Kepada Diriku di Usia 40 Tahun



Wahai Diriku,
Saat kau merasa sudah tiba waktunya membaca surat ini, maka tentu engkau ingat bahwa surat ini kutulis 2 tahun sebelumnya. Menjelang tengah malam yang basah karena diguyur hujan sesorean. Di tengah kantuk dan terjaga mengurus anak-anak yang masih batita.
Wahai Diriku,
Saat kau merasa sudah tiba waktunya membaca surat ini, maka ku hanya ingin engkau mengingat, menghayati dan mengamalkan seutas ayat ini sebagai panduanmu menjalani 10 tahun yang kelima dalam rentang usiamu:


Maka wahai Diriku,
Wujudkanlah harapan dalam doa ini menjadi keseharianmu. Sebelum kau bingung hendak melangkah ke mana, kubisikkan harapanku padamu di usia 40 tahun ini:


1. Senantiasa Bersyukur

Telah banyak nikmat yang kauterima di usia ini. Akal, kesehatan, pengalaman, orang-orang tercinta dan masih banyak lagi yang takkan mampu kuketikkan satu per satu di sini. Sungguh semua telah tampak indah bagimu, apa pun itu. 
Seolah tak ada lagi hal yang bisa lebih sedih, sakit, takut atau kecewa yang bisa engkau rasakan setelah ini dibandingkan sebelumnya. Maka, senantiasalah menjadikan syukur dalam setiap hembus nafasmu. Dan peliharalah setiap nikmat yang kauterima serta masih melekat hingga kini.

2. Berbakti Kepada Orangtua

Demikian juga telah sempurna nikmat yang diterima kedua orangtuamu. Baik yang sesuai harapan Beliau berdua, maupun yang di luar dugaan sebagai manusia. Maka, jadilah bagian dari nikmat itu.
Telah engkau jalani hari-hari yang semakin jauh dari kedekatan bersama mereka, karena kesibukan dan tuntutan usiamu. Padahal kau tetap menyaksikan bagaimana mereka senantiasa ada untuk dirimu. Bahkan di usia menjelang 40 tahunmu sekarang.
Tangan mereka tetap terulur membantumu. Langkah mereka tetap membawa rindu menemuimu. Doa-doa mereka tetap terlantun untukmu.
Maka, jadilah bagian dari nikmat itu. Berbuat baiklah kepada mereka. Penuhi kebutuhannya. Gembirakanlah hatinya. Tenangkanlah jiwanya. Patrikan namamu dalam benak mereka sebagai anak shalihah.

3. Beramal Shalih

Telah berlalu masanya mencoba-coba dan meraba-raba. Kini saatnya engkau memantapkan tekad untuk menapaki jalan yang membawamu pada kebahagiaan dalam dimensi yang hakiki. Perbaiki amalmu dan beri arti kehadiranmu di dunia ini bagi sesama.
Mendulang bekal untuk kehidupan yang abadi, bagaimana jika kusarankan engkau mulai lebih serius memantaskan diri memenuhi panggilan ke Baitullah? Senyampang umur masih ada, tubuh belum renta dan dana masih bisa dikais di usiamu ini.
Dan jangan lupa, tancapkan peranmu bagi sesama. Teruslah menulis dan tebarkan manfaat melalui setiap ketukan hurufnya. Sebuah buku solo sepertinya sebuah target yang pantas untuk engkau tekuni agar terwujud selama satu dasawarsa ke depan. 

4. Rumahtangga Harmonis

Jika kauputar ulang episode kehidupan sejak awal menikah, kini kau bisa lebih banyak tertawa dan tersenyum mengenangnya. Berbagai konflik dan rasa pahit, menjadi pelajaran atau sekadar memperkaya manisnya bumbu nostalgia. Riak-riak dan gelombang besar yang pernah terjadi, mengasah ketrampilan masing-masing awak kapal dan nahkodanya untuk terus memperbaiki diri. 
Telah semakin jelas ke arah mana kalian berdua melangkah. Rapatkan barisan, saling dukung dan mengingatkan. Semoga tetap bersama dalam naungan surga menjadi akhirnya.

5. Mendidik Anak Cucu

Hei, ini kan sudah menjadi tanggung jawab sejak awal memiliki anak? Tentu saja. Namun sepertinya engkau akan mengalami situasi yang sedikit atau justru banyak berbeda dari sebelumnya.
Karena anak-anakmu makin bertumbuh usianya. Cara menyikapinya pastilah tidak sama dengan saat mereka masih dengan binar mata polos dan pipi gembilnya. Bersemangatlah untuk tetap mendidik mereka dengan terus kreatif mencari cara dan gaya baru sebagai orangtua.
Dan sstt... Sepertinya sudah saatnya pula engkau mempersiapkan diri untuk tidak hanya mendidik anak, melainkan juga cucu. Mungkin belum dalam tataran praktis. Namun engkau harus kembali menyediakan pundi-pundi untuk diisi dengan ilmu menghadapi masa menerima anggota keluarga baru seperti menantu, besan dan cucu.
Akan engkau arahkan menjadi orangtua seperti apakah anak-anakmu? Bagaimana anakmu harus bersikap di antara orangtuanya dan mertuanya? Benarkah engkau akan lebih memanjakan cucumu nantinya dibanding anak-anakmu dahulu?

6. Banyak Bertaubat

Umur yang panjang adalah 2 sisi mata pisau. Bisa kaugunakan untuk memperberat timbangan kebaikan, pun sebaliknya. Banyaknya harapan manusia memang tiada batasnya. Namun, adakah pantas engkau menerimanya? 
Maka, banyak-banyaklah bertaubat. Karena dirimu pun tahu betapa menggunungnya dosa-dosamu. Sementara dari sedikitnya amalmu, entah yang mana yang benar-benar ikhlas dan diterima di sisi-Nya.
Semoga sebuah taubat yang sungguh-sungguh, dapat mengantarkanmu kembali bersih. Dan engkau benar-benar bisa memasuki gerbang usia 40 tahun ini dengan lembaran catatan tak bernoda. Yang memperingan langkahmu saat mulai mengukir di atasnya.

Bersama surat ini, kuserahkan tongkat estafet usia kepadamu. Lanjutkanlah perjalanan. Tutupilah berbagai kekuranganku di belakang dengan prestasimu di depan sana.

Komentar

  1. semoga selalu berkah hidupnya, amin

    BalasHapus
  2. Banyak taubat serta makin berpegangan erat menuju rutag yg harmonis.. hmmmm setuju bgt mba ida

    BalasHapus
  3. Makin tua itu harus makin banyak menebar kebaikan dan menebar manfaat juga taat pada tuntunan Alquran dan al hadist, InsyaAlloh bakalan sukses dan bahagia dunia akhirat 😀

    BalasHapus
  4. Ya Allah meleleh bacanya mbak. Semoga kita semua diberikan sisa usia yang barokah. Penuh mnfaat dan berat timbangan amal.kebaikan
    Aamiin

    BalasHapus
  5. Surat ini seperti nasihat juga mbak untuk diriku. Membahagiakan orang tua dan beramal saleh contohnya. Semoga kita selalu tetap bersyukur dengan apa yang ada ya mbak.

    BalasHapus
  6. Alhamdulillah kalau saya di usia 40 nanti yang masih 12 tahun lagi, kalau sampai umurnya. Pengen berangkat umroh mba. Itu aja hehe

    BalasHapus
  7. Walaupun diriku belum 40 tahun mbak, ini juga nasihat buatku. Semoga semakin hari kita semakin bertambah baik. Aaamiiin

    BalasHapus

Posting Komentar

Hai, terimakasih sudah berkunjung.
Jejakkan komentarmu di sini ya... ^_^