Mewujudkan Indonesia 2020 Bersama Sembutopia


Pernahkah engkau mendengar nama Sembutopia? Aku pernah dong, baru-baru ini juga. Hehehe... Saat aku mengikuti lomba blognya. Artikel yang aku ikutkan lomba bisa dibaca di sini:
3 Aplikasi Penunjang Gaya Hidup Sehat

Karena sudah pernah berinteraksi dengan Sembutopia inilah maka aku jadi bersemangat sekaligus penasaran saat mengetahui Sembutopia akan mengadakan acara bersama para bloger Semarang untuk pertama kalinya. Semarang merupakan kota ke-4 yang dikunjungi Sembutopia. Acara ini masih dalam rangka World No Tobacco Day yang diperingati tanggal 31 Mei lalu. Berlangsung di Ruang Gold milik Aston Hotel & Convention Center, Semarang.


Wah, tidak boleh dilewatkan, nih. Secara pribadi, aku ingin sekali mengenal Sembutopia lebih dekat. Mengapa? Pertama, karena namanya. Unik dan visioner, menurutku. Dan ternyata benar saja. Dalam paparan Beliau, Bapak Kafi Kurnia sebagai pendiri Sembutopia sempat menyebutkan bahwa Sembutopia adalah sebuah pengangkatan utopia yang berbasis pada kesembuhan. Mantap!

Jalan ini dipilih tidak terlepas dari latar belakang Beliau yang menjalankan bisnis di bidang kesehatan. Keunikan Sembutopia adalah dia bergerak di dunia maya dalam format media sosial, bukan situs. Terbentuk sejak November 2017 dan hingga kini sudah memiliki lebih dari 52.000 pengikut.

Ide yang cerdas, ya. Mengingat memang saat ini warganet lebih banyak mengunjungi media sosial daripada situs-situs informasi resmi saat menggunakan internet. Menurut riset yang sudah dilakukan Sembutopia, memang masyarakat Indonesia ini malas berusaha dan kurang motivasi. Padahal kalau ditanya apakah mereka mau sehat, pasti jawabannya serempak menyatakan mau.

Di sinilah Sembutopia berusaha menancapkan perannya untuk menebar motivasi menyembuhkan Indonesia. Langkah penyembuhan Sembutopia dirumuskan dalam 5 pilarnya, yaitu:
1. Hope
2. Heal
3. Habitat
4. Health
5. Happiness

Sembutopia menganggap bahwa menumbuhkan harapan dalam diri setiap orang adalah sebuah langkah awal yang harus ditempuh. Karena tanpa adanya harapan, tidak akan ada motivasi untuk bergerak.

Jika harapan itu sudah terbentuk, berikutnya adalah proses penyembuhan. Dilanjutkan dengan membangun habitat yang baik. Sehingga akhirnya terciptalah kondisi sehat yang kemudian mengantarkan pada kebahagiaan.

Indonesia 2020, Sebuah Visi Menjemput Takdir Kejayaan

Bulan Mei lalu, kembali Sembutopia membuat gebrakan baru dengan mencanangkan sebuah visi yang disebut Indonesia 2020. 20/20 merupakan istilah kesehatan untuk visi/penglihatan yang sempurna sehingga tidak memerlukan alat bantu seperti kacamata, misalnya.

Jonathan Swift (30 November 1667 – 19 October 1745), seorang pemikir, pernah mengatakan bahwa visi adalah sebuah penglihatan yang nyata bagi seorang pemimpin, yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Dan visi adalah salah satu kualitas pemimpin besar.

Sembutopia berharap agar visi Indonesia 2020 ini bisa diambil oleh para pemimpin kita dan menghantar Indonesia ke takdir kejayaannya. Visi seperti apakah yang dimaksud?

Sembutopia percaya bahwa kita ditakdirkan untuk berjaya. Bangsa ini memiliki jejak kejayaan yang masih terbaca hingga sekarang. Dengan bermodalkan warisan nenek moyang dan memberdayakannya, kita akan mampu kembali mengukir prestasi yang membanggakan.

Sembutopia terus menggelorakan visi ini ke seluruh Indonesia. Pertama, dengan mengadakan kegiatan motivasi dan inspirasi setiap tanggal 20 pada tiap bulan. Kedua, dengan merekrut para profesional untuk menvisualisasikan ide Indonesia 2020 ke dalam karya dan prestasi mereka. Entah itu karya seni, budaya, sastra, kuliner dan lainnya.

Tuh, memang istimewa ya, Sembutopia ini. Ia bergerak demi kebaikan bersama pada jalur yang dikuasainya. Sambil terus merangkul berbagai lini masyarakat bahkan mengetuk pintu para pemimpin kita guna menyatukan visi.

Kita juga bisa turut berpartisipasi mendukung upaya Sembutopia menyembuhkan Indonesia ini dengan mengikuti perkembangannya di media sosial maupun turut serta dalam berbagai event yang diselenggarakan. Misalnya untuk Bulan Juni ini, rencananya akan diadakan lomba foto bertema Menyembuhkan Indonesia dengan Maaf. Hohoho... Apakah jus kreatifmu langsung mengalir seketika membaca tema brilian ini?

Hari Tanpa Tembakau Dunia untuk Kesembuhan Indonesia



Usai istirahat untuk berbuka puasa dan Salat Magrib, acara pun dilanjutkan dengan berbincang santai seputar Hari Tanpa Tembakau Dunia. Kampanye ini sangat berguna untuk menyembuhkan Indonesia. Karena merokok tidak hanya negatif bagi kesehatan namun juga ekonomi. Perokok yang berhenti merokok dan tetap beraktivitas seperti biasa akan meningkat produktivitasnya.

Rupanya pembahasan ini cukup menarik bagi para peserta. Terlihat dari banyaknya pertanyaan yang dilontarkan seputar budaya merokok yang masih marak di tengah masyarakat kita. Seperti misalnya, bagaimana menjawab celetukan para perokok yang beralasan bahwa orang mau merokok atau tidak merokok itu pasti juga akan meninggal.

Menurut Bapak Kafi Kurnia, kita harus ingat bahwa yang lebih berbahaya dari perokok adalah menjadi perokok pasif. Mungkin saja seseorang merasa aman menjadi perokok. Namun jika orang-orang di sekeliling kita meninggal akibat kebiasaan merokok kita, maka sudah selayaknya kita perlu peduli. Jleb!

Kata Bapak Kafi Kurnia, mengubah kebiasaan itu membutuhkan 21 hari pembiasaan. Jadi jika ingin menghilangkan kebiasaan merokok, seseorang harus berusaha agar bisa tidak merokok sama sekali dalam kurun waktu 21 hari. Di sinilah dukungan dari orang-orang sekitar juga dibutuhkan agar perokok bisa sukses tidak merokok selama 21 hari.

Begitu juga ketika Mbak Hidayah Sulistyowati menceritakan pengalaman suaminya yang terserang penyakit jantung akibat berada dalam lingkungan perokok di kantor. Bapak Kafi Kurnia mencetuskan bahwa setiap orang berhak untuk tidak merokok dan tidak menjadi perokok pasif. Kita berhak mendapat lingkungan yang sehat dan bersih. Karena itu, kita harus berani memperjuangkan hak kita untuk tetap sehat.

Memang sulit ya, mencabut kebiasaan buruk yang sudah membudaya itu. Hal tersebut diakui pula oleh Bapak Kafi Kurnia berdasarkan pengalaman Beliau yang diceritakan dalam video berikut:


Nah, akhirnya solusi jangka panjang yang disarankan Beliau adalah kita harus mendidik anak-anak kita untuk tidak merokok. Karena selama masih ada anak keturunan kita yang merokok, maka budaya merokok ini akan tetap ada di masa depan. Mantap jiwa ya, materi yang saya dapatkan dari acara ini. Aku setuju sepenuhnya untuk menerapkan saran tersebut pada anak-anakku.

Jadi, dari mana Anda akan mulai ikut menyembuhkan Indonesia setelah ini?

Komentar

  1. Setuju banget dengan 5 pilarnya sembutopia ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. sip, ya. memang beliau sdh lama berkecimpung di dunia kesehatan sih

      Hapus
  2. Seru ya acaranya, tapi sayangnya aku nggak bisa ikut. Merokok itu memang merugikan banget dalam segala sisi. Apalagi kalo jadi perokok pasif. Duh, seketika jadi sedih aku mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aih, yuk lakukan apa yg kita bisa. berani menyampaikan hak kita utk mendpt lingkungan yg sehat dan atau membantu org2 di sekitar kita agar tidak merokok selama 21 hari. semoga keadaan akan lebih baik ke depannya ya.

      Hapus
  3. Jujur aku bari tau sekarang apa itu Sembutopia.
    Ternyata misinya bermanfaat buat kesehatan kita semua.
    Nice sharing,kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih sdh membaca :)

      Hapus
    2. Sama-sama,kak.
      Mari kita semua mulai membiasakan gaya hidup sehat.

      Hapus
  4. Ayo perokok, hilangkan kebiasaan merokokmu heheehe aku sebel soalnya karena asap kemana-mana dan bikin rusak kesehatan.

    BalasHapus
  5. Wah unik yaa Sembutopia.. jd ini menyangkut seluruh aspek kesehatan ya Mbak visinya?? Bkn cm kesehatan raga tp jiwa jg gtu?? Penasaran smoga bisa ada acara spt ini di Surabaya. Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Disinggung bbrp kali tu kalo sembutopia ga cuma pingin nyembuhin fisik masyarakat indonesia tp jg jiwanya. Moga nyampe ke surabaya ya

      Hapus
  6. Kalau dipikir2 bener sih memang kita sbg ortu yg punya tugas mendidik generasi baru yg bebas rokok

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yoi. Aq seneng bgt deh dikasi tugas yg sesuai kapasitasku ��

      Hapus
  7. Bapakku perokok berat, yang mengantarkan beliau menemui ajal karena kena sirosis. Makanya kami anak-anak alm yang kebetulan perempuan semua mensyaratkan suami yang tidak merokok. Alhamdulillah rumah bersih asap. Tetapi ketika keluar rumah begitu bau asap rokok anak-anak langsung kliyengan

    BalasHapus
    Balasan
    1. innalillaahi wa inna ilayhi raajiuun. semoga keluarga kita terjaga dari racun rokok ya..

      Hapus
  8. Maru laksanakan.
    Semoga artikel keren ini dibaca banyak masyarakatdan jadi tersadar pentingnya kesehatan.

    BalasHapus
  9. Aku dari kecil udah diajari memolak asap rokok mba Farida. Makanya aku sebel sama pwrilper suami yang permisif pada perokok. Kurang enak katanya kalo menyuruh orang mematikan rokoknya. Lha sama pekerjanya aja dia sungkan menyuruh tidak merokok selama kerja, ngenes kan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huaa.. Jadinya malah korban kesehatan ya ��

      Hapus
  10. Lombanya itu limba foto Mbak untuk yg Juni ini. Bukan vlog.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oiya ntar aq ganti. Makasih koreksinya ��

      Hapus
  11. Semoga anak-anak tethindar rokok aamiin..

    BalasHapus
  12. Iya nih kayaknya menghilangkan kebiasaan merokok jadi kebutuhan tersendiri. Paling kasihan memang yg jadi perokok pasif. Nggak dapet nikmatnya cuma dapet efek negatifnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ho oh. posisinya malah lbh berbahaya ya kalau perokok pasif

      Hapus
  13. Wah keren nih 5 pilarnya sembutopia..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, semoga tercapai ya cita2nya

      Hapus

Posting Komentar

Hai, terimakasih sudah berkunjung.
Jejakkan komentarmu di sini ya... ^_^