Tips Mengajak Anak Salat di Masjid



Halo, Ibu-Ibu? Apa kabarnya di Ramadan minggu pertama ini? Tetap semangat, kan? Eh, mati gaya? Lho, kenapa?


Kalau soal pilihan menu untuk sahur dan buka puasa, tak perlu terlalu membuat hati gundah gulindang, ya. Kan sekarang makin banyak pilihan sajian praktis dan lezat yang disediakan di toko, warung dan restoran. Mau meracik sendiri masakannya? Boleh sangat. Bisa intip segambreng contekan dari Mbak Dian Ekawati Suryaman untuk mendapat inspirasi menu yang praktis. Walaupun judul menu sahur, tapi menurutku cocok juga untuk dijadikan menu buka puasa.

Baca di sini ya: Menu Sahur yang Praktis

Salat Tarawih bagi Perempuan

Bulan Ramadan bagi ibu-ibu, dini hari dan senjanya diwarnai oleh kesibukan menyiapkan makanan. Sedangkan malamnya, tersedia pula tantangan tersendiri, yaitu ritual salat tarawih. Ibu-ibu biasanya menjalankan salat tarawih di mana? Rumah atau masjid?

Sebenarnya, sebaik-baik tempat salat bagi perempuan adalah di dalam rumahnya. Sebagaimana banyak dalil yang menyebutkannya, salah satunya adalah sebagai berikut:

Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خَيْرُ مَسَاجِدِ النِّسَاءِ قَعْرُ بُيُوتِهِنَّ
“Sebaik-baik masjid bagi para wanita adalah di bagian dalam rumah mereka.” (HR. Ahmad, 6: 297. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dengan berbagai penguatnya).*

Namun, ada kalanya perempuan juga ingin atau harus salat di masjid karena sedang dalam perjalanan, misalnya. Hal ini pun diperkenankan sebagaimana dalil berikut:

Dari Salim bin ‘Abdullah bin ‘Umar bahwasanya ‘Abdullah bin ‘Umar berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ إِذَا اسْتَأْذَنَّكُمْ إِلَيْهَا
“Janganlah kalian menghalangi istri-istri kalian untuk ke masjid. Jika mereka meminta izin pada kalian maka izinkanlah dia.” (HR. Muslim, no. 442).*
Yang penting, saat salat di masjid, perempuan tersebut tidak melanggar aturan Islam, misalnya dengan cara:

  1. Menutup aurat
  2. Tidak menggunakan wewangian yang kentara
  3. Seizin wali/suami

Pengalamanku Salat Tarawih di Masjid

Biasanya, aku pun menjalankan ibadah salat di rumah. Namun, 2 hari yang lalu, Suami mengajak kami sekeluarga salat tarawih di masjid. Alasannya, untuk memakmurkan masjid sekaligus menjalin ukhuwah dengan sesama muslim. Selain itu, memang karena setelahnya kami akan diajak membeli sandal untuk anak-anak yang sandalnya pada rusak berjamaah. Hehehe...

Sebenarnya ini bukan pertama kalinya mereka ke masjid. Mereka sudah sering ikut ke masjid terutama saat salat wajib dan kajian. Namun pada prinsipnya, kami sebagai orangtuanya baru membiasakan mereka rutin ikut serta setelah berusia 7 tahun. Sebelum itu, ya sesukanya saja mau ikut atau tidak.

Tentu saja, jika mereka meminta ikut, mereka akan diingatkan tentang adab selama di dalam masjid. Khusus untuk ajakan salat tarawih ini, aku juga memanfaatkannya guna melatih anak-anak agar nantinya bisa tertib saat salat Id. Syukur-syukur kalau ternyata bisa diajak iktikaf, ya.

Lagipula, masjid yang dipilih Suami adalah masjid dekat kampus. Sehingga kemungkinan besar yang ikut salat kebanyakan adalah mahasiswa. Jarang anak kecil di sana.

Jadi aku tidak terlalu kawatir mereka terpengaruh atau dipengaruhi anak lain untuk gaduh. Kalau nantinya ada keributan, sudah bisa dipastikan orangtua mana yang layak ditunjuk hidungnya. Hehehe...


Baiklah, mari kita siapkan amunisinya. Bawaan di atas tidak hanya diperlukan saat salat tarawih. Namun ketika kita mengajak anak ke acara apa pun yang berdurasi agak panjang yang berpotensi membuat anak bosan padahal ketenangan suasana harus tetap dijaga. Misalnya seperti kajian, seminar dll. Karena biasanya anak bertingkah itu kan karena lapar, haus, mengantuk, bosan atau tidak nyaman.

Namun untuk acara salat tarawih memang butuh perhatian khusus, ya. Karena jika nantinya anak beraksi di tengah salat, kita tidak bisa serta-merta menoleh lalu melotot dan berbisik dengan keras (?), "Sstt...!"

Kalau nekad begitu, bisa-bisa aku balik diprotes, "Umi ini lagi salat kok berisik!" Dan kawatir satu ruangan yang nguping eh punya kuping pada ger-geran. Kacau sudah dunia pertarawihan!

Lalu? Apakah persiapan di atas berhasil menenangkan anak-anak? Mmm... Anu... Bisa dilihat sendiri kan foto-di artikel ini? Ya, begitulah hasilnya. Hiks.

Memang tiap anak itu unik, ya. Kedua anakku yang terbesar, sejak bayi tergolong tenang jika menghadiri acara masal seperti apa pun. Asalkan kebutuhan dasarnya seperti 3 hal di atas, juga merasa cukup perhatian, rasa aman dan kenyamanan, maka mereka pun bisa mengikuti acara tanpa rengekan berarti. Kadang memang mondar-mandir. Namun tidak pernah berbuat gaduh atau malah mengisengi orang lain.

Sedangkan 3 anak berikutnya lebih playful. Mereka suasana hatinya selalu ceria dan menganggap semua tempat itu area bermain. Apa lagi kalau di masjid yang biasanya berupa ruangan luas nan lapang. Woo... Susah sekali diamnya. Mana kalau tertawa membahana pula hanya untuk suatu alasan yang sederhana.


Sebenarnya, ketiga anakku ini masih bisa tenang selama salat Isya. Yang perempuan ikut salat karena sudah 7 tahun, sedang 2 adik laki-lakinya hanya senyum-senyum melihat atau mengobrol kecil. Barulah di penghujung 2 rakaat pertama salat tarawih, keduanya mulai menggoda kakaknya yang masih salat.

Begitu selesai salam, Sang Kakak pun memberitahu adik-adiknya. Dia keluar barisan salat. Kupikir tadinya dia akan menjaga adik-adiknya agar kembali tenang. Ternyata dia malah melepas mukena dan ikut bermain pada salat selanjutnya. Sigh.

Menjelang putaran ketiga salat tarawih, aku menegur Sang Kakak dengan bahasa singkat. Tidak ada tempat untuk bicara panjang lebar ya, di sini. Karena standarnya suasana harus tenang.

Rupanya mereka tetap ketawa-ketiwi dan ditegur sese-mbak yang hanya ditanggapi dengan suara polos, "Kenapa?" Lalu Sang Mbak pun menjabarkan serangkaian nasehat yang kembali hanya dijawab dengan, "Kenapa?" dan seterusnya hingga Sang Mbak lelah diiringi cekikikan anak-anak. Haduh...

Di putaran keempat, aku pun salat sambil menggendong yang terkecil. Lumayan, lebih tenang. Walau rupanya masih ada yang merasa terganggu.

Saat akan witir, aku meminta Sang Kakak untuk kembali memakai mukenanya dan ikut salat. Yang terkecil kugendong dan yang satunya kutawari, "Mau ikut salat?" Dia menggeleng.

"OK, gapapa. Duduk tenang di sini, ya" kataku. Dan salat pun kembali berjalan dengan syahdu.

Usai salat, kami sudah dipesan oleh Suami agar segera keluar untuk berbelanja. Kami pun berpamitan pada setiap orang yang kami temui. Tak lupa aku mengingatkan mereka masing-masing agar meminta maaf karena berbuat gaduh.

Ya, aku tidak pernah meminta permakluman dari orang-orang sekitar. Juga tidak pernah memintakan maaf untuk anak. Mereka lah yang harus meminta maaf sendiri sebagai bentuk tanggung jawab atas perbuatannya. Lagipula, cara demikian otomatis langsung mengembangkan senyuman di setiap wajah orang dewasa. Karena lucu-lucu gemas juga melihat tampang polos yang tulus meminta maaf setelah berbuat onar. Hehehe...

Setidaknya aku tahu, anak-anak pada dasarnya bisa diminta tertib saat salat sepanjang salat wajib. Namun kalau lebih lama dari itu, masih butuh latihan lagi. Salat Id sih cuma 2 rakaat, ya. Semoga mereka bisa melaluinya dengan baik. Iktikaf? Mimpi kali, ye...

Baiklah, Anak-Anak! Mari belajar salat lagi di rumah!

Catatan kaki
Sumber: https://rumaysho.com/15669-shalat-wanita-di-masjid-ternyata-kalah-utama-dengan-shalat-wanita-di-rumahnya.html

Komentar

  1. Ngajak anak kemasjid emang susah susah gampang, kalau anak moodnya lagi bagus dijamin tidak akan membuat kerusuhan dimasjid, kalau moodnya lagi jelek dijamin bikin pusinh kepala, makasih tipsnya ini mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2. Hehehe.. Itu anak2 lg kebagusan moodnya jd bawaannya main mulu

      Hapus
  2. Hahaha, ngakak baca yang ger-geran dunia pertarawihan.

    Mungkin anak-anak juga bisa diajak ke Masjid beberapa hari sekali ya, Mak. Biar mereka gak bosan tiap hari juga. Tapi memang Emak harus sabar banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kalau salat wajib sih sering minta ikut. Tp memang ga selama tarawih ya durasinya ��

      Hapus
  3. heheh kebayang riweuhnya mbak bawa 3 bocah ke masjid. Aku bawa 2 aja udah riweuh waktu masih pada balita. Belum lagi ngadepin jemaah lain yang melotot gara2 anak2 sedikit berisik. Tapi skr udah gak ada drama itu.. heheh karena anak2 sudah besar dan udah ngerti. TFS yaa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah sdh lewat masanya ya ��

      Hapus
  4. Gua mah tersenyum aja mencium wangi wewangian zaman now hehe,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha.. Apa itu wewangian jmn now?

      Hapus
  5. memang harus sabar sih dan masih banyak orang belum paham bahwa pentingnya pengenalan anak kepada masjid sehingga nanti sang anak sudah terbiasa untuk ke masjid

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe iya. Lbh simpel kalau ngajaknya setelah usia 7th ya biasanya lbh mudah diajak tertib. Tp kadang memang ada kondisi yg mau ga mau bawa anak balita ke masjid

      Hapus
  6. Sekarang aku tarawih lebih sering di rumah. Paling pas subuh, sekalian jalan2 dan hunting sunrise moment, baru ke masjid raya dekat rumah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wow, bayanginnya udah asyik bgt kyknya tuh ��

      Hapus
  7. Ngajak anak solat ke mesjid itu penting agar anak jadi terbiasa beribadah di mesjid ya mbak, dan lama kelamaan anak betah dan anteng di mesjid gak mengganggu jamaah lainnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.. Prosesnya sampe bisa tertib itu yg memang kudu sabar ��

      Hapus
  8. mbak farida salam kenal ya. Aku juga pernah nulis topik beginian di blogku, judulnya REALISTIS DALAM SHOLAT TARAWIH DAN SHOLAT IED. Semoga semakin bertambahnya usia anak-anak kita, mereka semakin paham aturan dan adab di masjid ya mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.. Wah sepertinya menarik ya artikelnya. Nanti coba aku cari di blogmu ��

      Hapus
  9. Aku juga tim shalat tarawih di rumah. Karena anakku laki2 semua, jadi shalat sendirian deh. Dua2nya ikut ayahnya ke masjid. Termasuk yg bungsu masih 3 tahun lebih juga ikut spy terbiasa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah ya anak2 rajin ke masjid ��

      Hapus
  10. saya sampai sekarang belum berani ngajak anak tarawih di masjid, mbak. masih susah diatur anaknya. nggak tahu nih lebaran nanti bisa diajak salat apa nggak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa dibiasakan saat salat di rmh say. Dikondisikan seperti jika sedang salat id. Insyaallah bisa ya 2 rakaat ini.
      Aamiin.... Yg kenceng

      Hapus
  11. pernah diajarin ustadz deket rumah,, anak2 ditarok di dalam shaft diantara org dewasa,, biar agak terjaga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bnyk jg yg begitu.
      Cuma kalo anaknya tetep mobile jdnya mutus shaf.
      Yg penting dipisah sih. Biasanya aq temeni di shaf paling ujung

      Hapus
  12. Hahahaa .. lucu memang tingkah polah anak kecil ..
    Entah dimanapun kalo mood baiknya lagi tinggiiii .. selalu aja bikin ulah 😃

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe ya begitulah.
      Ternyata tidak hanya mood jelek yg bisa bikin anak ribut di masjid ya ��

      Hapus
  13. Makasih sharingnya ya mbak. Anakku masih 3 tahun dan pengen aku ajakin tarawih di masjid. Tapi dia belum bisa terlalu lama karena enggak betahan. Memang harus pelan-pelan ya ngajarinnya. Insyaallah bisa, aku mau berusaha pokoknya hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insyaallah bisa. Yg penting perhatikan cara dan timingnya ��

      Hapus
  14. Aku belum berani ajak sholat Affan ke masjid. Nggak bisa diam. La kalau diajak kajian Aja bisa muterin masjid. Yang bahaya kalau ada stop kontak, pernah hampir masuk tangannya ������

    BalasHapus
  15. Mbayangin sholat sambil ngendong. Heheheh duh mba Farida kamu keren. Anaknya dibawa semua tapi selalu bisa menghandlenya.

    BalasHapus
  16. Bagus tipsnya mbak, karena kalau tidak sejak dini kapan lagi anak dikenalkan dengan masjid. Sayangkan jika Masjid hanya diisi oleh angktan 70+ yang ada generasi muda malas datang ke mesjid jika tak terbiasa dari dini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul 3x. Semoga anak2 kita termasuk para pemuda yg cinta masjid. Aamiin..

      Hapus
  17. Shalat sambil gendong anak. Nggak bisa bayangin aku mbak. Anak-anak tuh emang lucu ya mbak. Nggemesin gitu. Patut dicontoh ini untuk para bunda yang ngajak anaknya ke masjid. Nice sharing mbak Farida.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2, dik farida.
      Gendong sambil salat tu ketrampilan yg hrs dimiliki para ortu��

      Hapus
  18. Saya termsk yg setuju mengajak anak2 shalat di Mesjid, tinggal bagaimana mengatur mereka agar tertib. Kalo masjid di dkt rumah, anak2 ditempatkan di bagian belakang, dan meskipun agak ramai, tapi tak mengapa... toh bukan cuma anak2 yg ramai, kdg ibu2 bpk2 juga malah ngobrol sendiri pas tausyiah hehee...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lha? Bapak ibunya jg perlu latihan berarti ya hihihi..
      Kalau tausiyah sih masih mending karena kita bisa sambil mengingatkan anak ya.
      Lha kalo pas salat itu yg repot hihihi..

      Hapus
  19. Anakku ku ajak ke masjid.. Rame sih.. Kadang dimarahin mbah2 klo berisik..hehe

    BalasHapus

Posting Komentar

Hai, terimakasih sudah berkunjung.
Jejakkan komentarmu di sini ya... ^_^