header permata pengalamanku

Sejiwa dengan Ekonomi Sirkular Indonesia

26 komentar
Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat
Pengelolaan sampah berbasis masyarakat dimulai dari rumah

Pernahkan kamu mendengar nama Ekonomi Sirkular Indonesia? Di mana? Sudahkah kamu menjadi bagiannya?

Beberapa bulan lalu, saya sedang membersihkan rumah bersama anak. Seperti biasa, kami memisahkan kardus bekas belanja daring, botol plastik, kertas bekas, dan sisa makanan. Saat kantong sampah sudah penuh, anak saya tiba-tiba bertanya, "Kalau sampah ini dibuang, nanti pergi ke mana?"

Saya terdiam. Jawaban paling mudah tentu saja, "Ke tempat sampah."

Tetapi, setelah itu? Ke TPA? Dibakar? Dikubur? Atau, justru hanyut ke sungai lalu berakhir di laut?

Sampah Tidak Pernah Benar-Benar Hilang

Sebagai orang yang sering bekerja dari rumah, saya melihat sendiri betapa banyak sampah yang dihasilkan setiap hari. Kardus paket, botol minuman, plastik makanan, kertas bekas mencetak naskah, kaleng, sampai sisa sayuran dari dapur.

Semuanya terlihat kecil kalau dihitung satu per satu. Namun, bayangkan jika jutaan rumah menghasilkan jumlah yang sama setiap hari. Tiba-tiba, saya merasa persoalan pengelolaan sampah bukan lagi urusan pemerintah semata. Ini juga urusan saya.

Tadinya, hampir saja saya menjawab anak bahwa cukup dengan membuang sampah ke tempat yang benar, maka masalah selesai. Namun, ingatan dan pengalaman saya mengatakan tidak sesederhana itu.

Barang Tidak Selalu Berakhir Menjadi Sampah

Kalau ada yang bertanya kapan saya mulai peduli pada lingkungan, saya mungkin akan menjawab, "belum lama." Namun, ketika teringat arsip blog ini, saya tersenyum sendiri. Bukannya blog ini sejak awal sudah punya label khusus untuk topik lingkungan?

Saya sudah berkali-kali menulis tentang lingkungan, misalnya cara mengurangi limbah organik, membuat kerajinan dari barang bekas, dan semisalnya. Saya bahkan pernah membuat cerpen tentang lingkungan yang berjudul Kisah Botol dan Gelas.

Ya, mungkin selama ini saya masih menganggap semua aksi saya ini terlalu kecil, remeh. Saya hanya melakukan apa yang terasa masuk akal. Tidak semua barang harus berakhir di tempat sampah. Tidak semua sisa makanan harus menjadi limbah.

Daripada dibuang, mengapa tidak diubah menjadi sesuatu yang berguna? Kaleng bekas, botol plastik, kardus, dan berbagai benda lain ternyata masih bisa memiliki kehidupan kedua. Sebagaimana isi Kisah Botol dan Gelas yang menjelaskan bahwa sebelum didaur ulang, kita berusaha reuse alias menggunakan ulang sampah kita.

Sampah Bernilai Ekonomi
Sampah bernilai ekonomi

Saya tertular dengan kebiasaan Bunda yang suka membuat menu baru dari lauk sisa, baju dari kain perca, pot dari aneka wadah bekas, ranjang rusak yang berubah jadi bangku teras, sisa makanan menjadi pupuk, dan sebagainya.

Bunda telah mengenalkan pada saya konsep sampah bernilai ekonomi sejak dini. Sudah berapa banyak produk kain perca yang berhasil beliau jual. Dalam bentuk pakaian, taplak, selimut, celemek, tas, boneka, dan banyak lagi. Belum termasuk berbagai penghematan akibat penggunaan kembali barang bekas menjadi berfungsi baru.

Sering kali kita memberi label "sampah" terlalu cepat. Padahal, yang berubah bukan nilai bendanya, melainkan cara kita memandang benda tersebut.

Barangkali, karena itulah saya merasa konsep sampah bernilai ekonomi bukan hanya berbicara tentang lingkungan. Ia juga mengajarkan bahwa sesuatu yang tampak tidak berguna bisa kembali memiliki makna ketika ditempatkan pada proses yang tepat.

Barang Bekas Menjadi Bagian dari Hobi Suami

Kalau saya lebih sering menulis tentang barang bekas dan sampah organik di blog, Suami justru memperlihatkan praktiknya dalam kehidupan sehari-hari.

Bersamaan dengan masuknya anak kedua kami di jurusan Akuakultur, Suami aktif mengelola Kelompok Budidaya Ikan Lele di lingkungan kami. 

Menariknya, saya melihat banyak peralatan yang digunakan bukan berasal dari barang baru. Galon air mineral yang sudah tidak terpakai dimanfaatkan kembali untuk membesarkan bayi lele. Bahkan, yang sudah rusak pun masih dimanfaatkan sebagai pelindung lembar indikator pemeliharaan seperti yang tampak dalam foto di bawah ini.

pemberdayaan masyarakat
Pemberdayaan masyarakat dalam penggunaan ulang sampah

Wadah bekas minuman kopi yang bertutup corong pun tidak langsung berakhir di tempat sampah. Setelah dibersihkan, wadah-wadah itu digunakan kembali sebagai tempat menyalurkan pakan ikan.

pengelolaan sampah
Wadah kopi yang berguna untuk perikanan

Awalnya, saya menganggap itu sekadar cara berhemat. Setelah membaca tentang Ekonomi Sirkular Indonesia, saya baru menyadari bahwa inilah esensi dari ekonomi sirkular: memperpanjang usia pakai sebuah barang sebelum benar-benar menjadi limbah.

Mengenal Ekonomi Sirkular Indonesia

Semakin banyak membaca, saya baru memahami bahwa Ekonomi Sirkular memiliki cara berpikir yang berbeda tentang sampah. Bukan sekadar mendaur ulang, melainkan membuat suatu barang tetap memiliki nilai selama mungkin sehingga limbah yang benar-benar harus dibuang menjadi semakin sedikit.

Dengan kata lain, sampah tidak dipandang sebagai akhir perjalanan sebuah benda, tetapi justru awal dari manfaat berikutnya. Barang bekas belum tentu habis manfaatnya. Teruslah diputar agar tetap berguna dan bernilai ekonomi.

Cara pandang inilah yang menurut saya jauh lebih masuk akal daripada hanya terus memproduksi, memakai, lalu membuang.

Ternyata, cara berpikir sederhana saya, Suami, dan Bunda bisa menjadi bagian dari gerakan yang jauh lebih besar.

Sekarang, ketika membaca kembali tulisan-tulisan di label lingkungan blog ini, saya baru menyadari bahwa tanpa sadar sedang mempraktikkan salah satu prinsip Ekonomi Sirkular. Semuanya adalah potongan-potongan kecil dari konsep tersebut.

Bank Sampah Induk Bersinar
Aktivitas Bank Sampah Induk Bersinar

Sampah Bisa Menjadi Penggerak Kehidupan

Yang membuat saya semakin tertarik adalah ketika mengetahui tentang Bank Sampah Induk Bersinar bentukan Yayasan Solusi Bersinar Indonesia (YSBI). Awalnya, saya membayangkan bank sampah hanyalah tempat menimbang botol plastik. Ternyata, visinya jauh lebih besar.

Bank Sampah Induk Bersinar yang berdiri sejak 2014 ini sedang menargetkan pembentukan 1.000 Bank Sampah Unit (BSU) sebagai bagian dari penguatan Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat. 

Artinya, perubahan tidak lagi bergantung pada satu lembaga besar, tetapi justru dimulai dari lingkungan terkecil. Rumah, RT, sekolah, dan komunitas. Pemberdayaan masyarakat di segala lapisan membuat semakin banyak yang memilah sampah sejak dari sumbernya, semakin besar pula nilai ekonomi yang dapat dihasilkan.

Di titik ini, saya mulai memahami satu hal penting. Sampah bukan sekadar limbah, tetapi memiliki nilai apabila dikelola dengan baik.

Pengelolaan Sampah
Edukasi lingkungan tentang pengolahan sampah

Saya Senang Ketika Sekolah Mulai Dilibatkan

Sebagai orang tua, bagian yang paling menarik perhatian saya justru bukan target 1.000 BSU, melainkan rencana mengajak sekolah ikut bergerak.

sekolah peduli lingkungan
Tugas keterampilan dari sekolah peduli lingkungan

Setiap kali sekolah memberi tugas keterampilan dari barang bekas saja, saya sudah senang. Apalagi kalau misalnya sekolah peduli lingkungan bisa menyediakan alat belajar dari sampah pula seperti yang dipraktikkan pada video di bawah ini.

Dalam program Bank Sampah Induk Bersinar, anak-anak akan dikenalkan pada budaya memilah sampah, konsep Ekonomi Sirkular, hingga pentingnya menjaga lingkungan sejak dini. Bahkan, sekolah didorong membentuk Bank Sampah Unit (BSU) sendiri.

Saya membayangkan betapa berbeda generasi berikutnya jika sejak SD mereka sudah terbiasa melihat sampah sebagai sumber daya, bukan sekadar benda yang harus dibuang. Karena sejatinya, perubahan dimulai dari rumah, sekolah, dan komunitas.

Oxbow Bukan Sekadar Tempat, Tetapi Ruang Belajar Bersama

Living Laboratory Ekonomi Sirkular
Living Laboratory Ekonomi Sirkular

Hal lain yang menurut saya unik adalah rencana pembangunan Living Laboratory Ekonomi Sirkular di kawasan Oxbow, Kabupaten Bandung.

Biasanya, laboratorium identik dengan ruang tertutup. Namun, konsep ini berbeda. Masyarakat dapat melihat langsung bagaimana sistem bekerja mulai dari: penerimaan sampah, penimbangan, pemilahan, penyimpanan, pengolahan, hingga menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah.

Kawasan ini juga menghubungkan tiga pilar utama:

  • Bank Sampah Induk Bersinar sebagai pusat pengelolaan sampah,
  • Local Education sebagai pusat Edukasi Lingkungan dan pengembangan kapasitas masyarakat,
  • Lumbung Mandiri yang memanfaatkan hasil pengolahan sampah organik untuk mendukung Ketahanan Pangan melalui pertanian, peternakan, perikanan, dan perkebunan.

Bagi saya, inilah contoh nyata bagaimana teori bisa langsung dipraktikkan. Bukan sekadar seminar, melainkan tempat belajar yang hidup.

Kolaborasi Merupakan Lingkaran yang Menyempurnakan Segalanya

Saya semakin memahami mengapa YSBI menginisiasi Pentahelix Indonesia Bersinar. 

Selama ini kita sering berharap satu pihak menyelesaikan persoalan lingkungan. Padahal, kenyataannya tidak ada yang mampu bekerja sendirian. Pemerintah membutuhkan akademisi. Akademisi membutuhkan komunitas. Komunitas membutuhkan media. Dunia usaha juga memiliki peran penting.

Melalui konsep ini, pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media diajak bekerja bersama membangun Kolaborasi Lingkungan yang berkelanjutan.

Saya percaya, masalah yang diciptakan bersama memang harus diselesaikan bersama pula. Karena perubahan besar lahir ketika banyak orang mengerjakan hal-hal kecil secara bersama-sama.

Dan ketika saya melihat kembali arsip blog sejak 2018, saya merasa sedang membaca perjalanan saya sendiri. 

Dulu, saya hanya ingin mengurangi sampah. Hari ini, saya mengerti bahwa setiap botol yang dipakai kembali, setiap kulit buah yang menjadi kompos, dan setiap anak yang belajar memilah sampah adalah bagian dari mimpi yang jauh lebih besar. Mimpi tentang Indonesia yang lebih bersih, lebih berdaya, dan lebih berkelanjutan.

Jawaban untuk Pertanyaan Anak Saya

Bank Sampah Unit (BSU)
Ingat! Buanglah sampah hanya ketika benar-benar sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi

Beberapa hari setelah percakapan itu, anak saya kembali bertanya," Kalau kita pilah sampah, memang ada gunanya?"

Kali ini, saya bisa menjawab dengan lebih yakin. "Iya. Karena kalau dikelola dengan benar, sampah bisa membantu banyak orang."

Tidak hanya membuat lingkungan lebih bersih, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi, mendukung pendidikan, membantu ketahanan pangan, dan membangun masyarakat yang lebih mandiri. Saya rasa, itulah jawaban yang ingin didengar setiap anak dan orang dewasa. Bahwa tindakan kecil di rumah ternyata bisa berdampak jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.

Dan bagi saya pribadi, perubahan itu dimulai bukan dari proyek besar, melainkan dari satu percakapan sederhana antara orang tua dan anak di depan tempat sampah. Karena pada akhirnya, kita tidak sekadar mengajarkan anak membuang sampah. Kita mengajarkan mereka bertanggung jawab terhadap masa depan bumi yang akan mereka tinggali.

Related Posts

26 komentar

  1. Mba, tulisan ini jadi jawaban kegalauan saya belakangan ini. Tiap membuang sampah di bak sampah depan rumah saya juga mikir gitu. Duh, kalau satu rumah aja sampahnya segini banyak gimana di TPA ya. Pantes aja membludak.

    Cuma yang saya masih bingung, limbah mukena lama yang udah nggak layak pakai baiknya diapakan ya, Mba?
    Selama ini cuma tak simpan, tapi lama-lama tempat nyimpannya penuh.

    Mungkin bisa jadi bahan research dan tulisan berikutnya, Mba...

    Maacih🫶🫶🫶

    BalasHapus
  2. Saya dan suami dibilang pemulung sama anak karena kalau ada wadah yang mau dibuang, saya ambil dan digunakan untuk pot
    Pun ketika sampah organik dari dapur saya tampung, lalu dijadikan pupuk anak bilang ibu itu kenapa disimpan sih, itu bau bangkai tauuuu...
    Begitulah, saat anak belum mengerti prasangka demi prasangka pun terus dilontarkan
    Tapi setelah di sekolahnya diberikan pengarahan, akhirnya anak mengerti. Sekarang anak yang sering ngasih ide bagaimana saya harus mendekor barang bekas jadi bagus di pekarangan. Pun pengolahan poc, anak Sidah berani menyiramkannya ke tanaman
    Begitulah kalau ada sosialisasi masyarakat luas jadi tau apa itu ekonomi sirkular ya...

    BalasHapus
  3. Walau bukan peneliti khusus lingkungan hidup, saya pernah terlibat di limbah waktu tugas akhir, dan memang PR terbesar kita itu ya mengelola hasil limbah!

    Manusia seneng banget nyampah ya, saya pernah diajak ke sebuah tempat pengolahan limbah dapur, dan kalau dikelola bener ga ada sama sekali loh bau bau busuknya, yang tercium hanya seperti petrichor bercampur baur buah sayur yang asam.

    semoga tulisan mbak Ida ini jadi amal jariyah ya mbak

    BalasHapus
  4. "Sampah tidak dipandang sebagai akhir perjalanan sebuah benda, tetapi justru awal dari manfaat berikutnya. Barang bekas belum tentu habis manfaatnya. Teruslah diputar agar tetap berguna dan bernilai ekonomi." Poin terpentingnya menurut saya ada di deretan kalimat ini ya Mbak.

    Menurut saya sampah sesungguhnya tidak benar-benar hilang kecuali dibakar atau dimusnahkan total. Tapi kebutuhan kita akan materi yang tidak terurai tuh belum sepenuhnya bisa kita jalankan. Plastik ternyata tetap dibutuhkan karena faktor ekonomis dan praktis. Bahkan sisa bahan baju, meski sudah digunakan kembali, paling hanya berapa persen dari sampah sisa ini kan?

    BalasHapus
  5. Kalo saya mulai sejak membeli, Mbak
    Misalnya, dibanding kemasan sachet yang gak bisa diurai, saya pilih kemasan botol
    kebetulan saya mendampingi komunitas pengolah sampah sejak tahun 2010, jadi tau mana yang bisa direcycle dan mana yang tidak
    Walau tentu saja, yang terbaik adalah membeli sesuai kebutuhan dan keinginan serta menolak kemasan sekali pakai

    BalasHapus
  6. Dari baca artikel ini aku jadi paham tentang apa itu ekonomi sirkular...barang2 yang masih layak guna layak manfaat alangkah lebih baik jika bisa kita manfaatkan kembali drpd harus langsung membuangnya di tempat sampah dan dengan cara ini kita juga bisa lebih berhemat karena tidak selalu mencari barang baru...
    Aku sendiri masih dalam tahap kosisten buat memilah sampah dan semoga bisa semakin bijak dlm memanfaatkam sampah

    BalasHapus
  7. Senang baca artikel ini. Buat aku makin sadar untuk selalu memilah sampah berdasarkan jenisnya. Kalau sampah sudah dipilah, pasti akan mudah diolah ya. Dan olahannya bisa berdampak menggerakkan ekonomi sirkular

    BalasHapus
  8. Senang baca artikel ini. Buat aku makin sadar untuk selalu memilah sampah berdasarkan jenisnya. Kalau sampah sudah dipilah, pasti akan mudah diolah ya. Dan olahannya bisa berdampak menggerakkan ekonomi sirkular

    BalasHapus
  9. Setuju kak Farida, tidak semua benda yang dianggap "sampah" berakhir di tempat sampah, karena bisa sebenarnya diolah kembali dan jadi punya nilai jual

    BalasHapus
  10. Yup teladan yang baik adalah cara ampuh mengajarkan anak akan banyak hal termasuk dalam mengelola sampah

    BalasHapus
  11. Dengan adanya bank sampah limbah yang tidak berharga justru jadi bernilai ya. Bahkan bisa bantu perekonomian kita yang membuang sampah dengan memilahnya Sedati rumah. Semangat jadinya selain peduli lingkungan juga bisa jadi peluang nambah cuan

    BalasHapus
  12. Aku mulai resah lihat sampah tuh salah satunya dari rumah sendiri. Kebayang beberapa tahun mendatang tumpukan sampah hanya dari satu rumah sudah jadi gunung yang berapa tinggi. Adanya bank sampah yang inspiratif seperti ini sudah pasti banyak membantu sekitar. Apalagi diperbanyak jumlah dan kampanye serupa

    BalasHapus
  13. Semua berawal dari rumah, lalu dengan adanya keterlibatan sekolah, pastinya hasilnya lebih optimal. Semoga perlahan, urusan sampah ini bisa teratasi

    BalasHapus
  14. Kesadaran masyarakat ajan pentingnya pilah sampah dan pengolahan sampah makin meningkat. Akhir2 ini banyak pelatihan dan oenyuluhan tentang pilah sampah dan pemanfaatan sampah organik dan lainnya. Ini juga salah satu cara melestarikan bumi yg menjadi warisan anak cucu kita nantinya.

    BalasHapus
  15. Dari sampah sisa plastik maupun botol bekas ternyata bisa jadi barang yang berguna ya Mba. Keluarga saya di rumah juga begitu, botol plastik digunakan kembali untuk dijadikan pot bunga sistem self watering

    BalasHapus
  16. memilah dan mengelola sampah ini seyogyanya sudah harus semakin dikenalkan kepada masyarakat ya, mbak. jadinya kita mungkin bisa mengurangi tumpukan sampah yang ada di pinggir jalan dan di penampungan.

    BalasHapus
  17. Pembahasan yang menarik. Kalau sudah berbicara soal sampah memang gak ada habisnya. Anak-anak saya juga sudah kami ajarkan bagaimana cara memanfaatkan sampah. Sampah anorganik terutama karena bisa kita jadikan beberapa barang yang sangat bermanfaat. Seperti botol bekas air minum, bisa kita jadikan pot tanaman hias kita di rumah. Ban bekas bisa kita jadikan tempat duduk di area taman depan rumah dan masih banyak lainnya.

    Kalau bukan dari kita sendiri, siapa lagi yang akan memulai duluan memanfaatkan sampah menjadi barang yang berguna.

    BalasHapus
  18. Masalah sampah memang menjadi maslaah utama di Indonesia. keterbatasan TPA menampung sampah yang makin hari makin menggunung memang emmerlukan keikutsertaan masyarakat dalam pengelolaannya. Keren banget program daur ulang sampahnya dan sekaligus mengedukasi masyarakat juga agar makin sadar pentingnya memilah sampah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener, mbak. Gak hanya menyediakan tempat pembuangan sampah, tetapi juga harus memikirkan cara pengolahan (daur ulangnya), dan yang terpenting meminimalkan sampah yang dihasilkan dari berbagai aktivitas.

      Hapus
  19. Aku suka pembahasan seperti ini karena ekonomi sirkular terasa lebih dekat ketika dikaitkan dengan kebiasaan sehari-hari. Sampah yang selama ini kita anggap selesai begitu saja ternyata masih bisa punya nilai kalau dikelola dengan benar. Jadi kepikiran, jangan-jangan yang perlu diubah bukan cuma sistemnya, tapi juga kebiasaan kita dari rumah

    BalasHapus
  20. Kolaborasi bisa dimulai dari lingkungan yang terkecil, seperti keluarga. Dan meski terkesan kecil, dampaknya bisa membesar ya. Apalagi untuk yang dikaruniai kesempatan lebih untuk menggerakkan orang banyak, dari yang terkesan kecil-kecil ini bisa menginspirasi dan sampai mengubah banyak hal dengan efek yang makin luas pula ya, Mbak. Contohnya ya Living Laboratory Ekonomi Sirkular ini.

    BalasHapus
  21. Sepakat banget. Segala sesuatu dimulai dari langkah kecil dan konsisten bisa berdampak positif apalagi berkaitan sama sampah yang nantinya mempengaruhi lingkungan.

    Jadi, Ekonomi Sirkular ini mengingatkan kita semua. Bahwa sampah nggak harus berakhir di TPA, bisa dimanfaatkan 3R, lalu di pilah, digunakan buat aktivitas berfaedah seperti bertani, berternak. Bisa juga di daur ulang.

    BalasHapus
  22. Pembahasan ekonomi sirkularnya menarik. Bukan cuma soal mengurangi sampah, tapi bagaimana barang yang kita pakai bisa punya nilai lagi. Konsep sederhana, tapi kalau diterapkan serius dampaknya bisa besar.

    BalasHapus
  23. Tulisan Mba bikin aku makin semangat lagi buat pilah sampahnya. Happy banget kalau ada bank sampah yang bergerak secara mandiri dan lokasinya nggak jauh dari rumah. Sementara aku saat ini, masih berjuang sekali. Fokusku masih ke sampah anorganik, karena organik masih ikut truk sampah mingguan ke TPA. Untuk sampah terpilah, kukirim ke tempat berbeda pula. Ada yang ke waste management di Kota Bogor, ada yang ke babang rongsok. Sesuai yang si babang mau terima aja. Sayangnya untuk pemanfaatan kembali seperti yang suami Mba praktikkan, belum sanggup. Semoga makin banyak yang tergerak pilah sampah ya Mba. Aamiin.

    BalasHapus
  24. Aku ngerasa selalu ada yang kurang sama pengelolaan sampah kami yang terkesan B aja.. Kudu banget dikelola dengan konsisten sehingga bisa zero waste di rumah.
    Dan dengan menabung sampah, aku ngerasa sampah masa kini bisa semakin bermanfaat dan bernilai di sisi rupiah.

    BalasHapus
  25. Sepertinya kita pasangan yang kompak. Secara sang istri tukang woro-woro alias cuap cuap ceramah dan nulis sana sini. Sementara para bapak alias suami mayoritas yang mempraktikkan itu teori yang dijabarkan istrinya. Hihi...
    Kebetulan suami saya juga dia yg bagian eksekusi semua botol. Plastik buat pot dan lahan persemaian
    Saya mah tukang foto aja haha... Kerennya bagian dokumentasi

    BalasHapus

Posting Komentar