[Resensi] Mengawal Mimpi 2020, Menyambut Covid-19 Berakhir

Mengawal Mimpi

Bagi sebagian besar orang, terutama yang berkarakter ekstrovert seperti anakku yang kuceritakan dalam artikel Efek Physical Distancing, pandemi Covid-19 ini mungkin sangat menyiksa dan membatasi ruang gerak.

Namun, bagiku yang introvert, sejatinya kondisi ini tidak berpengaruh terlalu banyak. Dari dulu, aku sudah terbiasa melakukan berbagai hal di rumah. Entah itu belajar, mengajar, bekerja, berkarya, dan mencari hiburan.

Jadi, kalau aku ditanya apa yang kulakukan selama masa pandemi ini, maka jawabanku akan sama dengan aktivitas yang biasa kulakukan sebelumnya. Jika ditanya, apa yang akan kulakukan setelah Covid-19 berakhir, maka jawabannya tak jauh berbeda. Aku hanya akan melanjutkan apa yang sudah kumulai sebelum pandemi.

Salah satunya adalah menulis buku. Sejak akhir tahun lalu, alhamdulillah, aku tetap konsisten menulis buku, di samping menulis blog. Memang sih, untuk konten blog, jadi agak keteteran waktunya. Karena, aku masih penasaran untuk bisa menghasilkan buku yang bagus dan best seller.


Syukurlah, satu dari dua buku yang kusebutkan dalam artikel Thanks for Treating Me as A Hidden Gem akhirnya sampai juga dalam genggaman. Resmilah buku pertama berupa buku antologi dengan judul Mengawal Mimpi 2020 ini.

Sedikit tentang Mekanisme Antologi


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, definisi dari antologi adalah: 
kumpulan karya tulis pilihan dari seseorang atau beberapa orang pengarang. 

Jadi, antologi ini bisa disusun oleh perseorangan maupun kelompok. Naskah yang dikumpulkan bisa berupa artikel, cerpen, puisi, dan lain-lain. Yang penting, naskah-naskah ini haruslah memiliki kesamaan tema. Aktivitas pertama berupa mengumpulkan naskah ini biasa disebut kompilasi.

Proses berikutnya adalah membangun konstruksi buku. Naskah akan disusun secara teratur berdasarkan suatu aturan tertentu. Misalnya, menurut urutan abjad penulis/judul atau berdasarkan alur bab yang ingin disajikan untuk pembaca. Kalau buku Mengawal Mimpi 2020 ini, disusun menurut naskah yang lebih dulu masuk.

Selanjutnya, naskah akan melalui proses penyuntingan oleh editor. Setelah susunan dan isinya dianggap oke, naskah ini masuk ke meja kerja layouter untuk mengatur tata letak tulisan di dalam buku. Setelah disetujui editor, maka naskah pun siap dicetak menjadi buku.

Mengawal Mimpi

Sekilas Pandang Buku Mengawal Mimpi 2020


Buku Mengawal Mimpi 2020 sendiri disusun secara berkelompok oleh 42 penulis. Ramai, ya? Temanya adalah impian dari setiap penulisnya tidak hanya untuk tahun ini, namun bisa jadi untuk 5 tahun, 10 tahun, atau seumur hidupnya.

Buku ini termasuk kategori nonfiksi. Jadi, isinya berupa curahan hati asli para penulisnya. Kebanyakan menuangkannya dalam bentuk artikel, kecuali Mbak yang menyumbangkan tiga buah puisi berisi mimpi-mimpinya.

Buku setebal 198 halaman ini penyusunannya digawangi oleh Mbak Fuatuttaqwiyah El-adiba, seorang penulis yang juga aktif mengurus Nderes Literasi dan grup Ibu-Ibu Doyan Nulis. Tanpa disangka, buku ini bisa mendapatkan ISBN dengan cepat dan di terbitkan secara indie oleh Azkiya Publishing.

Meskipun buku terbitan indie, namun kualitas hasil cetakannya bagus sekali, lho! Kertas sampulnya tebal dan glossy dengan kualitas warna serta gambar yang tidak ragu-ragu. Halaman-halaman di dalamnya pun ternyata menggunakan kertas yang cukup tebal, sehingga terkesan eksklusif. Suka, deh!

Bagi kamu yang masih maju-mundur langkahnya, sedang lelah dan terpuruk, atau membutuhkan motivasi hidup untuk terus maju, bisa baca buku ini sebagai sumber inspirasi untuk tetap berani bermimpi dan melangkah mewujudkannya.

Kalau kamu tertarik, silakan meluncur ke akun Instagram @bukufaridapane, ya. Buku ini sudah tersedia dan bisa dipesan di sana. Selanjutnya, mohon doanya agar proses penulisan hingga penerbitan buku-bukuku berikutnya bisa berjalan lancar. Amin.

Ini caraku menyambut masa di mana Covid-19 telah berakhir. Kalau kamu?

64 komentar

  1. Teh kasih tahu satu kutipan yang memotivasi donk.. 😁

    BalasHapus
  2. Di ig @bukufaridapane ada kutipan2 motivasi dari buku ini pada caption foto

    BalasHapus
  3. Duh pertanyaan yang sangat menampar saya di akhir paragraf mbak��. Mbak sudah menghasilkan tulisan, setidaknya sebuah karya yang bisa bermanfaat untuk orang lain. Lah, kalau saya?������

    BalasHapus
  4. Waw keren, berkarya dalam masa pandemi. Saya juga bercita2 mau ikutan nulis antologi kalau ada kesempatan, tentunya nulis buku juga oke kalau ada waktu dan kesempatan. Tapi, setelah pandemi berlalu mau'y traveling dulu. Haha..

    BalasHapus
  5. Akupun sosok introvert suka dengan suasana di rumah aja kek begini,malah makin produktif, lebihnya bisa bocan aja dari sebelomnya. Kalopun nanti pasca covid, insyallah tetep melakukan aktivits seperti biasa lagi.

    Seru nih, berkarya dengan menulis buku, semoga dilancarkan ya Mak.

    BalasHapus
  6. Keren Bun. Selamat untuk bukunya dan semoga dimudahkan. Kalau aku mengisi hari-hari di rumah dengan sibuk ngerjain job ngeblog ama ngurus anak dan suami. Juga pengen lebih fokus ibadahnya.

    BalasHapus
  7. Selamat ya Mbak, buku antologinya terbit. Wow, 42 kontributor, itu luar biasa. Alhamdulillah selesai ya. Saya lagi kapok nih kontribusi antologi. Engga sabar nunggu teman-teman lain. Ada yang begitu lamanya, sampai setahun ngumpulin naskah...hehe...

    BalasHapus
  8. menulis memang cocok sekali menjadi aktivitas rutin selama pandemi seperti ini.. semangat berkaya untuk kita semua

    BalasHapus
  9. Introvert yang produktif ini namanya. Keren lah mbak. Dari pada banyak suara gak ada isi. Buku antologi ini menarik sekali. Biasanya, buku yang diangkat dari pengalaman penulisnya, akan berisi banyak hikmah.

    BalasHapus
  10. Waah sukses mba farida... Writing my own book is always my dream

    BalasHapus
  11. Kadang, jatuh cinta pada sampul buku. Dan kalau liat sampul buku tebak dan apalagi isinya bagus, bisa jadi pilihan ini

    BalasHapus
  12. Wah saluut, dalam masa pandemi tetap bisa berkarya dari rumah.
    Termasuk cepat ya penerbitan buku ini. Covernya terlihat menarik, ada warna2 biru langit kesukaanku hihi.

    BalasHapus
  13. Mba Farida ini luar biasa semangat menulisnya. Aku padamu mbaaa...
    Semangat nulisku masih naik turun nih, harus baca buku ini kalik ya agar terus semangat mengawal mimpi-mimpi di 2020 dan tahun-tahun berikutnya.

    BalasHapus
  14. Aku dulu ikutan lomba2 antologi di tahun 2011 sampai 2013 dan memiliki judul2 buku antologinya. Bangga banget memang, karya kita diakui apalagi lewat lomba yang pesertanya bisa puluhan bahkan ratusan. Tapi sekarang aku ga nulis ala buku lagi, ngeblog aja udah seperti anak kesekian bagiku hahaha :D Yang penting semangat menyalurkan hobi menulis tetap ada dong :D TFS.

    BalasHapus
  15. Banyak hal yang akhirnya bisa saya syukuri dengan adanya pandemi ini. Meskipun ya gak berharap ini akan berjalan lama

    BalasHapus
  16. Sempat kepikiran mau bikin buku begini tapi ya gitu kebanyakan alasan nggak kayak Teh Farida yang langsung gercep, hehe. Sukses ya Teh.

    BalasHapus
  17. Semoga disusul judul-judul berikutnya terbit ya mbak, baik antologi maupun buku solo. Sukses terus menghasilkan karya yang bermanfaat untuk pembacanya

    BalasHapus
  18. Ah keren banget ini mbak, bisa jadi memotivasi yang lainnya juga nih. Banyak hal sebenarnya yang bisa kita ambil dari adanya pandemi ini, dan yang pasti harus terus bersyukur.

    BalasHapus
  19. Tos, Mba Ida!
    Aktivitasku juga kurleb nih sama mba.
    Sebelum dan sesudah corona, most of my time at home alias kerja kebanyakan dari rumah.
    Jadi, tidak signifikan dampaknya.

    Congratulations for your book ya.
    Aku sudah beberapa kali "diracuni" teman yang kebetulan editor buku untuk menerbitkan antologi.

    ... tapi aku masih belum tertarik, hihihi.
    Mau fokus nge-blog saja.

    But who knows...

    BalasHapus
  20. Mbak Farida, saya mau pesan dong bukunya :)
    Ku senang baca antologi seperti ini, bisa menginspirasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap! Nanti dihubungi adminku ya, mbak. Terima kasih atas apresiasinya

      Hapus
  21. Sama mba, saya juga sejak sebelum ada pandemi udah bisa ngerjakan banyak hal dari rumah, meskipun basic saya orang kantoran. Jadi, kalo pas nggak ngantor, saya produktif mengerjakan proyek-proyek online. Insyaallah pandemi berakhir, yang saya kerjakan juga masih sama. Rencananya sih mau nambah kesibukan, yaitu berkebun. Doain jadi yaa...

    BalasHapus
  22. Selamat Mbak sudah berkarya menghasilkan antologi semoga ada buku-buku lainnya yang akan menyusul.

    BalasHapus
  23. Aku sendiri merasa kan manfaat hobi tu banyak banget yang bisa aku lakukan dirumah ini .dan emang harus kita syukuri

    BalasHapus
  24. Aku kayaknya bakal sama seprti mbak deh. Melanjutkan apa yang sudah dilakukan sekarang. karena jujur saja, Physical distancing maupung tidak, nyaris nggak banyak bedanya buat aku. UNtungnya proses adaptasi itu nggak sulit.

    BalasHapus
  25. Keren banget mba. Sepertinya aku jadi termotivasi membuat sesuatu saat pademi begini, selain kerjaan. Lagi pengen beresin novel.

    BalasHapus
  26. Wow kontributornya banyaj banget mba sampe 42 orang tp hebat ya komit semua makanya bukunya bisa jadi alhamdulilah

    BalasHapus
  27. Aku juga ingin menyambut akhir pandemi ini dengan teyap konsisten menulis mbak, minimal konsisten menulis postingan di blog. Pandemi ini telah membuatku kembali melirik blog, insha allah setelah pandemi bertekad tetap akan merawat semangat ini.

    BalasHapus
  28. Keren mba Ida, barakallah, semoga ada buku lagi yang terbit setelah ini ya
    Aku lama banget nggak ikut antologi karena keasikan ngeblog

    BalasHapus
  29. Keren Mbak. Semoga makin semnagat berkarya dan lahir karya-karya berikutnya ya.
    Judulnya bagus, Mengawal Mimpi 2020

    BalasHapus
  30. Mbak, publishingnya punya rate tertentu untuk design, isbn dan bikin ebook? Boleh info?

    BalasHapus
  31. Aku sih sebenernya tipikal extrovert yang bisa diem di rumah..xixixi...jadi selama ini insyaAllah masih dalam kondisi aman, no stress...waah kepengin nulis antologi nih, cuma blom nemu tema yang pas

    BalasHapus
  32. masyaALlah mbak farida keren euy, ajarin dong cara bikin buku antologi kaya giman hehe

    BalasHapus
  33. Inspiratif. Saya juga berusaha buat terus menulis di tengah2 pandemi dan puasa, semoga menjadi amal shalih

    BalasHapus
  34. Keren masih bisa berkarya di masa pandemi ini. Saya sama juga mba, aktivitas hampir sama aja sebelum dan ketika pandemi. Sepertinya bukunya layak dibaca nih mba

    BalasHapus
  35. Toss mbak sesama introvert. Saya merasa melakukan aktivitas yang sama saja dengan ketika masih ngantor. Cuma kalau saya butuh background berisik kalau kerja, supaya lebih produktif. Misal kalo di kantor, kerja makin cepet kalau banyak orang hilir mudik, tapi nggak mau juga pas lagi kerja disapa sehingga buyar konsentrasinya. Pinginnya sih sunyi di tengah keramaian. Bingung ya? BTW hebat banget mbak sudah banyak bukunya.

    BalasHapus
  36. Melalui buku kita bisa termotivasi untuk terus maju, buku sebagai sumber inspirasi untuk tetap berani bermimpi dan melangkah mewujudkannya. Penulis-penulis yang keren dan berani mewujudkan mimpi ini

    BalasHapus
  37. Masya Allah keren bisa tetap produktif nulis. Selamat ya Mba atas bukunya. Judulnya memotivasi sekali "mengawal mimpi 2020" 😍

    BalasHapus
  38. Sukses ya untuk bukunya, diberi kesempatan menulis dengan 42 penulis lainnya dalam sebuah antalogi adalah hal yang sangat luar biasa.

    BalasHapus
  39. mantap!!! slmt buat bukunya mba. tetap terus berkarya

    BalasHapus
  40. MasyaAllah luar biasa, sudah terbit. Keren ... warnanya juga cakep banget ya. Rasanya ada mimpi yang baru setelah pandemi ini berakhir:)

    BalasHapus
  41. Selamat mba antologi baru.. Iya mba Fu ini aktif banget di dunia literasi

    BalasHapus
  42. Sama, Mbak. Aku juga anak rumahan dan udah terbiasa di rumah aja.

    Semoga wabah ini segera berlalu dan kita menjadi lebih sehat dan bahagia, ya. aamiin

    BalasHapus
  43. Beudd... Keren abis sih Mbak. Saat di rumah saja menghadapi pandemi, Mbak tetap menghadapi nya sambil terus berkarya ya. Luar biasa nih semangatnya....

    BalasHapus
  44. Antologi selalu enak dibaca. Gak bikin capek, sebab tulisannya singkat-singkat, padat, dan jelas. Mau di-pause pun gak terasa menggantung. Sukses selalu ya mba. Semoga impian melahirkan karya yang best seller terwujud tahun ini. Amin.

    BalasHapus
  45. Selamat ya, mbak atas bukunya. Saya juga sudah lama banget punya mimpi bisa nulis buku sendiri. Alhamdulillah sih ada ikut beberapa antologi tapi mimpi besarnya pengen punya buku solo juga biar lebih keren. Hihi

    BalasHapus
  46. Aku sempat beberapa kali menulis buku antologi bareng penulis-penulis lain. Rasanya senang banget. Enaknya menulis antologi tuh begini, saling menyemangati kalau semangat kita mulai mengendur. Begitu buku jadi, whoaaa ... Ditimang-timang macam punya bayi, hihihi ...

    BalasHapus
  47. Wah selamat ya, memulai tahun 2020 dengan buku antologi

    semoga sukses

    BalasHapus
  48. Selamat ya mba atas terbitnya buku antologinya di tahun 2020 ini.
    Tak ada istilah tidak produktif walaupun di rumah saja ya.
    Semoga buku-buku berikutnya dilancarkan juga.

    BalasHapus
  49. Sukses dgn antologinya ya mbak..
    Semoga bisa menebar banyak manfaat
    Terus semangat menulis :)

    BalasHapus
  50. Udah lama enggak nulis antologi, memang seru juga nulis bareng. Rasanya senang kalau buku sendiri udah terbit. Sukses buat Mbak Farida, ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak sama , sudah setahun sy g nulis antologi

      Jadi kangen

      Hapus
  51. Alhamdulillah, masya Allah, selamat Mbakku :) Semoga lahiran buku-buku best seller...saya juga masih penasaran gimana menulis buku best seller..semoga impian kita terwujud, yaa.
    BTW, saya pun jarang aktivitas keluar sebelum pandemi, palingan hanya kajian dan belajar Bahasa Arab setiap Senin pagi. Saat pandemi, kegiatannya pun hampir sama aja...hanya kadang sesekali pergi keluar sama anak-anak yang sekarang nggak pernah dilakukan...

    BalasHapus
  52. kebanggaan tersendiri bisa menghasilkan buku, di rumah aja jg bisa produktif. sukses selalu...

    BalasHapus
  53. Haha.. Samaan kayak aku mbak. Di rumah ya biasa wae. Anak2 aja yg mulai bosan. Aku juga suka nulis mbak. Enaknya nulis tuh waktunya kita bisa tentuin sdr. Gak ada jam kantor. Seneng ya udah punya buku sdr. Eh, abis ini novel ku juga mo terbit lho. Hihi.. Ini semua gegara kerasan stay atau home aja. Jadi naskah nya bisa kelar. Good job mb

    BalasHapus
  54. Wah kalo saya masih beraktifitas biasa saja dan sambil memberikan bantuan kepada abang driver ojol yg mampir ke rumah

    BalasHapus
  55. Ah senangnya bisa melihat ada yang menelurkan buku antologi bermanfaat ini. Kangen juga sebagai kontributor lagi

    BalasHapus
  56. Pengen juga bisa punya buku Solo.
    Tapi...
    tapi...
    ah kebanyakan alasan. Saya itu belum bisa menghilangkan kebiasaan menunda-nunda pekerjaan. Pengennya gercep, tapi pikiran buntu

    BalasHapus
  57. Barokaallah ya mba. Semoga terus melahirkan buku yang motivasi dan edukatif bagi banyak orang aamiin

    BalasHapus
  58. Aktif menulis dan berkarya memang salah satu hal yang bisa kita lakukan saat pandemi dan nggak bisa kemana mana gini ya mbak walau di rumah aja tapi tetap produktif

    BalasHapus
  59. wah. keren. di rumah aja menghasilkan karya nyata. senengnya bisa melahirkan buku motivasi buat semua org.

    BalasHapus
  60. Masya Allah produktif asyekali, Mak. Semoga bisa nulis buku terus dan menjadi best seller. Aamiin.

    BalasHapus
  61. Sama nih Mbak saya juga sebelum pandemi udah terbiasa di rumah cuma bedanya saya masih kurang produktif deh karena nggak ikutan nulis buku. Ups.

    BalasHapus
  62. mbak farida keren sudah, terima kasih sudah bergabung di nderes literasi

    BalasHapus

Hai, terimakasih sudah berkunjung.
Jejakkan komentarmu di sini ya... ^_^