header permata pengalamanku

Aku Sebelum Aku: Drama Keluarga yang Terasa Sangat Personal

10 komentar

poster film Aku Sebelum Aku

Ada film yang terus tinggal di kepala karena detail-detail kecilnya terasa seperti sedang menyapa kehidupan kita sendiri. Bagiku, itu adalah Aku Sebelum Aku, film terbaru garapan Gina S. Noer yang kini tayang di Netflix.

Film coming-of-age ini bercerita tentang Jati, seorang remaja berprestasi yang diam-diam memikul tekanan besar dari ekspektasi ayahnya hingga mengalami serangan panik. Di balik kisah keluarga itu, film ini mengangkat tema kesehatan mental, hubungan orang tua dan anak, serta pencarian jati diri dengan cara yang hangat sekaligus menyentuh.

Ulasan Film Aku Sebelum Aku: Hangat, Jujur, dan Dekat dengan Kehidupan

Yang paling kusukai dari Aku Sebelum Aku adalah caranya bercerita. Film ini tidak berusaha menjadi drama yang penuh ledakan emosi atau plot twist yang mengejutkan. Sebaliknya, ia mengajak penonton masuk perlahan ke dalam kehidupan Jati, seorang remaja yang selama ini dikenal sebagai anak berprestasi. Di balik semua pencapaiannya, ternyata ada kecemasan, tekanan, dan rasa takut mengecewakan orang tua yang terus dia simpan sendiri.

Menurutku, kekuatan terbesar film ini justru terletak pada hal-hal yang sederhana. Percakapan di meja makan, tatapan yang tertahan, suasana rumah yang tampak baik-baik saja dari luar, hingga momen ketika seseorang memilih diam karena merasa tidak sanggup mengungkapkan isi hati. Semua terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga emosinya lebih mudah sampai kepada penonton.

Film ini juga patut diapresiasi karena menghadirkan isu kesehatan mental tanpa menjadikannya sekadar alat untuk menguras air mata. Serangan panik, kecemasan, tekanan akademik, hingga hubungan orang tua dan anak ditampilkan dengan pendekatan yang lebih manusiawi. Tidak semua masalah langsung selesai, dan tidak semua tokohnya selalu tahu apa yang harus dilakukan. Justru di situlah film ini terasa jujur.

Di film ini juga kita bisa menemukan bentuk pembelajaran alternatif, sejarah kelam, dan banyak hal baru yang digali dengan cara berbeda. Representasi seperti ini masih belum terlalu sering kita temui dalam film Indonesia, sehingga kehadirannya terasa menyegarkan.

Dari sisi akting, para pemain berhasil membangun hubungan yang terasa alami. Interaksi antaranggota keluarga tidak terasa dibuat-buat. Kita bisa merasakan bagaimana cinta, harapan, kekecewaan, dan rasa bersalah sering kali hadir bersamaan dalam sebuah keluarga. Tidak ada tokoh yang digambarkan sepenuhnya benar atau sepenuhnya salah. Semua memiliki alasan di balik sikap mereka, dan itu membuat ceritanya terasa lebih realistis.

Kalau harus menyebut kekurangannya, menurutku ada beberapa konflik yang sebenarnya masih bisa digali lebih dalam sehingga penyelesaiannya terasa lebih kuat. Beberapa karakter pendukung juga memiliki potensi yang menarik, tetapi porsinya belum terlalu banyak. 

Dialog para remaja juga terasa agak berat untuk usianya. Mungkin, akan lebih masuk akal jika sebelumnya ditunjukkan apa bacaan dan tontonan mereka, mengingat guru mereka lebih tampak menonjolkan nilai agama dan tidak pernah berbicara tentang hal-hal filosofis dari sudut pandang lain.

Meski begitu, hal tersebut tidak mengurangi pesan utama yang ingin disampaikan film ini.

Secara keseluruhan, Aku Sebelum Aku adalah drama keluarga yang hangat, reflektif, dan relevan dengan kehidupan saat ini. Film ini mengingatkan bahwa kesehatan mental bukan hanya tentang mereka yang tampak rapuh. Sering kali, orang yang terlihat paling baik-baik saja justru sedang berjuang paling keras untuk memenuhi harapan orang-orang di sekitarnya.

Yang Terasa Personal dari Film Aku Sebelum Aku

Ada alasan lain mengapa film ini terasa begitu dekat denganku. Bukan hanya karena ceritanya. Melainkan karena begitu banyak "kebetulan kecil" yang membuatku berkali-kali tersenyum selama menontonnya.

Ketika Tokoh Utamanya Bernama Jati

Begitu mendengar nama tokoh utama adalah Jati, aku langsung teringat pada salah satu novel keroyokan yang aku ikut menulis di dalamnya, Imperfect Family (2022). Di novel itu, tokoh utamanya juga bernama Jati.

Tentu saja dua karakter ini berbeda. Tetapi mendengar nama yang sama sepanjang film memberikan perasaan yang unik. Rasanya seperti bertemu seseorang yang sudah lama kukenal, meski berada di dunia cerita yang berbeda.

Nama memang sederhana. Namun, bagi penulis, nama tokoh sering kali menyimpan perjalanan panjang sebelum akhirnya dipilih. Karena itu, setiap kali karakter lain memanggil Jati, aku jadi geli membayangkan mereka sedang memanggil seorang bapak-bapak. Hal ini juga terjadi saat menonton film "Aku Jati, Aku Asperger" (2024).

novel Imperfect Family tokoh Jati

Muncul Nama Jaya

Belum selesai dengan kejutan pertama, film ini juga ternyata memiliki tokoh bernama Jaya sebagai ayah Jaya. Nama Jaya langsung membawa pada novel digitalku yang bergenre drama psikologi, Ibu Mengajariku Tersenyum.

Di novel tersebut, Jaya adalah tokoh utama yang berprofesi sebagai psikolog dan berusaha memecahkan misteri panjang di balik kebisuan ibunya.

Tentu saja Jaya dalam film *Aku Sebelum Aku* adalah karakter yang berbeda sama sekali. Tetapi, lagi-lagi, rasanya menyenangkan menemukan nama yang selama ini hidup di kepalaku muncul dalam film yang baru kutonton. Meski bagi penonton lain, itu hanya nama.

Iya, nama Jaya juga pernah dipakai dalam film "My Annoying Brother" (2024) versi Indonesia. Mengingat aku pertama kali menulis dan mempublikasikan novel Ibu Mengajariku Tersenyum di tahun 2023 di platform lain, jadi lucu aja mengetahui nama Jaya yang saat itu terasa norak malah dipakai di beberapa film.

novel Ibu Mengajariku Tersenyum

Disleksia dan Down Syndrome

Ada satu lagi alasan mengapa film ini terasa personal. Film ini menghadirkan karakter dengan kondisi disleksia dan juga down syndrome. Sebagai seseorang yang pernah banyak membaca, belajar, sekaligus menulis tentang dunia psikologi, neurodivergensi, dan kesehatan mental, aku merasa representasi seperti ini penting.

Apalagi aku juga memiliki kedekatan emosional dengan isu disleksia melalui pengalaman keluarga. Karena itu, setiap kali film Indonesia mulai memberi ruang kepada karakter-karakter dengan kebutuhan yang berbeda, rasanya selalu menyenangkan.

Dalam film ini, mereka tidak sekadar menjadi pelengkap cerita. Mereka ikut menjadi bagian dari kehidupan yang memang nyata ada di sekitar kita.

Buat yang sering mampir di blog ini, mungkin tahu bahwa blog ini pernah terpilih sebagai Best Dyslexia Blog 2023, dan artikel-artikel tentang down syndrome masih menduduki urutan pertama hingga bertahun-tahun.

Kalau karakter disleksia, sudah ada banyak film di luar negeri yang mengangkat, begitu juga film Indonesia yang berjudul Wonderful Life (2016). Namun, untuk karakter Down Syndrome, seingatku baru film ini yang mengangkat.

Aku juga pernah menulis skenario film tentang anak disleksia dan down syndrome. Yang disleksia belum kelar, sedangkan karakter down syndrome ada di skenario film Suami Akhir Pekan (2021) yang sudah diakuisisi Falcon Pictures.

Semoga semakin banyak film Indonesia yang berani menghadirkan karakter dengan berbagai kondisi perkembangan maupun kesehatan mental secara lebih manusiawi dan penuh empati.

Kenapa Sebuah Film Bisa Terasa Dekat?

Aku selalu percaya bahwa kita tidak memilih cerita yang kita sukai secara kebetulan. Kadang, sebuah cerita terasa dekat karena temanya. Kadang, karena pengalaman hidup kita. Kadang, hanya karena dua nama sederhana seperti Jati dan Jaya.

Atau, karena film itu berbicara tentang dunia psikologi, keluarga, dan proses memahami diri. Tema-tema yang juga sering hadir dalam tulisan-tulisanku. Kalau kamu menyukai tema-tema seperti ini, kamu bisa menikmati novel digitalku Ibu Mengajariku Tersenyum di Kwikku.

novel kwikku Ibu Mengajariku Tersenyum

Novel bergenre drama psikologi ini mengikuti perjalanan seorang psikolog bernama Jaya yang berusaha mengungkap misteri mengapa ibunya memilih diam selama puluhan tahun. Bukan sekadar kisah keluarga, melainkan juga perjalanan tentang trauma, kasih sayang, dan bagaimana manusia belajar untuk kembali tersenyum.

Sebagai pengantar, dua bab pertamanya bisa kamu baca secara gratis. 

Siapa tahu, setelah selesai menonton Aku Sebelum Aku, kamu juga ingin menyelami kisah lain yang sama-sama berbicara tentang luka, keluarga, dan harapan dari sudut pandang yang berbeda.

Kamu sudah menonton filmnya? Bagaimana pendapatmu?

Related Posts

10 komentar

  1. Judulnya saja sudah sangat puitis dan mendalam, Tulisan-tulisan reflektif seperti ini selalu berhasil mengajak pembaca untuk ikut merenung dan melihat kembali perjalanan diri

    BalasHapus
  2. Judulnya saja sudah bikin aku berhenti sebentar, mbak Ida

    “Aku Sebelum Aku” seperti mengajak kita bertemu lagi dengan versi diri yang mungkin sudah lama kita tinggalkan. Kadang memang kita terlalu sibuk menjadi “aku yang sekarang” sampai lupa bahwa ada banyak cerita, luka, mimpi, dan proses yang ikut membentuk kita sampai di titik ini.

    Tulisan seperti ini terasa dekat karena pada akhirnya, mungkin kita semua pernah ingin menengok ke belakang dan bertanya, “sebenarnya aku yang dulu itu seperti apa, ya?”

    BalasHapus
  3. Aku belum nonton filmnya, baru sempat intip trailernya saja. Tapi dari trailer-nya saja sudah terasa kalau ceritanya cukup emosional dan bikin penasaran. Judulnya juga langsung mengundang pertanyaan, “Aku sebelum aku” itu sebenarnya mau membawa kita ke perjalanan seperti apa, ya? Sepertinya ini tipe film yang lebih enak ditonton dalam suasana tenang karena dari trailernya saja sudah terasa ada sisi drama dan refleksi tentang kehidupan.

    BalasHapus
  4. Ya makanya suka ada penonton yang bilang, "berasa menonton perjalanan hidup sendiri" atau "jadi kangen rumah setelah nonton ini" atau semacamnya. Memang ya kalau berasa personal, jalan ceritanya tuh jadi lebih kena ke hati

    BalasHapus
  5. Wah, berjuta rasanya ya Mbak, nonton film yang nama tokohnya sama dengan tokoh dalam novel yang ditulis sendiri. Walaupun jalan ceritanya berbeda, tapi secara emosional jadi dekat.
    Isue kesehatan mental memang marak di tengah keseharian kita. Hal-hal yang terlihat sepele, ternyata buat beberapa orang berat banget. Judul filmnya juga puitis "Aku Sebelum Aku"...

    BalasHapus
  6. Berarti kekuatan dari film ini bisa hadir di tengah-tengah penonton ya kak. Semacam mampu relate sama banyak orang gitu? Wah keren sih dan ga sabar mau nonton jg.

    BalasHapus
  7. Aku juga suka film yang mengangkat masalah kehidupan keluarga. Meski yang diceritakan adalah masalah2 mudah pun, film jadi terasa lebih "hidup" Apalagi jika aktornya bisa berperan natural, tidak over expose, dan mampu mendalami tokoh yang diperankan dengan baik. Seperti "Aku Sebelum Aku" ini.

    Barusan (beberapa hari yang lalu) aku juga nonton "Tunggu Aku Sukses Nanti". Apik banget premisnya. Alur ceritanya smooth banget dari awal sampai akhir. Pesan moralnya juga tersampaikan tanpa menggurui. Sukak.

    BalasHapus
  8. Suatu kebetulan nama Jati dan Jaya ternyata pernah Mbak pakai juga di karya sendiri. Pengalaman kayak gitu pasti bikin nonton film jadi lebih berkesan.

    Sepertinya film ini memang menarik menghadirkan representasi disleksia dan Down syndrome yang jarang diangkat film Indonesia, tandai dulu ah buat akhir pekan

    BalasHapus
  9. paling suka kalo Mbak Farida udah mengupas film/drama
    karena isinya daging semua ^^
    Tapi emang beda ya kacamata pakar seperti Mbak Farida dengan orang awam seperti saya yang hanya melihat suatu adegan sebagai bagus dan tidak
    Persis dengan food vlogger yang bicara makanan enak tanpa bisa mengupas apa sebabnya makanan tersebut enak.

    BalasHapus
  10. Selalu merasa hangat dengan review ka Farida karena semua bersinggungan dengan ka Farida as a writer-nim yaah..

    Nama Jati kalo di filosofi kan, mungkin seperti pohon jati yang tampak kuat dan akan semakin tangguh ketika melewati banyak ujian hidup.

    Seperti karakter Jati yang coba dihadirkan di film ini dan karakter di novel ka Farida.

    BalasHapus

Posting Komentar