Minggu, 16 Desember 2018

5 Kebahagiaan Sederhana Saat Anak Belajar Memasak


Anak malas makan atau sering pilih-pilih makanan? Ajak ikut memasak saja! Biasanya mereka selalu menyambut gembira aktivitas ini. Terlepas mereka terampil atau pun tidak. Karena memang kegiatan memasak mengajarkan banyak keterampilan seperti yang kusebutkan dalam artikel ini,

Tak disangka, bahkan Anak Keduaku menyatakan keinginannya untuk rutin mengikuti kursus memasak. Tentu saja aku langsung mendukungnya. Karena ini adalah kesempatan bagus untuk membentuknya menjadi pribadi unggul di masa mendatang.

Ya, ada 5 kebahagiaan sederhana yang mengaliriku saat melihat anak belajar memasak, apa lagi pada ahlinya. Rasa bahagia itu muncul karena:


Pola makan sehat harus dimulai sejak usia dini. Salah satu cara memperkenalkannya adalah dengan sering mengajak anak memasak sendiri makanannya. Sehingga, ia tidak akan ragu mengonsumsi sayuran dan buah-buahan, jenis makanan yang biasanya dihindari anak.

Selain itu, anak juga belajar tentang porsi dan jumlah gizi yang seimbang saat memasak dan menyusun menu. Jadi, ia tidak mudah tergoda dengan makanan yang berkalori berlebihan dan berani menolak jajanan di luar yang kurang bergizi.


Biasanya, sayuran lebih sulit diterima oleh anak ya, daripada buah-buahan. Mungkin karena rasanya yang tidak semanis buah. Dengan terlibat dalam aktivitas memasak, anak bisa sekaligus mendapatkan info mengapa kita perlu mengonsumsi sayuran dan keunggulan gizi masing-masing bahan sayuran.


Dari kegiatan memasak, anak jadi belajar bahwa makanan mentah akan lebih menyehatkan setelah dimasak. Ada proses dan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan hidangan yang enak dan layak dikonsumsi.

Secara bertahap, anak-anak akan belajar bahwa bahan makanan yang rasanya tidak enak dapat diolah menjadi makanan lezat dengan cara dimasak. Mereka jadi tidak antipati lagi dengan sayuran dan bisa menghargainya sebagai bahan pangan yang kaya manfaat dan enak dimakan.

Mengenalkan proses memasak ini juga membentuk pribadi yang ulet dan bersedia berusaha sejak dari titik nol hingga dapat menghasilkan sesuatu yang dia inginkan.


Ya, jika kita berurusan dengan koki profesional, satu hal penting yang sangat ditekankan adalah kebersihan. Mulai dari tangan, sayur, buah, hingga tempat-tempat yang dipakai untuk meletakkan makanan. Mereka terbiasa menjaga kebersihan sejak awal memasak hingga selesai.


Satu hal mengharukan ketika anak belajar memasak adalah saat mencicipi hasil masakannya. Terlepas dari rasanya, kita akan melihat masakan ini sebagai buah dari sebuah proses belajar yang sangat rumit bagi anak seusianya.

Proses panjang yang dilewatinya akan membuat kita cenderung menghargai hasil yang ada. Tentu saja, dukungan penuh yang positif layak kita berikan. Karena merekalah nantinya yang akan memasak untuk diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya.


Lega rasanya mengetahui bahwa ada cara bagi kita untuk mengarahkan anak-anak menyukai sayur dan buah-buahan. Segala kebaikan kandungan yang dimiliki sayur dan buah-buahan pun dapat mereka nikmati dengan senang hati.

Generasi pecinta sayur dan buah-buahan yang mampu mengolah sendiri makanannya adalah generasi idaman. Karena mereka adalah generasi yang sehat, berwawasan luas, tekun, mandiri, peduli dan mampu bekerja sama demi kehidupan yang lebih baik.

Jadi, bagaimana Anda akan mengolah sayur dan buah bersama anak hari ini?

27 komentar:

  1. Alhamdulillah anak2 perempuanku yang masih balita juga udah mulai aku ajak nge dapur. Dan mereka suka banget. Blom pernah kalo ikutan cooking class berbayar..hahaha...tapi melibatkan mereka di dapur bener2 menyenangkan koq...ribet iya, jadi lebih lama iya...tapi mereka bahagia banget dan bilang sama semua orang kalo udh bisa masak...yess betul mba. Bahagia itu sederhana

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, lebih banyak senangnya daripada keselnya :)

      Hapus
  2. emang ya kalau lihat anak tumbuh macem gitu jadi seneng banget. barakallah mbak

    BalasHapus
  3. Wah, seru, ya, memasak bareng anak. Pasti anak banyak belajar dan merasa lebih dekat dengan ibunya

    BalasHapus
  4. Ya, setuju banget. Tapi tetap ingat kita harus extra sabar karena prosesnya tidak sesempurna seperti yang kita inginkan.

    BalasHapus
  5. Bener banget, dengan mengajak si kecil ke dapur sekaligus mengajarkannya tentang kebersihan dan membuat makanan yang sehat.

    BalasHapus
  6. Saya juga suka ngajak anak masak mbak walaupun malah tambah berantakan hehehe, tapi kok habis masak malah pada malas makan ya....

    BalasHapus

  7. Anak-anak saya lebih suka belajar bikin kue daripada masak lauk dan sayuran. Yang sudah kuliah dan kos di luar kota jadi pinter masak, belajar sama temen-temen. KaloKdi rumah biasanya mereka bikin kue dari resep yang mereka suka. Belum pernah ikut kursus sih, biayanya lumayan mahal....

    BalasHapus
  8. Makasih infonya Mbak, kenangan masak bersama orang tuanya kelak akan melekat sampai mereka dewasa

    BalasHapus
  9. Wah, hampir Sama dengan anak sulung saya nih. Suka kepo dengan acara masak-memasak. Seneng sih, berlatih mandiri. Plus manfaat yg disebutkan di atas pun terbukti. Sip :-)

    BalasHapus
  10. Anakku bangettt.. Suka masak, padahal ibunya nggak suka wkwkwk
    Alhamdulillahnya malah dia jadi sering masakin ibunya, meskipun menunya sesuai seleranya :)

    BalasHapus
  11. Meski anak-anak saya cowok dua-duanya, tetapi mereka selalu antusias ketika emaknya nge-baking di dapur. Mereka seneng diajak ngebentuk roti atau membantu yang lainnya. Bagi mereka itu menyenangkan bangat, dan ada proses belajar juga pastinya. Barakallah, Mbak. Senang sekali yaaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah. Barakallah buat sekeluarga :)

      Hapus
  12. Sebuah ide brilian nih mba dan cocok banget sama karakter anak yg sedang masa-masanya untuk meng-explore

    BalasHapus
  13. Alhamdulillah, gadis kecil saya juga suka terlibat ikutan kegiatan memasak. Ternyata bermanfaat ya, mbak untuk belajar berbagai hal.

    BalasHapus

Hai, terimakasih sudah berkunjung.
Jejakkan komentarmu di sini ya... ^_^