
Sekitar tiga minggu lalu, si bungsu yang baru berumur tiga tahun mendapatkan diagnosis ADHD suspect. Untuk usia segini, sepertinya memang belum bisa serta-merta dipastikan, ya. Sebab, masih tercampur dengan tipikal anak usia tiga tahun yang memang sedang aktif-aktifnya.
Saat mendengar hasil diagnosis ini, aku enggak terlalu kaget, sih. Justru lebih seperti: “Oh … bener dugaanku.” Sejujurnya, aku enggak asing dengan ADHD. Saat berkontribusi dalam antologi tentang ABK, ada tiga penulis di sana yang berbagi cerita tentang anaknya yang ADHD. Juga, di SLB tempat Maryam, anakku yang down syndrome pun, banyak siswa yang ADHD.
Beberapa gejala ADHD yang disebutkan terasa sangat familiar ketika melihat perilaku anakku sejak kecil. Walaupun, aku merasa kondisi si bungsu ini tidak separah anak-anak dalam antologi tersebut. Makanya, butuh dokter anak untuk menegakkan diagnosis tersebut.
Apa Itu ADHD?
ADHD adalah singkatan dari Attention Deficit Hyperactivity Disorder, yaitu kondisi neurologis yang memengaruhi cara otak mengatur perhatian, impuls, dan aktivitas. Secara sederhana, otak orang dengan ADHD bekerja sedikit berbeda dalam mengatur fokus.
Ada tiga tipe utama ADHD:
- Inattentive type (kurang perhatian)
Orang sulit fokus, sering lupa, dan mudah terdistraksi.
- Hyperactive-impulsive type
Sangat aktif, sulit diam, sering bertindak tanpa berpikir panjang.
- Combined type
Kombinasi dari dua tipe di atas.
Gejala ADHD yang Sering Tidak Disadari
Tidak semua ADHD terlihat seperti anak yang tidak bisa duduk diam di kelas. Banyak tanda yang lebih halus, misalnya:
- sering lupa menaruh barang
- sulit menyelesaikan tugas panjang
- gampang terdistraksi
- sering menunda pekerjaan
- sulit mengatur waktu
- merasa otak selalu ramai

Energinya Seolah Tidak Pernah Habis
Sejak masih sangat kecil, ada satu hal yang selalu menonjol: energinya seperti tanpa batas. Bangun tidur langsung bergerak. Berjalan, berlari, memanjat, membuka sesuatu, mencoba sesuatu. Terkadang, baru semenit bermain balok, tiba-tiba sudah membuka buku. Belum selesai membaca buku, sudah memanjat kursi. Lalu, tiba-tiba mengambil mobil-mobilan.
Di PAUD, dia lebih sering bermain di luar. Selain untuk menyelamatkan teman-teman, juga karena dia tidak tahan duduk lama di dalam kelas.
Aku sering bercanda bahwa anak ini seperti memiliki baterai yang tidak pernah habis.
Awalnya, aku menganggap itu hal yang wajar. Namanya anak-anak, ya memang aktif. Namun, semakin lama, semakin terasa bahwa tingkat aktivitasnya berada di level yang berbeda. Dia mulai suka tantrum, tiba-tiba menangis tanpa alasan, merusak barang, mengganggu teman, dan bergerak semaunya tidak mau ditahan.
Hiperfokus
Dalam beberapa momen, aku bahkan sering melihat anakku memperhatikan sesuatu dengan sangat intens, meskipun hanya sebentar. Di situ terlihat jelas bahwa sebenarnya kemampuan fokus itu ada, hanya saja muncul pada hal-hal yang benar-benar menarik bagi mereka.
Fenomena ini sering disebut hiperfokus. Ironisnya, anak dengan ADHD bisa sangat fokus pada sesuatu yang menarik, tetapi sangat sulit fokus pada hal yang dianggap biasa.
ADHD dan Perkembangan Bicara
Awalnya, kami membawa si bungsu ke dokter anak karena terlambat berbicara. Pada beberapa anak, ADHD juga bisa berkaitan dengan keterlambatan dalam perkembangan bahasa. Bukan karena anak tidak mampu belajar bicara, tetapi fokus mereka sering berpindah dengan sangat cepat.
Belajar bahasa membutuhkan sesuatu yang cukup sulit bagi anak ADHD: perhatian yang stabil dalam waktu tertentu. Misalnya ketika mendengar orang berbicara, meniru kata, memperhatikan gerakan mulut, serta memahami hubungan antara kata dan objek.
Jika perhatian anak sering berpindah-pindah, proses ini kadang berlangsung lebih lambat. Namun, keterlambatan bicara tidak selalu berarti masalah jangka panjang.
Intuisi Orang Tua Kadang Benar
Sebagai orang tua, sering kali kita punya semacam intuisi. Tidak berarti langsung tahu diagnosis medis, tetapi ada perasaan bahwa anak kita berbeda dari kebanyakan anak lain. Misalnya ketika anak sulit sekali duduk tenang, bahkan sebentar. Fokus hanya bertahan sangat singkat, berpindah aktivitas dengan sangat cepat, dan selalu ingin bergerak.
Sebenarnya masih bisa masuk kategori normal untuk anak kecil. Namun, ketika semuanya muncul sekaligus dan sangat intens, kita mulai bertanya-tanya. Dan, dalam kasusku, pertanyaan itu akhirnya membawa kami ke konsultasi.
ADHD Bukan Hal Baru
Walaupun sekarang sering dibicarakan di media sosial, ADHD sebenarnya sudah dikenal lama. Istilah medisnya mulai digunakan sekitar tahun 1980-an, tetapi gejalanya sudah dideskripsikan jauh sebelumnya.
Yang berubah adalah kesadaran masyarakat. Dulu, banyak orang dengan ADHD hanya dianggap nakal, malas, tidak disiplin, atau terlalu aktif. Padahal, mereka hanya memiliki cara kerja otak yang berbeda.
Diagnosis Bukan Label Negatif
Ketika dokter akhirnya menyebut ADHD, aku tidak melihatnya sebagai label buruk. Justru sebaliknya. Diagnosis membantu memberi penjelasan. Sebelumnya, perilaku anak hanya terlihat sebagai terlalu aktif. Sekarang, ada kerangka yang lebih jelas untuk memahaminya.
ADHD bukan soal anak nakal atau kurang disiplin. Otak mereka memang bekerja dengan cara yang berbeda. Semakin aku membaca tentang ADHD, semakin masuk akal rasanya.
Dunia bagi mereka terlalu ramai. Bayangkan jika otak kita menerima terlalu banyak stimulus sekaligus. Suara, gerakan, mainan, dan orang. Semua terasa menarik di waktu yang sama. Tidak heran kalau sulit fokus pada satu hal saja, terutama jika ternyata tidak cukup menstimulasi bagi mereka.

Belajar Mengatur Lingkungan
Selain menjalani terapi okupasi dan wicara, kami mempelajari bagaimana lingkungan sangat memengaruhi anak dengan ADHD. Lingkungan yang terlalu ramai atau terlalu banyak stimulus bisa membuat anak semakin sulit fokus. Karenanya, kami juga membatasi pemakaian gawai elektronik.
Sebaliknya, lingkungan yang lebih terstruktur biasanya membantu mereka lebih tenang. Hal-hal kecil seperti rutinitas harian yang konsisten, waktu tidur yang cukup, aktivitas fisik yang cukup, dan instruksi yang sederhana ternyata bisa sangat membantu.
Kami juga membatasi konsumsi cokelat, gula, dan gluten agar otaknya lebih tenang.
Anak ADHD adalah energi yang sangat besar. Jika energi ini tidak disalurkan, biasanya anak menjadi semakin gelisah. Karena itu, aktivitas fisik menjadi sangat penting. Berlari, melompat, bermain di luar, atau memanjat.
Energi yang Besar, Tantangan yang Besar
Tentu saja ada tantangan. Hal-hal sederhana seperti makan dengan tenang, duduk sebentar, atau mengikuti instruksi, kadang membutuhkan usaha lebih besar.
Namun, di sisi lain, anak-anak seperti ini juga sering memiliki sesuatu yang luar biasa. Energi mereka besar. Rasa ingin tahu mereka tinggi. Dan, mereka biasanya sangat eksploratif. Sering kali mereka belajar dengan cara mencoba langsung, bukan hanya mendengar instruksi.
Menghadapi Komentar Orang Lain
Salah satu tantangan yang mungkin dialami banyak orang tua dengan anak ADHD adalah komentar dari orang sekitar. Kadang komentar itu tidak jahat, hanya kurang memahami. Misalnya: “Kurang disiplin mungkin.”
Tidak semua orang perlu memahami kondisi anakku secara detail. Kadang, cukup bagi kami sebagai orang tua untuk memahami anak kami sendiri.

ADHD Bukan Akhir Cerita
Ketika orang mendengar kata ADHD, kadang muncul kekhawatiran tentang masa depan anak. Kenyataannya, masa depan anak tidak ditentukan oleh satu diagnosis. Banyak faktor lain yang jauh lebih penting, seperti lingkungan keluarga, dukungan orang tua, pendidikan, dan kesempatan berkembang.
Banyak inovator, pengusaha, dan kreator sukses di dunia diketahui memiliki ADHD. Beberapa bahkan mengatakan bahwa cara berpikir yang cepat dan tidak konvensional kadang justru menjadi kelebihan. Beberapa contoh yang sering disebut, antara lain: Richard Branson (pendiri Virgin Group), Michael Phelps (perenang Olimpiade), dan Simone Biles (atlet senam).
ADHD mungkin menjadi bagian dari perjalanan hidup anakku, tetapi itu bukan satu-satunya hal yang menentukan siapa dia nanti.
Menikmati Perjalanan
Pada akhirnya, anakku tetap anak yang sama seperti sebelumnya. Masih anak kecil yang suka tertawa, penasaran dengan dunia, dan penuh energi. Diagnosis ADHD tidak mengubah siapa dirinya. Yang berubah hanya cara kami memahaminya.
Mungkin, itu justru hal terpenting. Memahami anak dengan lebih baik sering kali menjadi langkah pertama untuk membantu mereka tumbuh dengan cara terbaik.




Posting Komentar
Posting Komentar