Gua Kreo, Menyusuri Perjalanan Menakjubkan Ditemani Para Kera

Pintu masuk Gua Kreo

Baiklah, sesuai janjiku di sini, aku akan melanjutkan cerita perjalananku dari Waduk Jatibarang menuju ke Gua Kreo. Perjalanan ini dimulai dengan menunggu agak lama taksi online yang kami pesan datang. Rupanya, Sang Sopir baru saja diserempet sepeda motor yang dikendarai anak sekolah saat menuju ke lokasi kami. Bemper depannya miring. Dengan sedikit disiasati dibantu Tim SAR yang saat itu sedang berkumpul di dekat tempat kami menunggu, maka kami pun diantar ke Gua Kreo.

Tempat Wisata Goa Kreo adalah areal hutan seluas ± 5 hektar yang terletak di daerah perbukitan (Gunung Krincing) serta lembah Sungai Kreo, tepatnya di Bukit Kreo dengan ketinggian 350 meter yang berlokasi di Dukuh Talun Kacang Kelurahan Kandri Kecamatan Mijen. Obyek wisata ini sehari-hari beroperasi pada jam 6.00-18.00. Harga tiketnya amat bersahabat di kantong. Cukup yang dengannya Rp 2500 per orang.

Daftar fasilitas di lokasi wisata Gua Kreo

Memasuki kawasan Gua Kreo, kita akan langsung bertemu dengan latar yang luas berhiaskan pepohonan dengan dilengkapi musala dan toilet di dalamnya. Di samping musala, terdapat aneka alat bermain yang tentu saja menyenangkan bagi anak-anak. Ada perosotan, jungkat-jungkit, ayunan dan tangga majemuk berbentuk bola.
Playground
Kami pun langsung berniat menikmati bekal makanan yang sedari tadi belum sempat disantap karena keburu pindah lokasi dari Waduk Jatibarang ke sini. Apa mau dikata, baru saja putriku membuka bungkus camilan, tiba-tiba seekor kera entah dari arah mana datangnya merebut camilan di tangannya. Tak cukup diberi satu, rupanga Sang Kera meminta semua camilan yang dibawa putriku. Hua! Segera dia melemparkan sebungkus penuh camilan itu dan berlari menghindar. Hohoho...
Belum apa-apa sudah dikejutkan oleh aksi kera di sini
Tak jauh berbeda dengan yang dialami adiknya pada saat yang bersamaan. Botol minuman yang dibawanya langsung direbut oleh kera yang lain. Ya, selain kedua kera ini ternyata masih ada beberapa kera lagi yang tampak sabar menunggu dan hanya menonton aksi temannya (atau saudaranya?)
Aku bisa minum sendiri, lho...
Terbayang ya, betapa terkejutnya kami mendapat serangan yang tiba-tiba begini. Putraku sampai ketakutan melihat kera. Kakakku pun tampak bolak-balik berusaha menenangkan hatinya. Sejak negeri kera menyerang (eh?), seorang petugas langsung mendampingi kami. 
Beliau menjelaskan bahwa kera-kera yang ada di Goa Kreo ini adalah monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Mereka adalah kera yang cukup jinak dan bisa bergaul dengan warga di sekitar Goa Kreo. Mereka sebenarnya tidak suka mencuri dan mengganggu manusia, hanya tertarik pada makanan dan minuman.
Dengan trampil, kera ini membuka sendiri tutup botolnya dan meneguk separuh isinya. Puas minum, dia pun kembali menutup botolnya dengan rapat. Lho kok tahu kalau rapat? Lha memang tidak tumpah kok saat kera itu membawanya di mulut sambil menghampiri kera-kera yang lain. Mereka pun bersama-sama berjalan menjauhi kami menuju jembatan. Hohoho... Pintar juga, ya?
Aku sebenarnya sudah tahu kalau di sini akan bertemu banyak kera. Hanya saja aku tidak menyangka bahwa kami akan bertemu sejak di latar depannya. Hehehe... Kupikir mereka baru akan kami temui di area jembatan.

Usai menunaikan Salat Asar di musala, kami pun mengisi perut secukupnya dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya sambil bersembunyi di dalam bangunan ini. Kawatir ada kera yang melihat dan merebut lagi. Hihihi...

Lalu Suami pun mengajak menuju Gua Kreo. Bundaku sudah barang tentu enggan karena perjalanannya yang cukup jauh dan berat baginya. Sedang ayahku tentu menemani Bunda. Kakak? Dari tadi meracau melulu merasa menyesal mampir ke sini. Rupanya rasa syoknya belum hilang juga akibat kelakuan para kera tadi. Hehehe... Kedua anakku yang menjadi korban perampasan makanan pun memilih bermain di playground saja. Baiklah. Akhirnya hanya 5 orang diantara kami yang turun menuju gua. Aku, Suami, anak pertama dan kedua serta Si Bungsu.

Sebelum sampai di jembatan pun, kami sudah bertemu dengan kera-kera
Kami melewati kios kuliner yang berjejer namun tidak ada satu pun penjualnya. Mungkin karena memang ini bukan akhir pekan. Keluar dari area pelataran depan, tampak jalan menurun. Di sana kami sudah mulai bertemu kembali dengan para kera.
Daftar paket wisata yang dapat dinikmati di Gua Kreo
Di kanan jalan terdapat kantor jasa pemandu wisata Gua Kreo. Dindingnya berhiaskan poster besar yang memuat informasi aneka paket wisata yang dapat diikuti untuk menjelajah kawasan ini. Tampak di depan mata terdapat portal dan jembatan merah yang membentang di sana dengan jajaran anak tangga yang cukup banyak dan curam untuk dilalui terlebih dulu.
Jalan kita masih panjang
Konstruksi jembatan yang kokoh dan indah dihiasi lampu besi yang artistik di tengahnya
Istirahat dulu agar kuat menjalani cobaan di depan mata
Di tengah jembatan ini terdapat joglo yang cukup luas dengan beberapa tempat duduk tempat beristirahat jika kita kelelahan berjalan. Duduk-duduk sambil menikmati pemandangan waduh yang indah dan dibelai semilir angin nan merayu. Senangnya...

Sampai juga di gua
Setelah menuntaskan separuh perjalanan yang tersisa, akhirnya kami tiba di depan gua. Di dekat lokasi gua ini terdapat kursi taman yang panjang terbuat dari besi berwarna tembaga. Pada bagian sandarannya ada plat besi cukup besar berwarna emas dengan hiasan gambar dan tulisan timbul berbunyi, "Ayo Wisata Semarang." Kursi semacam ini juga terdapat di sekitaran kantor jasa pandu wisata di depan tadi.


Kedua anakku sudah terlebih dulu berlari menuju gua. Mereka sangat penasaran dan masuk ke dalam Gua Kreo. Aku tidak ikut, hanya menunggu di depan mulutnya saja. Begitu tampak putraku muncul keluar, aku bertanya, "Ada apa di dalam?"
"Hanoman!" jawab seorang wanita bule yang ada di depannya. "Ada patung Hanoman," jelasnya lagi dengan Bahasa Indonesia yang cukup fasih.
gua Kreo
Kedalaman Gua Kreo ini mencapai 25 meter. Sekitar 10 meter di sebelah kanan Gua Kreo, terdapat gua lain bernama Gua Landak. Gua Landak memiliki kedalaman 30 meter. Berbeda dengan Gua kreo yang terbentuk secara alami, Gua landak ini merupakan hasil karya yang dibuat oleh pengelola Gua Kreo. 
Gua Landak
Bagian dalam Gua Landak
Aku jadi penasaran ingin tahu isinya. Maka, kali ini aku ikut memasuki Gua Landak. Gua ini seperti Gua Kreo yang rendah sehingga harus menunduk selama menyusurinya. Di dalamnya cukup gelap. Terdapat sebuah patung harimau yang sedang tidur di sana.

Kabarnya, di sebelah Utara Goa Kreo ini terdapat air terjun kecil yng berasal dari banyak sekali sumber mata air yang jernih serta tak kering meski musim kemarau panjang. Namun sayangnya, kami tak berhasil menemukannya. Sepertinya jalan menuju ke sana ditutupi ranting oleh pengelola. Mungkin demi alasan keamanan ya, sehingga lokasi tersebut tidak dibuka untuk dikunjungi. 
Jadi, kami pun bergerak putar balik untuk pulang. Terdengar percakapan rombongan bule di depan kami yang mengungkapkan rasa senangnya mengunjungi tempat ini. Hmm... Menurutku, sebenarnya guanya sih, biasa saja. Yang menarik itu adalah pemandangan dan pengalaman melewati banyak kera di sepanjang jalan menuju gua ini.

Naik.. naik... ke puncak tangga...
Perjalanan pulang terasa sangat berat karena kali ini kami harus menaiki anak tangga, bukan menuruninya seperti tadi. Wahai! Aku ini sedang hamil 5 bulan, ya. Ngos-ngosan parah deh, rasanya.

Kerlip lampu mulai menyala, tanda malam akan tiba
Lampu-lampu jalan di dekat waduk sudah mulai menyala. Pertanda hari akan segera malam. Cantik sekali melihatnya kemerlip dari kejauhan. Sebagiannya membentuk bayangan di permukaan waduk. Percaya kan, kalau air waduk ini benar-benar jernih? Sayangnya mendung masih menggelayut. Padahal, andai langit cerah, tentu indah sekali perpaduan semburat ungu jingganya di atas sana.
Saatnya mengucapkan selamat tinggal, pada sekeliling lokasi indah yang tak tersangkal. Menyisakan rindu yang tak dangkal. Belum juga berpisah, anak-anak sudah merajuk agar suatu saat bisa kembali ke sini.

Komentar

  1. Pemandangannya lebih bagus pas sore hari ternyata...

    pernah kesana pas wiken dan siang hari. panas.. rame lagi. jadinya kurang menikmati suasana, apalagi aku takut kalau kera2nya menghampiri. hiii

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi.. iya deg2an ya liat kera di sana-sini. walau sudah dikasi tau kalau jinak.
      betul, lebih cantik di sore hari :)

      Hapus
  2. Udah kesini itu 2 tahun yang lalu, hati hati kalau bawa makanan minuman disini ntar diambil keranya, gua kreo dekat waduk jatibarang turun mayan pas naik ngos-ngosan dan panas pula kalau siang

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe.. iya itu udah kejadian direbut makanan dan minumannya. ngos2an memang. untung ke sana pas sore jadi ngga terlalu panas. abis dari waduk jatibarang :)

      Hapus
  3. Saya orang Semarang tapi sampai umur segini belum pernah ke Goa Kreo, mb. Nah sekarang penasaran malah abis gak tinggal di Semarang lagi. Pas mudik eh lupa sama tempat itu

    Salam kenal dari Medan, mb

    BalasHapus
  4. Lumayan ngos-ngosan ya mbak naik turunnya itu. Apalagi aku gendong bayi udah mo mewek aja rasanya hahahhaha...

    BalasHapus
  5. Pernah kesana,kera2nya lumayan jinak meskipun temanku diambil tas nya

    BalasHapus

Posting Komentar

Hai, terimakasih sudah berkunjung.
Jejakkan komentarmu di sini ya... ^_^