Waduk Jatibarang, Waduk Kebanggaan Kota Semarang

Gerbang Waduk Jatibarang
Hai, Teman-Teman! Tahu tidak kalau Kota Semarang punya waduk? Apa hayo, namanya? Eit, bukan Waduk Gajah Mungkur, ya. Itu kan di Wonogiri. Apa? Waduk UNDIP? Hohoho... Iya. Bagi yang sudah membaca artikelku ini, mestinya sudah pada tahu tentang adanya waduk di kawasan universitas tersebut, ya. Namun, ada lagi satu waduk yang dimiliki Kota Semarang dan memjadi kebanggaan warganya, namanya adalah Waduk Jatibarang.
Tidak salah juga sih, kalau banyak yang belum mengenal waduk ini. Aku pun baru mengetahuinya setelah pindah ke kota ini. Karena ternyata memang waduk ini baru resmi beroperasi pada 11 Mei 2015. Peresmian dilakukan oleh Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Mudjiadi bertepatan dengan peringatan Hari Air Dunia Ke-23 Tingkat Provinsi Jawa Tengah.
Waduk ini dibangun selama 4 tahun dan mulai diisi air pada tanggal 5 Mei 2014, bertepatan dengan Hari Air Dunia Ke-22 oleh Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto bersama Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, dan Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juwana Imam Santoso.

Waduk Jatibarang mempunyai daya tampung 20,4 juta meter kubik. Luas genangannya sekitar 189 Ha dengan luas daerah tangkapan hingga 54 Km persegi. Dibangun dengan biaya Rp 655 miliar oleh Japan International Cooperation Agency (JICA) difungsikan untuk antara lain:
  • mengatasi masalah banjir
  • menyediakan air baku di wilayah Kota Semarang Barat, yakni sebesar 1.050 liter/detik
  • meningkatkan kelestarian fungsi konservasi di Daerah Aliran Sungai (DAS)
  • Pembangkit Listrik Mikro Hidro (PLTMH) berkapasitas 1,5 kW
  • destinasi wisata. 


Sebagaimana yang pernah aku ceritakan di sini, beberapa waktu lalu, kedua orangtuaku dan kakakku semata wayang datang menginap di rumahku. Via SMS, kakakku sudah menodong, "Nanti kita diajak main ke mana aja?" Aku pun mantap menyebutkan Waduk Jatibarang sebagai salah satu tempat yang akan kita tuju untuk berekreasi nantinya.
Kenapa? Ya, aku penasaran saja karena baru tahu kalau Kota Semarang punya waduk. Apa lagi, dari yang aku baca dan lihat di internet, tempatnya tampak indah sekali. Juga, di waduk ini kita bisa memancing dan mengelilinginya menggunakan speedboat. Memancing adalah hobi ayahku. dan naik speedboat adalah kesukaan putra terbesarku, mengingatkan pada pengalamannya saat berlibur di Derawan dulu.

Hari yang dinanti pun tiba. Waduk Jatibarang berlokasi di Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. Dari tempat tinggal kami di Tembalang, kami cukup menempuhnya dalam waktu sekitar 40 menit.

Pemandangan menuju Waduk Jatibarang
Perjalanan menuju lokasi melewati daerah yang berbukit dengan jalan yang berkelok-kelok. Pemandangan kanan-kiri begitu asri. Membuat betah bagi yang memandangnya. Kami berangkat selepas Salat Duhur. Tampak di sepanjang pinggir jalan banyak anak sekolah bergerombol. "Itu sedang mencari tumpangan untuk pulang," kata sopir taksi online yang kami sewa.
"Oya? Kenapa cari tumpangan segala?" tanya Suamiku.
"Iya, karena di sini tidak ada angkutan umum yang bisa mengantar mereka pergi ke sekolah dan pulang," jawab Pak Sopir. Wah, kasihan sekali, ya. Zaman begini masih saja ada yang merasakan beratnya berangkat dan pulang sekolah. Di daerah ibukota provinsi lagi.

Akhirnya kami melihat gerbang tinggi dengan pintu berwarna biru dan dinding hitam bertuliskan "Waduk Serbaguna Jatibarang" di bagian atasnya, seperti foto pertama dalam artikel ini. Namun, rupanya bukan lewat situ kami akan memasuki area wisata. Memang kami minta untuk diantarkan langsung ke tempat naik speedboat. 
Tuh, sudah kelihatan waduknya
Turun dulu lewat sini
Setelah melalui sebuah turunan, akhirnya kami sampai juga di depan loket speedboat. Loket ini berhadapan dengan markas Tim SAR yang tampak aktif berkegiatan. jadi, kita tidak perlu kawatir soal keselamatan ya selama berlibur di tempat ini. Karena walaupun bukan akhir pekan, selalu ada anggota Tim SAR yang berjaga di markas.
Tarif untuk menyewa satu speedboat adalah 60.000 rupiah untuk mengelilingi separuh waduk dan 100.000 rupiah untuk mengelilingi seluruh waduk. Speedboat yang disediakan dalam kondisi baik dan nyaman. Terdapat 4 kursi penumpang. Namun kami diizinkan menaikinya hingga memuat penumpang 2 orang dewasa dan 4 anak-anak di luar pengendaranya. Setiap penumpang diwajibkan memakai rompi pelampung yang sudah disediakan di dekat lokasi.
Pakai rompi pelampung dulu
Lalu, lalu... Apakah benar waduknya seindah cerita dan foto yang bertebaran di internet? Ternyata... Iya! Terbentang di depan kami Waduk Jatibarang nan luas. Aura kesegaran langsung menerpa pandangan melihat genangan air yang jernih dikelilingi pepohonan hijau yang rimbun. Di tengah waduk ini terdapat pulau kecil yang di dalamnya terdapat objek wisata lain yaitu Goa Kreo. 
Banyak orang memancing di pinggiran waduk
Deru suara mesin speedboat mulai menggema. Memercikkan air di bagian belakang dan mendorong kami maju melintasi waduk. Tampak banyak orang memancing di beberapa titik pinggir waduk. Sayangnya, ternyata tidak ada penyewaan alat pancing di sini. Mungkin karena bukan akhir pekan. Jadinya, ayahku batal menghabiskan waktu di waduk ini dengan memancing karena tidak membawa alatnya.
Burung, mega dan temaram mentari
Hari itu langit agak mendung. tampak cahaya matahari meredup ditutup mega kelabu yang tebal menggelayut. Langit dihiasi banyak burung yang beterbangan ke sana ke mari. Sesekali mereka mengepakkan sayapnya merendah melintas di depan mata kami untuk kembali menukik tinggi ke langit.
Jembatan menuju Goa Kreo
dari kejauhan, sudah tampak jembatan yang siap mengantarkan kita menuju pulau kecil di tengah waduk ini untuk melihat-lihat di lokasi Goa Kreo. Jembatan dengan dua lengkungan besi merah yang gagah. Bagian tengahnya terdapat joglo untuk tempat beristirahat sejenak bagi yang kepayahan menyusuri jalan ke Goa Kreo. Maklum, selain panjang, jalurnya juga berupa banyak anak tangga yang harus dituruni. 
Setelah puas mengitari waduk dan speedboat pun telah menepi mengantar kami kembali ke daratan, kami pun mulai kebingungan akan beraktivitas apa lagi setelah ini. Karena sebenarnya, kami berencana menghabiskan waktu di sini dengan memancing hingga sore menjelang. Sambil menikmati bekal menu favorit keluarga nan sedap hasil masakan bundaku.
Rupanya diantara kami ada yang butuh ke toilet. Toilet terletak di seberang area waduk. Tidak ada tarif tertentu untuk menggunakan toilet di sini. Hanya disediakan sebuah kotak yang dapat diisi dengan uang seikhlasnya.
Lokasi ini terletak diantara jajaran warung warna-warni yang tetap buka di hari kerja. Menunya cukup variatif, berupa aneka masakan khas jawa Tengah. Selain itu juga disediakan aneka camilan dan minuman. Lumayan untuk mengganjal perut bagi yang sedang kelaparan.
Warung di depan lokasi waduk
Serta-merta, Suami berinisiatif untuk melanjutkan perjalanan ke Goa Kreo. Beliau sudah memesan taksi online untuk mengantarkan kami ke sana. Sebenarnya lokasinya dekat saja dari waduk, sekitar 5-10 menit perjalanan. Namun karena rombongan kami juga terdiri dari sepasang lansia dan banyak anak, maka terlalu berat bagi kami untuk menempuhnya dengan berjalan kaki. dalam keadaan jalan yang naik-turun begitu. Kisah jalan-jalan ke Goa Kreo ini akan aku tuangkan dalam artikel lain, ya. Semoga ada kesempatan. 
Di sekitar Waduk Jatibarang ini, selain terdapat Goa Kreo sebagai destinasi wisata, juga terdapat beberapa spot yang bisa dikunjungi seperti tempat berfoto bak di atas awan, yang hanya buka hingga jam 11 pagi untuk menjaga hasil foto tetap bagus tidak menentang arah sinar matahari. Di samping itu, juga ada Bukit Cinta dengan sebuah gardu pandang berbentuk hati yang disebut Gardu Cinta dan terdapat masjid kapal di dekat sana. Sayangnya, waktu kami terbatas untuk menjelajahi semua tempat tersebut.
Bagaimana? Anda tertarik mengunjungi Waduk Jatibarang dan sekitarnya? Bagi-bagi ceritanya, ya...

Komentar

  1. Wah, baru tahu nih. Jadi Pengeeennn...hihihi

    BalasHapus
  2. Saya belum pernah wisata ke waduk deh kayaknya seru tuh.... Dan nama goanya sama seperti tempat tinggal saya, kreo. Jangan-jangan mereka bersaudara mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

      Hapus
    2. Seru kok. Apalagi yg memang dilengkapi dg fasilitas wisata :)
      Oya daerah mana?
      Kalau menurut cerita, kreo itu berasal dari bahasa Jawa "mangreo" yang artinya jagalah.

      Hapus
  3. Hiwalah aku yg di semarang malah lum pernah kesini. Hihi payahe. Tak info bos dulu moga diacc

    BalasHapus
  4. wah semarang ada daerah pedesaan indah juga yaa, waktu sowan ke sana, cuma di kota thok, hiks

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya. masih ada yang berbukit-bukit begini :)

      Hapus
  5. Kalau ke gunung pati aku udah pernah, tapi belum ke Waduk jatibening. Asyik juga ya, sekalian jalan-jalan ke Goa Kreo-nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. kapan2 bisa diagendakan kalau ke gunungpati lagi :)

      Hapus
  6. Aku kira lokasinya ada di Jatibarang, Jawa Barat, ternyata di Semarang toh, hehehe. Hmm... berarti baru 2 tahun diresmikan ya. Pantes saja pas aku kuliah di Semarang, belum ada waduk ini. Aku baru tahu gua Kreo saja walaupun belum pernah masuk juga, hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. oo.. di Jabar ada daerah Jatibarang ya? Hehehe... Iya nih. Kalau Gua Kreonya memang sudah ada sejak dulu :)

      Hapus

Posting Komentar

Hai, terimakasih sudah berkunjung.
Jejakkan komentarmu di sini ya... ^_^