header permata pengalamanku

Ulasan Film: Hamka & Siti Raham Vol. 2

18 komentar
Hamka & Siti Raham Vol. 2

Aku menonton film Hamka & Siti Raham Vol. 2 di hari pertama tayang, yaitu 21 Desember 2023, atas permintaan Bunda. Beliau mupeng banget melihat aksi Vino G. Bastian dalam film yang diduga penuh hikmah dan mengharu-biru ini.

Sayang, film produksi Falcon Pictures dan Starvision Plus tersebut rupanya masih jauh dari jumlah penonton yang diraup sekuel pertamanya di angka 1.297.791. Pas menonton, cuma ada empat orang lagi di samping kami berlima. Hebatnya, rating IMDb untuk volume 2 meningkat pesat di titik 8.2/10 jika dibandingkan dengan volume 1 yang hanya 6.7/10. Jadi, sebenarnya film ini bagus enggak, sih?

Sinopsis

Setelah sukses dengan film pertama, “Buya Hamka Vol. 1”, penonton kembali diajak menelusuri perjalanan Buya Hamka dan Siti Raham pasca kemerdekaan Indonesia. Dengan latar belakang perjuangan nasional dan kehidupan keluarga, film ini menceritakan kisah Hamka yang kembali aktif dalam gerilya di Sumatra Barat dan Siti Raham yang menjadi tulang punggung keluarga.

Judul

Penambahan nama Siti Raham di volume 2 merupakan usaha untuk menarik lebih banyak penonton dibandingkan sekuel sebelumnya. Dengan mengedepankan nama pasangan bersejarah tersebut, diharapkan dapat meraih perhatian para pencinta drama keluarga, mengingat jadwal rilisnya bersamaan dengan "Layangan Putus The Movie".

Sayang, isi film yang disutradarai Fajar Bustomi ini sesungguhnya enggak cukup terwakili oleh judulnya. Film berdurasi 100 menit tersebut masih didominasi dengan perjuangan Buya Hamka selama Agresi Militer II, fitnah terhadap novel "Tenggelamnya Kapal Van der Wijk", dipenjara selama dua tahun karena tuduhan kudeta, penyelesaian tafsir Al Azhar, dan diangkatnya beliau sebagai ketua MUI pertama.

Romantisme bersama Siti Raham tentu saja ada dan bertaburan di sana-sini dalam bentuk yang sakral, syahdu, dan elegan. Namun, belum cukup untuk bisa disebut sebagai plot utama dalam naskah yang ditulis Alim Sudio dan Cassandra Massardi ini. Sepertinya, memang tadinya film ini hanya menjadikannya subplot.

Bandingkan dengan tantangan Siti Raham di volume 1 di mana harus mengurus anak yang sakit hingga meninggal sendirian, sementara sang suami yang tinggal di luar kota memilih tetap melanjutkan proses percetakan koran dan pulang setelah anak dikuburkan. Tentu kondisi ini terasa lebih berat karena segala rasa sepi, panik, sedih, rindu, bersalah, dan kehilangan harus ditanggung Siti Raham sendirian.

Ditinggal suami berperang tentu bukan perkara remeh. Puisi rindu karya lifestyle blogger ini mungkin cukup menggambarkan perasaan tersebut. Namun, Siti Raham menjalaninya bersama para istri pejuang lainnya. Segala rasa rindu dan khawatir atas keselamatan sang suami mereka tanggung bersama. Para istri merawat anak mereka dalam satu tempat. Meskipun ada masalah kelaparan dan anaknya keracunan, segera bisa diatasi dengan herbal. 

Mendapati suaminya dipenjara pun dijalani Siti Raham dengan cukup datar. Walau sempat pingsan saat suaminya ditangkap, tetapi beliau bisa rutin menjenguk Buya Hamka dan membawakan makanan kesukaan. Tidak ditampakkan rasa berat hati, mungkin karena Siti Raham sudah terbiasa dengan LDR. 

Beliau juga enggak tahu kondisi suaminya yang disiksa di penjara. Tahunya, Buya Hamka mulai menyelesaikan menulis tafsir Al Azhar yang tertunda. Jadi, ya, porsi romantisme di sini terasa antiklimaks dibandingkan volume 1, karena enggak ada tantangan yang lebih besar terhadap hubungan pasangan super tersebut.

Alur

Meskipun enggak menonton yang sekuel pertama, Bunda tetap bisa mengikuti kisah Hamka & Siti Raham Vol. 2 dengan baik. Sebab, memang film ini diceritakan dengan lebih runtut dan mudah dicerna, jika dibandingkan dengan volume 1 yang terkesan melompat-lompat.

Kalau buat aku sih, “Hamka & Siti Raham Vol. 2” lebih terasa sebagai lanjutan naratif tanpa banyak inovasi atau eksplorasi baru dalam penceritaan. Tadinya, aku sangat bersemangat karena ingin menonton adegan peperangan selama Agresi Militer II. 

Sayang, yang tampil cuma situasi rombongan Buya Hamka yang terjebak di tengah bentrokan antara kelompok Hizbullah dan penduduk setempat. Peristiwa ini mengakibatkan beliau tertembak. Setelah tidak sadar selama beberapa hari dan dirawat Siti Raham, bangun-bangun situasi politik sudah mereda karena Perjanjian Roem-Royen. Yah ....

Masa ketika penerapan Demokrasi Liberal pun enggak diceritakan. Padahal, itu saat di mana Buya Hamka berkiprah sebagai Menteri Agama. Kalau ada satu aja adegan bermakna yang menunjukkan sepak-terjang beliau di bagian ini, kita akan bisa melihat hubungan yang lebih intensif dengan Soekarno. Sehingga, persahabatan keduanya bukan cuma klaim di film.

Cerita langsung melompat di masa Demokrasi Terpimpin di mana Buya Hamka meluncurkan kritik terhadap cara Soekarno menjalankan pemerintahan, memilih melepas jabatan karena adanya larangan PNS menjadi anggota partai politik, dan akhirnya dipenjara.

Ini bagian yang paling berharga buatku. Sedih banget sih, melihat seorang kakek disiksa sampai sempat terpikir mengakhiri hidup. Syukurlah, adegannya enggak terlalu vulgar, ya, karena kan, konsumsi untuk semua umur.

Aspek Teknis

Secara teknis, film ini mempertahankan kualitas yang baik. Desain produksi yang memukau, terutama dalam rekreasi latar Minang hingga Jakarta era 1950-an. Kostum yang autentik menciptakan nuansa masa lalu yang kental. Dan, tentunya bagian prostetik yang teliti merias Vino G. Bastian sejalan dengan usia tokoh yang diperankannya dari masa ke masa. Penggunaan saturasi warna kuning memberikan sentuhan visual yang khas, sementara skor musik orkestra meningkatkan intensitas adegan penting.

Performa Pemeran

Vino G. Bastian kembali memukau dengan perannya sebagai Buya Hamka, terutama dalam menggambarkan masa tua karakter. Laudya Cynthia Bella sebagai Siti Raham juga tidak kalah mengesankan, menghadirkan kelembutan dan kekuatan karakter dengan baik.

Menanti Vol. 3? 

Iya. Walau ada kemungkinan menggunakan formula yang sama, tetapi aku masih memiliki ekspektasi untuk sekuel ketiga. Jika sesuai rencana awal, sekuel ini menggambarkan masa muda Buya Hamka, petualangannya keliling Jawa, belajar di Makkah, dan pertemuan dengan Siti Raham. Semoga ada inovasi cerita yang lebih segar dan mengejutkan, ya.

Kesimpulan

Meski memiliki kekurangan dalam beberapa aspek naratif, "Hamka & Siti Raham Vol. 2" tetap merupakan film yang patut ditonton. Menyajikan kisah yang menyentuh dengan nilai-nilai perjuangan dan cinta, film ini cocok untuk dinikmati bersama keluarga dan teman. Ayolah, tonton! Buat yang belum nonton vol. 1, bisa di Netflix, ya. 

Related Posts

18 komentar

  1. Aku belum nonton nih Hamka Vol 1 maupun Vol 2. Tapi dari ceritanya kok aku lebih sedih baca bagian Vol 1, ya. Vino G Bastian actingnya sudah nggak diragukan lagi, ya, Mak. Jadi penasaran dengan lakonnya sebagai Hamka yang sudah tua.

    BalasHapus
  2. Aku nonton Hamka yg 1 di netflix.. rasanya sedih teringat ibu Siti saat anaknya meninggal. Begitu berat perjuangan sbg istri pejuang 😭 penasaran yg kedua.. belum nonton inii..

    BalasHapus
  3. Rekomendasi nih buat nonton sama anak anak apalagi bisa engisi liburan juga dengan nonton film bermutu

    BalasHapus
  4. Agak disayangkan ya film biografi seperti ini seperti kurang apresiasi. Rasanya gaung nya ga terlalu menggema, padahal kisahnya sarat akan inspirasi

    BalasHapus
  5. Aku belum sempat menonton Hamka volume 1 maupun 2. Kemarin2 suamiku sih ngajakin aku nonton yang kedua cuma aku ragu soalnya kan ga nonton yang pertama, khawatir ga nyambung/ga paham. Bagus ya ternyata. Vino Bastian setiap beraksi di film sempurna terus ya keren. Bella juga ga kalah bagusnya.

    BalasHapus
  6. Di belakang suami hebat pasti ada istri hebat yang selalu mendukung aktivitas suaminya. Siti Raham contoh istri yang hebat dan sabar sehingga suaminya bisa berdedikasi untuk masyarakat.

    BalasHapus
  7. Aku lama banget gak pernah nonton ke bioskop, ternyata sekarang filmnya pada lagi bagus-bagus ya mak. Setelah baca sinopsisnya ternyata bagus banget ini filmnya.

    BalasHapus
  8. Kalau aku nonton Hamka kayaknya cuma ikuti alur karena enggak hafal latar di kehidupan nyatanya. Mbak Farida detail banget lho tahu bagian mana yang di-skip.

    BalasHapus
  9. Aku belum pernah nonton yang volume satu. Kayaknya bharu nonton dlu. Oh ya aku baru tahun kalau Siti Rahma nggak tahu Hamka mengalami penyiksaan :(

    BalasHapus
  10. Wah, aku belum nonton yang kesatu
    Klo langsung nonton volume dua bakal bingung g sih mbak? Aku pengen nonton soalnya
    Bagus ceritanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enggak bingung kok kalau langsung nonton vol. 2

      Hapus
  11. Pengen nonton Hamka 2, tapi nanti aja nunggu muncul di netflix, hehe... Kayanya saya lebih tertarik sama yang ke-3...

    BalasHapus
  12. Penasaran banget ingin nonton nih yang vol 2 nya, ceritanya bagus banget yah,

    BalasHapus
  13. Aku yang volume 1 belum sempat nonton. Sudah ada ya di Netflix kak? Penasaran katanya filmnya bagus. Apalagi ini film sejarah seorang Buya Hamka. Wajib tonton nih nanti sekalian lanjut ke vol 2

    BalasHapus
  14. Wah, jadi pengen nonton deh. Ini aman gak sih mak buat anak-anak, sekitar 11 tahun sih, udah mau remaja. Kalau iya, pengen banget ngajak dia nonton ini, hitung2 jadi tau sejarah juga kan yaa. Seneng belajar sejarahnya itu sih.

    BalasHapus
  15. Seneng banget karena ka Farida memberikan insight yang positif mengenai film Hamka & Siti Raham Vol. 2. Karena aku belum nonton yang vo. 1 juga dan mungkin gak akan paham mengenai sejarah yang disajikan, jadi ingin mempelajari lebih dalam mengenai sejarah dan penempatan waktu yang menjadi latar setting kisah film Hamka vol. 1 dan vol. 2

    BalasHapus
  16. Aku belum nonton film Hamka baik yang vol 1 maupun 2, tapi membaca review ini, sepertinya memang ceritanya lebih diarahkan ke personal Hamka ya, bukan tentang kisah bangsa Indonesia perjuangan merebut kemerdekaan hingga kiprahnya sebagai menteri Agama. Padahal bagus juga kalau jadi film sejarah

    BalasHapus

Posting Komentar