Aku baru tahu kalau blogku itu pernah menjadi salah satu sumber yang termuat dalam daftar pustaka sebuah jurnal ilmiah. Atau, mungkin sebenarnya aku lupa aja. Bisa jadi dulu memang sempat ada yang meminta izin mencantumkan nama blogku.
Ya, sayangnya sudah dihapus. Padahal, pageview-nya sudah di atas 1000 per hari. Dan, aku hiatus selama empat tahun setelah itu. Tanpa pamit. Tanpa pengumuman. Tanpa drama. Tanpa janji akan kembali. Hanya diam. Dan, jawaban sekadarnya bagi orang-orang yang bertanya sejak awal ditutup, hingga beberapa tahun kemudian.
Kenapa Menghapus Blog?
Ada masa ketika menulis terasa seperti napas. Lalu, ada masa ketika napas itu tertahan. Bukan karena lupa caranya, melainkan hidup yang menuntut banyak hal sekaligus. Anak-anak tumbuh, kebutuhan mereka melebihi jumlah jam dalam sehari semalam, dan aku berada di tengahnya. Mengurus, mendampingi, dan belajar menjadi ibu yang berusaha tetap hadir walau berantakan. Dunia nyataku penuh dengan jadwal, tanggung jawab, dan kelelahan yang tidak romantis.
Di sisi lain, blog lamaku itu banyak berisi informasi seputar ibu dan anak. Hal-hal yang tadinya aku berusaha menuliskannya secara ilimiah. Seiring waktu, informasi di dalamnya mulai tidak relevan karena perkembangan ilmu dan pengetahuan.
Aku capek mengedit, memastikan akurasi, dan takut salah menyampaikan informasi karena aku sadar bukan ahli di bidang tersebut. Menulis yang seharusnya membebaskan malah berubah jadi beban moral. Menulis, pada saat itu, lebih terasa sebagai kewajiban daripada kebutuhan.
Dan, di titik itu, aku memilih berhenti. Sebab, jujur pada diri sendiri terasa lebih penting daripada sekadar konsisten.
2016: Blog Sebagai Rumah, Bukan Mimbar

Ada kala, menulis terasa seperti rumah.
Aku bersyukur, dunia tetap berjalan tanpa menunggu satu postingan pun dariku. Mungkin, aku sempat lelah dengan pertanyaan orang "Kenapa berhenti? Kenapa dihapus?" Namun, seiring redanya pertanyaan tersebut, aku malah tergelitik.
Memang, gairah menulis memang tidak pernah benar-benar padam. Berhentinya menulis blog dulu ternyata cuma karena aku ingin karyaku lebih bertanggung jawab.
Datanglah 2016. Tahun yang, kalau diingat sekarang, terasa hangat dengan cara yang aneh. Internet belum sekeras hari ini. Algoritma belum sekejam sekarang. Orang masih menulis blog bukan untuk viral, melainkan agar lega.
Di tahun itulah, satu keputusan sederhana lahir. Aku kembali membuat sebuah rumah kecil di dunia maya: rumahsurgablog.wordpress.com.
Namanya mungkin terdengar idealis. Terlalu lembut untuk dunia yang semakin sinis. Namun, justru di situ poinnya. Ia bukan sekadar alamat blog. Ia adalah penanda bahwa aku pernah lelah, berhenti, belajar ulang, lalu kembali menulis tanpa harus menjadi siapa-siapa selain diriku.
Demi melahirkan karya yang lebih bertanggung jawab, aku memilih untuk membangun blog yang bukan lanjutan dari blog lama. Di sini, aku berganti niat. Ini bukan blog pendidikan, sumber informasi terpercaya, ataupun panduan. Aku menulis pengalaman pribadi. Apa adanya. Dengan sudut pandangku sendiri. Ini merupakan ranah yang lebih bisa aku pikul kebenarannya.
Tulisan-tulisan di 2016 itu sederhana. Tentang halaman rumah, kelelahan yang diselingi tawa, hewan piaraan, dan hal-hal kecil yang sering dianggap remeh tetapi membentuk hidup sehari-hari. Justru, dari situ aku merasa pulang.
Aku seperti benar-benar di dalam rumah, bukan di kantor. Blog menjadi tempat aku menulis tanpa takut salah, tidak disukai, dan tidak harus relevan dengan apa pun selain diri sendiri. Aku menulis bukan untuk viral, ataupun validasi. Hanya untuk tetap bersyukur, bersabar, dan waras.
Gandjel Rel: Rumah Baru di Kota Kelahiran
Apa lagi, setelah itu, aku benar-benar pulang ke kota kelahiran, Semarang. Lalu, terhubung dengan komunitas blogger Semarang. Komunitas Gandjel Rel merupakan sebuah ruang yang hangat, tidak menghakimi, dan penuh cerita manusia biasa. Dari sanalah aku kembali merasa bahwa menulis tidak harus selalu sempurna, cukup dengan menjadi jujur.
Perjalananku makin menemukan ritmenya setelah menjadi bagian dari komunitas ini. Gandjel Rel menginspirasiku bahwa blog bukan soal siapa paling pintar, tetapi siapa yang bersedia bercerita. Di sana, tulisan personal bukan kelemahan, melainkan kekuatan. Yang terasa berantakan, sunyi, atau terlalu pribadinya pun akan menemukan pembacanya. Setidaknya, diri sendiri di waktu berbeda. Sebagaimana mottonya: ngeblog ben rak ngganjel.
Refleksi 2026: Ketika Dunia Berubah, Tetapi Menulis Tetap Bertahan

Kalau hari ini 2016 dijadikan tren throwback, aku paham kenapa. Sebab, di masa itu, orang masih membaca, bukan sekadar menggulir halaman. Tulisan panjang belum dianggap dosa. Blog adalah suara, bukan sekadar etalase. Dan, blogku lahir dari semangat itu.
Bukan untuk menggurui, hanya menemani, meski cuma satu orang yang membaca.
Algoritma penemu blog terus berubah. Dulu, mesin pencari suka artikel yang singkat-singkat, lalu berubah menjadi yang panjang-panjang, kemudian berganti dengan lebih menyukai yang sangat relevan dan menjawab apa yang dibutuhkan para pencari.
Jika melihat konten secara umum, dunia digital pun sudah sangat berbeda sekarang. Semua serba cepat. Konten makin pendek. Perhatian makin dangkal. Blog dianggap jadul. Namun, malah di situlah letak keistimewaannya.
Tulisan panjang tidak dikejar algoritma yang terus berganti. Ia dicari oleh mereka yang butuh kedalaman. Melihat kembali tulisanku di 2016, aku sadar satu hal: yang membuat blog itu bertahan bukan topiknya, melainkan kejujurannya.
Aku enggak menyesal pernah berhenti dulu. Aku juga tidak menyesal kembali. Sebab, ternyata, menulis bukan soal selalu hadir, melainkan soal berani kembali. Jadi, buat kamu yang sempat libur dari menulis blog, enggak apa-apa. Ia selalu menerimamu kapan pun kamu mau kembali.
Tidak semua comeback perlu tepuk tangan. Tidak semua awal baru perlu deklarasi. Terkadang, cukup dengan membuka laptop, mengetik satu paragraf, dan mengingat kenapa dulu jatuh cinta pada menulis. Sudahkah engkau kembali?



Daku pun, menghapus blog pertama, sebelum yang fennibungsu ini. Soalnya isiannya tentang gaming. Agak nyesel, karena jaman now soal gaming malah lumayan dicari wkwkwk
BalasHapusInsya Allah masih rajin ini mbaa..dan semoga bertahan terus sie...klo aku yang penting tulis aja dl semua pengalamanku..klo banyak yg baca itu bonus..urusan teknikal nanti sambil jalan..klo.ada tawaran kerjasama itubjuga bonus hehe
BalasHapusTernyata bukan cuma aku yang sempet hapus blog padahal dulu pengunjung perharinya udah lumayan. Alasannya cuma karena males terus nulis, akhirnya gak diperpanjang. Sekarang agak nyesel, walau dengan blog gratisan ini malah lebih parah males nulisnya. 🤣ðŸ˜
BalasHapusWah, 2016 comeback..kalau aku justru baru memulai, setelah sekian lama ragu, apakah layak tulisanku dibaca hahaha...Dan nyatanya 10 tahun berlalu dan aku enggan jauh-jauh dari blogku, meski lebih sering dicuekin, tapi dunia blog tak bisa kutinggalin
BalasHapusMembaca tulisan ini kok merasa beberapa kejadian relate banget. Terkadang ada kondisi dimana harus berani mengambil keputusan besar, bukan untuk berhenti dan layu, tapi justru untuk membuat hal yang lebih bertanggung kawab
BalasHapusTulisannya sangat keren. Makasih Mbak
BalasHapusAku juga menghapus blog pertamaku padahal udah dari jaman SMA. Nyesek. Banget
BalasHapusAku juga menghapus blog pertamaku padahal udah dari jaman SMA. Nyesek. Banget
BalasHapusWiihhh keren, ada yang menjadikan blognya jadi sumber tulisan nih. Tulisan ilmiah pula.
BalasHapusHehe kangen yaaa masa2 2016 tu rasanya era kejayaan blogger sih yaa.
Owalah kirain justru blog yang ini yang utama milik mbak Farida ternyata ada blog lain. Kirain emak2 bahas tekno ternyata lebih ke parenting, keluarga yaa.
Kalau isinya dulu sempat di-backup gak mbak? Bisa sekalian dipindahin nggak sih ke blog yang ini? :D
Hihihi emang menulis blog ada aja ya mbak pasang surutnya. Upaya menjaga biar konsisten itu sih yg udah luar biasa hehe :D
Wah masya allah makin semangat juga untuk terus bertumbuh menjadi blogger yang konsisten dengan menulis
BalasHapuswelcome back mbak, perjalanan kita hampir sama ternyata, ngeblog lalu hiatus lalu akhirnya kembali lagi dengan nafas dan semangat baru
BalasHapusSelamat datang kembali, Mbak.. Sering kali ada rasa sayang ketika merelakan sesuatu "hilang" termasuk blog lama kita ya Mbak. Tapi nggak apa-apa, karena datang dan hilang adalah bagian dari hidup. Semoga semakin menebar banyak kebaikan melalui tulisannya ya Mbak..
BalasHapusdunia blog memang ada pasang surutnya yaa. beberapa tahun yang lalu bisa dibilang blog masih menjadi piihan untuk promosi namun sekarang semua job berbentuk video. Alhamdulillah aku masih bisa bertahan ngeblog sekarang dan semoga bisa terus ngeblog sampai tua
BalasHapusSaya gak pernah hapus blog, pernahnya malah blognya menghilang, pas pakai multiply dulu. Huhuhu. Mana lupa backup tulisannya pun. Anggap blognya dihapus aja kali ya? Eh terhapus sih lebih tepatnya.
BalasHapusBTW, keren banget sih itu mbak blognya dikutip di jurnal ilmiah.
Berarti tulisan di blog lama juga bilang ya? Kalau punyaku Iya pas di multiply hehehe
BalasHapusRelate bgt ini mba. saya dulu terjun ke blog pertama pakai blogspot. ndak pernah saya hapus biar ada jejak jaman dulu hehe.
BalasHapusbtw nice post mba, salam kenal ya