Yang Perlu Diperhatikan agar Komunikasi Efektif dengan Anak

sekolah

Buat yang sudah lama berkenalan dengan blog ini, mungkin sudah tahu tentang cerita Bilqis yang disleksia. Setelah menjalani belajar di rumah, lalu menjadi siswa di sekolah formal selama hampir dua tahun ini, akhirnya Bilqis mengalami titik jenuh juga.
Kesan Bilqis selama belajar dari rumah dengan sangat mengejutkan justru dia merasa nyaman. Dia tetap suka belajar dengan gurunya, sih, asal tidak bersama banyak teman. Jadi, pengganjal terbesar baginya bukan pelajaran itu sendiri.

"Kamu putih pasti karena jarang masuk sekolah, ya?"

"Kamu kok sudah senang sih, dapat nilai 80? Itu kan, bukan 100?"

"Gara-gara kamu, nih, kelas kita jadi enggak bisa dapat nilai sebagus kelas sebelah."

Itulah sedikit dari banyak komentar teman-temannya yang dianggap memojokkan. Banyak dialog, nasihat, dan tangis di antara kami soal ini. Hingga kemudian Bilqis minta pindah ke sekolah lain karena sudah tidak tahan.

"Kamu masih punya teman baik di sana, kan? Gurumu juga sangat sayang sama kamu."

"Iya, sih. Tapi salah satu teman baikku itu mau cari sekolah baru yang lebih dekat rumahnya."

Pindah sekolah tentu bukan pilihan yang mudah, walaupun sebenarnya tidak terlalu sulit juga. Namun, tetap perlu dipertimbangkan masak-masak sebelum memutuskan, dong. Kami berusaha hati-hati dalam mendiskusikan hal ini dengan anak. 

Untuk itu, aku mencoba menerapkan komunikasi efektif agar keputusan kami bertiga bisa menjadi yang terbaik bagi semua. Poin-poin yang perlu diperhatikan dalam mendiskusikan masalah dan mencari solusinya bersama anak, antara lain:

komunikasi efektif

Waktu yang Tepat

Waktu ini terkait dengan stamina masing-masing yang diusahakan sedang dalam kondisi prima. Tidak sedang sibuk, lapar, mengantuk, atau kelelahan. Durasi obrolan juga sebaiknya diperhitungkan cukup untuk membahasnya dengan pikiran jernih dan tidak terburu-buru.

Suasana yang Nyaman

Tentukan apakah akan mengobrol di dalam atau luar ruangan. Pilih tempat yang tidak terlalu bising dan banyak orang lalu-lalang. Jika di dalam ruangan, pastikan memiliki sirkulasi udara yang baik dan mendapatkan sinar matahari cukup. Kesejukannya bisa diatur dengan pendingin ruangan, sedangkan kebersihan udara di dalamnya mungkin dapat dibantu dengan kehadiran air purifier? 

Bahasa yang Mudah

Berbicara dengan anak artinya harus menyesuaikan cara penyampaiannya agar mudah ditangkap dan dipahami. Kita juga bisa memanfaatkan dengan bahasa nonverbal yang sesuai, misalnya: intonasi, nada, mimik muka, dan gerak-gerik.

Memahami Posisi Anak

Terkadang mungkin kita sebagai orang tua merasa gemas ya, dengan permasalahan anak. Tampaknya begitu remeh dan disikapi anak dengan berlebihan. Walau sulit, cobalah untuk memosisikan diri sebagai anak kita dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Lebih Banyak Mendengar

Sebagai awal, ada baiknya kita menyimak dulu apa pun yang ingin disampaikan anak. Tahan dulu semua komentar dan tidak buru-buru menilai. Bantu anak memahami masalahnya secara utuh dengan menanyakan hal-hal yang mungkin tertinggal belum diceritakan atau terselip dari pengamatan anak.

Fokus pada Topik

Mengumpulkan aneka fakta dari berbagai sisi terkadang membuat pembicaraan jadi melebar. Sebagai orang tua, mestinya kita bisa lebih bijak dong, membatasi agar tetap berfokus pada masalah yang dibahas. Jika masalah lain dianggap penting dan berhubungan, bisa diagendakan ke jadwal diskusi berikutnya.

Tidak Membanding-Bandingkan

Terkadang memang lebih mudah menunjukkan pada anak melalui perbandingan. Namun, bisa jadi bumerang kalau yang kita bandingkan adalah kepribadiannya disertai dengan tuntutan agar dia bisa meniru. Mari melihat tiap anak sebagai pribadi yang unik, dengan masalah unik, dan solusi yang unik pula.

Terbuka dengan Pendapat Lain

Orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Akan tetapi, belum tentu dia tahu apa itu. Mau mendengarkan pendapat anak atau pihak lain dapat membantu kita menemukan solusi paling bagus untuk masalah ini.

Menggunakan Sarana yang Membantu

Mungkin kita membutuhkan beberapa media untuk menjembatani diskusi ini. Bisa dengan foto, gambar, video, buku, alat peraga, atau yang lainnya. Bahasa dan pendekatan yang berbeda bisa saja mengirimkan informasi lebih efektif sehingga semuanya tersampaikan dan diterima dengan baik.

Itulah beberapa poin-poin komunikasi efektif yang kuingat. Sebenarnya, ini juga bisa diterapkan untuk berkomunikasi dengan siapa pun, ya. Jadi, apakah Bilqis pindah sekolah? Ke mana?

9 komentar

  1. Tips Mbak Farida sudah yang paling joss ini jika terapkan dalam berkomunikasi dengan anak. Memang jadi tantangan tersendiri sih ya. In syaa Allah Bilqis semangat terus dengan dampingan Mbak Farida.

    BalasHapus
  2. Nah..bagus banget nih tips komunikasi dg anak yg dituliskan mba Farida. Insya Allah berguna juga buat yg baca.. Salam sayang utk Bilqis ya mba..

    BalasHapus
  3. Bilqis, masyaALLAH anak shalihaat yang baik hati
    Semogaaaa semua ortu bisa jalin komunikasi efektif dgn buah hati ya

    BalasHapus
  4. Kendala nih kadang tanpa sadar mahal membanding-bandingkan anak dengan yang lain. Makasih pengingatnya ya mba.

    BalasHapus
  5. Tips nya okey nih Mba...tinggal prakteknya yg butuh konsistensi yak..hehe...

    BalasHapus
  6. Betul sekali! Untuk berkomunikasi dengan anak aplg berkaitan dengan permintaannya yg buat ortu ikut berpikir keras. Semoga Bilkis perlahan bisa mengerti dan kelak jd anak yg pintar. Aamiin.

    BalasHapus
  7. tidak membanding-bandingkan itu poin penting bgt y mba karena ketika itu terjadi, sakitnya menetap hingga dewasa.

    BalasHapus
  8. memang tidak selalu mudah untuk berkomunikasi dengan anak - anak ya mab tapi kita harus selalu belajar dan mencari cara yang paling efektif.

    BalasHapus
  9. Kebayang sedihnya kalau anak kita dipojokkan teman-temannya. Tapi memang kita harus Yakin kan ke anak kita ya mba untuk menghadapi teman-temannya ini karena memang anak-anak kita harus melewati pengalaman enak dan tak mengenalkan di sekolah

    BalasHapus

Hai, terimakasih sudah berkunjung.
Jejakkan komentarmu di sini ya... ^_^