Aku sudah menulis banyak hal. Artikel, cerita pendek, puisi, dan berbagai tulisan lain pernah menjadi bagian dari perjalanan menulisku. Namun, menulis novel selalu punya tempat yang berbeda. Mungkin karena novel meminta kita tinggal lebih lama bersama sebuah cerita.
Perjalanan Menulis Novel
Kadang, sebuah cerita muncul dari pertanyaan sederhana. Bisa dari karakter yang tiba-tiba terasa hidup. Pernah aku bahkan belum tahu bagaimana akhirnya, tetapi penasaran ingin berjalan bersama tokoh-tokohnya untuk mencari tahu.
Ada kepuasan yang sulit digantikan ketika sesuatu yang sebelumnya hanya ada di kepala perlahan menjadi dunia yang bisa dimasuki orang lain. Kemarin ia hanya sebuah ide. Hari ini ia punya nama. Perlahan memiliki kebiasaan, masa lalu, ketakutan, keinginan, bahkan cara bicara sendiri.
Konflik yang tampak sederhana ketika masih berada di kepala ternyata bisa membawa cerita ke arah yang sama sekali tidak direncanakan. Beberapa bulan kemudian, ada puluhan ribu kata yang sebelumnya tidak pernah ada.
Di tengah semuanya, penulis harus terus duduk dan menulis. Ada hari ketika seribu kata terasa ringan. Ada pula hari ketika membuka kembali naskah saja rasanya sudah seperti beban berat.
Namun, perjalanan menulis tidak selalu memiliki alur serapi novel. Menulis naskah tidak otomatis membuatnya diterbitkan. Menyelesaikan novel juga tidak berarti perjalanan selesai.
Kadang-kadang, justru setelah menulis kata terakhir, kita memasuki bagian yang tidak kalah sulit: membaca ulang dengan mata yang lebih kritis, menemukan bagian yang ternyata tidak bekerja, memangkas sesuatu yang telanjur disukai, memperbaiki karakter, merapikan konflik, lalu bertanya kepada diri sendiri: Apakah naskah ini sudah cukup baik untuk dikirim?
Sebuah lingkaran tanpa usai kalau dibiarkan. Sebab, sejatinya tidak pernah ada naskah yang cukup balik. Selalu ada saja yang ingin diperbaiki. Di sinilah peran tenggat waktu untuk membatasi.
Setelah akhirnya dikirim, datang pekerjaan yang lebih aneh lagi bagi seorang penulis: menunggu. Pada tahap itu, hampir semuanya berada di luar kuasa kita.
Aku bisa mengendalikan apakah hari ini menulis atau tidak. Aku bisa mengubah sebuah adegan. Aku bisa membuang satu bab dan menulisnya kembali. Aku bisa membuat seorang tokoh pergi atau memutuskan bahwa ia harus tetap tinggal.
Namun, aku tidak bisa menentukan apakah seorang editor akan jatuh hati kepada cerita yang sama. Barangkali, itulah salah satu pelajaran terbesar yang kudapat dari menulis novel: ada saatnya kita harus melepaskan sesuatu yang sudah lama berada dalam kendali kita.
Sambil menunggu, aku tinggal memberi giliran cerita berikutnya untuk kutulis.
Tiga Novel Tahun Ini
Tahun ini, perjalanan itu membawaku kepada tiga naskah. Ketiganya berbeda, tetapi masing-masing membuatku tinggal cukup lama bersama tokoh dan dunianya.
Ibu Mengajariku Tersenyum

Novel ini membawaku kepada Jaya, seorang psikolog yang sehari-hari mendengarkan cerita orang lain tetapi justru tidak mengetahui masa lalu ibunya sendiri. Ibunya, Puspa, telah diam selama puluhan tahun.
Dari sana, cerita berkembang menjadi pencarian tentang identitas ayah Jaya, masa lalu Puspa, cinta yang pernah ada, rahasia keluarga, dan pertanyaan tentang sesuatu yang sering kita anggap sederhana: sebenarnya siapa yang berhak kita sebut keluarga?
Menulisnya membuatku bermain dengan dua hal yang kusukai dalam cerita: hubungan antarmanusia dan misteri yang tidak harus diselesaikan dengan kejahatan atau pembunuhan. Kadang misteri terbesar justru tersimpan di dalam keluarga sendiri.
Aku mulai menulis naskah ini tiga tahun lalu dengan genre psikologi. Tahun ini, aku mengubah genrenya menjadi drama keluarga untuk menyesuaikan dengan tema lomba. Membuatku melakukan beberapa perubahan seperti sudut pandang, bab-bab tambahan, dan adegan keluarga.
Naskah lengkapnya bisa dibaca di Kwikku.
Malas Pangkal Cerdas

Dunia yang sangat berbeda. Ini novel untuk pembaca berusia 9-12 tahun.
Tokoh utamanya Farras, anak kelas empat yang dianggap malas tetapi memiliki ketertarikan besar pada Matematika dan Sains. Saat dia menganggap madrasah dekat rumah merupakan sekolah terbaik baginya, kedua orang tuanya justru menyarankan untuk pindah sekolah yang lebih jauh. Farras pun berusaha memutar otak agar tidak perlu berganti sekolah.
Menulis Farras memberiku pengalaman yang berbeda pula. Dunia anak-anak harus terasa ringan tanpa menganggap persoalan mereka remeh. Humor harus muncul alami. Anak-anak juga tidak boleh terdengar seperti orang dewasa yang kebetulan dimasukkan ke tubuh anak kelas empat.
The Dessert
Naskah ini malah lebih purba lagi. Merupakan adaptasi dari film pendek yang ditulis Alim Sudio, dan sampai sekarang belum kelar juga karena tidak ada tenggat waktu. Format terakhir yang dipublikasikan bisa dibaca di Wattpad.
Namun, sebenarnya ia sudah mengalami pergantian sudut pandang di naskah terbaru. Berhubung saat aku berkonsultasi dengan seorang penulis mayor, dia menyatakan bahwa premisku ketika menjadikan Rama sebagai protagonis terasa lebih kuat dan jelas.
Novel yang Belum Menemukan Rumah

Aku bukan tipe penulis yang suka menulis apa saja sesuai selera, menyelesaikannya mengikuti kata hati, dan menunggu takdir meminangnya untuk terbit.
Biasanya, aku menulis novel karena ada rumah untuknya yang kubidik. Aku sering menulis novel untuk mengikuti lomba, atau karena penerbit mengumumkan sedang mencari naskah seperti apa. Hingga saat ini, sudah enam novel solo yang diterbitkan. Tiga di antaranya karena menang lomba.
Ada satu pengalaman yang belum pernah kumiliki sebagai penulis: novelku diterbitkan oleh penerbit mayor. Aku berharap, takdir itu jatuh pada novel yang kutulis tahun ini.
Tiga naskah dalam satu tahun berarti tiga kali masuk ke dunia yang berbeda. Tiga kali mengenal tokoh baru. Tiga kali menghadapi bagian cerita yang macet. Tiga kali pula merasakan kegembiraan ketika sebuah adegan yang sebelumnya hanya berada di kepala akhirnya berhasil menjadi tulisan.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengan ketiga naskah tersebut. Mungkin juga perjalanannya jauh lebih panjang daripada yang kubayangkan.
Namun, untuk sekali ini, aku ingin mengajak pembaca ikut masuk ke dalam perjalanan tersebut dan menjadikan artikel ini sebagai kapsul waktu untuk mengendarai di atasnya.
Dari tiga novel yang kutulis tahun ini, menurutmu mana yang akan diterima penerbit mayor? Pilih satu saja dan sebutkan alasannya di komentar.
Jika ada dari tiga naskah tersebut yang diterbitkan penerbit mayor, aku akan kembali ke artikel ini. Membuka lagi komentar-komentarnya, mencari siapa saja yang menebak novel yang benar, dan mengirimkan novel yang berhasil terbit tersebut secara gratis sebagai rasa syukur.
Sebab, ada doa dalam setiap tebakan di sini.
Jadi, pilih satu judul dan tinggalkan tebakanmu. Setelah itu, kita biarkan waktu mengerjakan bagiannya. Sementara aku kembali mengerjakan bagianku: menulis.
Semoga, suatu hari nanti, aku bisa kembali ke halaman ini, membaca tulisan yang kubuat ketika semuanya masih belum pasti, lalu tersenyum karena sudah mendapatkan jawabannya.
Terima kasih sebelumnya!




Kak Farida, coba kirim naskahnya ke GPU, kak. Sedang buka itu sampai Oktober kalau ga salah. Ada 3 segmen yang dicari. Kuy, #SemangatCiee, kak
BalasHapusHais! Keren kamu kak. Sukses selalu. Kak mau nanya klo penulis gini baca buku sama baca blog sama detailnya nggak sih? Aku mikirnya jangan jangan klo penulis handal baca blog mah merem ha ha ha
BalasHapusEmang bisa baca sambil merem? Hahaha...
HapusSaya pilih Ibu Mengajariku Tersenyum. Alasannya karena isu drama keluarga yang dibalut misteri identitas/rahasia masa lalu punya daya tarik emosional yang kuat dan mungkin diminati oleh pasar penerbit mayor saat ini.
BalasHapusSemoga terus diberi kelancaran dalam berkarya, Mbak. Masya Allah, produktif sekalii. Paling penasaran itu sama bukunya yang untuk anak praremaja. Soalnya sering baca banyak yang bilang susah nyari bacaan buat umur segitu. Meski menurutku lumayan banyak juga kok yang udah bikin, tapi makin banyak pilihan dan variasi cerita tentu makin bagus.
BalasHapusKeren! Saya sudah nonton film pendek "The Dessert". Ternyata sekarang diadaptasi jadi cerita bersambung di wattpad, semangat selalu. Dan semoga ada karya yang tembus penerbit mayor, segera. Aamiin!
BalasHapusSemangat mbak farida, aku juga muali kepikiran buat lanjutin "khayalan" punya sebuah buku/novel sendiri. Banyak ide, tapi bingung buat mengeksekusinya mba hehehe
BalasHapusMenikmati proses menulis dari awal ide sampai tahap menunggu kabar dari penerbit memang butuh kesabaran tersendiri, ya, Mbak Farida.
BalasHapusKeren banget tahun ini bisa merampungkan tiga naskah dengan genre yang berbeda-beda. Semoga dimudahkan jalannya dan salah satu atau bahkan ketiganya bisa segera terbit di penerbit mayor. Sukses terus untuk karya-karyanya.
Aku suka kalau ada tulisan yang merangkum novel-novel yang dibaca dalam satu periode seperti ini. Jadi bisa melihat selera bacaan sekaligus menemukan judul yang mungkin belum pernah masuk radar. Biasanya dari daftar seperti ini malah muncul beberapa judul yang bikin penasaran untuk ikut dibaca.
BalasHapusKeren, Mbak Farida! Bisa konsisten merampungkan tiga naskah dalam setahun. Saya tebak "Malas Pangkal Cerdas" yang akan dipinang penerbit mayor karena buku anak/praremaja berkualitas lagi banyak dicari
BalasHapusKalo udah konsul ama penerbit dan mereka agak setuju, berarti udah ada kode tuh mbak yang "The Dessert". Tinggal diperkuat penokohannya dan mungkin judulnya yang lebih nendang dan mengundang penasaran. Tp kalo penerbit mayor setuju dengan judul itu, GO ahead lah ya.
BalasHapusBtw yang Malas Pangkal Cerdas juga menarik nih dibuat versi dewasanya. Meski ini lebih untuk anak SD kali yak. Tinggal disesuaikan aja lagi tuh. Soalnya penerbit KPG lagi banyak juga nerbitin buku bisnis/finansial berbasis novel. Biar ga laku tuh penyampaiannya.
Produktif banget kak tahun ini bisa selesai tiga novel gitu. Pengen banget bisa menulis novel juga. Sekarang masih di tahap jadi pembaca dulu. Semoga sukses untuk novelnya ya kak, semoga bisa tembus penerbit mayor.
BalasHapusNovel Farras mbak, bisa ke Mizan atau Grasindo setahuku beberapa novel anak terbit di sana, Keren deh mbak dirimu sudah banyak melahirkan novel
BalasHapusSemangat mbak Farida, lanjutkan.
Baik lagi main ke Instagrammu atau pun blog, aku pasti menanti ada gebrakan novel apa nih? Salut banget sih mb, di tengah dunia novel fisik yang carut marut digerus era digita ini, tetap setia, aku aja mulai kendor hiks. Terus berkarya ya , Mba...semangat menembus penerbit besar
BalasHapusWahh penulis novel panutanku. Saya saat ini sedang berusaha belajar menulis cerpen karena biasanya terbiasa menulis based on data dan informasi. Maklum mantan jurnalis. Hehehe.
BalasHapusBaca-baca tulisanmu beneran menginspirasiku untuk menuangkan banyak ide cerita di kepala euy. Semoga lancar terus karya-karyanya kak.