Perempuan Penuh Inspirasi



Bicara tentang perempuan yang cukup kental memberi inspirasi dalam hidupku, sepertinya agak sulit ya. Karena tentunya bukan hanya satu perempuan yang sanggup melakukan itu. Namun, baiklah. Di antara sekian banyak perempuan istimewa di mataku, aku akan berbagi inspirasi dari salah satunya.
Beliau adalah salah satu orangtua dari murid les privatku. Ya, aku meluangkan waktu untuk menambah uang saku selama kuliah dengan cara memberi les privat bagi anak sekolah. Muridku ada yang SD, SMP maupun SMU.

Nah, aku memberi les privat pada kedua anak Beliau yang sedang duduk di bangku SMU. Awalnya, interaksiku dengan keluarga ini ya seputar pelajaran sekolah saja. Hingga suatu kali aku memberikan undangan sebuah acara seminar muslimah untuk Sang Ibu dan putrinya.

Rupanya, kehadiran keduanya di sana cukup memberi kesan mendalam terhadap materi yang disampaikan. Aku sendiri agak lupa tepatnya materi seminar ini tentang apa. Mungkin semacam peran muslimah dalam peradaban.

Saat jadwal les berikutnya, mereka pun mengungkapkan ketertarikannya akan seminar kemarin. Dan voila! Mereka ingin mengenal agama Islam lebih mendalam dan meminta aku membantu. Ya, sejak itu, aku pun menjadi fasilitator mereka untuk lebih mengetahui dan mengamalkan agama yang sudah mereka peluk selama ini, sebisaku.

Sungguh membahagiakan ketika mendapati keduanya mendapat kemudahan dalam memahami materi yang kusampaikan. Tidak hanya sebatas itu, mereka bahkan bisa mencernanya dengan fakta yang mereka temui sehari-hari dan tahu bagaimana cara menerapkannya. Masyaallah.

Memang ada transfer ilmu dariku kepada mereka berdua. Namun sejatinya, aku pun belajar banyak dari mereka. Terutama dari Sang Ibu yang lebih kaya pengalaman.

Apa saja sih, inspirasi yang aku dapat dari Beliau? Duh, banyak sebenarnya. Aku akan menyebutkan beberapa di antaranya yang langsung mencuat dari benakku.

1. Ahli Dapur



Ya, sepanjang pengalaman lidahku yang berkali-kali mencicipi hasil olah dapur Beliau, seingatku tak ada satu pun hidangannya yang salah menggugah selera. Baik itu dari minuman, camilan ringan, camilan berat sampai menu utama. Kalau saja zaman itu sudah ada kompetisi Masterchef di televisi, sepertinya Beliau akan menjadi salah satu peserta yang patut diperhitungkan.

Bagaimana tidak? Mulai dari pisang goreng, keik keju, siomay dll semua terasa istimewa dan orisinil citarasanya. Bahkan tekwan yang baru belajar membuatnya saja langsung berhasil menggoyang lidahku.

Soal minuman saja, Beliau tidak hanya memperhatikan soal rasa, namun juga penyajiannya. Menurut Beliau, jumlah minuman yang mengisi gelas/cangkir tidak boleh terlalu penuh atau terlalu sedikit, karena keduanya terkesan kurang sopan. Melainkan tinggi minuman itu seharusnya pas berjarak 1 cm di bawah bibir gelas/cangkir. Mantap, kan?

Yang lebih menarik lagi, ternyata Beliau menguasai semua keahlian tersebut bukan karena terbiasa berkecimpung di dapur sejak kecil, lho. Beliau mulai tekun belajar memasak dan berbagai cabang ketrampilan seputar dapur ini ya setelah menikah. Hal inilah yang membuatku yakin bahwa aku pun bisa menjadi ratu dapur nanti suatu hari walaupun saat itu benar-benar gagap dapur. Hahaha...

2. Kasih Sayang Orangtua



Saat itu kami sedang berbincang-bincang santai. Dan serta-merta terdengar suara iklan serial Betty La Fea dari televisi (Wah, terbayang ya, ini setting waktunya zaman kapan. Hihihi...). Dari situ pun aku menyeletuk mengomentari salah satu adegannya.

"Ayahnya Betty itu sepertinya berlebihan, ya Bu. Toh anaknya tidak cantik. Mengapa dia seprotektif itu menjaga anaknya dari kaum pria? Paling juga tidak ada yang mau, kan? Hehehe..." Baiklah, ini memang benar-benar komentar sotoy.

Beliau pun tersenyum. "Itulah ayah. Mbak Farida belum pernah menjadi orangtua sih, ya. Jadi belum bisa memahami perasaan seorang ayah. Ayah itu tidak melihat apakah anaknya cantik atau jelek. Yang namanya anak perempuan pasti dilindungi. Karena mau cantik atau jelek itu sama-sama bahayanya. Kalau dia cantik, akan banyak pria yang tertarik dan mungkin hanya ingin memanfaatkannya. Kalau jelek, sama saja. Tetap bisa dimanfaatkan pria jahat. Saat anaknya jatuh cinta kemudian Sang Pria meninggalkannya, maka anak yang tidak cantik bisa jadi akan lebih sulit pulih karena tidak percaya diri dan terlanjur menggantungkan harapan pada orang asing."

Hmm... Sebenarnya penjelasan yang masuk akal. Namun aku masih gamang menerimanya. Karena aku tidak yakin akan setulus dan sekawatir itu memikirkan semua anak-anakku bagaimana pun kondisinya. Hihihi... Pletak!
Namun begitu aku memiliki anak, lambat-laun aku mulai merasakan hal yang sama dengan Ayah Betty. Dan sepertinya, demikian pula yang ada di dalam hati suamiku. Baiklah, Bu. Anda benar!

3. Cinta yang Optimis



"Mbak Farida, nanti kita boleh pilih jodoh di surga, kan?" tanya Beliau suatu siang.
"Hmm... Ya, insyaallah kita akan dijodohkan dengan pria yang terbaik dan pasti kita rela menerimanya dengan sukacita. Karena di surga itu semua serba menyenangkan. Kita tidak akan sedih gara-gara jodoh kita di surga nanti," aku berusaha menjelaskan dengan hati-hati.
"Mungkin nggak, Mbak, kita berjodoh lagi dengan suami kita nanti di surga?" kejar Beliau.
"Mungkin sekali. Apa lagi kalau memang amalannya setara. Insyaallah berjodoh lagi."
"Aku nggak mau jodoh yang macem-macem, Mbak. Aku mau yang seperti Bapak (suaminya) saja. Ya, fisiknya yang begitu itu," harap Sang Istri. 

Sempat selintas kulirik ke dalam ruang keluarga di belakang ruang tamu tempat kami mengobrol. Karena aku tahu, biasanya suaminya ikut menyimak dari balik dinding. Tampak olehku rona malu berseri-seri menyemburat di seluruh air muka Sang Bapak. Ahay

"Duh, sepertinya Bapak sudah yang paling cakep ya, bagi Ibu," aku menggoda Sang Ibu.
"Ya, bagaimana? Memang saya sukanya yang begitu. Makanya saya berusaha ajak Bapak untuk sama-sama terus memperbaiki diri. Supaya bisa berkumpul lagi di surga." Aamiin...

Tak perlu lagi kata untuk menggambarkan betapa dahsyatnya cinta Sang Istri. Sebuah cinta yang optimis. Yang tidak hanya tentang sehidup semati namun juga lebih dari itu, tentang hidup lagi.

Dan sebenarnya masih banyak lagi aliran inspirasi dari dialog, cerita dan keseharian Beliau. Tentang cara menyikapi kemelut dalam rumahtangga, tentang pendidikan anak-anak dan tak lupa nasehat pernikahan untukku saat tanggal akad nikah sudah di depan mata.  
Tak cukup waktu bagiku untuk menuliskan semuanya dalam satu artikel ini. Kalau dituruti, bisa-bisa sudah jadi sebuah buku. Hehehe...

Beliau memang inspirator. Dan tentu saja aku belum bisa menjadi seutuhnya seperti Beliau. Namun aku menyadari, Beliau senantiasa berusaha sempurna dengan segala yang Beliau miliki. Itulah yang aku duplikasi dari sosok ini.

Sungguh, perempuan adalah manusia terkuat di muka bumi.

Komentar

  1. setia orang punya orang yang dikagumi ya tentunya

    BalasHapus
  2. Subhanallah saya ikut seneng Bun. Memang jalan dakwah itu bisa dimana saja dan dari mana saja datangnya. Begitu juga hidayah ya dan mereka juga beruntung menjemput hidayahnya dari Bunda Farida ☺️

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah. Saya jg banyak belajar dr Beliau😊

      Hapus

  3. Sosok ibu itu patut diacungi jempol ya Mba karena beliau bisa menginspirasi banyak orang..

    BalasHapus
  4. Kalo sosok perempuan dalam kehidupan sehari jelas my mom.. tapi kalo sosok perempuan yang sesuai dengan hobi. Saya fans bgt sama trinity (naked-traveler) hehe

    BalasHapus
  5. Inspirasi memang bisa jadi dari mana saja ya mba, hanya kitanya saja mau mengakui kelebihan2 kecil orang lain atau enggak 😊

    Btw jadi kangen Betty Lafea hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali. Pinter2nya kita mencomot inspirasi yg ada. Betty La Fea jg inspiratif. Hihihi...

      Hapus
  6. Kadang inspirator nggak perlu tokoh-tokoh terkenal ya mba, orang-orang di sekitar kita pun punya banyak kisah inspiratif. BTW saya dulu juga suka nonton betty lafea :D

    BalasHapus
  7. Saya termasuk perempuan yang baru belajar masak pas udah nikah, Mba. Hehe. Memang benar, nggak pernah ada kata terlambat untuk belajar hal baru. Apalagi kalau urusan dapur ya, seneeeng banget kalau keluarga doyan dan memuji masakan kita :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah. Aku blm seahli itu sih😊

      Hapus
  8. waw gak nyangka ya pengalamannya hanya mengajak orang buat dateng ke seminar jadi tertarik akan agama islam. luar biasa.
    memang zaman sekarang byk cowok yang sudah jago masak drpd cewek. aku aja gak mau kalah malahan malu kalo gak bisa.hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe.. Pasti sekarang dah jago masak ya☺

      Hapus
  9. Betty Lafea itu jaman kapan ya mbak? Mungkin aku masih kecil kali ya waktu itu. Bener banget mbak, setiap ayah pasti akan selalu melindungi anak putrinya. Seketika aku baper teringat pakne aku mbak. Huhuhu.

    BalasHapus
  10. Saya juga baru belajar masak setelah menikah, suami yang ngajari masak

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah senangnya punya suami pinter masak :)

      Hapus
  11. wah semoga saja saya lama-lama juga bisa jago masak. tapi kadang memang ada orang yang tangannya dingin untuk beberapa bidang. jadi biar dia baru kenal bidang itu pun tetap sukses hasilnya. heu

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul 3x . ada bakat juga ya yg berperan :)

      Hapus

Posting Komentar

Hai, terimakasih sudah berkunjung.
Jejakkan komentarmu di sini ya... ^_^