header permata pengalamanku

"Rapijali: Mencari" Karya Dee Lestari

9 komentar

rapijali

Gara-gara membaca artikel book reviewer tentang sebuah novel remaja, aku jadi pengin mengulas novel bergenre sama yang baru kubaca, yaitu sekuel pertama dari Trilogi Rapijali yang berjudul "Rapijali: Mencari" karya Dee Lestari.

Identitas Buku

Judul: "Rapijali 1: Mencari"

Penulis: Dee Lestari

Tahun terbit: Desember 2021, cetakan keenam

Penyunting: Dhewiberta H. dan Jia Effendie

Perancang sampul: Fahmi Ilmansyah

Pemeriksa Aksara: Fitriana, Pritameani, Ifah Nurjany, Nurani

Penata aksara: Labusiam

Foto penulis: Reza Gunawan

Penerbit: PT Bentang Pustaka

Distributor: Mizan Media Utama

Jumlah halaman: 352

ISBN: 978-602-291-772-4

Blurb

Ping merasa telah memiliki segala yang ia butuhkan. Dunianya yang damai di Pantai Batu Karas, rumahnya yang penuh alat musik di tepi Sungai Cijulang, seorang sahabat terbaik, serta kakek yang menyayanginya. Namun, diam-diam Ping menyimpan kegelisahan tentang masa depannya yang buram. Bakat musiknya yang istimewa tidak memiliki wadah, dan ia tidak berani bercita-cita.

Hidup Ping jungkir balik ketika ia harus pindah ke Jakarta dan tinggal bersama keluarga calon gubernur. Ping mesti menghadapi sekolah baru, kawan-kawan baru, dan tantangan baru. Mungkinkah ia menemukan apa yang hilang selama ini? Dan, apakah Ping siap dengan yang ia temukan? Bahwa, hidupnya ternyata tidak sesederhana yang ia duga. 

rapijali adalah

Selayang Pandang

Kisah di balik lahirnya novel "Rapijali" ini cukup menggelitik. Pertama ditulis Dee Lestari saat berusia 17 tahun, praktis cerita yang awalnya berjudul "Planet Ping" ini akhirnya berhasil bangkit kembali setelah 27 tahun! 

Ada beberapa kebijakan yang diambil untuk menghadirkan versi kebangkitannya. Salah satunya, sudah jelas penggantian judul. Yang kedua, perubahan latar waktu yang tadinya di tahun 90-an menjadi kekinian. Selain itu, tentu aja ada lebih banyak lapis drama yang ditambahkan untuk membuat kisah yang tadinya tak selesai ini akhirnya malah jadi trilogi.

Kesan Pertama

Dari judul, aku tadinya mengira Rapijali adalah novel komedi. Aku penasaran dong, bagaimana seorang Dee Lestari membuat karya komedi. Ternyata, meski memang banyak dialog lucu di dalamnya, tetapi sepertinya "Rapijali: Mencari" ini lebih tepat dimasukkan ke dalam genre drama. 

Berikutnya, soal sampul. Aku awalnya berpikir bahwa dari segi segmen usia, Rapijali adalah novel metropop yang menggambarkan kehidupan kalangan muda di kota besar. Mungkin, sekilas barisan tuts piano itu mirip dengan siluet gedung pencakar langit yang berderet. Ternyata, ini novel remaja, Say! Akan tetapi, dengan konflik yang cukup kompleks dengan bumbu politik, psikologi, dan musik.

rapijali mencari

Pendapatku Setelah Membaca

Dee Lestari menulis buku ini untuk remaja, tetapi tentu aja buku ini bisa dinikmati oleh semua kalangan. Gaya bahasanya ringan dengan percakapan yang mengalir, mirip dengan Perahu Kertas. Para travel blogger juga bisa jatuh cinta sama novel ini, karena di bagian awal banyak menggambarkan tentang serunya kehidupan di Batu Karas, dekat Pangandaran.

Selain itu, pencinta musik juga akan suka membacanya karena penggambaran detail Bu Suri tentang nada-nada dan alat musik. Kalau paham bagaimana membaca not balok, mungkin kamu juga bisa "mendengar" suasana dan nada yang diceritakan dengan lebih baik.

Karakter penokohannya beragam dan kuat tetapi enggak pernah tumpang-tindih karena memiliki porsi masing-masing. Unik-unik deh, mereka. Mulai dari tokoh utamanya, Oding, para kakek D'Brehoh, juga teman-teman di sekolah.

Meskipun novel remaja, tetapi Rapijali hadir dengan konflik yang cukup kompleks. Dee Lestari berhasil membuktikan bahwa tema cerita remaja dan kehidupan sehari-hari enggak bisa dianggap enteng. Ramuan semacam ini juga baru bisa diracik jika naskahnya bersabar mengendap selama 27 tahun, ya.

Pokoknya, kalau kamu sedang mencari bacaan ringan nan bagus dari segi teknik penulisan buku, Rapijali merupakan salah satu pilihan tepat untuk menjawabnya.

Sedikit Masukan

Yang aku bingung setelah beberapa jam tuntas membaca novel ini adalah Oding ke mana? Setelah Ping ke Jakarta, dia benar-benar enggak ada interaksi dengan Oding. Padahal, mereka kan, kawan dekat. Toh, enggak ada larangan atau janji juga untuk enggak saling menghubungi, kok. Di zaman serba digital sekarang, ini terasa aneh banget, sih. Mungkin, ini salah satu lubang yang belum tertutup dari naskah lama yang tadinya berlatar era 90-an.

Hal enggak mengenakkan berikutnya adalah pemenggalan tiba-tiba di akhir novel tanpa ada jawaban jelas atas masalah sang tokoh utama. Iya, ini memang trilogi. Akan tetapi, bisa dong, dibikin akhir sementara yang merumuskan posisi konflik Ping di novel ini? Bisa jadi, karena memang sebelumnya Rapijali merupakan cerbung digital. Jadi ya, cetakannya langsung plek ketiplek begitu aja.

Novel ini mengingatkanku pada serial Ayugesa yang kubuat. Berhubung dianggap terlalu panjang, novel Ayugesa dibagi penerbit menjadi dua. Saat kutanya apakah butuh sedikit rombakan di bagian akhir seri pertama, menurut penerbit enggak perlu.

Bisa jadi, karena pembagiannya kebetulan sejalan dengan tema tiap seri. Seri Gesa menceritakan saat Ayugesa akrab dipanggil Gesa, dan seri Ayu dimulai tepat ketika Ayugesa mulai dipanggil dengan nama Ayu. Sayangnya, hal ini enggak ada di novel "Rapijali 1: Mencari". Sekuel pertama ini tentang mencari apa atau siapa? Sudah ketemu belum? Entah, semua mengambang di akhir.


Demikian ulasanku tentang novel ini. Kamu sudah membacanya juga? Bagaimana pendapatmu?

Related Posts

9 komentar

  1. Senang sekali bisa baca bukunya.

    BalasHapus
  2. Saya sudah beberapa kali mendengar buku ini, tetapi belum sempat membacanya. Dari tulisan ini juga saya malah baru tahu kalau Rapijali merupakan karya endapan selama 27 tahun yang dipoles kekinian. Hm, jadi ingat novel remajaku yang sudah lama tertinggal di file komputer. Apa harus dipoles juga?

    BalasHapus
  3. udah lama nih gak baca karya Dee, dulu senang banget kalau ada novel terbarunya.
    bareng ama teman-teman sering berburu novelnya, seringnya juga saling tukar pinjam :D
    jadi penasaran nih dengan novel Rapijali, kirain tadi ini tentang bersih-bersih, merapikan gitu :D

    BalasHapus
  4. membaca judulnya, saya mengira ini genre komedi dengan nuansa betawi, karena kata 'rapijali' kayaknya dulu sering dengar di sinetron-sinetron yang ada komedian betawinya, hehe.. ternyata novel remaja, nice review mba^^

    BalasHapus
  5. Saya nggak berpikir ini novel remaja waktu pertama lihat cover dan judulnya. Selama ini belum pernah baca karya Dee Lestari. Jadi penasaran juga apalagi novel ini diterbitkan dari tulisan lama meski ada sedikit kekurangan, saya yakin pasti nggak membosankan juga.

    BalasHapus
  6. Belum baca buku ini. Tapi luar biasa juga karena 27 tahun akhirnya nyata terbit.

    BalasHapus
  7. Sering dengar judulnya, tapi belum baca, Mbak. Saya pun mengira ini novel komedi dari judulnya.. hehee..
    Gak nyangka ya sudah terendap selama 27 tahun.

    BalasHapus
  8. Aku belum pernah baca ini Mbak Farida, tapi aku suka penuturanmu dalam resensi buku Rapijali ini lengkap tanpa spoiler☺️❤️

    BalasHapus
  9. Iya nih, mbak. Memang banyak yang protes karena ending di novel rapijali 1 ini benar-benar gantung dan tiba-tiba gitu. pembaca jadi kayak diajak makan tapi jadi keselek karena endingnya begitu. hihi

    BalasHapus

Posting Komentar