Ada satu candaan yang sepertinya mustahil hilang dari Indonesia setiap menjelang Iduladha.
“Kurban apa tahun ini?”
Lalu seseorang biasanya menjawab dengan wajah paling tenang, “Korban perasaan.”
Anehnya, meskipun candaan itu diulang setiap tahun, tetap saja ada yang tertawa. Minimal senyum kecil sambil geleng-geleng kepala. Seolah Iduladha memang punya tradisi tidak tertulis: selain takbir dan sate, juga ada humor receh yang diwariskan turun-temurun.
Namun, kalau dipikir-pikir, candaan itu sebenarnya tidak sepenuhnya salah. Sebab, Iduladha memang sangat dekat dengan urusan hati dan perasaan. Tentang ikhlas, merelakan, dan belajar melepaskan sesuatu yang dicintai demi sesuatu yang lebih besar.
Allah ﷻ berfirman:
Maka ketika anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Ia (Ismail) menjawab: ‘Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.’ (QS. Ash-Shaffat: 102)
Setiap membaca ayat itu, aku selalu merasa kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail bukan sekadar cerita tentang penyembelihan kurban. Ada pelajaran besar tentang ketaatan dan keikhlasan yang sangat sulit dicapai manusia.
Manusia pada dasarnya suka mempertahankan apa yang dicintainya. Kita berat kehilangan, merelakan, juga mengalah.
Semakin dewasa, aku jadi sadar bahwa ujian manusia memang berbeda-beda. Ada yang diuji dengan harta, ambisi, keluarga, maupun ego sendiri. Ya, kadang yang paling sulit dikorbankan bukan kambing atau sapi, melainkan gengsi.
Di zaman sekarang, manusia sering terlalu sibuk menjaga citra. Semua ingin terlihat sukses, kuat, dan bahagia. Media sosial membuat kita takut terlihat gagal. Padahal, kenyataannya, hampir semua orang sedang berjuang dengan hidupnya masing-masing.
Ada yang diam-diam lelah, kecewa tetapi tetap tersenyum, atau sedang banyak masalah tetapi tetap membantu orang lain.
Iduladha datang setiap tahun seperti pengingat bahwa hidup tidak hanya tentang meraih dan menggenggam, tetapi juga tentang melepaskan.
Allah ﷻ berfirman:
Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian. (QS. Al-Hajj: 37)
Ayat ini sangat dalam maknanya. Ternyata, inti kurban bukan sekadar hewannya. Bukan soal siapa yang sapinya paling besar atau kambingnya paling mahal. Yang dinilai Allah adalah ketakwaan dan keikhlasan hati manusia.
Mungkin karena itu Iduladha selalu terasa hangat dengan cara berbeda. Jika kebanyakan warga Indonesia mudik saat Idulfitri, sebaliknya tetap di tempat tinggal mereka kala Iduladha. Mungkin karena jatah libur yang lebih sedikit, atau memang meluangkan waktu untuk merayakan hari besar bersama tetangga.
Pagi harinya punya suasana yang khas. Udara dingin bercampur gema takbir, anak-anak melihat kambing dengan penuh rasa penasaran, bapak-bapak sibuk mempersiapkan penyembelihan, dan ibu-ibu mulai menyiapkan bumbu masakan di rumah.
Lalu, setelah salat Id, warga mulai berkumpul. Yang biasanya sibuk kerja mendadak gotong royong bersama. Yang jarang menyapa tetangga tiba-tiba duduk membungkus daging bareng. Semua terasa lebih dekat.
Di situlah salah satu keindahan Idul Adha. Ia mengingatkan manusia bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari menerima sesuatu. Kadang justru hadir saat kita bisa memberi.
Rasulullah ﷺ bersabda:
Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. (HR. Bukhari dan Muslim)
Memberi memang tidak selalu mudah. Anehnya, hati manusia sering justru lebih tenang setelah berbagi. Bisa jadi karena fitrah manusia sebenarnya bukan hanya ingin memiliki, tetapi juga ingin bermanfaat.
Semakin ke sini, aku juga merasa Iduladha mengajarkan bahwa pengorbanan terbesar sering kali tidak terlihat.
Ada orang yang tahun ini belum mampu membeli hewan kurban, tetapi sedang berjuang keras memperbaiki dirinya. Ada yang sedang belajar menahan amarah. Ada yang sedang belajar sabar untuk tidak mengungkit-ungkit jasa. Ada yang sedang mencoba memaafkan. Perjuangan seperti itu kadang jauh lebih berat daripada yang tampak di luar.
Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kalian dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian. (HR. Muslim)
Karena itu, mungkin candaan “korban perasaan” sebenarnya bisa menjadi pengingat juga. Bahwa Iduladha tidak hanya tentang penyembelihan hewan, tetapi juga tentang menyembelih sifat buruk dalam diri sendiri.
Menyembelih kesombongan, iri hati, ego, dan rasa ingin selalu menang sendiri. Lapang dada menerima semua takdir dan keterbatasan diri, mengikhlaskan harapan yang belum terkabul, atau kehilangan sesuatu yang sangat dicintai.
Semoga Iduladha tahun ini tidak hanya membuat freezer penuh daging, tetapi juga membuat hati lebih bersih dan lebih dekat kepada Allah.
Kalau nanti ada yang bertanya lagi, “Kurban apa tahun ini?”, mungkin kita masih akan tertawa dan menjawab, “Korban perasaan.”
Namun, semoga diam-diam, kita juga benar-benar sedang belajar menjadi manusia yang lebih ikhlas merelakan apapun di dunia ini demi menambah ketaatan kepada Allah subhanahu wa taala.




Posting Komentar
Posting Komentar