Sabar, Ini Ujian!

Sabar Ini Ujian

Sejak minggu lalu, anak-anakku menghadapi UTS, nih. Ada yang bernasib sama? Bagaimana belajarnya? Lancar? Atau malah banyak drama? Hahaha ... 

Sebagaimana yang pernah aku ceritakan dalam artikel Pertimbanganku Memilih Sekolah untuk Anak, memang anak-anakku ini sedang dalam fase awal adaptasi dari yang tadinya homeschooling, kini mereka bersekolah secara formal. Salah satu yang harus mereka hadapi, ya ujian ini.

Memang saat homeschooling, kami tidak pernah menyelenggarakan jadwal khusus untuk ujian. Ada sih, pengalaman ujian yang pernah diikuti anak pertama dan kedua, yaitu saat mengikuti kelas online untuk mendapatkan ijazah SD.

Saat itu, mereka ada kuis, UTS dan UAS secara online. Walau nervous, namun mereka bisa segera mengatasinya karena suasananya kan mirip dengan pelajaran biasanya.

Kemudian di akhir tahun, barulah mereka harus mengikuti ujian offline. Panik dan deg-degan pasti ada. Berhubung ujian offline itu ada tambahan persiapan fisik juga, kan. Misalnya alat tulis, kostum, lokasi ujian dll.

Namun, setidaknya itu semua mereka jalani setelah belajar bersama selama hampir setahun. Jadi persiapannya lebih lama dibanding UTS yang berlangsung setelah 2 bulan belajar di sekolah ini. Gugupnya masih bercampur dengan banyak hal di lingkungan baru.

Iya, ini kan rumah baru, sekolah baru, teman baru, guru baru, jadwal baru, peraturan baru, kebiasaan baru ... Wajarlah kalau panik berlipat-lipat. Suami sampai mengambil cuti sehari untuk menemani anak-anak belajar menghadapi hari pertama UTS 3 anak kami (Si Keempat masih TK, tak ada ujian).

Lucunya, terdapat beberapa kejadian gegar budaya menjelang ujian yang dialami anak-anak di sekolah baru. Ini dia dua hal di antaranya:


1. Target Terlalu Tinggi


Sabar Ini Ujian

Beberapa hari menjelang jadwal UTS, sontak anak-anak kaget saat para guru kompak bilang, "Kalau kalian dapat nilai di bawah 70, kalian akan tinggal kelas. Harus dapat 100, ya!" Gelegar!

Anak-anak ini terbiasa mendapat target yang logis, artinya memang sesuai kemampuan mereka. Dan kalau kami sudah pasang target segitu, artinya kami percaya mereka bisa dan harus bisa meraihnya. Nah, ketika ada orang asing yang pasang target terlalu tinggi buat mereka, ya syok lah!

Mereka mengira bahwa memang mereka harus benar-benar mendapatkan nilai 100 untuk setiap mata pelajaran. Padahal mereka masih tertatih-tatih mengikuti pelajaran di sekolah. Maka, kami pun memberi pengertian bahwa itu sebenarnya adalah motivasi, bukan tuntutan.

"Coba kamu tanya ke kakak kelas, apakah mereka semua mendapat nilai 100 di seluruh mata pelajaran tahun lalu?"
"Tidak."
"Dan mereka tetap naik kelas, kan? Itu artinya, nilai 100 itu adalah motivasi. Yang penting, kalau ingin naik kelas, ya minimal harus mendapat nilai 70 di setiap pelajaran," jelas Suami.

Bahkan, kalau pun misalnya mereka gagal di satu mata pelajaran, mereka masih bisa meminta kesempatan untuk remedial. Kalau ternyata tidak bisa, tinggal kelas pun tidak mengapa bagi kami, orangtuanya. Kami maklum bahwa mereka masih membutuhkan waktu untuk beradaptasi.

Syukurlah, penjelasan ini mampu membuat pikiran anak-anak jadi lebih rileks, walau tentu tetap saja tegang menghadapi ujian. Toh, kalau pun hasil ujiannya benar-benar buruk, aku sudah menyiapkan artikel bagi mereka untuk bangkit dari kegagalan. Hehehe ...

Baca juga: Ini 11 Cara Bangkit dari Kegagalan.


2. Jadwal Masuk Selama Ujian



Ini murni kesalahan Suami, sih. Beliau salah paham membaca pengumuman jadwal selama ujian. Jadi dikiranya jadwal masuk sekolah selama ujian itu ya sesuai jadwal ujian, yaitu mulai jam 9 pagi.

Tiba-tiba, tepat pukul 7 pagi, terdengar pengeras suara sekolah disiapkan dan kegiatan apel pagi dimulai. Rumah kami memang hanya 4 langkah dari pintu belakang sekolah, makanya terdengar jelas. Tuh, liat saja dari foto di atas. Pintu kuning sekolah berhadapan langsung dengan teras kami.

Kagetlah kami sekeluarga! Syukurlah saat itu anak-anak memang sudah sarapan dan mandi. Materi ujian pun sudah dipelajari, hanya tinggal mengulang. Jadi mereka pun bisa bergegas memakai seragam dan meluncur ke sekolah. Inilah untungnya pindah ke rumah dekat sekolah, ya. Fiuh ...

Baca juga: Pindah Rumah Sebagai Bagian dari Metamorfosis Hidup.

Sebenarnya, masih banyak hal unik lainnya yang kami alami terkait ujian pertama anak-anak ini. Namun, aku cukupkan sekian dulu ya, ceritanya. Biar penasaran. Hahaha ... Mohon doanya agar anak-anak kami bisa menjalani UTS hingga minggu depan dengan lancar dan sukses.

Kalau kamu, punya cerita drama apa saat anak sedang ujian sekolah?

8 komentar

  1. Aamiin ya Allah.
    Lancar jaya ya Mba ujian buat anak anak
    Bunda dan abinya diberikan kemudahan dalam membimbing. Semangat ya adekadekku mengerjakan ujiannya. Jangan lupa berdoa.

    BalasHapus
  2. Terkadang di saat anaknya yg uts ortunya juga ikut2an stress hingga uring2an hehehe

    BalasHapus
  3. Semoga ALLAH lancarkan, beri keberkahan dan semangat untuk putra/i kita semua dalam menggapai ilmu.
    aamiiin aamiiin ya robbal alamiiin
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    BalasHapus
  4. Wah semangat ya buat anak-anak yang tengah mengikuti UTS, atau udah selesai ya mbak?

    BalasHapus
  5. Beralih dari homeschooling ke sekolah biasa pastinya butuh adaptasi ya..mudah2an adek sama kakak bisa melewatinya dengan lancar. Dan alhamdulillah pas ujian tempo hari ga kesiangan ya.. Terselamatkan oleh jarak rmh yg tetanggaan sama sekolah nih judulnya hehe

    BalasHapus
  6. Bener banget, sabar itu memang wajib diterapkan di keluarga, terutama orangtua. Kalau orangtua sabar, anak-anak juga pasti sabar.

    BalasHapus
  7. Beranekaragam karakter siswa juga kutemui di sekolah,mbak. Memang saat jelang ujian sering terjadi drama karena kemauan orang tua gak sesuai dengan hasil si anak. Terkadang target ketinggian dan anak gak bisa mencapai. Lancar-lancar yah mbak untuk si adek ujiannya.

    BalasHapus

Hai, terimakasih sudah berkunjung.
Jejakkan komentarmu di sini ya... ^_^