header permata pengalamanku

2016: Comeback ke Dunia Blog

Posting Komentar

mommygadget

Pagi ini aku iseng mencari dengan kata kunci nama blog pertamaku, mommygadget, blog yang berisi info seputar ibu dan anak. Tidak banyak hasil yang relevan, karena memang blog itu sudah lama kuhapus. Hanya ada satu gambar yang menarik perhatian.

Aku baru tahu kalau blogku itu pernah menjadi salah satu sumber yang termuat dalam daftar pustaka sebuah jurnal ilmiah. Atau, mungkin sebenarnya aku lupa aja. Bisa jadi dulu memang sempat ada yang meminta izin mencantumkan nama blogku.

Ya, sayangnya sudah dihapus. Padahal, pageview-nya sudah di atas 1000 per hari. Dan, aku hiatus selama empat tahun setelah itu. Tanpa pamit. Tanpa pengumuman. Tanpa drama. Tanpa janji akan kembali. Hanya diam. Dan, jawaban sekadarnya bagi orang-orang yang bertanya sejak awal ditutup, hingga beberapa tahun kemudian.

Kenapa Menghapus Blog?

Ada masa ketika menulis terasa seperti napas. Lalu, ada masa ketika napas itu tertahan. Bukan karena lupa caranya, melainkan hidup yang menuntut banyak hal sekaligus. Anak-anak tumbuh, kebutuhan mereka melebihi jumlah jam dalam sehari semalam, dan aku berada di tengahnya. Mengurus, mendampingi, dan belajar menjadi ibu yang berusaha tetap hadir walau berantakan. Dunia nyataku penuh dengan jadwal, tanggung jawab, dan kelelahan yang tidak romantis. 

Di sisi lain, blog lamaku itu banyak berisi informasi seputar ibu dan anak. Hal-hal yang tadinya aku berusaha menuliskannya secara ilimiah. Seiring waktu, informasi di dalamnya mulai tidak relevan karena perkembangan ilmu dan pengetahuan.

Aku capek mengedit, memastikan akurasi, dan takut salah menyampaikan informasi karena aku sadar bukan ahli di bidang tersebut. Menulis yang seharusnya membebaskan malah berubah jadi beban moral. Menulis, pada saat itu, lebih terasa sebagai kewajiban daripada kebutuhan.

Dan, di titik itu, aku memilih berhenti. Sebab, jujur pada diri sendiri terasa lebih penting daripada sekadar konsisten.

2016: Blog Sebagai Rumah, Bukan Mimbar

rumahku surgaku

Ada kala, menulis terasa seperti rumah.

Aku bersyukur, dunia tetap berjalan tanpa menunggu satu postingan pun dariku. Mungkin, aku sempat lelah dengan pertanyaan orang "Kenapa berhenti? Kenapa dihapus?" Namun, seiring redanya pertanyaan tersebut, aku malah tergelitik. 

Memang, gairah menulis memang tidak pernah benar-benar padam. Berhentinya menulis blog dulu ternyata cuma karena aku ingin karyaku lebih bertanggung jawab.

Datanglah 2016. Tahun yang, kalau diingat sekarang, terasa hangat dengan cara yang aneh. Internet belum sekeras hari ini. Algoritma belum sekejam sekarang. Orang masih menulis blog bukan untuk viral, melainkan agar lega.

Di tahun itulah, satu keputusan sederhana lahir. Aku kembali membuat sebuah rumah kecil di dunia maya: rumahsurgablog.wordpress.com

Namanya mungkin terdengar idealis. Terlalu lembut untuk dunia yang semakin sinis. Namun, justru di situ poinnya. Ia bukan sekadar alamat blog. Ia adalah penanda bahwa aku pernah lelah, berhenti, belajar ulang, lalu kembali menulis tanpa harus menjadi siapa-siapa selain diriku.

Demi melahirkan karya yang lebih bertanggung jawab, aku memilih untuk membangun blog yang bukan lanjutan dari blog lama. Di sini, aku berganti niat. Ini bukan blog pendidikan, sumber informasi terpercaya, ataupun panduan. Aku menulis pengalaman pribadi. Apa adanya. Dengan sudut pandangku sendiri. Ini merupakan ranah yang lebih bisa aku pikul kebenarannya.

Tulisan-tulisan di 2016 itu sederhana. Tentang halaman rumah, kelelahan yang diselingi tawa, hewan piaraan, dan hal-hal kecil yang sering dianggap remeh tetapi membentuk hidup sehari-hari. Justru, dari situ aku merasa pulang. 

Aku seperti benar-benar di dalam rumah, bukan di kantor. Blog menjadi tempat aku menulis tanpa takut salah, tidak disukai, dan tidak harus relevan dengan apa pun selain diri sendiri. Aku menulis bukan untuk viral, ataupun validasi. Hanya untuk tetap bersyukur, bersabar, dan waras.

Gandjel Rel: Rumah Baru di Kota Kelahiran

komunitas blogger Semarang

Apa lagi, setelah itu, aku benar-benar pulang ke kota kelahiran, Semarang. Lalu, terhubung dengan komunitas blogger Semarang. Komunitas Gandjel Rel merupakan sebuah ruang yang hangat, tidak menghakimi, dan penuh cerita manusia biasa. Dari sanalah aku kembali merasa bahwa menulis tidak harus selalu sempurna, cukup dengan menjadi jujur.

Perjalananku makin menemukan ritmenya setelah menjadi bagian dari komunitas ini. Gandjel Rel menginspirasiku bahwa blog bukan soal siapa paling pintar, tetapi siapa yang bersedia bercerita. Di sana, tulisan personal bukan kelemahan, melainkan kekuatan. Yang terasa berantakan, sunyi, atau terlalu pribadinya pun akan menemukan pembacanya. Setidaknya, diri sendiri di waktu berbeda. Sebagaimana mottonya: ngeblog ben rak ngganjel.

Refleksi 2026: Ketika Dunia Berubah, Tetapi Menulis Tetap Bertahan

2026

Kalau hari ini 2016 dijadikan tren throwback, aku paham kenapa. Sebab, di masa itu, orang masih membaca, bukan sekadar menggulir halaman. Tulisan panjang belum dianggap dosa. Blog adalah suara, bukan sekadar etalase. Dan, blogku lahir dari semangat itu.

Bukan untuk menggurui, hanya menemani, meski cuma satu orang yang membaca.

Algoritma penemu blog terus berubah. Dulu, mesin pencari suka artikel yang singkat-singkat, lalu berubah menjadi yang panjang-panjang, kemudian berganti dengan lebih menyukai yang sangat relevan dan menjawab apa yang dibutuhkan para pencari.

Jika melihat konten secara umum, dunia digital pun sudah sangat berbeda sekarang. Semua serba cepat. Konten makin pendek. Perhatian makin dangkal. Blog dianggap jadul. Namun, malah di situlah letak keistimewaannya.

Tulisan panjang tidak dikejar algoritma yang terus berganti. Ia dicari oleh mereka yang butuh kedalaman. Melihat kembali tulisanku di 2016, aku sadar satu hal: yang membuat blog itu bertahan bukan topiknya, melainkan kejujurannya.

Aku enggak menyesal pernah berhenti dulu. Aku juga tidak menyesal kembali. Sebab, ternyata, menulis bukan soal selalu hadir, melainkan soal berani kembali. Jadi, buat kamu yang sempat libur dari menulis blog, enggak apa-apa. Ia selalu menerimamu kapan pun kamu mau kembali.

Tidak semua comeback perlu tepuk tangan. Tidak semua awal baru perlu deklarasi. Terkadang, cukup dengan membuka laptop, mengetik satu paragraf, dan mengingat kenapa dulu jatuh cinta pada menulis. Sudahkah engkau kembali?

Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar