Ulasan tertunda, nih. Filmnya sudah tayang di bioskop Indonesia Januari lalu, dan sekarang kayanya belum ada di OTT mana pun. Kalau kamu merasa asing sama film ini, wajar aja. Soalnya, dia adalah salah satu film IMAX yang sepi pengunjung. Apa yang terjadi?
Apakah Ini "The Devil Judge" Versi Film?
Aku selalu tertarik dengan tema AI. Enggak cuma karena teknologinya keren, tetapi setiap cerita tentang AI selalu berujung pada satu pertanyaan yang sama yang tetap bikin penasaran: siapa yang sebenarnya memegang kendali? Itulah kenapa begitu tahu ada film Mercy, aku langsung antusias.
Waktu Suami bilang kalau ini tentang pengadilan pakai AI, aku sempat mengira-ngira apakah mirip serial Korea "The Devil Judge" Ternyata, enggak dong. Film ini lebih seperti eksperimen ruang sidang berbasis algoritma.
Sinopsis Singkat
Premisnya sederhana tetapi mengerikan: Seorang detektif, Christopher Raven (diperankan Chris Pratt), dituduh membunuh istrinya dan diberi waktu 90 menit untuk membuktikan dirinya tidak bersalah sebelum eksekusi dilakukan. Hakimnya? Representasi AI yang diperankan oleh Rebecca Ferguson.
Mercy adalah sistem peradilan yang berperan sebagai hakim, jaksa, pengacara, polisi, panitera, sekaligus juri. Ribet enggak, tuh? Mestinya, ya. Namun, Mercy sangat percaya diri dapat melakukan semua tugas itu dengan adil.
Sang detektif diadili Mercy karena bukti-bukti yang dianalisis secara statistik memberatkannya hingga memiliki probabilitas di atas 80% bersalah. Dan, selama ini, lima kasus yang tadinya dilaporkan Chris Raven dan ditangani Mercy selalu berakhir dengan sang terdakwa terbukti bersalah dan dihukum mati.
Jadi, Mercy di sini ternyata berkebalikan maknanya dengan pengampunan. Kini, Chris yang selalu menyokong sistem ini justru harus duduk sebagai terdakwa.
Relevansi dengan Dunia Nyata 2026
Yang membuat Mercy terasa relevan adalah kenyataan bahwa:
- Algoritma sudah digunakan dalam sistem prediksi kriminal di beberapa negara
- AI dipakai untuk analisis bukti digital
- Sistem otomatis mulai memengaruhi keputusan hukum.
Film ini terasa seperti versi ekstrem dari tren yang sudah ada.
Yang Aku Suka dari Film Ini
Film bergerak hampir real-time dalam tekanan waktu 90 menit itu. Ini bikin jalannya cerita terasa imersif. Apalagi kalau menontonnya di studio IMAX.
Juga, film ini menggambarkan AI secara netral. Bukan monster, dan jelas bukan pesuruh. Tidak ada pemberontakan mesin. Ia hanya menjalankan data. Persis AI di dunia nyata.
Tidak banyak aksi fisik berdarah-darah. Lebih banyak pertarungan logika dan penelusuran data digital seperti film "Searching" dan "Missing".
Ya. Segala tuduhan, perdebatan, dan pembuktian dilakukan di hadapan satu layar besar. Setiap kali Chris menyangkal, dia minta menghubungi seseorang dan dibukakan data tertentu, dan Mercy melakukan secara langsung selama durasi peradilan berjalan.
Kenapa Mercy (2026) Banyak Dihujat?
Ini bagian yang paling menarik. Begitu rilis, Mercy langsung mendapat respons yang terpecah. Jika dirangkum dari rating dan diskusi penonton, skor pengguna berada di kategori menengah. Komentar negatif cukup dominan. Kritikus profesional relatif lebih lunak, tetapi tetap menyebut film ini kurang emosional.
Banyak yang menyebut film ini kurang tegang atau terlalu banyak dialog. Untuk genre thriller, terlalu banyak adegan duduk sambil berbicara dengan layar besar tentu kurang sesuai dengan ekspektasi kebanyakan penonton.
Film ini memilih pendekatan minimalis. Tidak banyak ledakan. Tidak banyak adegan dramatis berlebihan. Tidak ada monolog emosional panjang. Film ini seperti eksperimen pemikiran yang divisualisasikan. Bagi penonton umum, itu terasa lambat. Bagi yang suka isu AI, justru cukup memancing pikiran.
Sosok karakter utama juga dianggap kurang menunjukkan kehancuran emosional yang seharusnya muncul dalam situasi antara hidup dan mati. Untuk film tentang tuduhan pembunuhan pasangan sendiri, beberapa penonton merasa dramanya tidak cukup menghantam.
Selain itu, beberapa penonton merasa penyelesaian konflik tidak cukup mengejutkan, bermain aman, bahkan sedikit dipaksakan untuk menjaga etika teknologi. Film memilih jalur realistis daripada spektakuler. Dan, di era film penuh twist ekstrem, pendekatan seperti ini terasa biasa saja.
Ketegangan yang Tidak Meledak
Tegang? Secara konsep, iya. Eksekusinya? Di sinilah debat dimulai.
Buatku, ketegangan di film ini memang dibangun secara berbeda. Bukan lewat adegan kejar-kejaran, musik yang terus naik, atau twist liar. Melainkan dari rasa tidak berdaya.
Bayangkan dirimu berdiri di depan sistem yang tidak bisa tersentuh emosinya. Ini jenis ketegangan yang sunyi, dan justru paling realistis bagiku. Kita tidak setiap hari melihat adegan tembak-tembakan atau kejar-kejaran di dunia nyata. Namun, ketegangan menghadapi sesuatu yang lebih berkuasa dan sulit dinego bisa jadi merupakan beban kita sehari-hari, kan?
Apakah Mercy (2026) Film yang Gagal?
Walau aku setuju dengan segala alasan orang-orang yang tidak suka dengan film ini, tetapi menurutku Mercy (2026) bukan film gagal. Namun, salah sasaran audiens. Padahal, dana produksinya sebanyak 60 juta dolar.
Kalau kamu datang mencari thriller intens ala blockbuster besar, mungkin kecewa. Sebaliknya, kalau kamu datang dengan minat pada etika AI dan sistem otomatis, film ini punya bahan diskusi yang lumayan.
Masalahnya, tidak semua penonton datang untuk berdiskusi. Jadi, buat kamu yang tidak hendak mendiskusikan film ini, boleh langsung loncat ke kesimpulan, ya. Sebab, setelah ini aku mau menyampaikan pendapatku terkait ide dalam film ini.
Objektivitas, Probabilitas, dan Ilusi Kepastian
Film ini sebenarnya bertanya: apakah kita benar-benar ingin sistem hukum yang objektif tanpa empati?
Asumsi terbesar yang diangkat film Mercy (2026) adalah bahwa AI lebih objektif dibanding manusia. Logikanya sederhana: AI tidak punya emosi, sehingga tidak punya bias dan lebih adil.
Salah satu gagasan paling menarik di film ini adalah soal probabilitas. Sistem menentukan bersalah berdasarkan tingkat kepastian statistik. Terdengar ilmiah, akurat, dan meyakinkan. Sayang, angka bukan kebenaran absolut. Sementara, hukum manusia mengenal konsep “keraguan yang masuk akal”.
AI belajar dari data masa lalu. Data masa lalu berasal dari keputusan manusia. Padahal, keputusan manusia penuh bias. Artinya, AI bisa saja hanya mewarisi bias dalam bentuk yang lebih rapi. Dan, yang lebih mengganggu lagi: bias itu jadi sulit terlihat.
AI mengenal angka dan hukum mengenal konteks. Di situlah konflik filosofisnya. Berkali-kali film ini menyebutkan bahwa AI tidak punya guts, yang hanya dimiliki manusia.
Ketika hidup manusia direduksi menjadi persentase, kita mulai masuk wilayah yang tidak lagi nyaman.
Kalau hakim manusia terlihat subjektif, kita bisa mengkritik. Kalau algoritma salah, siapa yang bisa memahami prosesnya?
Efisiensi vs Keadilan
Tema yang cukup kuat tampil dalam film ini adalah tentang obsesi dunia masa depan terhadap efisiensi. Sistem AI digambarkan sebagai solusi atas proses hukum yang lama, korupsi, dan emosi yang mengaburkan fakta.
Semua itu terdengar masuk akal. Siapa yang tidak mau sistem hukum cepat, murah, dan bersih?
Masalahnya, keadilan bukan sekadar soal cepat atau lambat. Proses hukum manusia sering kali lambat karena memberi ruang untuk pembelaan, pembuktian ulang, dan keraguan.
AI dalam Mercy bekerja dengan prinsip optimalisasi. Padahal, keadilan bukan soal optimalisasi. Keadilan adalah soal pertimbangan moral. Dan, itu jauh lebih rumit dari sekadar analisis data. Masalahnya berikutnya, apakah benar-benar efisien? Bahkan parameternya dibuat manusia.
Mercy dan Ketakutan Kolektif terhadap AI
Kenapa film bertema AI banyak menarik perhatian? Sebab, AI menyentuh rasa takut terdalam manusia modern: takut digantikan, takut tidak lagi dibutuhkan, takut dinilai hanya berdasarkan angka.
Di dunia kerja, kita sudah mulai dinilai oleh algoritma. Di media sosial, kita dinilai oleh engagement. Di perbankan, kita dinilai oleh credit scoring.
Mercy hanya membawa konsep itu ke level paling ekstrem: sistem hukum. Dan, mungkin itu sebabnya film ini terasa dekat, meskipun eksekusinya tidak spektakuler. Film seperti ini memang jarang jadi crowd-pleaser.
Apakah Kita Siap Diadili Mesin?
Pertanyaan terakhir yang mengendap setelah menonton film ini bukan soal siapa yang benar atau salah. Namun, apakah kita siap jika keputusan moral diserahkan sepenuhnya pada sistem otomatis?
Teknologi terus bergerak ke arah efisiensi, dan manusia selalu tergoda untuk mempercayai sesuatu yang terlihat objektif. Di masa depan, ketika sistem otomatis makin banyak mengambil alih keputusan besar, kita akan melihat Mercy sebagai refleksi awal dari kegelisahan zaman ini.
Kesimpulan
Mercy (2026) adalah film yang lebih kuat sebagai ide daripada sebagai hiburan. Ia tidak menawarkan twist bombastis, aksi tanpa henti, atau drama berlebihan.
Ia menawarkan pertanyaan: jika suatu hari AI mengatakan kamu bersalah, apakah kamu akan percaya?
Aku menikmati ide yang diangkat film ini, meskipun paham kenapa banyak orang merasa kurang puas. Terkadang, yang paling menakutkan bukan mesin yang marah, melainkan mesin yang terlalu yakin.



Posting Komentar
Posting Komentar