[Ulasan Buku] Orang Jujur Tidak Sekolah

orang jujur

Judul: Orang Jujur Tidak Sekolah
Penulis: Andri Rizki Putra
No. ISBN: 9786022910626
Penerbit: Bentang Pustaka 
Tanggal terbit: November 2014
Jumlah Halaman: 276
Berat: 500 gr

Pedih, kagum, dan terinspirasi. Itulah kesanku selama membaca buku ini. Buku ini berkisah tentang pengalaman Penulis yang mengalami diskriminasi selama masa sekolah. Penyebabnya bikin miris banget, karena alasan tidak mampu membayar uang sekolah. Hiks.

Jika uang menjadi modal utama untuk bersekolah, maka pendidikan itu sendiri telah mengkhianati ruhnya.

Setuju banget sama quote Penulis di atas. Sesungguhnya, pendidikan, kesehatan, dan keamanan adalah kebutuhan primer bagi setiap manusia. Sama pentingnya dengan kebutuhan pangan, sandang, dan papan.

Apa jadinya jika rakyat hanya dipenuhi kebutuhan pangan, sandang, dan papannya saja (itu pun sebenarnya masih banyak yang terlantar. Huaa ...), namun 3 kebutuhan lainnya tidak terpenuhi dengan baik. 

Sumber daya manusia yang melimpah hanya akan menjadi beban bagi negara, karena rata-rata mereka bodoh, sakit-sakitan, dan tidak berani mengaktualisasi diri akibat kondisi negara yang tidak nyaman. 

Setidaknya, pendidikanlah yang memanusiakan manusia, membuatnya lebih unggul dibanding makhluk lainnya. Jika hal ini begitu sulit dikecap oleh setiap insan, jangan heran jika muncul anak-anak pemberontak seperti Penulis.

"Kawan, tahukah kau bahwa ikan salmon berenang melawan arus, sementara ikan bandeng berenang mengikuti arus? Namun, ketika dijual di pasaran, harga ikan salmon jauh lebih mahal dibanding ikan bandeng."

Penulis tumbuh di tengah keluarga broken home. Ia dibesarkan oleh mamanya sendiri sebagai single parent. Kemiskinan menjadi isu yang terus mendera keluarga ini. Namun, Penulis tetap bertekad untuk meraih pendidikan tinggi, dan mamanya selalu siap mendukung dalam berbagai situasi.

Karakternya yang memang pada dasarnya tidak bisa diam, membuatnya akrab dengan cap sebagai anak nakal. Padahal, ia bukanlah pemalas, ia hanya diperlakukan tidak adil. Ia bukanlah sok suci, ia hanya tak mampu mengingkari hati nuraninya tentang kebenaran. 

orang jujur

Dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, dan berbagai halangan yang dipasang orang-orang sekitarnya serta para pemangku jabatan, ia akhirnya mampu menunjukkan prestasi yang luar biasa. ia mendidik dirinya sendiri dengan konsep yang disebutnya selfschooling.

Lulus SMA setelah setahun belajar, dan meraih gelar sarjana setelah kuliah 3 tahun. Cepat, dengan hasil yang gemilang. Hingga kini pun, ia terus berkarir nirlaba untuk membantu orang-orang yang sadar belajar agar tetap bisa mengecap pendidikan walau kesulitan biaya.

Proses belajar tidak bisa dibeli dengan uang. Ilmu tidak bisa dibeli dengan uang."

Segala kecurangan dalam dunia sekolah memang menyesakkan dada. Banyak yang menganggap bahwa uang bisa menjadi pelicin jalan untuk masuk ke sebuah sekolah dan mendapatkan nilai tinggi. Namun, sebanyak apa pun uang yang dimiliki seseorang, sejatinya tak pernah bisa membuatnya lebih tangguh dan pintar jika ditempuh dengan cara-cara kotor.

Buku ini sangat layak dibaca oleh siapa pun. Tutur bahasanya ringan dan mudah dipahami dengan cerita yang mengalir. Menjadi inspirasi bagi yang membaca tentang betapa pentingnya arti pendidikan, dan bagaimana seharusnya kita bertekad untuk tetap meraihnya.

Penulis adalah salah satu yang mampu bertahan dan menunjukkan kemampuannya pada dunia. Namun, berapa banyak anak didik potensial lain yang tak sempat bersinar karena minimnya dukungan? Bagaimana dengan yang tidak cerdas? Haruskah mereka tergerus oleh sistem pendidikan di negeri ini? 

Semoga buku ini juga telah dibaca oleh para guru, pemilik sekolah, praktisi pendidikan, dan pemangku jabatan. Agar menjadi pertimbangan serius bagi pihat terkait untuk menyadari dan memperbaiki apa yang salah dengan pendidikan kita.

24 komentar

  1. Sptnya mwnarik buku ini
    Anak sekolah tu memang beban mental banget kl dia nunggak atau ga mampu beli ini itu. Asli bawannya minder..
    Yg buli juga yahh masih sekolah lahh blm tau gmn, mungkin maksdnya ncanda. Tp buat bapwr sebenarnya huhu

    BalasHapus
  2. Memang keren sekali mas andri rizki ini, aku pernah liat di talkshow kick Andi, dan memang sebagus itu pemikirannya.btw, aku belum pernah baca bukunya, tapi sepertinya bagus bisa memotivasi.

    BalasHapus
  3. wah bener banget, walau bagaimana pun sebanyak apa pun uang yang dimiliki seseorang, sejatinya ta bisa buat lebih tangguh dan pintar apalagi dengan cara kotor. Saya paling benci yang kaya gini mba. Buku ini mengajarkan hal positif buat orang banyak. Bisa jadi referensi nih buku mas andri ini.

    BalasHapus
  4. Saya sepakat bahwa seyogyanya, uang bukan menjadi orientasi utama berdirinya sebuah lembaga/institusi pendidikan. Namun, jika dibuat gratis, maka pendidikan itu sendiri kehilangan nilainya...sebagaimana barang gratisan yang seringkali diremehkan.

    Jadi serba salah ya.

    Dipasangi harga meulitkan yang niat belajar tapi kondisi finansial nggak mumpuni. Digratiskan, jadinya disepelekan.

    Terlepas dari peliknya permasalahan dunia pendidikan kita, saya salut sama semangat pantang menyerah dari penulis. Hal ini mengingatkan saya bahwa, sebenarnya kita lah yang menentukan nasib kita sendiri.

    Mau menyerah dengan keadaan, atau ngeyel buat mengejar impian. Dua-duanya nggak ada yang nyaman.

    BalasHapus
  5. Buku mas Andri ini bagus ya mbak, aku baca kutipan di tulisan di atas tertarik sekali. Bisa memotivasi siapapun yang baca.

    BalasHapus
  6. Pendidikan memang penting bagi setiap anak. Quotes di buku ini menjadi pembelajaran bagi.kita, bahwa pendikan juga merupakan kebutuhan.

    BalasHapus
  7. Wah Buku yang bagus
    Menginspirasi pembacanya
    Jadi ingat Ajip Rosidi dan ibu Susi yang juga gak menyelesaikan sekolah
    Setiap sosok punya alasan

    BalasHapus
  8. Wah bagus nih. Btw, saya sebenarnya merencanakan homeschooling untuk anak saya meski masih hanya wacana. Tapi beneran lho, pendidikan tidak sama dengan persekolahan. Yang sekolah belum tentu terdidik. Dan pendidik terbaik itu orang tua anaknya sendiri. Tapi saya baru tau tentang konsep self schooling. Keren tuh. Itu kalau anak sudah sampai ke tahap itu, negara ini gak perlu khawatir lagi karena tiap warga negaranya punya kesadaran mendidik dan belajar sendiri.

    BalasHapus
  9. Buku yang sangat memotivasi kita semua, baik sebagai anak, orangtua maupun guru. Idealnya sekolah itu menyenangkan dari sisi keuangan dan mental mungkin juga sisi lainnya. Memasuki usia sekolah kadang tidak berbanding lurus dengan kesiapan seseorang untuk meraih pendidikan secara formal. Sesuai keyakinan hati dan finansial bisa jadi menjadi pertimbangannya. TFS.

    BalasHapus
  10. Kalau baca Tulisan ini jadi ingat sama Buya Hamka yang rajin membaca buku, tidak pernah mengenyam pendidikan formal tapi jadi orang terkenal

    BalasHapus
  11. Baca kutipannya menarik ya.
    Etapi kan menuntut ilmu memang harus dengan biaya. Jer basuki mawa bea, peribahasa Jawa. Hehe...
    Pada intinya, sekolah tidak wajib. Tapi belajar itu wajib. Gitu kali ya.

    BalasHapus
  12. Buku ni menampar dunia pendidikan. Bagi yang merasa tertampar. Banyak yang kulitnya seperti badak dan tidak merasakannya. Wkwkwk

    Saat sudah sukses, memang boleh bicara apa saja. Tapi saya juga kurang sreg dengan judul bukunya.
    Sudah baca 3 bab, lupa kapan tepatnya.

    BalasHapus
  13. Buku yang sangat inspiratif dengan kisah yang cukup dekat dengan kehidupan kita. Ada banyak anak yang putus sekolah hanya karena biaya. Semoga kelak pendidikan Indonesia bisa semakin ramah dengan orang miskin. Senangnya dengan penulis, ia bisa membuktikan tekadnha untuk terus belajar hingga sukses.

    BalasHapus
  14. Seketika aku teringat pada segala bentuk ketidakjujuran di masa-masa sekolah dulu, mulai dari SD sampai SMP. Betapa terkejutnya aku ketika seorang teman yang sehari-hari menyontek tiba-tiba bisa memperoleh nilai ujian tertinggi di sekolah. Begitu juga saat teman yang punya kebiasaan serupa tiba-tiba menjadi juara kelas. Tapi tidak lama karena pada akhirnya mereka tidak bisa mempertahankan prestasi dadakan tersebut.

    Pendidikan punya peran yang sangat penting bagi keberlangsungan bangsa kita di masa depan. Semoga perbaikan di bidang ini bisa terus dilakukan secara konsisten.

    BalasHapus
  15. Menurut yg penting itu bukan sekolah atau tidak sekolah, tetapi yg penting belajar atau tdk belajar..

    Asal ada kemauan belajar, pasti akan sukses

    BalasHapus
  16. Huaaa...meski aku hanya seorang orang tua aku tertarik sekali baca buku ini.
    Sekilas bis akasih insight tentang dunia pendidikan di negara kita ini.
    Meski lagi kau optimist dengan geliat perkembangan pendidikan negara ini.

    Ini bisa jadi makanan bergizi bagi otak.

    BalasHapus
  17. Dari judulnya saja sudah menarik, ulasannya juga menarik. Kisahnya menginspirasi sekali ya Mbak, kemiskinan bukan penghalang untuk meraih kesuksesan. Dan si penulis bisa membuktikan dengan prestasinya.

    BalasHapus
  18. Saya juga setuju dengan quote penulisnya, mbak. Karena memang pendidikan itu mengajarkan anak supaya tidak tahu menjadi tahu, dari tidak paham menjadi paham. Dalam segala aspek.

    BalasHapus
  19. Kutipan-kutipan yang ditulis dari buku ini memang bagus. Bahkan judulnya pun sudah sarat makna. Thanks for sharing mbak

    BalasHapus
  20. Duh dari dulu aku mau beli buku ini belum jadi-jadi mba. Walaupun judul bukunya agak gimana gitu ehehehe. Keren deh isinya menginspirasi dan membuka mata soal arti pendidikan yang sesungguhnya. Dan penulis menginspirasi sesulit apa pun kehidupan, dia tetap bisa meraih pendidikannya dengan gemilang.

    BalasHapus
  21. bagus mba review bukunya! jadi pengen punya bukunya sendiri..

    BalasHapus
  22. Wah, baca ulasan Mba Farida, membuat saya makin yakin bahwa buku ini sangat menginspirasi, terutama bagi generasi jaman now untuk bersyukur dengan keadaan/apa yang mereka miliki, dan memberdayakannya untuk kian serius belajar, memperkaya diri dengan pengetahuan dan skill, sehingga siap menjawab tantangan masa depan yang kian go global ini.

    Terkadang, si miskin begitu ingin belajar, bersekolah tinggi, namun dana tidak tersedia atau bahkan sulit sekali diraih, sementara si kaya, harta berlimpah tapi motivasi untuk menuntut ilmu justru hilang entah di mana.

    Btw, jadi pengen deh baca buku ini! Di Gramed ada lah pastinya ya, Mba?

    BalasHapus
  23. Seperti flasback aku baca review ini. Dulu ingiin sekali bisa sekolah, tetapi kondisi bener-bener tidak memungkin. Selain tidak ada biaya, tempat sekolah juga jauh dan gak ada angkutan umum. Sampai tua kalo liat seragam sekolah, berasa bum rela aku tu.

    BalasHapus
  24. Aku jadi penasaran pengen baca bukunya. Aku pernah berada di posisi penulis dimana aku kekurangan biaya buat sekolah. Bedanya orangtuaku masih lengkap. Beruntung aku punya keluarga besar yang ekonominya cukup dan lebih punya dari orangtuaku, jadi aku tertolong oleh mereka. Kayaknya kisahku bisa juga dijadiin buku ya (siapa gueh. LOL)

    BalasHapus

Hai, terimakasih sudah berkunjung.
Jejakkan komentarmu di sini ya... ^_^