header permata pengalamanku

Kita adalah Doa Kita Dulu yang Terkabul

Posting Komentar

 doa

Pernah tidak, tiba-tiba kita berhenti sejenak di tengah kesibukan, lalu sadar bahwa hidup yang sekarang kita jalani, ternyata dulu pernah kita minta dalam doa?

Minggu lalu, suami mengajakku berdiskusi tentang pendidikan anak-anak.

Percakapan itu cukup intens dibandingkan biasanya. Kami membicarakan hal-hal yang sering muncul dalam keseharian. Tentang kebutuhan anak, tantangan belajar, serta bagaimana mencari tempat yang benar-benar bisa memahami karakter dan kebutuhan setiap anak.

Sambil menyusun rancangan strategi belajar untuk anak ke depannya, muncul satu kalimat yang membuatku terdiam cukup lama. Suami berkata,

Ya, sudah. Terima saja. Mungkin memang begini jalannya. Kita diberi anak-anak berkebutuhan khusus, ditaruh di lingkungan yang kurang memuaskan, bisa jadi biar kita terdorong untuk bikin sekolah sendiri buat anak-anak seperti mereka.

Kalimat yang meluncur begitu saja di tengah ketikan di laptop, tetapi diam-diam terasa mendalam. Ada sesuatu yang tersentuh di dalam benakku. Sesuatu yang sudah lama tersimpan.

Mengingat Harapan yang Pernah Kutitipkan Secara Rahasia

Saat kuliah, aku pernah punya satu harapan yang terasa terlalu besar. Namun, aku tetap mencanangkannya atas alasan optimisme 

Aku tidak mau menjalani hidup dengan biasa-biasa saja. Aku ingin melakukan hal-hal yang khas. Aku berharao nantinya memiliki perusahaan, mendirikan sekolah, dan mengelola rumah sakit.

Mimpi yang kelewat tinggi, memang. Karenanya, aku tidak pernah benar-benar menceritakan harapan itu kepada suamiku sejak awal berkenalan. Khawatir menjadi beban. Meskipun salah satu alasan memilihnya, karena percaya dia bisa membantuku mewujudkan mimpi itu.

Ketika Satu per Satu Mulai Terjadi

Hari ini, ketika mengingat kembali doa itu, ada satu hal yang membuatku terdiam lama. Satu per satu, keinginan itu ternyata mulai terkabul. Urutannya persis seperti yang pernah aku harapkan dulu:

Kami sudah memiliki perusahaan. Sesuatu yang tidak pernah kami rencanakan di awal, tetapi kini menjadi bagian nyata dari kehidupan. Sekarang, suami malah bertekad mendirikan sekolah. 

Tentang rumah sakit, entah kapan akan terkabul. Belum tahu bagaimana jalannya. Namun, melihat dua hal sebelumnya yang sudah berjalan, rasanya tidak lagi terasa mustahil. Bahkan, jika hingga akhir hayat ternyata tidak terjadi, semua yang aku terima terasa sudah lebih dari cukup. Tidak ada alasan untuk kecewa.

kekuatan doa

Masalah Ada untuk Membuka Jalan Baru

Kadang kita mengira bahwa masalah dalam hidup adalah hambatan. Padahal, bisa jadi justru itu adalah petunjuk arah. Percakapan minggu lalu seperti pintu kecil yang membuka kesadaran besar: apa yang sedang kami jalani hari ini, bukan kebetulan.

Pengalaman yang terasa berat sekalipun, bisa jadi adalah bagian dari persiapan menuju sesuatu yang lebih besar. Sering kita didorong oleh keadaan, pengalaman, kebutuhan, dan ujian untuk menciptakan solusi yang tidak hanya buat diri sendiri, tetapi juga bisa membantu banyak orang.

Mungkin, di situlah makna dari doa-doa lama mulai terlihat. Jika mengingat itu, yang terasa tidak lagi hanya khawatir dan lelah, tetapi juga muncul harapan. Bisa jadi, tiap langkah kecil yang berat untuk diambil sekarang, sedang membawa lebih dekat pada doa-doa lama yang dulu terasa jauh.

Saat Kita Berdoa Tanpa Tahu Bentuk Jawabannya

Dulu, mungkin kita sering berdoa tanpa tahu bagaimana jawabannya. Tidak selalu dia hadir dalam bentuk yang kita antisipasi. Bentuknya, waktunya, caranya, dan deritanya menuju ke sana. Hingga serta-merta, kita sadar sedang menjalani hasil dari doa-doa itu.

Ketika Impian yang Dulu Kita Tangisi, Kini Jadi Hal Biasa

Hal yang paling sering terjadi dalam hidup adalah: kita lupa bersyukur pada hal-hal yang dulu kita impikan.

Dulu kita berdoa agar punya pekerjaan. Sekarang, ketika pekerjaan itu datang, kita justru sering mengeluh karena lelah.

Ketika masih jauh, kita menyebutnya impian. Ketika sudah di tangan, kita menyebutnya sebagai hal normal. Padahal, yang terasa normal hari ini adalah keajaiban yang dulu kita tunggu dengan penuh harap.

doa terkabul

Doa Tidak Selalu Datang Sesuai Harapan

Tidaklah seorang muslim berdoa kepada Allah dengan suatu doa yang tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi, kecuali Allah akan memberikan kepadanya salah satu dari tiga hal: disegerakan pengabulannya di dunia, disimpan (sebagai pahala) untuknya di akhirat, atau dihindarkan dari keburukan yang sepadan." (HR. Ahmad, Tirmidzi)

Tidak ada doa yang sia=sia. Semuanya hanya akan menuju pada salah satu dari tiga kebaikan. Jika Allah sudah berkehendak, jalan hidup bergerak menuju waktunya menemui takdir. Entah diberikan sesuai keinginan kita, disimpan sebagai pahala, atau hadir dalam bentuk yang berbeda.

Kita mungkin pernah meminta jalan yang mudah, tetapi yang datang justru tantangan yang berat. Jika dipikirkan lebih dalam, sering kali yang datang bukan yang kita inginkan, melainkan yang kita butuhkan.

Sebab, dari tantangan, kita belajar sabar. Dari kesulitan, kita belajar kuat. Dari kegagalan, kita belajar bangkit. Kita tumbuh menjadi pribadi yang jauh lebih kuat daripada diri kita yang dulu, kekuatan yang kita butuhkan agar kehidupan berikutnya terasa lebih mudah dan nyaman.

Kita Bukan Hanya Hasil Usaha

Sering kali kita merasa semua yang kita capai adalah hasil kerja keras semata. Usaha memang penting. Tanpa usaha, doa hanya menjadi harapan kosong. Namun, ada banyak hal dalam hidup yang tidak sepenuhnya bisa kita kendalikan.

Kita tidak bisa mengatur semua peluang yang datang, memastikan semua rencana berjalan sempurna, dan menjamin hasil dari setiap usaha akan sesuai perhitungan. Di situlah doa mengambil peran.

Doa adalah bentuk harapan yang diserahkan kepada Yang Mahamengatur, pengingat bahwa kita tidak berjalan sendirian. Saat usaha bertemu dengan doa, kita akan menjalaninya dengan kekuatan ruhiyah, dan sering kali hasilnya melampaui apa yang kita bayangkan.

Mengingat Doa Lama, Menemukan Rasa Syukur Baru

Coba luangkan waktu sejenak hari ini. Duduk tenang, tarik napas dalam, lalu tanyakan pada diri sendiri: apa saja doa yang pernah aku panjatkan 5 atau 10 tahun lalu?

Sekarang lihat kehidupan kita hari ini. Tidak harus sempurna. Tidak harus tanpa masalah. Namun, mungkin, sebagian besar dari doa-doa itu sudah terjawab. 

Ketika kita mulai mengingat doa-doa lama, rasa syukur sering muncul dengan sendirinya. Dan, rasa syukur itu menenangkan hati, menitipkan rasa optimis dan kekuatan tambahan untuk menapaki hari-hari selanjutnya.

doa yang terkabul

Jangan Berhenti Berdoa Hanya Karena Hidup Sudah Baik

Kesalahan berikutnya adalah: ketika hidup mulai terasa baik, manusia justru jadi jarang berdoa. Padahal, justru saat hidup terasa cukup, itulah waktu terbaik untuk tetap menjaga hubungan dengan doa. Sebab,  hidup yang baik hari ini bukan jaminan akan selalu mudah di masa depan.

Doa tidak hanya untuk meminta, tetapi juga bersyukur. Ia merupakan cara untuk menjaga hati tetap rendah dan penuh harap pada Zat Yang Maha Besar.

Doa Hari Ini Adalah Hidup Kita di Masa Depan

Jika benar bahwa kita adalah doa-doa kita dulu yang terkabul, maka doa-doa yang kita panjatkan hari ini akan menjadi hidup kita di masa depan.

Doa hari ini mungkin terlihat kecil, terasa sederhana. Namun, suatu hari nanti, bisa jadi kita akan berdiri di satu titik kehidupan (atau, bahkan setelah kematian), lalu tersenyum sambil berkata:

Ternyata, ini yang dulu aku minta dalam doa.

Hidup tidak hanya tentang apa yang kita jalani hari ini, tetapi juga tentang apa yang kita harapkan untuk hari esok.

Penutup

Jika hari ini terasa berat, ingatlah kita pernah berdoa untuk bisa berada di titik ini. Jika hari ini terasa biasa, ingatlah dulu kita pernah memimpikan hal-hal yang sekarang kita miliki. Jika hari ini terasa kurang, ingatlah masih banyak doa yang sedang menunggu waktunya untuk dikabulkan.

Hidup bukan hanya perjalanan usaha, ia juga perjalanan doa.

Adakah doamu yang tanpa disangka sudah terkabul? Bagi ceritanya di kolom komentar, ya.

Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar