5W1H Tentang Baby Blues dan Pengalamanku

baby blues

Apa Itu Baby Blues?


Baby blues adalah perubahan emosi setelah melahirkan. Ibu menjadi tidak sabaran, khawatir berlebihan, mudah marah, konsentrasi yang sangat mudah terganggu, sedih, lelah, gelisah, sulit tidur, dan selalu merasa kesepian.

Baca juga: Menjadi Ibu, Menghidupkan Hidup Jadi Lebih Hidup.

Sindrom ini tergolong ringan dan normal. Hampir 70-80% ibu yang baru melahirkan mengalami baby blues.


Siapa yang Mengalami Baby Blues?


Seperti yang sudah disebutkan di atas, baby blues ini dialami oleh kebanyakan ibu yang baru melahirkan. Namun, ternyata ayah pun bisa mengalaminya lho, dengan penampakan yang lebih tidak kentara. 

Baby blues bisa terjadi berapa pun usia orang tua dan setelah mengalami kelahiran anak ke berapa pun, tidak hanya pada kelahiran anak pertama.


Di Mana Baby Blues Terjadi?


Tentu saja tidak mengenal tempat. Baby blues bisa terjadi di mana saja berkaitan dengan kelahiran bayi baru.


Kapan Baby Blues Terjadi?


Baby blues biasanya terjadi 4-5 hari pasca melahirkan dan hilang sendiri di minggu ke empat seiring dengan berhentinya darah nifas. Meski begitu, kondisi setiap ibu tentunya berbeda-beda. Sedangkan baby blues pada ayah bisa lebih awal dan berlangsung lebih lama dari yang dialami ibu.

Jika gejala baby blues syndrome tidak kunjung membaik setelah sebulan, ada kemungkinan ibu mengalami depresi pasca melahirkan atau PPD (Post Partum Depression). Sekitar 10% ibu baru mengalami depresi ini.

Gejolak emosi yang berkepanjangan membuat ibu merasa putus asa, sedih, tidak berharga, bahkan tidak merasakan adanya ikatan dengan bayi. Penting untuk segera memeriksakan diri ke psikolog atau psikiater agar tidak berlanjut menjadi psikosis postpartum yang membahayakan ibu dan bayi.

 

Mengapa Terjadi Baby Blues?


Hingga kini belum diketahui secara pasti penyebab dari baby blues. Meski begitu, kondisi tersebut biasanya dikaitkan dengan beberapa hal berikut ini:

Perubahan Hormon

Setelah melahirkan, hormon kehamilan menurun drastis diganti dengan produksi hormon menyusui. Perubahan hormonal ini bisa menimbulkan efek kurang nyaman sehingga memicu perasaan-perasaan negatif.

Kelelahan

Perubahan hormon semakin diperparah karena adanya perubahan dan gangguan jam tidur. Selain itu, kelelahan bisa juga karena harus bolak-balik menyusui, menggendong dan mengganti popok bayi. Apa lagi jika ada tugas lain yang menanti, misalnya mengurus rumah, suami dan anak yang lain.

Faktor Psikis

Penyebab lain munculnya baby blues adalah kondisi psikologis ibu baru. Misalnya ada rasa kecewa atau rasa bersalah atas proses persalinan yang baru dilewati, kesulitan menyusui, khawatir tak bisa menjadi ibu yang baik, dll.


Bagaimana Mengatasi Baby Blues?


Untuk mengatasi baby blues, ada beberapa cara yang bisa dilakukan, seperti:

Menambah Ilmu

Ketakutan biasanya timbul karena ketidaktahuan. Untuk meminimalisir, calon ibu perlu membekali diri dengan pengetahuan dari sumber terpercaya seputar kehamilan, melahirkan, menyusui, perawatan dan pengasuhan. 

Mengutarakan Perasaan

Misalnya dengan bercerita kepada suami, sahabat, ibu atau siapa pun yang bisa membuat merasa lebih nyaman. Minta dukungan mereka agar bersedia membantu secara fisik maupun mental.

Mengonsumsi Makanan Sehat

Perhatikan pola makan dan cukupi kebutuhan asupan omega 3 agar tubuh tetap fit, ASI lancar dan suasana hati tetap bagus.

Cukup Istirahat

Pastikan ibu cukup tidur, yaitu dengan beristirahat saat bayi terlelap.

Mencari Hiburan

Melakukan me time dan menghibur diri sesekali dengan cara yang sederhana sangat penting agar pikiran segar, tenang dan lega.

Berpikir Positif

Ibu harus tetap berpikir positif dan optimis bahwa dia akan menjadi ibu terbaik bagi anaknya.


Pengalamanku Saat Baby Blues


Ya, aku pun pernah mengalaminya, dan itu wajar. Hal paling genting bagiku setelah melahirkan adalah faktor kelelahan. Saking lelahnya, sampai pernah ada kejadian lucu usai melahirkan anak pertama dan kedua. Begini ceritanya.

Anak Pertama


Saat melahirkan anak pertama, aku tinggal di rumah kedua orang tuaku. Praktis, aku ada dukungan fisik dan mental dari keluarga besar. Sering kali, Bunda membawa bayiku ke kamarnya usai aku menyusui. Tujuannya, agar tugas mengganti popok bisa dilakukan oleh Bunda saja.

Pernah suatu malam, aku tertidur usai menyusui. Tangisan bayi yang tiba-tiba terdengar pun mengejutkanku hingga terbangun. Buru-buru aku menggendongnya. Karena seingatku baru saja menyusui dan merasa sangat mengantuk, maka aku ke kamar Bunda minta diperiksakan popoknya.

Setelah mengetuk pintu, aku masuk dan menyerahkan gendonganku ke Bunda yang sedang berbaring, "Bunda, tolong cek popoknya, ya. Bayinya menangis terus ini." Bunda diam saja memandangku. Aku jadi heran, dan betapa terkejutnya aku melihat ada bayi juga di samping Bunda!

Aku pun tersadar bahwa suara tangis itu sudah reda. Tapi, bayi siapa yang tidur di dekat Bunda? Mengapa tiba-tiba ada bayi lain yang dititipkan di rumah ini?

"Sudah. Bayinya sudah tidak menangis, kok. Kamu tidur saja," kata Bunda.
"Bunda, kok mengurus bayi lain? Ya sudah, aku bawa bayiku ke kamarku saja," aku mendekap gendonganku semakin erat dan tersadar ada yang salah. Dari tadi aku menggendong guling kecil!

Anak Kedua


Kali ini, kami tinggal terpisah dari orang tua. Di tengah malam, aku yang sudah sangat kepayahan mendengar tangisan bayi namun susah sekali membuka mata. Pikiran pun masih antara sadar dan tidak sadar.

Suami kemudian membangunkanku, "Sayang, itu bayinya menangis, lho. Sepertinya dia minta ASI."
"O, iya. Tenang saja. Nanti juga diam sendiri," jawabanku masih mengelantur.

Hingga pagi menjelang, aku pun terbangun dan mulai mengumpulkan ingatan satu per satu, "Hei, semalam kan bayiku menangis, ya? Apa aku sudah memberi ASI sebelumnya? Belum, ya? Apa sesudah dia menangis aku jadi menyusuinya?"

Aku lihat sebelahku, tidak ada bayi. Aku lihat bajuku, kancing-kancing depannya masih rapi terpasang di lubangnya. Aku terus mengingat-ingat apa yang kulakukan usai mengatakan, "Nanti juga diam sendiri," dan aku benar-benar tidak ingat. Jangan-jangan, aku tertidur dan tidak menyusui?

Suami masuk sambil menggendong bayi, "Sudah bangun, ya. Ini tolong disusui. Kasihan dia menangis semalaman."

"Hah? Ini semalaman menangis terus dan aku belum menyusui?" Suami diam saja.
"Kamu apakan biar dia tenang? Kamu gendong terus? Semalaman?" kejarku.
"Sudahlah, susui saja sekarang," jawab Suami.

Hingga kini, apa yang terjadi di malam itu masih misteri bagiku. Aku tahu di rumah tidak ada susu formula. Rumah terpencil di tengah malam, bisa minta tolong siapa? Tidak ada tanda-tanda Suami habis keluar rumah. Jadi, benar ini bayiku tidak minum ASI, hanya digendong semalaman? Huaaa ...

Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing 'Perempuan Menulis Bahagia'.

24 komentar

  1. kalo udah baca tentang baby blues tu aku jadi was was nih nanti kalo pas punya anak kelak, soalnya temenku juga ada yang ngalamin baby blues dan emang bener bener harus ditungguin yaa, jangan sampe dibiarin berdua doank sama anak nya huhuhu

    BalasHapus
  2. Wow, ternyata bapak² juga bisa kena baby blues juga ya, kirain ibu² saja.😃

    BalasHapus
  3. Hampir semua Ibu baru mengalami baby blues ya emang Mb
    Dan saya setuju dengan poin mengutarakan perasaan, khususny ke pasangan

    BalasHapus
  4. Kayaknya hampir semua Ibu mengalami baby blues ya. Dukungan dari suami dan keluarga inti diperlukan agar Ibu cepat membaik. TFS ya.

    BalasHapus
  5. Meski tak hanya wanita yang mengalami Baby Blues tetapi mungkin tetap wanita paling sering mengalami. Bahkan ada yang berlarut2 sampai punya kedua..

    Dan disini peran sang ayah untuk memberi semangat kepada istri agar berusaha sabar atau menghidari Baby Blues. Walau semuanya perlu waktu..😄😄

    BalasHapus
  6. Perempuan setelah melahirkan itu butuh support system dari orang terdekatnya dulu, terutama suami sehabis itu keluarga. Beberapa teman juga ada yang baby blues dan memang kasihan kalau tidak ada support sistem yang baik.

    BalasHapus
  7. Aku penasaran yg misteri bayi kedua itu, yg anak pertama juga, gendong guling disangka bayi, kaya cerita horror hehe..

    BalasHapus
  8. Perihal baby blues ini harus semua orang tahu biar mereka paham kalau ibu bisa kena baby blue, atau parahnya kena post partum depression. Udah banyak cerita soalnya.

    BalasHapus
  9. Berat memang ya mba jadi Ibu, tapi kayaknya yang mba lalui masih dalam tahap normal belum sampai baby blues :( kebanyakan sampai benci liat anak sendiri dan traumatis. Memang harus sangat siappp huhuhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau terjadi di sebulan pertama, ini memang baby blues dan itu hal yang normal.
      Namun kalau berkepanjangan, namanya bukan baby blues lagi tapi PPD (postpartum depression)

      Hapus
  10. Bisa separah itu ya efek baby blues, antara sadar dan tidak kita menyusui si buah hati. Semoga ibu yang mengalami ini bisa cepat diketahui dan mendapat support dari keluarga agar masa baby blues bisa dilalui

    BalasHapus
  11. Setiap melahirkan, ke-4 kalinya aku selalu kena baby blues. Tapi Alhamdulillah gak lama. Aku dulu bawaannya nangis terus. Dukungan suami dan dibantu mamah pegang bayi, baby blues segera berlalu.

    BalasHapus
  12. Kok aq jd penasaran sm baby blues pd ayah yah ? selama ini aq kira baby blues terjadi hanya pd sang ibu aja mba. Alhamdullilah 2 kali melahirkan aq tdk mengalami baby blues

    BalasHapus
  13. Betul biasanya baby blues dialami sama pasangan yang baru mempunyai anak terutama ibunya, aku jadi banyak tau nih setelah baca tulisan Kakak

    BalasHapus
  14. Seru baca cerita baby blues ini, tapi kasihan juga ke ibu nya ya, apalagi kaya di cerita anak pertama itu. Ilmu baru nih buat aku.

    BalasHapus
  15. Baby blues ini sekarang kayak jadi momok untuk para ibu baru ya mbak. Support system memang harus kuat

    BalasHapus
  16. Baby Blues memang terasa nyata ya mba, aku juga ngerasain dulu selama 2 bulan pertama setelah lahiran

    BalasHapus
  17. utarakan perasaan ke suami itu wajib banget bagi saya. biar plong. biar gak nyesek sendiri. soalnya kan masalah diri bakal recokin dan jd bikin masalah rumah tangga kalau gak diclear in

    BalasHapus
  18. I feel you Mba. Baby blues itu udah kita tau tapi tetep aja tidak bisa dihindari ya. Alhamdulillah ada suami yang selalu siap siaga ya.

    BalasHapus
  19. Waktu anak pertama juga aku alamin baby blues hahaha. Krn merasa sendiri dan masih minim pengalaman. Kdg pas bayinya rewel aku malah ikutan nangis 🤣

    BalasHapus
  20. Masya Allah.. oengalaman kayak gini banyak dialami ibu baru ya. Aku dulu pun ngalamin dan rasanya agak nyesek sih ya karena kayak ngerasa helpless gt.. thanks for sharing mbak

    BalasHapus
  21. Setiap bicara baby blues, aku selalu pingin nangis Mbak. Rasanya belum hilang semua kesulitan yang kualami sejak melahirkan anak pertama.

    Makanya baca Mbak gendong guling, gak ada lucu-lucunya bagikunyang masih baper ini. Justru sedih akuh. Hwaaaa

    BalasHapus
  22. terima kasih kak, tulisannya bagus sekali. Jadinya lebih mengerti tentang baby blues

    BalasHapus

Hai, terimakasih sudah berkunjung.
Jejakkan komentarmu di sini ya... ^_^