Merangkum Jejakku di Tiap Kota untuk Bunda Tercinta


Semarang, Kota Kelahiranku


Aku terlahir sebagai seorang introvert. Yang selalu merasa lebih nyaman tinggal di lingkungan yang sudah kukenal daripada ke dunia baru. Aku memilih untuk mengenal dunia ini secara bertahap, bukan dengan membuat sebuah lompatan yang langsung jauh.

Surabaya, Petualangan Pertamaku


Tidak lama aku tinggal di Semarang. Sekitar usia 2 tahun, aku diajak orangtuaku pindah ke Surabaya dan tinggal cukup lama di sana. Saat TK, aku merasa nyaman bersekolah di TK yang satu jalan dengan rumahku. Ketika SD, aku mulai bersedia menjelajah beberapa blok untuk bersekolah.


Sidoarjo, Kota yang Membesarkanku


Aku tinggal di Surabaya hingga bulan pertama saat aku duduk di kelas 3 SD. Lalu, aku melanjutkan studiku di Sidoarjo. Untuk menempati rumah orangtuaku yang baru setengah jadi dibangun di sana. Ya, daripada mengontrak terus.

Begitu SMP, aku memilih SMP terbaik di kecamatan, bukan kabupaten. Walaupun sebenarnya dari sisi nilai, aku memenuhi syarat.

Waktu memilih SMU, tadinya aku berencana memasuki SMU di tingkat kabupaten. Namun seorang kawan memberiku wawasan berbeda secara tidak langsung. Dia menunjukkan keberaniannya mendaftar ke SMU terbaik di provinsi kami. Padahal NEM-nya di bawahku.

Aku pun memberanikan diri mendaftar ke SMU yang sama. Aku tahu bahwa aku akan diterima. Dan sejak itu, aku mulai menantang diri untuk tidak menapak selangkah demi selangkah, melainkan berusaha melompat lebih tinggi dari zona nyamanku.

Diterima di SMU ibukota provinsi membuatku menempuh belasan kilometer setiap hari untuk bersekolah. Karena kawatir aku datang terlambat, Bunda meminta tolong salah satu ibu temanku (yang baru dikenalnya saat pendaftaran) untuk bersedia memberiku kamar kos.

Syukurlah memang Beliau orang yang baik dan bersedia menolong. Seminggu pertama jauh dari orangtua, Bunda menengokku dengan membawa aneka buah tangan yang ternyata dilengkapi sepucuk surat di dalamnya.

Baru kali ini aku menerima surat dari Bunda. Isinya? Nasihat-nasihat klise seperti jaga diri, jaga kesehatan, makan teratur, belajar yang rajin dll. Namun yang sangat terasa dari dalamnya adalah betapa Bunda sangat menyayangiku dan mengawatirkanku, walau berusaha menutupinya.

Aku hanya bisa berusaha untuk membuat Beliau lebih ikhlas melepasku. Salah satunya dengan membawakan makanan kesukaannya yang merupakan salah satu ciri khas Surabaya, kota tempatku belajar. Agar Beliau bisa lebih menikmati kepergianku.

Masa terus berlalu. Dan perpisahan adalah sebuah keniscayaan. Saat aku kuliah dan lebih lama jauh dari Beliau. Kemudian menikah dan memutuskan langsung tinggal di rumah kontrakan. Aku tahu, selalu ada resah di hati Beliau akan keadaanku, setiap harus melepasku pergi jauh darinya.

Bogor, Kota Asing Pertamaku


Apa lagi ketika Suami membawaku semakin jauh ke sebuah kota yang tak ada satu pun sanak saudara kami di sana. Beliau selalu berusaha menutupi keberatannya. Sekuat tenaga menarik senyumnya dan bercanda, "Jangan lupa oleh-olehnya, ya."

Tentu saja Beliau senang menerima aneka oleh-oleh dari berbagai kota. Namun sebenarnya, yang lebih membahagiakan Beliau adalah adanya alasan untuk bertemu.

Makanan adalah cara termudah kami untuk mengungkapkan kasih sayang. Cukup Beliau dengan bercerita, "Tadi aku ketemu kue kesukaanmu. Kupikir, di sana kan tidak ada yang begini. Jadi aku beli sedikit. Siapa tahu kamu pulang ke sini dalam waktu dekat."

Deg! Anak mana yang tidak trenyuh hatinya. Jelas sudah pesan yang ingin Beliau sampaikan, "Segera pulang, ya. Keburu kuenya basi, lho!"

Semarang, Kembali Kami Berkumpul


Bus Trans Semarang

Dan sebuah keajaiban cerita membawa Suami memilih kota kelahiranku untuk tempat tinggal berikutnya. Yang lebih dahsyat lagi, bahkan kami berhasil memboyong kedua orangtuaku meninggalkan rumah hasil jerih payah mereka untuk tinggal bersama kami di Semarang.

Ya, tentu saja itu menunjukkan bahwa Bunda merasa jauh lebih lega bisa berkumpul dengan anak dan cucunya dibanding harus bertahan di rumah pribadinya. Tidakkah kau merasakan derasnya aliran cinta Bunda untuk kami?

Namun panjangnya jalan cerita yang telah terjalin, membuat kami kadang kala rindu dengan kuliner dari kota-kota yang pernah kami kunjungi. Kalau sudah begini, harus menunggu saat kami atau orang lain yang bisa dititipi pergi ke sana dan membawakan oleh-oleh.

Omiyago, Buah Tangan On The Go untuk Bunda


"Umi, kapankah Hari Ayah?" tanya Bilqis suatu hari.
"12 November," jawabku singkat.
"Oh ya? Berarti sudah lewat, dong? Jadi, tanggal 12 kemarin, Umi kasi kado ke Opung?" kejarnya.
"Mmm... Nggak juga," jawabku ragu.
"Kok enggak?" cecarnya.
"Ya, Umi lupa. Baru ingat saat kamu tanya ini," kataku.

"Aduh, sayang sekali. kalau Hari Ibu kapan?" tanyanya lagi.
"22 Desember," jawabku.
"Wah, sebentar lagi, dong! Berarti kali ini Umi harus kasi kado ke Nenek, ya," tegasnya.
"Mmm... Harus gitu?" tanyaku.
"Iya, dong!  Nggak boleh lupa lagi, ya." 

Ah, Bilqis. Mengapa ucapanmu selalu laksana titah ratu bagiku. Tak terbantah! Kado? kado apa, ya? Undangan Blogger Gathering dari Paxel akhirnya menitipkanku sebuah ide. Dalam acara tersebut, aku kembali diingatkan dengan keberadaan Omiyago, salah satu mitra Paxel.


Cara pemesanan di Omiyago

Sudahkah kau mengenal Omiyago? Omiyago adalah sebuah platform tempat menemukan berbagai oleh-oleh khas Nusantara. Kita tidak perlu lagi mengunjungi setiap tempat untuk mendapatkan oleh-oleh yang diinginkan. Pesan saja di sini, untuk dinikmati sendiri atau dikirim sebagai bingkisan.

Bingkisan pesanan dari Omiyago

Yang aku suka dari Omiyago, selain kepraktisan yang ditawarkan, juga kemasannya yang eksklusif. Tuh, lihat saja contoh paket yang pernah kuterima. Setiap paket akan berisi kartu ucapan terimakasih dan kartu keterangan tentang asal-usul, bahan dasar serta cara penyajian makanan yang kita pilih.

Keren banget, kan? Selain menambah pengetahuan kita, juga cocok sekali sebagai bingkisan bagi orang asing. Jadi, sekaligus memperkenalkan kekayaan kuliner Nusantara. Nggak malu-maluin deh, buat oleh-oleh! Dan, ehem, mengingatkanku pada bingkisan dari Bunda saat pertama kos.

Rangkuman Oleh-Oleh Khas 4 Kota untuk Bunda


Oleh-oleh 4 kota pilihanku untuk Bunda

Entah sudah berapa lama aku menelusuri situs Omiyago ini. Aku sedang memilih oleh-oleh khas dari masing-masing kota yang pernah kutinggali untuk kubingkiskan pada Bunda. Akhirnya inilah pilihanku:

1. Satru Asam dari Semarang


Warna-warninya mewakili keceriaan masa kecilku. Dan memang camilan ini adalah cerminan dari masa lampau yang sesungguhnya. Karena kini sudah sulit sekali menemukan makanan jadul ini. Padahal sensasi lembut, manis dan asamnya itu tak tergantikan.

2. Lapis Surabaya dari Surabaya


Nama bolu ini praktis menunjukkan dari manakah ia populer dikenal. Aku ingat betul bagaimana Bunda dulu berusaha keras mempelajari resep untuk membuat Lapis Surabaya terenak. Berbutir-butir telur sudah yang Beliau ramu untuk memuaskan lidah anaknya ini. Kini, tinggal menikmati saja, Bun.

3. Sambal Lombok Petis dari Sidoarjo


Ya, Sidoarjo terkenal sebagai Kota Petis. Selain juga sering disebut sebagai Kota Bandeng dan Kota Udang. Tak ada petis yang lebih nikmat daripada petis khas Sidoarjo. Jika kamu ingin ikut mencicipinya, kamu bisa mendapatinya pada pilihan Produk > Jelajah Nusantara > Surabaya.

4. Bika Mini Talubi dari Bogor


Ini adalah oleh-oleh yang paling sering kami bawakan untuk Bunda saat kami tinggal di Bogor. Kami sekeluarga besar memang sangat menyukainya. Talubi adalah singkatan dari talas dan ubi, bahan dasar dari bika ini.

Ternyata, tepung talas dan ubi itu menghasilkan bika yang sangat lembut sekaligus padat teksturnya. Harum aroma talas ungu dan ubi madunya sangat menggoda. Dipadu dengan sensasi tambahan nangka pada bika kuning dan pandan pada bika hijau. Benar-benar membuai hidung dan lidah.

Fiuh, sepertinya jadi juga aku mengikuti saran Bilqis untuk memberikan bingkisan istimewa bagi Bunda. Sebagai ungkapan terimakasih atas seluruh cinta kasihnya pada kami. 

Sungguh tak ada yang dapat membalas semua jasa Beliau. Hanya berusaha menjadi anak yang baik baginya dan mampu mendidik cucu-cucunya menjadi anak yang baik pula. Agar senyum itu senantiasa tersungging di bibir dan hatinya.

Terimakasih, Bunda, telah mengisi hari-hari sejak di awal hidupku hingga detik ini.

Komentar

  1. Wah aku belum kenalan dgn Omiyago nih.. TRIms y mba sudah dikenalkan...mau ngulik2 lagi ah..

    BalasHapus
  2. Pingin lapis nya bun hehehehe

    BalasHapus
  3. memang walau aku sudah setua ini ibuku tetap saja mengkhawatirkan aku, kalau ibuku gak pernah mau tinggal di rumah anaknya, dia nyaman di rumahnya sendiri, cuma kita2 agak kawatir walau ada yang menemaninya

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe.. ya begitulah. namanya cinta, kadang malah jadi ribet sendiri ya :)

      Hapus
  4. Walau sudah dewasa yg namanya ibu trtap menganggap anaknya adalah seorang anak kecil ya 😊

    BalasHapus
  5. Walau sudah dewasa yg namanya ibu trtap menganggap anaknya adalah seorang anak kecil ya 😊

    BalasHapus
  6. Lapisnya menggoda iman, ku jadi lapeeeer mbaak

    BalasHapus

Posting Komentar

Hai, terimakasih sudah berkunjung.
Jejakkan komentarmu di sini ya... ^_^