[Ulasan Buku] Hush Little Baby - Anggun Prameswari


Judul: Hush Little Baby
Seri: Red #2
Penulis: Anggun Prameswari
Penyunting: Jia Effendi 
Penyelaras Aksara: Nunung Wiyati
Desain Sampul: Ajay Ahdiyat
Penerbit: Noura Books 
Terbit: 2018 
Tebal: 340 hlm.

Hush Little Baby ini merupakan novel pertama Penulis yang aku baca. Penulis yang terkenal dengan genre dark romance-nya. Judulnya sama dengan novel karya Suzanne Redfearn yang terbit tahun 2013. Namun, isinya berbeda, kok.

Novel Hush Little Baby dilabeli urban thriller dengan nuansa domestic noir. Domestic noir adalah salah satu jenis genre thriller dengan latar cerita di rumah atau lingkungan domestik. Karenanya, biasanya tokoh utamanya adalah perempuan.

Sampulnya yang didominasi warna merah cukup memberi kesan mengerikan. Terutama pada bagian bawah yang jelas-jelas bukan merupakan bayangan, karena warnanya bukan hitam. Imajinasi pun langsung melayang bahwa itu adalah genangan darah. Hiii ...

Yang Kusuka dari Novel Hush Little Baby


1. Tema


Tema yang diangkat dalam novel Hush Little Baby ini sangat menarik buatku, yaitu tentang post partum depression (PPD) yang mengarah pada psikosis, merupakan gejala lanjutan dari baby blues. Tidak harus memiliki masa lalu begitu kelam dan dikelilingi orang-orang setengah gila seperti yang diceritakan dalam novel Hush Little Baby ini untuk menjadi depresi, sebenarnya.

Bahkan, walau di sekitarnya adalah orang-orang yang baik dan perhatian seperti yang dituturkan dalam kisah nyata Kim Ji-Yeong pun, ibu yang baru melahirkan bisa mengalami baby blues atau bahkan depresi jenis ini.

Baca juga: 5W1H Tentang Baby Blues.

Sudah selayaknya orang-orang di sekitar ibu yang hamil, melahirkan dan menyusui membekali diri dengan pengetahuan dan kesiapan mental yang prima pula untuk tetap mendukung Sang Ibu melalui fase ini. Kata-kata sewajar, "Bayimu cantik sekali," bisa ibarat sembilu di hati ibunya.

Baca juga: Agar Ibu Tidak Baper dengan Anak Perempuan.

2. Penggambaran Fakta PPD


Novel Hush Little Baby menggambarkan dengan cukup jeli bagaimana keadaan seorang ibu yang mengalami depresi pasca melahirkan. Untuk seorang penulis yang belum pernah mengalami dan menyaksikan langsung, tentu ini hal yang luar biasa.

Rupanya, Penulis menggali fakta dengan cara mengobrol dengan teman-teman yang sempat mengalami baby blues (walau tidak sampai tahap depresi), meminta pendapat medis dari dokter umum yang juga penderita depresi serta seorang dokter jiwa. Beliau juga sempat bergabung di grup daring khusus penyintas penderita depresi pasca melahirkan.

Membaca Novel Hush Little Baby ini sanggup membuat hati teriris-iris. Bukan saja karena masa lalu tokoh utama yang amat kelam, tetapi juga bagaimana cerita-cerita yang dituturkan berkorelasi di dunia realita kebanyakan para ibu.

Bagi pembaca yang tergiur dengan label thriller, mungkin merasa novel Hush Little Baby ini terlalu kalem. Bisa jadi pembaca bosan dengan pertanyaan-pertanyaan tokoh utama yang berulang meragukan kewarasannya.

Padahal, demikianlah sejatinya orang depresi. Mereka tampak begitu sulit ditarik keluar dari dunia yang dibuatnya sendiri, untuk disadarkan pada realita. Mereka begitu merasa sepi di hati sekaligus riuh di dalam pikirannya.

Wajar jika hal ini melelahkan orang-orang di sekitarnya, bahkan bagi yang sekadar membaca kisahnya. Namun, meninggalkan mereka akan membuatnya semakin tenggelam dalam depresi.

3. Alur


Bagiku, justru alur cerita dalam novel Hush Little Baby ini cukup dinamis. Jika diteliti, maka setiap pertanyaan sama yang terlontar di benak tokoh utama memiliki nilai rasa dan kesan baru bagi Sang Tokoh sendiri dibandingkan sebelumnya.

Walau tampak sama, namun sejatinya sangat terasa perkembangan dari hasil perjuangan tokoh utama dalam menghadapi depresinya. Novel ini membuatku tersedot ke dalam cerita sejak awalnya. Setiap babnya menawarkan rasa penasaran, sehingga novel ini pun tuntas terbaca selama 2 hari.

Judul bab dalam novel ini selalu dimulai dengan kata Aku, bergantian antara kejadian 15 tahun lalu dan masa kini. Ya, Hush Little Baby menggunakan alur maju-mundur yang mengalir rapi dalam bercerita. Sudah jelas, novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama. 

Novel Hush Little Baby memiliki beberapa twist yang petunjuknya sedikit demi sedikit diberikan, tersebar di setiap bab, membangun kecurigaan-kecurigaan kecil. Meski twist-twist itu dapat kutebak sejak awal, namun cara memolesnya sangat lihai. Sehingga, masih terasa ada kejutan di sana.

Bahkan, ada jebakan twist dari penggunaan kata "aku" di bagian akhir cerita. Benar-benar cara menyimpan petunjuk yang brilian hingga akhir! Secara keseluruhan, aku memberi nilai 8/10 untuk novel ini.

Itulah ulasan singkatku tentang novel Hush Little Baby karya Anggun Prameswari. Semoga semakin memperkaya pengetahuan kita tentang kondisi setiap ibu, dan menimbulkan empati serta simpati terhadap apa pun yang dirasakan dan dialaminya. Bahagiakan ibu, agar anak pun tumbuh sehat dan bahagia.

Baca juga: Anak Sehat dan Bahagia.

25 komentar

  1. sampulnya mengerikan bikin inget kasus-kasus ibu yang membunuh anaknya. apakah di sini happy ending atau kaya di berita-berita itu

    BalasHapus
  2. menarik nih kayaknya bukunya, temanya memang ada di realita ya, btw kalau Anggun Prameswari itu pertama baca yang after rain remaja gitu hehehe

    BalasHapus
  3. sepertinya aku perlu baca ini buku, walaupun sudah bukan anak pertama kedua, tapi tetep butuh tahu tentang PPD, terutama penyebab dan penanganannya.

    BalasHapus
  4. Nilai 8/10.. hmm..jadi penasaran euy pingin baca juga. Meski melihat covernya kok agak horor..hehe..

    BalasHapus
  5. Walah mbaa... aku jadi penasaran nih dengan novel genre urban thriller gini. Aku sih biasanya baca thriller yang berkaitan dengan murder. Kalau yang thriller dari sisi psikis gini belum pernah. Menarik nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku malah sukanya yang psikis gini, hehehe..

      Hapus
  6. Waah suka nih buku genre psikis gini. Apalagi temanya post partum depression.. tambah mupeng. Btw, boleh pinjem mbak bukunya? Hihi.

    BalasHapus
  7. Boleh. Aku pinjemnya di ipusnas, kok. Hihihi..

    BalasHapus
  8. Waah bagus ya kayaknya bikin kita aware dengan orang-orang di sekitar kita yang mungkin saja mengalami PPD biar kita bisa membantu paling tidak dengan mengedukasi yang lain tentang gejala dan penanganannya

    BalasHapus
  9. Nilai yang lumayan ini mba hahhaha
    Bagus brati mba Anggun P asli bagus ceritanya. Ak tapi belum pernah baca ini

    BalasHapus
  10. Udah lama ga baca novel thriller begini, kayaknya perlu juga untuk memperkaya bacaan. Biasanya romance mulu

    BalasHapus
  11. Aq jadi pengen baca bukunya mba, aku tu penasaran kenapa ibu bisa babyblues dan ppd, padahal kluarganya baik2 saja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa baca artikelku tentang baby blues. Ada linknya tuh, di atas hehehe..

      Hapus
  12. Aku suka bacaan genre thriller, baik yang murder ataupun psikologis gini. Biasanya kalo psikosis pembaca berasa ditarik oleh bermacam perasaan. Dari marah, gemes, sedih, bikin baper gitu. Jadi penasaran pengen baca, mba

    BalasHapus
  13. Aku nggak begitu suka triller, baik bacaan maupun film. Seganteng atau sekeren apapun plotnya. Lebih suka detektif romance. Aiiih.

    BalasHapus
  14. Pertama kali lihat sampulnya saya kira ini novel horor... Ternyata saya salah ya. Jarang banget saya baca novel seperti ini, lebih seringnya ke dunia sebelum pernikahan.. hihihi. Tapi perlu juga nih buat nambah wawasan juga.

    BalasHapus

Hai, terimakasih sudah berkunjung.
Jejakkan komentarmu di sini ya... ^_^