![]() |
| Berlayar di atas perahu Telaga Menjer |
Ada perjalanan yang direncanakan jauh-jauh hari, lalu berlalu begitu saja. Ada juga perjalanan yang akhirnya menjadi kenangan karena hal-hal kecil yang tidak pernah kita duga. Bagi keluarga kami, liburan ke Dieng termasuk kategori kedua.
Dieng pernah menjadi tempat yang membuatku trauma. Bagi pembaca lama blogku ini, mungkin ingat bahwa di tahun 2018 aku pernah menuliskan pengalaman itu. Aku bercerita bagaimana kunjungan ke Dieng saat masih TK membuatku hanya sibuk menggigil hingga nyaris tidak sempat menikmati keindahan alamnya.
Butuh waktu lebih dari 30 tahun sampai akhirnya aku benar-benar berani kembali dan mengganti rasa takut itu dengan rasa penasaran.
Syukurlah, kesempatan akhirnya datang. Meskipun baca-baca berita sebulan sebelumnya Dieng sempat bersalju di pagi hari, tidak menyurutkan keinginanku. Kali ini, bukan lagi dengan orang tua, melainkan bersama suami dan anak-anak.
Si Keempat pengin banget ke Dieng. Dia sudah mengusulkan sebagai tujuan wisata perpisahan SD, tetapi ternyata batal. Jauh sebelumnya, Si Kedua sudah pernah mengajak juga ke sini, dan Si Ketiga sedang ingin menghela napas lega karena urusan sekolah lama beres dan beberapa hari lagi sudah mulai MPLS di sekolah baru.
Segala desakan berkepanjangan ini akhirnya membulatkan tekad kami ke Dieng.
Perjalanan Darat nan Menantang
![]() |
| Pemandangan sepanjang menuju Dieng |
Anak-anak sibuk memilih destinasi wisata Dieng mana saja yang akan kami kunjungi, Suami repot berburu penginapan di akhir pekan terakhir musim liburan. Sedangkan aku sendiri justru paling menunggu perjalanan daratnya.
Duduk di dalam mobil, menikmati perubahan pemandangan dari kota menuju dataran tinggi, lalu mengobrol tanpa terburu-buru adalah kemewahan yang semakin sulit kami dapatkan. Di tengah rutinitas dan jadwal tiap anggota keluarga yang berbeda, bertabrakan, dan sering sulit diajak duduk bersama.
Dari balik jendela, sesekali aku mengangkat kamera untuk mengabadikan keindahan alam, lalu membuka ponsel untuk mengecek rute dan membalas beberapa pesan.
Ya, rute yang kami dapatkan hasil rekomendasi Gmap sungguh menantang. Jalan sempit, penuh liku, tanjakan dan turunan curam, serta guncangan. Rute tercepat yang tidak umum. Sebab, jalur yang biasa dilewati para pelancong sudah macet sejak jam 8 pagi.
Bagaimana lagi nasib kami yang baru berangkat jam 11? Jalur yang kami lalui tiap menit bukannya makin pendek, malah terus bertambah durasinya. Bukan tersesat, melainkan tanda bahwa kemacetan masih sulit diurai.
Gejala Mata Kering Saat ke Dieng
Mata Mulai Terasa SEpet
![]() |
| Tips Mata Nyaman Saat Liburan |
Mata merupakan aset berharga bagi penulis. Sebenarnya, aku sudah berusaha menyiapkan berbagai keperluan, termasuk untuk tetap menjaga kenyamanan mata dengan lima tips di atas. Salah satunya dengan membawa selalu #InstoDryEyes kemasan baru agar #BebasMataKering.
Namun, keindahan bentang alam yang kami lalui terlalu sayang untuk tidak diabadikan. Kupikir, toh, yang kuamati ini pemandangan serba hijau-biru nun jauh di sana yang katanya bagus untuk menyegarkan mata.
Apa daya, perjalanan menuju Dieng yang seharusnya cuma dua jam jadi molor beberapa jam. Selain karena macet, juga terpotong untuk makan dan salat.
Aktivitas intensif mata yang bolak-balik memotret, menyorot untuk video, membaca pesan, dan mengecek peta membuat penglihatanku mulai meronta.
Awalnya, hanya terasa sedikit tidak nyaman. Mata mulai terasa sepet. Sulit membuka mata karena terasa lengket, mengganjal, buram dan sensitif dengan cahaya yang biasa sekali pun. Mata SEpet ini disebabkan oleh tidak mampunya mata membersihkan kotoran, akibat mata kering alias kekurangan air mata.
Kukira, mungkin karena kurang tidur malam sebelumnya. Aku memilih menunda memakai Insto Dry Eyes karena khawatir kehilangan jepretan terbaik. Belakangan, aku terlambat sadar bahwa pilihan tersebut salah karena ternyata gejalanya tidak berhenti di situ.
Tak Sanggup Mengejar Sunset Karena Mata PErih
![]() |
| Dieng Plateau |
Sesampainya di penginapan, udara sejuk langsung menyambut kami. Ternyata, suami mendapat vila di area Dieng Plateau.
Langit Dieng yang cerah, kabut tipis yang bergerak perlahan, tawa anak-anak, hingga secangkir kopi hangat di udara pegunungan adalah kenangan yang ingin kunikmati sepenuhnya. Kami bahkan bisa menyaksikan Telaga Warna hanya dengan membuka jendela kamar.
![]() |
| Telaga Warna tampak dari jendela kamar vila |
Dieng Plateau merupakan lokasi yang sangat ideal untuk menyaksikan matahari tenggelam. Itu sebabnya, begitu mendekati waktunya, anak-anak langsung berlari lebih dulu menuju gardu pandang yang hanya berjarak dua menit berjalan kaki.
Aku biasanya memang paling sibuk memotret untuk mengumpulkan bahan sebagai tulisan di blog dan media sosial. Sayang, kali ini aku justru lebih sering memejamkan mata beberapa detik dibanding mengarahkan kamera. Rasa PErih membuatku beberapa kali berhenti mengambil foto. Mata terasa seperti terbakar
Padahal, momen seperti ini tidak bisa diulang begitu saja. Anak-anak dan suami yang telanjur mempercayakan dokumentasi ke aku terpaksa kecewa. Kami jadi tidak punya foto maupun video saat matahari tenggelam di Dieng.
Tetap Bekerja Saat Liburan Bikin Mata LElah
![]() |
| Tetap bekerja saat liburan |
Walau sedang berlibur, kesibukanku sebagai penulis tidak benar-benar libur. Aku masih membuka laptop untuk menyelesaikan novel yang sudah mendekati tenggat, menulis artikel baru, mengurus media sosial, juga mengedit foto dan video.
Di ujung malam, rasa LElah pada mata semakin terasa. Pandangan memang tidak buram, tetapi mata terasa berat, seperti ingin terus berkedip untuk mencari kenyamanan.
Sambil menutup laptop, aku mulai berpikir.
Tadinya, kukira tantangan terbesar di Dieng tetap sama seperti yang kuingat puluhan tahun lalu: udara pegunungannya yang dingin. Ternyata, kali ini yang hampir mengurangi nikmatnya liburan justru mata SEpet, PErih, LElah.
Aku baru sadar sedang mengalami gejala mata kering. Gejala SePeLe yang awalnya kuanggap sepele itu perlahan membuatku tidak bisa menikmati setiap momen bersama keluarga secara maksimal.
Penyebab Mata Sepet, Perih, dan Lelah
![]() |
| Penyebab mata kering saat perjalanan |
Perjalanan panjang menuju Dieng membuat mataku terasa kurang nyaman. Di dataran tinggi seperti Dieng, kelembapan udara pada waktu tertentu bisa lebih rendah dibanding daerah lain. Hal ini dapat mempercepat penguapan lapisan air mata.
Padahal, aku harus duduk lama di dalam mobil dengan AC yang terus menyala untuk mengimbangi dinginnya udara luar. Tahu sendiri kan, bahwa AC ini sering menjadi faktor terbesar penyebab udara di dalam kabin lebih kering.
Kendati sempat keluar mobil untuk makan dan salat, terpaan angin pengunungan yang cukup kencang juga bisa membuat air mata lebih cepat menguap. Sehingga, mata terasa sepet, perlahan menjadi perih, dan akhirnya cepat lelah.
Belum lagi soal sinar UV matahari. Sinar matahari di dataran tinggi relatif lebih kuat sehingga dapat menambah rasa tidak nyaman pada mata jika terpapar lama.
Ditambah kebiasaan bergantian melihat pemandangan, layar ponsel, dan TV mobil. Ketiganya mebuat frekuensi berkedip berkurang karena memaksa mata terus berfokus.
Mata Kering Jangan Disepelein!
![]() |
| Gejala mata kering SePeLe alias Mata SEpet, PErih, LElah |
Sebenarnya, selama ini aku cukup waspada soal gejala mata kering. Makanya, aku sudah mengenal Insto Dry Eyes sejak lama untuk mengatasinya. Produk ini mudah sekali ditemukan di minimarket.
Pasalnya, aku memang orang yang sering bekerja di depan laptop selama berjam-jam. Di rumah pun aktivitas menulis artikel, novel, dan skenario membuat waktu menatap layar jauh lebih banyak dibandingkan mengistirahatkan mata.
Kali ini, ditambah perjalanan panjang menggunakan mobil dengan AC yang terus menyala, ternyata kondisi tersebut membuat mata semakin mudah kehilangan kelembapannya.
Penundaan penanganan yang awalnya kuanggap kecil, ternyata cukup mengganggu momen yang sudah lama kami tunggu. Saat itulah aku benar-benar memahami bahwa "Mata SePeLe Jangan Disepelein". Gejalanya mungkin terlihat ringan, tetapi bisa mengurangi kualitas pengalaman pada momen yang paling berharga.
4 dari 10 orang pernah mengalami mata kering. Namun, 50% di antaranya tidak menyadari kondisi mata kering tersebut. Antusiasme berlibur ke Dieng membuatku termasuk di dalamnya, meskipun selalu sedia solusinya sepanjang perjalanan.
Tidak bisa ditawar lagi, jika masih ingin liburan keesokan harinya masih terselamatkan. Malam itu, aku langsung tetesin Insto Dry Eyes untuk setiap mata sesuai anjuran.
Mata terasa jauh lebih nyaman. Sensasi kering dan perih yang sebelumnya cukup mengganggu mulai berkurang sehingga aku bisa beristirahat dengan nyaman dan berharap besok kembali menikmati perjalanan bersama keluarga.
Mengejar Sunrise Tanpa Mata SEpet, PErih, LElah
![]() |
| Sunrise di Watu Angkruk Dieng |
Sebenarnya, Dieng Plateau merupakan titik yang bisa dimanfaatkan untuk melihat matahari terbit maupun tenggelam. Namun, untuk menyaksikan keindahan matahari terbit, kami ingin mendapatkan di tempat favorit para pelancong, yaitu Bukit Sikunir.
Jam 4 pagi, kami sudah memacu mobil turun menuju lokasi. Di tengah perjalanan, kami melintasi Watu Angkruk yang cukup menggiurkan.
"Paling bagus di Sikunir, kan? Udah, kita ke sana aja," cetus suami.
Meskipun khawatir di sana akan sangat ramai, kami menurut.
Benar saja. Kami kesulitan memarkir mobil, bahkan sekadar berhenti untuk bisa salat subuh. Dipicu keinginan mengejar waktu salat, kami pun berbalik kembali ke Watu Angkruk.
Alhamdulillah, masih kebagian lahan parkir. Kami salat di sana dan bisa beristirahat sejenak sambil menunggu matahari muncul dari balik horizon.
Ternyata, pilihan kami tidak salah. Semburat warna di langit Watu Angkruk terus bergradasi dari gelap, ungu, merah muda, jingga, kuning, hingga perlahan membiru mencerahkan langit. Diselingi tumpukan awan dan kabut yang ditembus ujung-ujung bukit. Cantik sekali. Semua bisa kunikmati tanpa keluhan mata SEpet, PErih, LElah.
![]() |
| Aneka spot foto Watu Angkruk |
Kita sebenarnya bisa menikmati pemandangan indah matahari terbit ini di sepanjang jalan sebelum dan sesudah di luar area Watu Angkruk. Gratis. Tinggal memarkir kendaraan, disarankan sepeda motor agar tidak mengganggu lalu-lintas.
Namun, ada banyak kelebihan jika menikmatinya di dalam area Watu Angkruk. Selain fasilitas musala dan kita, di sini ada garda dengan desain unik dan estetik yang ada di berbagai titik dan ketinggian didukung pencahayaan yang bagus untuk selfie.
Seiring cahaya mentari yang semakin menerangi lokasi ini, aku jadi tahu bahwa ternyata Watu Angkruk ini diisi banyak spot foto di antara taman-taman yang menakjubkan mata. Enggak ada cerita kehabisan tempat deh, kalau mau berpose dengan latar matahari terbit di sini.
Sulit mencapai kata puas menghabiskan waktu di Watu Angkruk. Rasanya, aku dan putriku masih betah di sini bahkan sampai waktu sarapan berlalu. Kami rela hanya makan mi instan dan menyesap kopi, asal bisa berlama-lama menikmati hangatnya sinar surya di balik tebalnya awan.
Sayang, para lelaki berpikir sebaliknya. Mereka ingin sarapan yang memadai. Sehingga, kami harus kembali menyusuri jalan menuju vila dan mampir di sebuah warung.
Menikmati Flying Fox dan Jeep Adventure
![]() |
| Flying fox di area Batu Ratapan Angin |
Setelah mandi dan bersantai sejenak di vila, kami memutuskan berkemas dan melanjutkan liburan sambil menuju jalan pulang. Pertama, kami ke area Batu Ratapan Angin. Papan iklan aktivitas flying fox di parkiran membuat anak-anak ingin mencoba.
Setelah menikmati pemandangan sambil meluncur santai di bawah tali, sang pemandu menanyakan tujuan kami selanjutnya. Mengetahui kami ingin naik ke Batu Ratapan Angin untuk melihat pemandangan Telaga Warna, dia menyarankan kami menikmati melalui Jeep Adventure.
![]() |
| Jeep Adventure Dieng |
Sebab, dari lokasi saat itu, kami harus berjalan kaki menanjak selama 15 menit untuk sampai di Batu Ratapan Angin. Sementara, dengan Jeep Adventure, kami akan diantar melalui jalur ke Dieng Park dan bisa menikmati pemandangan Telaga Warna di situ tanpa terlalu bersusah payah. Bonusnya, masih akan mampir di Tuk Bimalukar dan Candi Bima.
![]() |
| Gerbang Dieng Park |
Sebagai Pasukan Ogah Capek, kami setuju melakukan Jeep Adventure yang memang biasa mewarnai acara-acara liburan kami. Jalur Dieng Park memang tidak bisa dilewati mobil biasa. Dalam beberapa menit, kami sudah sampai di tempat yang membuat kami terkesiap.
Telaga Warna
![]() |
| Telaga Warna |
Dari ketinggian, Telaga Warna tampak seperti lukisan hidup yang terus diciptakan. Warna-warnanya berubah mengikuti cahaya yang datang. Sesaat ia berkilau hijau zamrud, lalu perlahan berubah menjadi biru kehijauan, sebelum akhirnya memantulkan semburat keemasan yang menari pelan di permukaan.
Airnya tidak sekadar memantulkan langit, tetapi seolah menyimpan seluruh warna yang jatuh dari awan, pepohonan, dan cahaya matahari hingga batas antara bumi dan langit terasa menghilang.
Angin yang melintas hanya menggoreskan riak-riak kecil, seakan enggan mengganggu ketenangan yang telah dijaga telaga itu selama berabad-abad.
Kabut tipis sesekali melintas, membuat telaga itu tampak seperti menyimpan rahasia yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang datang dan benar-benar menikmati setiap detiknya.
Berdiri di hadapan Telaga Warna membuatku mengerti mengapa begitu banyak orang rela menempuh perjalanan jauh menuju Dieng. Keindahannya bukan jenis keindahan yang membuat orang berseru kagum, melainkan yang perlahan membungkam percakapan. Mata ingin terus memandang, sementara hati sibuk mengumpulkan rasa syukur.
Aku sempat lupa mengangkat kamera. Pemandangan di hadapanku terlalu indah untuk sekadar dibingkai dalam foto atau video. Aku bingung mengarahkan lensa dari posisi mana yang terbaik untuk menangkap semua.
Tidak ada jawaban yang terasa benar. Hanya satu tekad untuk suatu saat kembali ke sini, menghayati lagi keelokannya secara langsung, dengan usapan cahaya yang mungkin saja berbeda tetapi tetap punya cerita.
Tuk Bima Lukar
![]() |
| Mata air Bima Lukar |
Pemandu mengarahkan kami melanjutkan perjalanan ke Tuk Bimalukar. Mata air ini erat kaitannya dengan kebiasaan rambut gimbal yang identik dengan warga Dieng. Saat mereka mengurai rambut gimbalnya, mereka memulai dengan mandi di sini.
Walaupun tidak berambut gimbal, tetap saja kami menyempatkan diri merasakan kesejukan airnya yang tentu bagus untuk kesehatan karena pH-nya di atas 8,5.
Candi Bima
![]() |
| Candi Bima Dieng |
Tidak jauh dari sana, kami singgah di Candi Bima, candi Hindu terbesar di kompleks Candi Arjuna yang sudah tidak digunakan. Di depan lokasi candi, kami sempat menikmati aneka jajanan pasar seperti cenil, surabi, bandros, dan tidak lupa membeli manisan carica sebagai oleh-oleh.
Telaga Menjer
![]() |
| Telaga Menjer tampak dari atas di lokasi Kahyangan Skyline |
Usai berpetualang dengan jeep, kami menggunakan mobil pribadi untuk pulang dengan mampir dulu ke Telaga Menjer.
Tadinya, kami mau makan siang di Nagari Resto di Kahyangan Skyline. Namun, ternyata di sana waktu antrenya dua jam! Jadi, kami memilih makan di Kahyangan Kafe. Toh, di sini pun kami masih mendapat pemandangan Telaga Menjer dari atas seperti foto barusan. Indah, kan?
![]() |
| Perahu Telaga Menjer |
Setelah kenyang, kami turun ke Telaga Menjer untuk menyewa perahu sekeluarga. Kami dipilihkan perahu berinterior termanis yang memiliki anjungan dengan banyak bangku panjang dan teras luas berumput sintetis di depannya. Kami diantar berlayar dengan tenang mengelilingi telaga nan luas ini.
Masalah SePeLe Teratasi dengan Tetesin Insto Dry Eyes
| Mata Kering Jangan Disepelein. Tetesin Insto Dry Eyes! |
Puas berlayar di Telaga Menjer, kami pulang membawa pelajaran dan kebahagiaan melalui jalur Temanggung sesuai anjuran pemandu Jeep Adventure.
Benar saja. jalan di sini lebih mulus dengan pemandangan kebun teh di kanan-kiri. Lebih cepat dan nyaman walau terkadang masih berliku dan naik-turun.
Liburan hari kedua di Dieng jelas lebih panjang daripada hari pertama. Kami bahkan memulainya sebelum subuh. Namun, kami menjalaninya dengan lebih bermakna dan gembira walaupun masih di tengah terpaan udara dingin dan sengatan matahari Dieng.
Sebab, pengalaman di Dieng mengajarkanku bahwa menjaga kesehatan mata tidak kalah penting dibanding menyiapkan kamera, pakaian hangat, atau daftar acara dan destinasi.
Cara Mengatasi Mata Kering Saat Liburan
Di hari kedua, aku mencoba kembali disiplin melakukan beberapa kebiasaan sederhana berikut.
- Mengistirahatkan mata secara berkala, terutama setelah lama menyetir atau menatap layar.
- Mengurangi penggunaan ponsel ketika sedang menikmati perjalanan.
- Memastikan tubuh tetap terhidrasi dengan minum air putih yang cukup.
- Berkedip lebih sering ketika berada di ruangan ber-AC atau saat berkendara.
- Membawa Insto Dry Eyes sebagai bagian dari perlengkapan perjalanan untuk membantu meredakan gejala mata kering.
- Memakai Insto Dry Eyes sejak pertama gejala mata kering muncul
Mengingat Kembali Alasanku Membawa Insto Dry Eyes ke Dieng
Ketika melihat kembali semua foto dan video perjalanan ke Dieng, aku menyadari bahwa kebahagiaan keluarga sering kali dibangun dari momen-momen sederhana.
Berjalan bersama di udara pegunungan. Menikmati matahari pagi. Mengobrol tanpa terburu-buru. Mengabadikan senyum orang-orang yang kita sayangi.
Semuanya akan terasa lebih berarti ketika kita benar-benar bisa menikmatinya tanpa terganggu oleh mata yang kering, sepet, perih, atau lelah. Karena itu, sekarang aku tidak lagi menganggap enteng gejala kecil tersebut dan menunda mengatasinya.
Setiap kebahagiaan layak untuk dilalui dengan nyaman. Dengan Insto Dry Eyes, semoga tidak ada lagi momen indah bersama keluarga yang hilang.







.png)








.png)




Posting Komentar
Posting Komentar