Jangan Lupa Mencintai Diri Sendiri



Mencintai diri sendiri alias self love ternyata bukan perkara yang mudah ya, bagi kebanyakan orang. Aku semakin lama makin menyadarinya setelah menemukan banyak fakta di sekitarku. Berhubung aku sepertinya tumbuh dengan rasa mencintai diri sendiri yang cukup.


Bukan berarti kehidupanku sejak kecil selalu berjalan sempurna. Bahkan, bisa jadi sebenarnya lebih mengerikan dari jalan cerita kebanyakan orang. Namun, ada satu hal yang aku pelajari dari pengalamanku bahwa support system dari lingkungan terdekat itu sangat penting untuk dapat membentuk pribadi yang mampu mencintai diri sendiri.

Ya, aku sangat beruntung dalam hal ini karena selalu dikelilingi dengan orang-orang yang secara alami mencintaiku. Kedua orang tua, keluarga besar, teman-teman, para guru, bahkan orang-orang yang baru bertemu denganku jarang sekali yang langsung membenciku. 

Memang sepertinya itu mustahil terjadi pada siapa pun, kan? Mana mungkin orang membenci kita tanpa sebab? Aku pernah membaca ada pepatah yang mengatakan bahwa mencintai itu natural, sedangkan membenci itu hasil belajar.

Jadi, seharusnya mencintai diri sendiri itu sangat mudah, semudah kita melihat, mendengar, makan, tidur, atau tersenyum. Seharusnya semua berjalan secara alami. Maka, kalau sampai kita membenci diri sendiri, pastilah itu akibat dari serangkaian pengetahuan dan pengalaman yang merusak perasaan cinta kita.

Oleh karena itu, menjadi tugas kita untuk memaknai ulang apa saja yang selama ini membuat kita tidak mampu mencintai diri sendiri. Apakah ini terkait dengan definisi cantik, sukses, bahagia, kebaikan, atau apa?

Mari diskusikan kembali definisi yang berakibat merusak perasaan cinta kita agar bisa diletakkan dengan semestinya. Definisi yang benar akan berada pada kadar yang pas, tidak membuat kita tersesat dan tidak merugikan siapa pun, baik diri sendiri atau pun orang lain.
Aku tahu, mendefinisikan kembali persepsi yang selama ini sudah tertanam dalam benak itu bukan perkara mudah. Aku saja yang sebenarnya mencintai diri sendiri, ternyata tak cukup mampu menularkan hal ini pada anak-anakku.

Kalian tahu kan, aku memiliki tugas besar dalam membangun kebiasaan mencintai diri sendiri pada anak-anakku, terutama para anak perempuan. Ketiga anakku mengalami gangguan psikologi 3D. Ada yang depresi, ada yang disleksia, dan yang terakhir down syndrome. Bisa pas gitu, ya?


Ketiganya membutuhkan pendongkrakan rasa mencintai diri sendiri yang lebih tinggi dibandingkan anak-anak normal karena kondisi mereka saat ini bisa dibilang di bawah teman-teman seusia mereka. Bisakah aku?


Aku yang mampu mencintai diri sendiri saja merasa kesulitan untuk mengajarkan hal yang sama pada anak-anak. Padahal, aku juga yang mendidik mereka selama ini sejak dalam kandungan. Jadi, jangan khawatir! Aku paham bagaimana beratnya menyetir agar tetap mencintai diri sendiri.

Di antara ketiga anak perempuanku, yang saat ini tampak sangat mencintai diri sendiri adalah si bungsu. Sebuah hal yang wajar, kan? Berhubung dia yang paling kecil, jadi pengetahuan dan pengalaman yang bisa membuatnya membenci diri sendiri masih sangat sedikit.

Di usia dua tahun, ia masih bisa hanya mengingat tentang hal-hal menyenangkan yang tertangkap dari lingkungan sekitarnya. Namun, sampai kapan? Semakin bertambah umurnya nanti akan semakin banyak pengaruh dari luar yang masuk mewarnai dirinya.

Saat itulah, yang namanya support system sangat dibutuhkan untuk menjaga ketangguhan tiap anak untuk tetap bisa mencintai diri sendiri. Menilik di antara ketiga putriku, perlahan tapi pasti, mereka semakin memiliki banyak alasan untuk tidak menyukai dirinya sendiri, dan itu menyakitkanku.


Maka, jika kau saat ini sedang berjuang untuk bisa mencintai diri sendiri, datanglah padaku. Aku adalah bukti nyata bahwa kamu pasti bisa. Meski aku pun belum cukup tahu, bagaimana cara mengajarkannya. Namun, rasa percaya adalah bagian dari cinta, kan? Percayalah bahwa kamu mampu mencintai diri sendiri.

8 komentar

  1. mencintai diri sendiri sulit sekali mbak, saya berjuang untuk mencintai susah sekali. terlebih lagi kalo saya terbayang kesalahan masa lalu, yang ada malah saya benci dengan diri sendiri.

    Kalau soal fisik, saya mencintai. tapi soal karakter, saya benci dengan diri sendiri

    BalasHapus
  2. iya mbak sangat penting tentu dalam porsi yang pas
    terlebih saat ini dengan adanya media sosial menjadi mudah membandingkan diri

    yang terpenting bisa menerima kelebihan dan kekurangan ya mbak

    BalasHapus
  3. Semoga anak-anaknya tumbuh jadi anak-anak yang mampu untuk menghargai dan mencintai diri sendiri, mbak. Iya, mencintai diri sendiri itu penting banget memang, walau nggak mudah bagi beberap orang. Dan memang penting untuk diajarkan sedini mungkin. Nanti kalo aku udah punya anak, aku juga mau selalu mengingatkan anak-anakku untuk mencintai diri mereka juga.

    BalasHapus
  4. Benar sekali mbak, kadang mencintai diri sendiri itu agak susah kalo lingkungan kita kurang mendukung.

    Semoga anak mbak nanti bisa tumbuh menjadi anak yang mencintai diri sendiri ya.😃

    BalasHapus
  5. Intinya.. bersyukur dengan setiap kelebihan dan kekurangan yang kita punya.
    Otomatis kita akan mudah buat mencintai diri sendiri :).

    BalasHapus
  6. Semoga buah hati kak Farida tumbuh jadi anak yang berprestasi.

    Menurutku memang betul untuk mengutamakan dulu mencintai diri sendiri.
    Setelah berhasil melaksanakannya, hal yang lainnya otomatis akan menyudul dengan sendirinya karena bawaannya hati dan pikiran sudah senang duluan.

    BalasHapus
  7. pas baca ini "Aku yang mampu mencintai diri sendiri saja merasa kesulitan untuk mengajarkan hal yang sama pada anak-anak." langsung DHEG!

    emang penting banget ya, Mbak mencintai diri sendiri, karena kalau belum sayang diri sendiri malah makin sulit sayang sama orang lain tanpa misuh-misuh :(

    BalasHapus
  8. Saya akui mencintai diri sendiri sulit bagi saya. Tapi akhir-akhir ini kayaknya saya merasa lebih bisa dan
    Merasa nyaman saja.

    Semoga selalu diberi kekuatan dan semangat untuk mendidik anak-anak yang spesial. Semangat mbak💪💪

    BalasHapus

Hai, terimakasih sudah berkunjung.
Jejakkan komentarmu di sini ya... ^_^