Tarifa: Pesona di Ujung Andalusia


Andalusia adalah negeri yang pernah ditaklukkan Islam melalui pasukan yang dipimpin panglima perang Thariq bin Ziyad. Wilayahnya mencakup Portugal, Spanyol dan Perancis bagian Selatan. Sejak tahun 711, Kekhilafahan Islam berkuasa di sana selama 8 abad dan mengubahnya menjadi simbol kegemilangan peradaban yang memberikan sumbangsih ke berbagai penjuru Eropa.

Saat ini, wisata muslim makin marak, ya. Aku jadi ingin bisa ikut rombongan tur semacam itu suatu saat nanti. Ada banyak destinasi menarik yang ditawarkan, salah satunya ke Andalusia.

Jika bicara tentang Andalusia, bagian mana yang paling ingin kaukunjungi dari negeri ini? Pasti ada beragam jawaban, ya. Karena memang negeri ini memiliki tautan yang cukup kental dengan sejarah Islam. Kalau bisa sih, mengunjungi setiap sisinya. Sambil mengeja bagaimana sejarah tertoreh pada masing-masing sudut negerinya.

Ingatkah engkau bagaimana sejarah penaklukan Andalusia bermula? Sebelum mengirimkan Thariq bin Ziyad dan pasukannya, Gubernur Musa bin Nusayr terlebih dulu mengirimkan ekspedisi kecil sesuai saran Khalifah Al Walid untuk mengenal medan. Pasukan tersebut berangkat dengan 4 kapal dipimpin oleh Tarif bin Malik. Terdiri dari 500 pasukan, di antaranya adalah 100 penunggang kuda.

Mereka mendarat di pulau paling Selatan Semenanjung Iberia. Dengan mudah pasukan Islam menaklukkan daerah terdekat. Pulau inilah yang kemudian disebut dengan nama kota Tarifa, mengabadikan nama Tarif bin Malik.

Menyusuri Keindahan Kota Tarifa

Kata sebuah peribahasa: Tarifa itu bagaikan virus. Sekali engkau terserang, kamu tak dapat menyingkirkannya.

Jika boleh memilih, aku penasaran dan ingin sekali mengunjungi Kota Tarifa. Karena sepertinya masih jarang kaum muslimin membicarakannya. Padahal, keberadaannya yang menjadi bagian dalam peradaban Islam, serta kondisi fisiknya yang unik, membuatku tertarik untuk berkesempatan menjelajah ke bagian dari provinsi Cádiz ini. Apa uniknya? Apa saja yang ingin kulakukan di Tarifa? Berikut di antaranya.


1. Jalan-jalan di Kota Tua


Kota Tua Tarifa (sumber: www.tarifa-online.com)

Mencari nuansa Islami di kota ini? Area Kota Tua atau Casco Antiguo, jawabannya. Lokasi ini seperti Maroko kedua. Serangkaian jalan sempit penuh liku bak labirin dan rumah-rumah kotak beratap datar serta berdinding putih yang merupakan peninggalan budaya Islam di masa lampau.

Alun-alunnya bak di negeri dongeng. Perpaduan antara pengaruh gaya Moor dan Andalusia. Dilengkapi sebuah air mancur tradisional di pusatnya dan dikelilingi aroma Bougainvillea.

Dikelilingi dinding kastil berusia 1000 tahun dengan susunan batu-batu besar yang unik dan sengaja dibangun lebih rendah karena 2 alasan. Pertama, untuk membantu sistem manajemen limbah asing di kota. Kedua, agar gubernur dapat melihat dari atas semua pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Semua jalan di Kota Tua berakhir di gerbang kastil.

Puerto de Jerez (sumber: wikipedia.org)
  
Kastil yang dimaksud merupakan salah satu kastil terbaik di Spanyol dan sarat akan cerita kepahlawanan. Meski sudah tua, dinding kastil masih benar-benar utuh. Pintu masuk terowongannya dikenal dengan nama Puerto de Jerez. Dari sini, gang-gang berangin mengantarkan ke kastil mengikuti arus air.

Castillo de Tarifa (sumber: http://www.aytotarifa.com/)

Castillo de Tarifa namanya, atau juga dikenal dengan sebutan Castillo de Guzmán. Berdiri gagah di tepi jurang pelabuhan yang melayani penyeberangan menuju Tangria, Maroko. Selain sebagai pelabuhan, kastil ini juga berfungsi sebagai benteng pertahanan bagi kota paling strategis di tepi selat Gibraltar. Posisinya membuat kastil ini sangat sulit ditembus. Tak heran jika sejak dibangun oleh Khalifah Abdul Ar-Rahman III pada tahun 960, Kastil Tarifa menjadi rebutan beberapa pihak. Panorama dari atas kastil ini sangat menakjubkan dan memuat pemandangan kota dari para pendahulu kita.

Sebagian cinderamata dari Tarifa (sumber: taylorflores.blogspot.com)

Berbelanja di dalam dinding kastil Kota Tua Tarifa benar-benar sebuah pengalaman yang berbeda. Seolah pergi ke dunia lain. Tak ada kota lain di Spanyol yang dapat menyamai gaya dan kualitas toko-toko di Tarifa. Kita dapat menemukan aneka souvenir, seperti: keramik, gerabah, perhiasan manik-manik, kain cantik dan sebagainya. Menikmati hidangan khas Timur Tengah atau pun menyaksikan berbagai atraksi menarik.

2. Menyeberangi Selat Gibraltar

Menyusuri napak tilas sejarah penaklukan Andalusia, tak lengkap rasanya jika tidak disertai dengan menyeberangi Selat Gibraltar. Selat yang diarungi oleh pasukan Tarif bin Malik, Thariq bin Ziyad maupun Musa bin Nusayr sebagai sebuah rangkaian aksi pembebasan Andalusia dari penguasa yang dhalim. Toh, hanya 35 menit menggunakan feri untuk menyeberang ke Maroko.

Nama dari selat ini sendiri berasal dari kata dalam Bahasa Arab, yaitu "Jabal Thariq," yang berarti Gunung Thariq. Sebuah nama yang diberikan untuk gunung batu dekat Tangria yang menjadi tempat Thariq bin Ziyad menyusun rencana dan memulai penyerangan ke Andalusia.

Selat Gibraltar (sumber: adindaazzahra.com)

Bukan hanya untuk alasan sejarah, menyeberangi Selat Gibraltar juga untuk mengagumi salah satu keajaiban ciptaan Allah yang tercantum dalam Alquran.

Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing. (QS. Ar-Rahman : 19-20)

Dan Dia-lah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan), yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi." (QS. Al-Furqan : 53). 

Penguapan air di Laut Tengah sangat besar. Sedangkan air dari sungai yang bermuara di Laut Tengah berkurang. Karenanya, air Lautan Atlantik mengalir deras ke Laut Tengah dan batas pertemuannya dapat dilihat di Selat Gibraltar. Keduanya tetap mempertahankan warna dan suhu masing-masing tanpa bercampur. Air dari Samudra Atlantik berwarna biru cerah, sedangkan air dari Laut Tengah berwarna lebih gelap.

Bahkan, air Laut Tengah menyusup di bawah air Samudra Atlantik hingga kedalaman 1000 meter dan tetap tak bercampur. Seolah ada dinding yang memisahkan. Masyaallah.

Menurut para ahli kelautan, hal ini karena keduanya memiliki karakteristik yang berbeda baik dari kadar garamnya, suhu maupun kerapatan air laut. Adanya perbedaan massa jenis, dan tegangan permukaan mencegah air dari kedua lautan bercampur, seolah terdapat dinding tipis yang memisahkan mereka. Dengan adanya pemisah ini, setiap laut memelihara karakteristiknya sehingga sesuai dengan makhluk hidup yang tinggal di dalamnya.

3. Melihat Paus dan Lumba-Lumba


Melihat Paus dan Lumba-Lumba (By Trabajo propio - Own work, CC BY-SA 4.0)

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, ”Barangsiapa tidak menyayangi siapa (yang berada) di bumi maka tidak menyayanginya siapa (yang berada) di langit”. (Riwayat Ath Thabarani, dan dishahihkan oleh Al Hafidz As Suyuthi)

Tempat terbaik untuk lebih mengenal hewan liar bukanlah di dalam kandang atau sirkus, melainkan langsung di habitatnya. Selat Gibraltar merupakan tempat yang tepat untuk menonton aksi Paus dan Lumba-Lumba. Perlu datang di saat yang tepat agar kita bisa berjumpa dengan mereka.

Di bulan Juli dan Agustus, selat ini biasa dikunjungi Paus Sperma. Dari musim semi ke musim gugur, berganti Paus Sirip dan Paus Pilot yang muncul menghirup oksigen bersama tiga jenis lumba-lumba. Suami dan putraku sudah pernah menyaksikan langsung atraksi alami Lumba-Lumba yang bergantian menari di udara. Aku kan jadi ingin mengalaminya juga. Hehehe...

4. Melihat Kitesurfing dan Windsurfing


Kitesurfing (sumber: www.tarifa-online.com)

Inilah 2 olahraga ikonik yang menjadi magnet berkunjung ke Tarifa. Menduduki urutan ketiga setelah Hawaii dan Canaria sebagai daerah berangin, Tarifa sering disebut sebagai Ibukota Selancar Angin-nya Eropa. Pantai Playa de los Lances dan Playa Valdevaqueros adalah pantai yang ideal untuk itu. Angin kencang juga sahabat baik bagi yang ingin melakukan hangliding/paragliding.

Ya, tentu saja aku hanya ingin melihat, bukan melakukannya. Karena tentu butuh latihan yang intensif ya, untuk bisa menguasai kedua olahraga tersebut. Menyaksikan langit sesak oleh warna-warni layangan tentu sebuah pemandangan yang luar biasa.

5. Snorkeling

Pemandangan bawah laut di Tarifa (sumber: http://tarifaadventure.com)
Kalau tidak ikut berselancar, lalu bagaimana dong, cara menikmati pantai Tarifa nan indah ini? Wah, tentu saja ada banyak cara. Berenang, memancing, mengayuh sampan atau menyelam. Snorkeling sepertinya akan jadi pilihan yang mudah, bahkan bagi yang tidak bisa berenang sepertiku. Misteri keindahan di bawah laut memang tak pernah gagal membuat terkesima.                                          

6. Berkuda   

Puas menikmati lautnya, kita pun dapat menghabiskan waktu dengan menyusuri pantainya. Berjalan kaki, menyewa mobil, skuter, sepeda atau kuda. Pilihan terakhir sepertinya sayang untuk dilewatkan. Mengingat kuda Andalusia juga terkenal dengan karakteristik khasnya.

Berkuda (sumber: www.aventuraecuestre.com)

7. Bird Watching


Migrasi Burung Glossy Ibis (sumber: http://andalucianguides.blogspot.co.id)

Mau melihat burung apa di Tarifa? Yang langsung tercetus di benakku jika bicara tentang Andalusia, tentu saja Flamingo Si Merah Muda anggun berleher jenjang itu. Burung ini bisa ditemui di pantai atau laguna Tarifa.

Namun ternyata ada yang lebih menarik dari itu, yaitu menyaksikan migrasi besar-besaran berbagai jenis burung di langit Tarifa. Setiap musim gugur, banyak kawanan burung yang beristirahat di kota ini untuk kemudian menyeberang ke Afrika di musim dingin. Di musim semi, mereka kembali transit di Tarifa lalu menuju utara Eropa.

Bukit Mirador del Estrecho adalah spot terbaik untuk menyaksikan migrasi tersebut. Ada hampir 400 spesies burung yang melintas. Di antaranya: Hering Janggut, Elang Ekor Putih, Elang Bonelli, Elang Tiram, Burung Hantu Putih (Serak Jawa), Alap-Alap Kawah dll.

8. Berkemah

Bicara tentang Bukit Mirador del Estrecho, ini adalah sebuah taman nasional yang menjadi tempat ideal untuk belajar biodiversitas. Karena posisinya yang menjadi tempat transit aneka burung yang bermigrasi. Dan di bawahnya membentang kekayaan hayati dari 2 laut yang bertemu di Selat Gibraltar.

Berkemah di atas bukit (sumber: http://www.campingtp.com)

Tak cukup rasanya mengeksplorasi tempat ini seharian. Bagaimana kalau kita menginap saja di sini? Dengan cara yang begitu dekat dengan alam, yaitu berkemah.

Berkemah? Yeay! Tinggal pilih saja mau berkemah di dekat pantainya, di bawah bukit atau di atasnya? Masing-masing menawarkan panorama cantik yang khas.


Duh, Tarifa... Kapan ya, aku bisa ke sana?

Komentar

  1. Ya Allah...jadi makin kenceng doaku ingin ke sana... TFS mba Farida..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.. Ajak aku ya ��

      Hapus
  2. Masya Allah .. Indah sekali negerinya.. Semoga tercapai ya Mbak.. Saya juga pengennya ke Maldives..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.. Semoga keinginanmu tercapai jg ��

      Hapus
  3. Masya Allah cantiiik ya pemandangannya di selat Gibraltal. Mba Farida pinter banget nih nyebar virus. Aku pun pengen kesana, semoga Allah memudahkan langkah kita mengelilingi bumi ini ya mba

    BalasHapus
  4. ingin keliling kota sambil jalan kaki... indah sekali kotanya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, kalau kota tuanya memang lbh pas dg jln kaki krn gangnya sempit dan berliku. Ga kebayang deh rasanya kalau bisa ke sana��

      Hapus
  5. Cantiik dan bagus banget Tarifa. Jadi pingin menjejakkan kaki ke sana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga berkesempatan ke sana ya. Aamiin..

      Hapus
  6. Selatnya bener bener ga nyatu ya airnya, pernah dijelasin sekali waktu training ESQ,, kota tuanya juga menawan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya unik ya. Penjelasannya gmn pak victor?

      Hapus
    2. katanya salah satu tanda kebesaran Allah yg sudah disebutkan dalam Alquran jauh sebelum ahli sains menemukannya

      Hapus
  7. Kota Tarifa ternyata menarik sekali ya mbak. Duh, indah sekali. Kota tuanya menarik banget itu mbak. Nice sharing mbak Farida.

    BalasHapus
  8. Subhanallah sungguh kota yang cantik luar dalam...begitu sarat makna dan sejarah, bismillah semoga suatu saat bisa menjejakkan kaki disana dan menyerap seluruh keindahannya...

    BalasHapus

Posting Komentar

Hai, terimakasih sudah berkunjung.
Jejakkan komentarmu di sini ya... ^_^