batal pulang, Dik," kata kakakku. Hah? Bagaimana ini?

Suami pun langsung menyadari keteledorannya. Padahal Beliau sudah berulang-ulang mengatakan pada Mbak Kasir untuk memesan tiket Hari Senin, Senin, Senin... Berkali-kali Beliau memastikan (tanpa membaca sendiri) dan selalu dijawab dengan mantap oleh Mbak Kasir, "Betul, Pak. Ini tiket Hari Senin."
Sepertinya, Mbak Kasir rancu dengan singkatan S dan M untuk kata Senin dan Minggu. Padahal, aplikasi di layar monitornya menggunakan Bahasa Inggris, yaitu Sunday dan Monday. Ditambah dengan ketidaktelitian suamiku, lengkaplah sudah syaratnya untuk membuat beberapa lembar tiket jadi hangus. Huhuhu...

Suami pun meminta aku SMS balik ke Kakak agar mencoba memesan tiket langsung ke loket stasiun, apakah masih bisa. Aku pun segeranya menyampaikan pesan tersebut ke Kakak. Sambil meminta Beliau untuk segera mengabari jika ternyata tidak berhasil atau membutuhkan kami untuk kembali ke stasiun. Toh, kami masih dalam perjalanan dan akan mampir ke mal kok. Jadi belum terlalu jauh dari stasiun.
Menurut perhitungan waktu sih, mestinya masih bisa membeli tiket kereta api langsung ke loket stasiun. Karena saat itu masih 1,5 jam sebelum keberangkatan. Ya, rupanya kali ini berguna juga kebiasaan panik bundaku sehingga bersikeras untuk sudah tiba di stasiun dengan sangat awal.

Beberapa saat belum juga ada SMS masuk lagi dari Kakak. Aku pun berniat menanyakan kabar kembali. Tapi ternyata, oh ternyata... Pulsa habis! Dan saat aku meminjam telepon genggam Suami pun ternyata kondisinya tidak berbeda. 
Aduh! dalam kondisi genting begini kok yang pulsa bisa sama-sama habis. Mana telepon genggam milik Kakak masih produk zaman dulu. jadi tidak bisa terhubung dengan aplikasi WA. Cara menghubunginya hanya dengan SMS atau telepon. dan keduanya membutuhkan pulsa!
Untunglah kuota internetku masih ada. Jadi aku bisa memesan pulsa murah di Tokopedia. Berhasil! Pulsa pun langsung masuk. Aku bisa segera mengirimkan SMS ke Kakak menanyakan kondisinya. Rupanya Beliau sedang antre di depan mesin penjual tiket. Dan beberapa saat kemudian, Beliau mengabari masih tersedia tiket untuk kereta yang sama dengan jadwal yang sama dan sudah terbeli. Alhamdulillah...

Komentar

  1. Duh, jadi kebayang paniknya saat itu. Syukurnya tetap dapat tiket ya, mba.
    Memang harus teliti sebelum membeli apapun daripada menyesal nantinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe.. Iya. Pelajaran banget :)

      Hapus
  2. Wah sekarang pindah ke Semarang ya mbak. Pantesan rumahnya kosong. Saya dulu kuliah di Semarang juga. Jadi kangen pengen ke sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lho? Rumah mana yg kosong?
      Yuk ke Semarang :)

      Hapus
  3. beli beli tiket sekarang dimudahkan dengan media online ya. tokopedia ajahh...

    BalasHapus
  4. Betul, lebih teliti lebih bauk :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maksudnya lebih baik, hehe

      Hapus
    2. Iya. Kurang teliti bisa fatal akibatnya :p

      Hapus
  5. YaAllah...pasti bingung banget saat tahu tiket keretanya hangus... Beruntung deh akhirnya terselesaikan dg baik yah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Ga kebayang deh itu paniknya bunda dan kakakku. Biasanya sih bakal ngomel2 dan sasaran terdekatnya adalah ayah :p

      Hapus
  6. Bisa sebagai referensi nihh beli tiket di tokopedia.. Jujur blm pernah naik kereta aku nya. Xixiix

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wow, asyik lho naik kereta. Coba deh. Yang ekonomi aja udah nyaman kok :)

      Hapus
  7. Waduh... uda ga kebayang paniknya y mba. Jadi bs ngambil pelajaran nih buat lebih teliti lagi. Makasih mba

    BalasHapus
  8. Twkhir beliin tiket kereta di tawang buat ortuku balik bandung, tokopedia emang serba ada komplit deh

    BalasHapus
  9. Astaga antrinya ngeri banget yaa Mbak Farida...langsung legal sebelum berangkat

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha... iya itu antrean arus mudik :P

      Hapus
  10. Wah bisa juga ya ternyata beki tiket kereta di toped

    BalasHapus
  11. Lega deh baca endingnya. Ga bisa ngebayangin kalo aku yang kek gitu. Jadi pelajaran buatku juga yg sering banget ga teliti. Tfs ya mba

    BalasHapus
  12. Aduuh... aku ikut degdegan Mba... ikutan panik :D
    Ibu mertuaku pernah mau plg dari SBy ke SMG, ternyata di tiketnya tertera nama oranglain dan pas beli tiket ga ngecek, jadi harus bolakbalik stasiun :(

    Btw pekan kemarin juga nyariin tiket buat Bapak mertua mau jenguk Sodara di Surabaya. di online juga nggak bisa di klik, akhirnya bapak datang ke stasiun niatnya beli tiket buat besoknya. eh, ternyata tiket yg hari itu masih banyak tapi terlanjur nggak bawa persiapan apa-apa jadi tetep berangkat besoknya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aduh, itu kenapa jadi nama orang lain ya yang tertulis?
      iya nih, kalau ada fasilitas online, paling ngga tahu ya kalau hari ini masih ada banyak tiket :)

      Hapus
  13. waduh, jadi ikut deg-degan bacanya. hihihi

    BalasHapus

Posting Komentar

Hai, terimakasih sudah berkunjung.
Jejakkan komentarmu di sini ya... ^_^