Kesan Bilqis Selama Belajar dari Rumah

 Belajar dari Rumah

Sudah tiga bulan ya, anak-anak belajar dari rumah? Mereka jadi semakin akrab saja dengan dunia maya. Kalau sistem pembelajaran yang diterapkan di sekolah anak-anakku sih, aplikasi yang digunakan hanya Whatsapp. 


Tidak ada kelas daring. Anak-anak belajar di rumah didampingi orang tua, kemudian hasilnya dikirimkan ke guru dalam bentuk foto, video, atau audio. Sesekali ada jadwal tatap muka juga dengan guru. Bertemu langsung di kelas bagi yang dianggap membutuhkannya.

Setelah berjalan selama tiga bulan ini, tentu saja ada banyak suka-dukanya. Agar lebih jelasnya, lebih baik aku mewawancarai langsung salah satu anakku yang bernama Bilqis ini, ya. Dia baru saja naik kelas 3 SD.


Belajar dari Rumah

Umi: Bilqis tahu enggak, kenapa sekarang belajarnya di rumah?
Bilqis: Karena ada virus Corona. Supaya enggak tertular.

Umi: Kamu senang enggak, belajar dari rumah?
Bilqis: Tadinya aku sedih karena kukira akan liburan terus. Ternyata tetap ada pelajaran. Tetapi sekarang aku senang, sih, karena lebih enak belajar di rumah.

Umi: Kenapa lebih enak belajar dari rumah?
Bilqis: Karena di sekolah lebih capai. Pelajarannya banyak dan lama. Aku juga agak malu mengobrol dengan teman-teman karena terkadang aku enggak sebagus anak-anak lain dalam pelajaran.

Umi: Menurutmu kamu bisa lebih pintar kalau belajar dari rumah?
Bilqis: Ya, sepertinya begitu. Kalau di sekolah, aku susah sekali mengerti pelajaran karena teman-teman selalu ramai. Kalau hafalan, suaraku jadi lebih kecil karena aku malu kalau ketahuan salah. Kalau hafalannya di rumah, suaraku bisa lebih terdengar jadi aku juga lebih cepat hafal.
Umi: Memangnya kamu bisa belajar sendiri tanpa bantuan Ustazah?
Bilqis: Tidak bisa. Aku tetap butuh ustazah untuk menerangkan pelajaran dan memeriksa hafalan. Tetapi kalau di rumah ada Umi dan Abi yang membantu. Menurutku itu sudah cukup.

Umi: Tetapi ustazah kan biasanya lebih pintar dari Umi? 
Bilqis: Oh, iya. Umi benar. Kalau aku belajar sama ustazah, aku bisa lebih pintar dari Umi, ya? Tetapi itu susah sekali.

Belajar dari Rumah

Umi: Bilqis suka pelajaran apa? 
Bilqis: Aku paling suka pelajaran yang mudah seperti Matematika, Olahraga, Keterampilan, Aqidah, Sirah, dan Fikih. Aku suka cerita, itu seru. Kalau yang susah itu Bahasa Arab, Hadits, dan menulis.

Umi: Bilqis suka enggak, belajar sama ustazah? 
Bilqis: Suka karena ustazah itu baik, sabar, tidak pernah marah, dan suka mengajakku mengobrol. 

Umi: Menurutmu, apakah guru kreatif itu perlu?
Bilqis: Enggak apa-apa, sih. Tetapi misalnya gurunya enggak bisa ini-itu juga enggak apa-apa. Yang penting dia baik dan sabar.

Umi: Bilqis kan, selama belajar dari rumah enggak pernah pakai kelas online atau video call, ya. Menurutmu, itu perlu enggak?
Bilqis: Aku enggak tahu sih, gimana rasanya. Soalnya belum pernah. Tetapi kayaknya kalau kelas online kayak Kakak gitu aku malas karena masih ketemu teman-teman dan biasanya mereka ribut. Terus aku jadi kelihatan paling bodoh di antara mereka. Kalau video call sama ustazah, aku suka. Soalnya aku suka mengobrol sama ustazah.

Umi: Menurutmu, apa enggak enaknya belajar dari rumah?
Bilqis: Apa, ya? Aku belum tahu.
Umi: Kadang terganggu sama saudara-saudara, mungkin?
Bilqis: Oh, iya. Kadang begitu. Tetapi di sekolah itu lebih parah karena jumlah muridnya lebih banyak daripada saudaraku.

Umi: Kamu masih ingat enggak, nama teman-temanmu?
Bilqis: Oh, iya. Aku lupa nama-nama temanku. Ya, karena kelamaan belajar dari rumah. Cuma sedikit yang aku ingat. Paling cuma lima atau enggak sampai sepuluh.

Umi: Kalau pandemi ini sudah berakhir, Bilqis ingin belajar dari rumah seperti ini atau kembali ke sekolah?
Bilqis: kalau Corona sudah habis, aku ingin tetap seperti ini saja. Aku suka karena walaupun kadang masuk, tetapi aku bisa duduk sendirian sama ustazah, enggak usah duduk sama teman yang lain.

Ya, begitulah pendapat polos dari putriku Bilqis. Bagaimana dengan putra-putrimu?

8 komentar

  1. halo mba.

    lucu ya wawancara anak sendiri. hhehe. kalau dari sudut pandang saya sebagai guru ngajar di rumah ada enak & tidaknya. paling sebel pas video call-an suara putus2, nggak jelas, dsb.

    enaknya nggak capek pergi ke sekolah. belajar daring juga lebih cepat waktunya. alhamdulillah ada orangtua yang bersedia jadi guru dadakan di rumah. guru sangat terbantu. terimakasih banyak XD

    BalasHapus
  2. adik aku naik kelas 4 SD, dan bertolak belakang banget sama anak kakak. hehe... apa karna adik aku laki2 ya?

    dia sebel banget belajar di rumah, dan susah diatur. selama belajar di rumah, dia kerjanya main hp terus, main game, buka tiktok, dll. masih pagi bangun tidur langsung yang dipegang hp. agak sebel sih ya aku liatnya, tapi mau gimana. mungkin memang bosen dia di rumah terus, dan kaget dengan perubahan aktivitas dia sama sebelumnya.

    BalasHapus
  3. Senang ya belajar di rumah, anak saya juga senang, tapi dia kangen temen-temennya katanya.
    Setiap hari kalau lagi online, becandaaa mulu, sampai ustadzahnya puyeng hahahaha

    BalasHapus
  4. kadang kasihan sama anak juga ya mbak :) kangen sama guru dan teman-temannya katanya, walau setiap hari bertatap muka secara virtual tapi kangen ngobrol langsung katanya

    BalasHapus
  5. beda anak beda pendapat ya mbak, anakku yg SMP sukanya belajar di rumah tapai yang SD sukanya ke sekolah tapi masih enjoy juga sih belajar di rumah sekarang.
    Bilqis suka guru yang sabar & baik ya. Bilqis lebih suka suasana belajar tenang berarti ya mbak

    BalasHapus
  6. anak - anakku tuh senang - senang aja karena ngga harus gedubrakan di pagi hari. Tapi kangen guruuu dan teman - temannya mbaa

    BalasHapus
  7. Anakku yang paling kecil alhamdulillah sejauh ini merasa belajar drai rumah masih lebih baik karena ada pandemi ini. Semoga Allah memudahkan segalanya ya. aamiin

    BalasHapus
  8. Senangnya..
    Anak-anak sudah paham bahwa ini semua dilakukan demi kebaikan bersama.
    Pinter yaa...sholihaa.

    BalasHapus

Hai, terimakasih sudah berkunjung.
Jejakkan komentarmu di sini ya... ^_^