Melatih Kemandirian Anak, Bagaimana Caranya?

Mendidik anak menjadi pribadi adalah sebuah keniscayaan untuk membekalinya agar memiliki keterampilan yang dapat membuatnya bertahan dalam hidup. Pribadi yang mandiri akan mampu menyelesaikan masalah walaupun dia harus melakukannya sendirian. Bagaimana cara membentuk pribadi yang mandiri ini sejak dini? Aku akan menjabarkannya secara berurutan menurut usia sesuai dengan pengetahuan dan pengalamanku, ya. 


Bayi 0-3 Bulan

Modal berharga untuk membuat anak menjadi pribadi mandiri adalah memberikan rasa aman dan nyaman pada anak. Sehingga dia merasa percaya pada diri sendiri dan dunia serta siap menghadapi berbagai permasalahannya. Rasa aman dan nyaman ini bisa kita tanamkan padanya sejak awal kelahirannya. Yaitu dengan menjadi orangtua yang responsif.


Bayi 3-12 Bulan

Bayi umur 3 bulan biasanya mulai belajar tengkurap sendiri. Begitu dia bisa tengkurap, seketika dunia tampak luas baginya. Hal ini tentu sangat menarik minatnya sehingga secara sementara anak bisa menghibur dirinya sendiri dengan mengamati benda-benda di sekitarnya.
Maka, di usia ini, kita bisa mulai melatihnya untuk menghilangkan rasa bosan dan bermain sendiri sebelum akhirnya benar-benar minta ditemani. Saat terjaga, sediakan beberapa mainan di sekitarnya sesuai usianya. Para ahli menyarankan banyak mainan yang ada di sekitarnya sama dengan bilangan umurnya. Jadi, sediakan 3 mainan yang variatif untuk bayi  3 bulan, 4 mainan untuk bayi 4 bulan dst.
Jika bayi terbangun dan mulai menangis, ajari bayi cara memainkan benda-benda yang ada di dekatnya. Lambat laun, dia akan semakin terlatih untuk mengeksplorasi dunia dan memberi ibu sedikit waktu sebelum benar-benar harus ditolong.

Usia 6 bulan adalah saatnya bayi belajar makan. Biasanya, di usia 8 bulan, dia mulai ingin mengambil dan memegang sendiri makanannya. Itulah sebabnya disarankan untuk memberikan finger food atau makanan padat yang dapat dipegang bayi untuk melatih keterampilan motorik halus tangannya sekaligus menyesuaikan dengan kemampuan mengunyah bayi.
Bahkan, ada juga beberapa orangtua yang menerapkan BLW (Baby Led Weaning) sejak awal MPASI. Metoda BLW ini dijalankan dengan cara memberikan finger food pada bayi sejak usia 6 bulan, jadi tanpa melalui tahapan makanan lembut seperti bubur, puree dan jus terlebih dahulu. Jika bayi Anda sudah memiliki keterampilan fisik yang memadai serta berat badannya tidak sedang dalam kondisi kurang, Anda bisa juga menerapkan metoda ini untuk melatih kemandiriannya dalam acara makan.

Anak >1 Tahun

Biasanya, anak di usia 1 tahun akan mulai sibuk belajar berjalan. Setelah itu, di usia sekitar 1,5 tahun, anak sudah semakin mantap menapak di atas kakinya sendiri dan merasa mampu melakukan beberapa pekerjaan sederhana untuk membantu orang dewasa. Misalnya mengambil dan menaruh barang pada tempatnya. Sejak itu, kita bisa meningkatkan kemampuannya menolong diri sendiri dengan beberapa cara berikut ini:

Melatih Rutinitas


Mulailah membahasakan rutinitas sehari-hari pada anak. Misalnya urutan aktivitas sehari-hari. Setelah melakukan ini lalu melakukan itu. Demikian juga ajarkan tahapan dalam melakukan suatu kegiatan. Misalnya saat akan mandi, mengambil handuk terlebih dahulu, lalu menyiapkan baju ganti dst.
Dengan mengenal rutinitas yang berulang setiap hari akan membantu anak mengingat dan sedikit demi sedikit dia akan bisa menebak apa yang akan dilakukan selanjutnya dan dia berinisiatif memulainya tanpa diberitahu serta mencoba melakukannya sendiri.

Memberi Kepercayaan

Biarkan anak bebas mengeksplorasi lingkungannya. Usahakan sejauh mungkin kita memberinya ruang gerak. Senyampang kita telah menyediakan lingkungan yang nyaman dan aman untuknya, hindari sebisa mungkin untuk melarang. 
Secara naluriah, Anak tahu batas kemampuannya. Jika dia berani mencoba, itu artinya dia memang sudah memiliki kesiapan fisik untuk melakukannya. Cukup perhatikan dan awasi saja.

Mengizinkan Memilih

Untuk berbagai hal yang tidak krusial, Anda bisa memberinya kebebasan memilih sesuai seleranya. Misalnya: lauk pauk, baju yang dipakai, mainan dll. Jika Anda kawatir dia menjatuhkan pilihan pada hal yang tidak sesuai dengan konsep pengasuhan Anda, Anda bisa membatasi pilihan dengan hanya diantara hal-hal baik yang disediakan.

Membolehkan Anak Melakukan Sendiri

Misalnya dengan membolehkan anak makan sendiri walau masih berceceran. Anda bisa sekaligus mengajarkan keterampilan yang lain setelahnya, yaitu cara membersihkan sisa makanan. Izinkan anak memegang sendiri gelasnya saat minum. Prinsipnya tetap sama. Sediakan alat yang memudahkan dan aman bagi anak untuk mengurangi kekawatiran dan kemungkinan terjadinya bahaya.

Mengizinkan Anak Membantu


Jika memang sedang tidak dikejar waktu, izinkan anak untuk membantu pekerjaan kita. Walaupun itu artinya justru mengulur waktu dan justru membuat banyak hal berantakan. Ya, sediakan waktu dan energi yang cukup untuk mendampingi anak berlatih demi kemandiriannya di masa depan ini.

Mengajak Anak Bekerjasama

Libatkan anak untuk bersama-sama menyelesaikan tugas rumah. Ajak dia bermain bersih-bersih dengan membereskan mainannya, membuang sampah di tempatnya, mengembalikan barang ke lemari penyimpanan dll. 
Ajarkan keterampilan secara bertahap sesuai usianya. Belajar memasak, misalnya. Bisa dimulai dengan memintanya mengambilkan bahan yang dibutuhkan, lalu mencuci bahan, memetik sayur dst.

Memuji dan Mendukungnya

Jangan lupa untuk selalu memujinya setiap kali ia berhasil atau sekadar sempat bersedia melakukan tugas kemandirian di atas. Tak lupa untuk terus mendukungnya ketika ia sudah berulang kali mencoba dan tetap gagal. Kegagalan adalah suatu hal yang wajar, sebagai tanda bahwa setiap manusia memiliki keterbatasan. Yang terpenting adalah tetap semangat untuk terus belajar!

Komentar

  1. Intinya di jangan suka dilarang2 yah. Biar dia melakukan yg disuka... Mau makan, dipegangi ajah snack yg sesuai genggamannya (usia 6 bulan ke atas seperti di uraian di atas)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ga banyak melarang, kasi contoh, melibatkan dlm aktivitas bersama.. 😊

      Hapus
  2. Anak yang mandiri sejak dini akan lebih kuat menghadapi kesulitan yang mungkin saja ia hadapi kelak. Terima kasih sudah berbagi ya mb

    BalasHapus
  3. Anakku keduanya udah kami ajak bantuin kerjaan rumah. Sekarang mereka udh tahu kerjaan masing2. Kalo gak gitu aku bakal makin lelah ngurus rumah sendirian, hihii

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi.. Alhamdulillah ada asisten cilik ya di rumah :)

      Hapus
  4. Anakku umur 3 rahunan minta mandi sendiri, makan sndiri, giliran dah lebuh gede malah minta dimandiin, disuapin 😅😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha.. Iya. Memang ada masanya begitu. Begitu udah ngerasa bisa malah berikutnya pingin tetap disayang dgn cara manja2an 😁

      Hapus
  5. Proses perkembangan anak memang harus selalu didampingi, supaya anak menjadi seseorang yang bertanggung jawab mandiri serta responsif.. Membangun kepercayaan diri pada anak bukanlah hal yang mudah. Dilatih dari setiap tahap perkembangannya. Sama2 belajar, anakku masih kecil2 juga nih bun.

    BalasHapus
  6. Langkah-langkah praktis, simpel namun kompleks tapi berending baik.
    Kalimatku koq kompleks juga ya.. :p

    Sepakat dengan tips2 dari mbak Farida.
    Aplikatif banget buat keluarga dengan putra putri balita.

    BalasHapus
  7. Sepakat mbak, mereka harus mandiri. Tapi saya punya pengalaman buruk karena anak pertama dulu terlalu tergantung dengan pembantu, sekarang dia jadi dependent. Beda dengan adik-adiknya. Thanks artikelnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2. Iya nih, kehadiran ART kadang jd PR tambahan utk menanamkan jiwa mandiri pada anak ya. Tetap semangat bun :)

      Hapus
  8. Kadang aku suka ga sabar mbak kalo anakku mbantuin kerjaan rumah terutama klo mo ikut masak. Duuh malah ribet ga rampung2 padahal sebenernya sambil ngajarin ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha.. Iya. Kesabaran ortu bukan cuma sejauh mana bisa melayani anak, tp jg sejauh mana mengijinkan dilayani anak :p

      Hapus
  9. Anak memang anugerah terindah ya mbak

    BalasHapus
  10. Intinya membiarkan anak bereksperimen dan berkreasi tapi tetap berusaha mengarahkannya pada hal-hal yang positif ya mbak :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Hai, terimakasih sudah berkunjung.
Jejakkan komentarmu di sini ya... ^_^