Hero Zaman Now, Saatnya Kaum Lemah Menginspirasi Semua


Dua hari lalu, aku berkesempatan mengunjungi booth Asian Para Games 2018 di Pasaraya Sri Ratu, Semarang. Booth ini merupakan salah satu usaha untuk sosialisasi penyelenggaraan Asian Para Games 2018 yang berlangsung 6-13 Oktober 2018, di mana Indonesia menjadi tuan rumahnya. Bagi yang belum tahu, Asian Para Games adalah ajang olimpiade olahraga tingkat Asia khusus bagi para penyandang difabel.


Tak disangka ya, ternyata bagi para penyandang difabel yang biasa dianggap lemah secara fisik sekali pun, ada wadah kompetisinya di bidang olahraga. Sebuah bidang yang membutuhkan kecerdasan fisik sebagai modal utamanya. Dari sini aku menyadari bahwa adanya kekurangan di satu bagian, bukan berarti tidak bisa mengungguli yang lain dalam bidang tersebut.


Seperti salah satu atlet unggulan Indonesia untuk cabang Balap Kursi Roda ini, misalnya. Namanya Doni Junianta. Beliau memulai mengukir jalan prestasinya dari tawaran Kepala Sekolah untuk mengikuti olimpiade mewakili sekolah.
Setelah mencoba beberapa jenis cabang olahraga, akhirnya Beliau menemukan yang paling menarik minatnya dan terus menekuninya. Menduduki peringkat 2 se-kabupaten tidak membuatnya gentar. Justru hal tersebut memicunya untuk berlatih lebih giat lagi.
Hingga di tahun berikutnya, Beliau berhasil menjadi Juara Nasional dan mewakili Indonesia di ajang Asian Para Games. Tak tanggung-tanggung, Beliau berhasil menggondol medali perak dan perunggu. Prestasi terus ditorehkannya dari tahun ke tahun. Bahkan tahun ini, Beliau berhasil menyumbang sebuah medali emas dan menjadikan cabang olahraga yang diambilnya sebagai salah satu unggulan bagi Indonesia.

Luar biasa. Inilah jalan yang ditempuh seorang Doni Junianta. Justru dengan disabilitas yang disandangnya, Beliau berkesempatan untuk melakukan hal lebih dibandingkan orang-orang pada umumnya.
Dengan berkiprah di ajang ini, Beliau telah memperkenalkan tekad kuat dan kepercayaan diri pada para penyandang disabilitas khususnya dalam menghadapi segala tantangan, baik fisik maupun mental. Tentu saja, hal positif ini sangat layak untuk diteladani juga oleh seluruh manusia secara umum.
Selain menularkan energi positif bagi seluruh masyarakat melalui prestasinya, perjuangan Beliau juga berdampak lebih terhadap tatanan sosial dan rasa kemanusiaan. Yang aku maksudkan ini bisa berupa meningkatnya kesadaran akan kesetaraan bagi penyandang disabilitas dalam kehidupan bermasyarakat, pemahaman tentang isu-isu disabilitas secara umum, serta pentingnya partisipasi aktif dan lingkungan yang berempati bagi semua kalangan masyarakat.

Jika kita menilik ke dalam diri kita, apa yang sudah kita lakukan untuk sekitar? Pernahkah kita memberi dampak positif sebesar itu bagi sesama? Mampukah kita menjalani yang semisal dengan itu?

Baiklah. simpan dulu jawabannya. Tak perlu terburu-buru meresponnya. Mari kita endapkan dulu kesan yang tertinggal. Dan akan aku ceritakan tentang orang-orang lainnya yang biasa dianggap lebih lemah.


Fakta ini didapati oleh sekelompok relawan yang sedang mengadakan acara bakti sosial seminggu lalu di suatu daerah miskin. Acara tersebut berlangsung di dalam sebuah masjid yang ada di sana. Selain pembagian sembako sebagaimana kebanyakan acara bakti sosial yang ada, di dalam agenda bakti sosial kali ini juga diselenggarakan pengajian serta bagi-bagi mushaf Alquran untuk mempermudah pembinaan agama di waktu-waktu mendatang.


Sesuatu yang menarik itu adalah papan pengumuman yang tertampang di dalam masjid tempat berlangsungnya acara. Terkesima melihat judul pengumuman yang tertulis ternyata tentang data sumbangan untuk korban banjir di Jogja. Ya, sebuah daerah miskin mengorganisir sumbangan untuk para korban bencana!
Masyaallah, betapa luasnya hati mereka. Betapa kaya sebenarnya mereka! Karena mampu melihat ada orang-orang yang lebih membutuhkan daripada dirinya. Pribadi-pribadi yang dalam catatan di atas kertas tergolong sebagai kaum dhuafa. Ternyata mereka tetap bisa menyingsingkan lengan menyisihkan sebagian (atau siapa tahu seluruhnya?) harta mereka, begitu mendengar kabar kemalangan yang menimpa banyak warga di daerah lain.

Lebih mengharukan lagi, jika kita memperhatikan sumbangan mereka. Selain sejumlah uang yang tidak bisa disebut sedikit di sisi mereka, juga tertulis beberapa bentuk sumbangan unik seperti kelapa dan sayuran. Ya Allah, antara geli dan menangis rasanya. 
Kelapa dan sayuran, pernahkah terbesit dalam benak kita bahwa keduanya bisa disumbangkan? Tapi kembali lagi, mengapa tidak? Jika memang hanya itu harta yang bisa disumbangkan? 
Masyaallah, terbuat dari apakah hati mereka? Subhanallah, lalu terbuat dari apakah sebenarnya hati ini? Sehingga tidak mampu membaca kesempatan beramal seluas mereka? Dan kini, jika Anda ingin menangisi kesempitan hati, tangan yang rapat menggenggam dan langkah yang berat selama ini, aku akan menemani menangis bersama. 


Dan orang-orang istimewa ini dibantu oleh sosok yang istimewa. Tahukah Anda, sosok seperti apa yang memotori kelompok relawan yang bisa menempuh jarak puluhan bahkan ratusan kilometer untuk menyampaikan bantuan? Jika Anda mengetahui kondisinya, mungkin Anda akan menganggapnya lemah.
Karena Beliau tidak mampu menyetir kendaraan apa pun. Akibat sebuah trauma fisik sekaligus psikis yang pernah dialaminya. Namun itu rupanya tidak menghalangi gerak Beliau. 
Sama sekali hal tersebut tidak menjadikannya terkungkung di dalam rumah selalu. Beliau bisa mendapatkan berita tentang kekurangan di suatu daerah. Di waktu yang berbeda, Beliau menerima kabar tentang kesediaan seseorang di daerah lain untuk menyumbangkan sejumlah mushaf Alquran.
Beliau hanya membutuhkan orang-orang yang bersedia menjadi sopir untuk membantu mobilitasnya. Dan Beliau pun tetap bisa meluncur bebas ke mana-mana. Termasuk untuk mengangkut setumpuk mushaf dari kota sana, yang kemudian dibagikan di kabupaten ini. Beberapa relawan pun bergabung untuk menambahkan bantuan yang lain.

Merekalah orang-orang yang layak disebut diantara Hero Zaman Now. Orang-orang yang beramal sejauh apa pun batas kemampuan mereka. Orang-orang yang tidak menunggu memiliki kelebihan untuk beramal.

Dan kembali aku mengulang pertanyaan yang sama seperti sebelumnya. Jika kita menilik ke dalam diri kita, apa yang sudah kita lakukan untuk sekitar? Pernahkah kita memberi dampak positif sebesar itu bagi sesama? Mampukah kita menjalani yang semisal dengan itu?

Duh, kalau sudah bertemu dengan orang-orang ini, sepertinya kita layak malu ya kalau masih beralasan ini-itu dan merasa tidak mampu. Jika orang-orang yang biasa dianggap lemah saja bisa, apa lagi kita. 
Orang yang lemah sesungguhnya bukanlah orang yang memiliki kekurangan. Melainkan orang-orang yang merasa tidak bisa apa-apa. 
Setiap kita pasti punya kelebihan. Maka kita bisa menggunakannya untuk berbuat lebih dibanding yang lain. Dan setiap kita pasti memiliki kekurangan. Maka kita berusaha untuk menjadikannya kelebihan yang baru. Tentu saja kita mampu berbuat sesuatu. Apa pun itu bentuknya, kesempatan yang tersedia sebenarnya luas sekali. 

Fakta 27 juta masyarakat Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan, 152 ribu sekolah yang rusak berat hingga jutaan anak Indonesia menuntut ilmu di bawah atap yang terancam roboh adalah sebagian kecil kesempatan yang tampak dan bisa kita ambil sebagai lahan untuk berbuat sesuatu. Tentu saja kita mampu. Tinggal pertanyaannya, apakah kita mau?

Maukah kita menjadikan saling berbagi sebagai gaya hidup? Bersediakah kita menjadi bagian solusi bagi berbagai persoalan yang ada di sekitar kita? Siapkah kita menjadi bagian dari gerakan kebaikan ini?

Yuk, kita bangkit sekarang untuk beramal! Jika masih bingung mau memulai dari mana, kita bisa mencari inspirasi kegiatan sosial dari lembaga yang sudah ada. Dompet Dhuafa, misalnya.

Nama yang satu ini sudah dikenal sebagai lembaga nirlaba milik masyarakat indonesia yang berkhidmat mengangkat harkat sosial kemanusiaan kaum dhuafa dengan dana ZISWAF. Dompet Dhuafa telah memberikan kontribusi layanan bagi perkembangan umat dalam bidang sosial, kesehatan, ekonomi, dan kebencanaan serta CSR. Ada banyak pilihan bidang yang bisa kita sesuaikan dengan kemampuan kita untuk menerjuni dan beramal di dalamnya. Entah dalam bentuk tenaga, pikiran, waktu atau dengan menyalurkan donasi agar berbagai kegiatan yang direncanakan dapat berjalan dengan semestinya.

Apa lagi di Bulan Kemanusiaan yang jatuh pada akhir tahun ini, ada banyak agenda di mana kita bisa bersama berbagi berkah merangkul asa. Semoga kita bisa menjadi pahlawan alias pahalawan. Yaitu orang-orang yang mendapatkan pahala atas setiap amalnya. Baik bagi diri sendiri maupun orang-orang di sekitarnya. Amin.

Komentar

  1. Sangat menginspirasi sekali ya kaum difabel pun bisa jadi atlit. Apalagi kita yg punya fisik sempurna, harus ada prestasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul. Tidak hrs yg diketahui bnyk org.
      Yg penting bermanfaat dan berpahala 😊

      Hapus
  2. Masya Allah, jadi ikut bangga melihat kiprah kaum dhuafa itu. Tapi juga malu, betapa saya masih kurang banyak memberi dibanding mereka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saatnya untuk berbuat lbh dari seblmnya ya :)

      Hapus
  3. Inspiratif sekali. Membuat aku tersadar utk selalu bersyukur dan bersyukur.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bersyukur dan berbagi yuk
      Karena ternyata kita punya kelebihan :)

      Hapus
  4. Masya ALlah... merinding dan jadi malu rasanya baca ini :(

    betapa diri ini masih terlalu banyak mengeluh :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk berbagi dg sesama. Karena ternyata kita bisa kok :)

      Hapus
  5. Bersyukur dan berbagi akan bertambah rezeki dan berkah juga tak pernah rugi, salut sama difabel yang berprestasi, dan asean gamesnya taun depan semoga sukses 😀

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, semoga kita termasuk insan yg pandai bersyukur dan suka berbagi ya :)

      Hapus
  6. Kwden ya mbak mas doni salut deh bisa mengalahkan smua keterbatasan yg dia punya bahkan jd atlit kebanggaan Indonesia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak muna. Justru krn terbatas jd bisa berprestasi 😊

      Hapus
  7. Duh, jleb bgt... Mereka memiliki keterbatasan tp msh bisa bermanfaat dan berbagi ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk yuk yuk kita jgn mau kalah 😀

      Hapus
  8. Aahhh.. aku jadi terharu. Malu rasanya kalo kita2 ini masih ga bisa berbuat apa2..

    BalasHapus
  9. Inspiratif sekali ya mbak, semoga kita yang normal fisik bisa berbuat lebih. Karena mereka difabel aja bisa. Malu rasanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, semoga kita bisa berbuat lbh baik lagi 😊

      Hapus
  10. Keren tulisannya mbak Farida, bisa menggugah rasa haru sekaligus malu pada diri sendiri..

    Salut buat masyarakat tersebut, yang dengan semangat tinggi ingin membantu saudara-saudaranya meakipun mereka sendiri juga hidup pas-pasan. Semoga Allah selalu memberikan rejeki yang batokah kepada mereka di dunia dan akhirat.

    Dan semoga saya bisa tertular semangat yang sangat inspiratif tersebut :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.. Sudah tertular nih. Tinggal ditindaklanjuti 😊

      Hapus

Posting Komentar

Hai, terimakasih sudah berkunjung.
Jejakkan komentarmu di sini ya... ^_^