5 Cara Anak-Anakku Menangkal Perundungan


Mungkin sebagian dari kita masih belum akrab ya, dengan istilah perundungan. Namun kalau disebutkan bahwa perundungan adalah padanan kata dalam Bahasa Indonesia untuk kata bullying, maka akan segera terbayang berbagai kasus bahkan bisa jadi kejadian yang kita alami atau saksikan sendiri yang mewakili kata tersebut. Memang akhir-akhir ini tampaknya semakin sering saja berita tentang salah satu perilaku menyimpang ini.

Entah terasa makin banyaknya kasus perundungan ini karena semakin derasnya arus informasi yang kita terima, atau memang karena ada perbedaan pola pendidikan zaman dulu dengan sekarang. Sehingga menghasilkan generasi dengan kualitas mental, sikap dan perilaku yang berbeda dari sebelumnya.

Kalau aku pribadi sih, terus terang seingatku tidak pernah mengalami perundungan sejak masih kecil hingga sekarang. Eh, nggak tahu lagi ya, kalau sebenarnya aku saja yang tidak merasa sedang dirundung. Hihihi... 

Oya, sebelum berbicara lebih jauh, ada baiknya kita menyatukan persepsi dulu ya, tentang apakah perundungan itu. Kalau kita periksa makna dari kata perundungan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, maka disebutkan bahwa:

rundung/run·dung/ v, merundung/me·run·dung/ v 1 mengganggu; mengusik terus-menerus; menyusahkan
Hal ini dilakukan untuk mengintimidasi pihak yang dianggap lebih lemah. Jadi, perbedaan perundungan dengan gangguan biasa adalah perundungan dilakukan terhadap pihak yang lebih lemah dan secara terus-menerus. Maka, kalau kita baru sekali diganggu dan bisa mengendalikan gangguan itu agar tidak berpengaruh buruk bagi kita, namanya bukan perundungan, ya.

Definisi ini perlu kita pahami supaya kita tidak mudah merasa dan berperan sebagai korban perundungan. Karena yang namanya gangguan dari pihak lain itu adalah sebuah keniscayaan yang sangat mungkin dialami oleh siapa saja. Orang baik akan merasa terganggu dengan perbuatan yang buruk. Pun sebaliknya, orang-orang buruk bisa merasa rikuh sendiri di tengah sekumpulan orang yang berbuat baik. Sekadar salah kostum pun bisa membuat kita merasa terganggu, baik yang memakainya maupun yang memandangnya.


Konsep Diri yang Jelas adalah Bekal

Nah, supaya kita tidak mudah dijadikan sasaran perundungan, maka sebenarnya kuncinya sederhana saja. Jangan menjadi pribadi yang lemah. Inilah yang bisa kita usahakan bagi anak-anak kita agar mereka tidak mengalami perundungan.
Bangunlah konsep diri yang kokoh dalam diri anak. Tunjukkan pada anak siapa dirinya, apa kelebihan dan kekurangannya serta bagaimana menyikapinya. Hargai anak dan hujani dengan kasih sayang. 
Berpegang pada nilai-nilai agama akan memudahkan kita mentransfer konsep diri yang jelas. Sehingga anak memahami mana saja gangguan di luar sana yang bisa dianggap sebagai angin lalu, kritikan untuk memperbaiki diri atau justru harus dilawan. Semuanya ditimbang dengan tuntunan agama dalam menyikapi masing-masing bentuk gangguan.

Konsep diri ini terlepas dari bagaimana pun karakter anak, ya. Jadi kita bukan sedang membentuk anak menjadi kasar atau justru lembut. Kita juga bukan sedang mengajak anak menjadi ekstrovert atau introvert. Semua itu adalah karakter dasar anak. Tak perlu terlalu diubah secara drastis. Karena masing-masing potensi pasti akan dapat membantu anak menemukan fungsi perannya di dunia saat dewasa nanti.

Konsep diri yang baik selayaknya diadopsi oleh setiap anak. Pribadi yang memiliki konsep diri yang baik akan tampil menjadi sosok yang percaya diri, bisa menghargai diri sendiri dan orang lain serta jernih dalam menilai dan menyikapi setiap masalah. Termasuk saat belajar bersosialisasi. Yang namanya gesekan dengan teman pasti pernah dialami anak-anak.
Sedangkan tiap pribadi itu kan unik. Satu sama lain pasti ada perbedaannya. Perbedaan inilah yang kadang jadi pemicu perundungan. Syukurlah, anak-anakku tidak sampai mengalami perundungan berkepanjangan. 

5 Langkah Menghadapi Perundungan



Sambil terus dibentuk kepribadiannya di rumah, anak-anak pun semakin terampil menerapkan cara yang efektif agar tidak menjadi korban perundungan. Begini biasanya tahapan langkah yang mereka ambil:

1. Tidak Mengacuhkan

Ya, kalau ujaran yang kerap saya dengar dari orang sekeliling saat masih kecil, ada kalimat "Diilokno yo nggak kalong wae, kok." (Dihina juga nggak berkurang aja, kok). Toh, kalau kita dihina kan ya tidak rugi apa-apa. Jadi, ya biarkan saja. Kadang, dengan tidak memedulikannya, gangguan pun akan menguap sendiri.

2. Menyatakan Tidak Suka

Namun, ada kalanya penganggu justru semakin intensif melancarkan aksinya karena didiamkan. Saat itu, menunjukkan sikap dengan jelas adalah langkah yang tepat diambil. Tatap matanya, atur posisi tubuh penuh percaya diri dan katakan dengan tegas, "Berhenti! Aku tidak suka!"

3. Membalikkan Kata

Eit! Ternyata ada juga tipe pengganggu yang makin bersemangat mengganggu jika melihat yang diganggu bereaksi marah. Serba salah, ya? Tapi anak-anakku sudah tahu dong, cara menghadapinya. Santai saja dan balikkan kata-katanya.
"Hai, orang hitam!"
Jawab saja, "Hai juga, temannya orang hitam!" Beres!

4. Hentikan Aksinya

Nah, ini kalau perundungannya sudah main fisik, ya. Harus dihentikan, dong. Tak perlu dibalas. Tapi cukup ditahan dengan memegangi tangannya agar tidak bisa memukul, menghindar agar tidak kena atau sekalian saja lari.

5. Laporkan

Ini adalah langkah terakhir yang diambil jika anak yang mengganggu tidak juga menghentikan perilaku buruknya. Biasanya, mereka bukan melapor kepadaku, kecuali kalau hanya sekadar untuk mendapatkan penguatan. Karena tanggapanku ya paling-paling minta mereka maju kembali untuk menyelesaikan sendiri. Jadi mereka akan melaporkannya ke orangtua sang anak atau orang dewasa yang ada di sekitar situ untuk menindaklanjuti.

Itulah cara-cara yang kuajarkan pada anak-anak dalam menghadapi perundungan. Kalau diamati, bisa jadi ada perbedaan dengan cara yang diajarkan oleh orangtua yang lain. Wajar saja, kan ya.

Misalnya, aku tidak pernah mengajari anak-anak untuk membalas dengan kekerasan yang sama. Yang namanya anak-anak, kemampuannya menimbang kekuatan masih minim, ya. Kawatirnya, mereka justru akan membalas dengan lebih keras. Bisa-bisa terjadi perkelahian yang tidak berkesudahan dan masing-masing merasa menjadi korban. Hahaha... Dan aku tidak mau anak-anakku justru berubah tumbuh menjadi perundung.
Begitu juga untuk mekanisme melapor, aku tidak mau malah menjadi semacam pengaduan. Jadi, mereka harus melaporkan pada orang yang netral, yang tidak secara alami pasti akan membela mereka. Selain itu, aku ingin tetap mendudukkan masalah antar anak tetap menjadi masalah yang diselesaikan oleh anak-anak. Tidak berkembang menjadi perang antar orangtua. Hohoho...

Inilah caraku. Jika merasa cocok, silakan ditiru. Apa pun itu, semoga anak kita terbebas dari perilaku menyimpang perundungan, ya. Baik sebagai korban maupun sebagai pelaku. Titip peluk cium buat semua anak di dunia!

Sumber gambar: https://www.stockvault.net/

#PostinganTematik #BloggerMuslimah

"Tulisan ini diikutkan dalam postingan tematik Blogger Muslimah Indonesia"

Komentar

  1. ulasan yang bagus bun :) yg menyatakan tidak suka agak susah sih sebenernya, dan yang membalikkan kata, engga kepikiran :'D ada benernya juga hehe aku tiru ya kalo nanti udah punya anak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Susah ya bilang ga suka? Hmm.. Mungkin krn budaya santun kita yg susah menolak ya?
      Yuk, semangat tolak bullying 😊

      Hapus
  2. Boleh juga Mba cara ini ditiru. Terima kasih atas informasinya.

    BalasHapus
  3. Saya baru tahu kalau bullying bahasa indonesianya itu perundungan hihi. Kalau saya dulu pernah waktu kecil di bully tapi saya cuek aja. Kalau diinget inget mah pengen kembali ke masa lalu dan ngelawan tapi yaah cukup jadi pelajaran buat anak anak saya kelak kalau kita harus stand up say no to bullying apapun bentuknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sip. Moga tidak ada lagi kejadian bullying di sekitar kita ya

      Hapus
  4. Sejauh pengamatanku, pelaku bullying selalu mengincar anak-anak yang dianggap paling lemah. Makaynya kita perlu mengajari anak-anak kita untuk berani tegas, kalau perlu mengancam balik. Dulu ada teman sekolah anakku yang kayak gini, ketika teman-temannya mengalah dia terus saja berbuat kekerasan. Ya udah dikeroyoklah anak itu. Anakknya sih jadi kapok, ibunya yang ga terima.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha.. Ya begitulah dinamika punya anak ya 😊

      Hapus
  5. Bisa dicontoh caranya, Mbak. Kalau anak2 saya paling yang terakhir. Saya paling memberi saran untuk menyampaikan perilaku temannya kepada ustadzahnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Barakallahu fik. Semoga anak2 kita terjaga dr pengaruh buruk ya

      Hapus
  6. Untuk anak-anak lebih ke yang pertama dan terakhir. Kadang ada yang menganjurkan untuk membalas tapi membalas bukannya menyelesaikan masalah malah nambah panjang urusan hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe.. Iya. Kalau saling membalas jadinya malah drama panjang biasanya 😀

      Hapus
  7. Penting memang ya mba membekali anak kita dengan kemampuan mengatasi bullying. Karena kita gak selalu ada disampingnya setiap saat.

    BalasHapus
  8. Oh ya Allah baru tahu saya bahwa padanan kata bullying adalah perundungan. Di waktu kecil, ingat banget, pernah juga jadi korban perundungan..:(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aih, tp sekarang sudah survive kan ya..

      Hapus
  9. BAru tahu bahasa Indonesia nya perundungan 😅 Nah ini bikin gemes ngt bullying ini. Banyak juga sintron di Indonesia yang suka bgt isi nya bullying antar temen bahkan acr komedia. Aja isinya mgebully hm

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ho oh bener . Bullying malah jd tren ya gara2 tontonan 🤕

      Hapus
  10. Biasanya yang paling kecil sering jadi bahan bully, harus sering-sering diawasi,,
    terima kasih atas artikelnya.. Nice

    BalasHapus
  11. wah saya jadi teringat kasus di sekolah Saya dulu waktu SD, orang tua nya mengajarkan siapa yang mengganggu nya hingga mnemukulnya untuk mengigit alhasil digigitlah orang lain yang berakhir membuat guru agak bingung, memang bully nya berakhir tapi kayaknya metodenya salah deh eh, mending melapor saja ke guru ketimbang begituan eh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe.. Iya kalau balas2an jadi berbuntut ya😊

      Hapus
  12. Tipsnya cocok bgt. Tp nek aku dulu cm milih cuek. Mungkin level bully jg gak terlalu ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Kalau masih bisa cuek sih ya dicuekin aja 😊

      Hapus
  13. Wahbunyang komentnyabanyak..jadi pengen

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah. Terimakasih sdh berkunjung. Aku kunjung balik ya😊

      Hapus
  14. Noted, Mba Farida..

    Aku salah satu korban perundungan, sampai sekarang masih ingat dan sakiiit...
    sayangnya dulu selalu minder, dan mewek duluan kalau dirundung ;(

    Semoga itu tidak terjadi kepada anak-anak saya. aamiin

    BalasHapus

Posting Komentar

Hai, terimakasih sudah berkunjung.
Jejakkan komentarmu di sini ya... ^_^