Minggu, 30 September 2018

6++ Kegagalanku Mengabadikan Momen Terbaik Lebaran


Tahun 2018 sudah hampir memasuki bulan ke-10 dari 12 bulan yang ada. Pastinya sudah banyak kenangan yang terukir di dalamnya, dong. Apa nih, momen terbaikmu di tahun 2018 ini? Kalau aku sih, terus terang bingung mau menyebutkan satu per satu. Because Every Day is A Celebration Day.

Selasa, 25 September 2018

Anak Belajar Coding? Mengapa Tidak?


Sebagai pasangan yang sama-sama lulusan jurusan Informatika, tentu saja kami mengetahui betul urgensitas mempelajari teknologi, khususnya dalam hal ini teknologi informasi dan komunikasi. Karena memang teknologi inilah yang sedang berkembang pesat saat ini.

Berbagai jenis gawai yang datang silih berganti dari bulan ke bulan menawarkan fitur terbarunya. Maraknya aneka media berbasis internet dengan berbagai inovasinya. Anak-anak usia dini telah tumbuh sebagai digital native yang akrab dengan produk digital laksana bahasa ibunya sendiri.

Jika memang anak sudah begitu familiar dengan gawai digital, alangkah baiknya jika anak juga belajar tentang cara berinteraksi dengannya. Bukan hanya tentang cara memakainya, namun bahkan bisa membuatnya berperilaku seperti yang diinginkan anak!

Memangnya bisa? Tentu saja. Kita bisa berinteraksi dan memasukkan sejumlah instruksi ke perangkat komputer menggunakan bahasa yang disebut bahasa pemrograman. Aktivitas menyusun seperangkat instruksi inilah yang biasanya disebut coding.

Menekuni dunia digital dan menghabiskan waktu bersama orang-orang di dalamnya membuat kami menyadari bahwa ternyata coding itu bisa dilakukan dengan cara yang sangat sederhana dan mulai dipelajari sejak usia dini.

Apa Manfaat Belajar Coding di Usia Dini?



Melatih Logika


“Everybody in this country should learn how to program a computer, because it teaches you how to think.” - Steve Jobs

Belajar coding atau memprogram komputer akan melatih anak bagaimana cara berpikir yang baik, terstruktur, sistematis dan efisien. Ini akan sangat berguna bagi anak dalam memahami masalah, urutan kejadian, sebab-akibat dll

Memecahkan Masalah


Logika dan konsep berpikir yang baik akan membuat anak terbiasa memecahkan masalah secara sistematis. Hal ini tentu sangat membantu anak dalam menghadapi berbagai masalah di sepanjang hidupnya.

Tekun


Menurut Jennifer Williams, Koordinator Teknologi Instruksional di Newton County Schools, Covington, Georgia, Amerika Serikat, "Ketekunan adalah hal yang sulit diajarkan, namun penting dipelajari. Kami ingin siswa dapat terus berjalan saat menemukan kendala. Coding membantu hal ini."

Belajar coding sejak kecil tak hanya untuk menguasai ketrampilan teknikal, namun sekaligus memupuk mental. Aktivitas ini dapat mengembangkan kebiasaan belajar, tidak mudah menyerah dan teliti. Misalnya, saat program tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Kreatif


Coding juga merupakan alat untuk menyalurkan kreativitas. Anak jadi bisa membuat permainan menggunakan hasil coretannya sendiri, memadukannya dengan musik atau efek suara tertentu, misalnya. Anak juga bisa merancang animasi, membuat aneka aplikasi atau mendesain web.

Produktif


Tak sekadar menjadi konsumen yang mengerti cara memainkan aplikasi di telepon pintar, anak pun dapat memproduksi sendiri. Saat tercetus suatu ide tertentu agar permainan terasa lebih seru, misalnya, anak bisa langsung membuatnya, bukan sekadar angan yang dibatasi ketidakmampuan.

Percaya Diri


Memiliki keterampilan yang unik tentu akan membuat kepercayaan diri yang tinggi pada anak. Bukan hanya di antara teman-temannya, namun bahkan di antara orang-orang lintas usia dan negara. Karena bahasa pemrograman adalah bahasa universal yang dipahami komputer di mana pun.

Siap Teknologi


Sepertinya, ini adalah manfaat yang paling tampak, ya. Kemampuan coding adalah salah satu keterampilan yang dapat meningkatkan nilai kompetensi anak di dunia kerja. Tidak bisa coding akan dilihat seperti tidak menguasai baca/tulis.

"Terlepas apa peran spesifikasimu, belajar coding akan sangat meningkatkan potensimu menjadi aset berharga di perusahaan mana pun," - Evan Leong, pendiri Fount

Apakah Anakku Bisa Belajar Coding?


Sebagai prioritas, bisa jadi kita memfasilitasi anak untuk menekuni apa yang disukainya terlebih dahulu. Atau sebaliknya, justru kita menyemangati anak untuk mencoba hal-hal baru karena besar manfaatnya bagi masa depan.

Setiap anak memang dilahirkan dengan bakat dan minatnya masing-masing. Ada kalanya kita memiliki anak yang lebih suka duduk manis di depan komputer dan betah beraktivitas berjam-jam bersamanya.

Setelah mengenalkan berbagai aktivitas fisik dan sosial untuk juga dipelajari anak, beberapa di antara mereka akan tetap kembali dan memilih terpekur dengan gawai. Bukan karena bosan, minder, bermasalah dengan orang lain atau pun yang lainnya. Namun memang karena di situlah passion-nya.

Kita akan dapat mengindentifikasi suatu kegiatan merupakan passion anak, jika kita melihat ada faktor 4E saat anak menjalaninya, yaitu:


Enjoy 


Saat kita menangkap binar matanya yang begitu antusias tentang suatu hal dan anak tampak sangat menikmati melakukannya bahkan hingga berjam-jam, maka bisa jadi dia sedang menjalani salah satu passion-nya.

Easy


Jika anak menganggap bahwa suatu aktivitas itu terasa mudah baginya dan tetap gigih berusaha menguasainya walau harus menghadapi berbagai tantangan di dalamnya, inilah sebuah tanda bahwa anak telah menemukan passion-nya.

Excellent


Biasanya, passion yang didukung bakat atau usaha yang gigih akan menghasilkan karya yang unggul. Beri perhatian lebih saat anak membuat sesuatu yang menakjubkan. Mungkin itulah passion-nya!

Earn


Passion juga mengantarkan anak untuk bisa mendapatkan penghasilan yang lumayan besar. Jadi, saat anak bisa mendapat sejumlah imbalan dari suatu kegiatan, bisa jadi kegiatan tersebut merupakan passion-nya.

Nah, jika anak kita tampak memiliki passion di bidang pemrograman, alangkah baiknya jika difasilitasi dengan baik. Pun, tak ada salahnya jika kita mengenalkan hal ini pada anak walau belum menampakkan minat. Faktanya, banyak anak yang menyukai coding bahkan sebelum pra-sekolah.

Tak ada syarat khusus untuk mulai belajar bahasa pemrograman ini. Bila anak terbiasa dengan gawai, sudah bisa membaca, dan memiliki minat membuat games, ia dapat mulai belajar coding. Tak perlu khawatir jika anak belum pandai matematika, misalnya. Semua bisa dipelajari secara bertahap.

Karena sebenarnya, siapa saja bisa belajar coding, termasuk anak-anak. Apa pun cita-citanya nanti. Guru yang belajar coding, bisa membuat aplikasi bahan ajar. Bahkan ibu rumah tangga bisa belajar coding untuk membuatkan anaknya permainan yang menarik dan mendidik.

Apa lagi kini teknologi semakin canggih. Coding menjadi semakin mudah dengan banyaknya framework dan library, bahkan aneka tools yang memungkinkan anak untuk coding hanya tinggal drag and drop.

Di Mana Anak Bisa Belajar Coding?


Ada banyak kursus pemrograman komputer bagi anak yang bertebaran di negeri ini. Jika Anda berlokasi di Jakarta atau Depok, Anda bisa mencoba Dumet School untuk mengasah bakat dan minat anak. Dumet School memiliki cabang di Kelapa Gading, Grogol, Tebet, Srengseng, dan Depok.

Dumet School menyediakan kursus pemrograman komputer khusus untuk anak usia 6-12 tahun selama 2 minggu hingga 1 bulan dan sampai bisa! Di sini, anak akan diajarkan:
  • Membuat game interaktif
  • Dasar-dasar bagaimana sebuah program / game bisa berjalan menggunakan baris kode
  • Melatih cara berpikir murid agar lebih terstruktur

Berikut ini berbagai fasilitas yang disediakan Dumet School untuk anak-anak yang belajar pemrograman di sini:


Anak-anak mendapatkan materi pelajaran sesuai usianya, bisa mengakses fasilitas belajar di Dumet School maupun iLab, bisa mengulang pelajaran jika belum menguasai dan mendapat support serta konsultasi gratis seumur hidup! Sertifikat dari Dumet School juga dilengkapi nomor izin Diknas.

Dari kursus ini, diharapkan nantinya anak:
  • Dapat membuat hasil karya game sederhana sendiri
  • Dapat lebih mudah menguasai bahasa program lain karena berbagai bahasa program pasti memiliki konsep yang sama

Nah, tunggu apa lagi? Yuk, kenalkan teknologi pada anak sejak usia dini!

Sabtu, 22 September 2018

My Journey to Syar'i, The Neverending Story

Langkah Pertama: Perkenalan


Berhijab? Sungguh, itu suatu hal yang sangat jauh dari pikiranku, dulu. Tahun 1993, aku masuk SMP. Di kelas, ada 3 temanku yang konsisten berkerudung. Baik saat bersekolah maupun di rumah. Aku menganggap hal ini sebagai pilihan busana saja.

Hingga suatu hari, sekolah meminta para siswa baru untuk membawa fotokopi ijazah SD dan mengumpulkannya pada ketua kelas masing-masing. Ketiga temanku itu tampak ragu. Setelah memperingatkan Didik, ketua kelasku, agar tidak memandangi fotonya, barulah ijazah itu terkumpul.

“Ada apa?” tanyaku pada salah satunya yang kebetulan duduk di belakangku.
“Aku malu kalau fotoku dilihat lelaki,” jawabnya agak kawatir.
Ah, semua juga nggak ada yang kelihatan cakep kok, kalau di pas foto. Santai aja,” aku berusaha menghiburnya.

“Bukan begitu. Kan auratku kelihatan. Saat SD, sekolah melarang murid-muridnya memakai jilbab,” jelasnya. Aurat? Dan diskusi pun mengalir. Tentang batasan aurat, yang ternyata berlaku bagi semua perempuan. Busana muslim bukan sekadar sebagai penanda bagi yang rajin belajar agama.


Menarik! Tapi, haruskah aku memakainya juga? Tidakkah lebih baik aku membenahi amalan yang lain dulu? Lambat laun, masalah hijab pun semakin tidak mengusikku.

Langkah Kedua: Penolakan


Pun ketika aku masuk SMU. Aku sebenarnya tertarik mengikuti aneka kegiatan yang diadakan Sie Kerohanian Islam. Ya, aku bersyukur terlahir sebagai Muslim, dan ingin mendalami ajaran agamaku agar bisa terus memperbaiki diri. Namun itu tak lantas membuatku mau berhijab.

Hingga kemudian di awal kelas 3, seorang temanku memasuki kelas dengan seragam yang menutup auratnya dengan rapi. Dia adalah siswa pertama yang berhijab di kelasku. Beberapa bulan kemudian, temanku yang lain pun mengikuti jejaknya.

“Pal, kamu kapan berjilbab?” Tanya temanku yang saat itu juga belum berhijab.
Hmm.. Haruskah? Aku belum terbayang kapan,” jawabku ragu.
“Kalau aku, nanti setelah menikah saja,” angannya.

“Kenapa menunggu menikah? Apa bedanya sekarang dengan sesudah menikah?” tanyaku.
Kan kalau sudah menikah, kita harus lebih menjaga diri,” kata temanku.
“Kalau sekarang tak perlu dijaga?” tanyaku.

“Ya dijaga, lah. Tapi kan, kita harus lebih menghormati suami, gitu. Palida segera pakai jilbab aja biar terjaga mulai sekarang. Hehehe…” sarannya.
Ah enggak, ah. Bahkan setelah menikah pun aku nggak ada rencana berjilbab. Aku inginnya pakai kebaya sebagai baju sehari-hariku nanti. Kan kesannya anggun,” jawabku.

Aku memang masih bertekad kuat untuk mewujudkan impianku itu setelah menikah nanti. Namun istilah yang dipilih oleh temanku cukup mengganggu pikiranku. “Menjaga.”

Berhamburanlah memori tentang bagaimana para lelaki yang kerap menoleh ke arahku. Ada yang diam-diam, ada yang terang-terangan. Bahkan ada yang bertindak lebih dari itu. Dengan sapaan menggoda atau bahkan tangan yang nakal. Huh!

Tentu saja aku tidak suka semua itu. Kalau saja ada cara untuk membuat mereka mengabaikanku, hingga aku bisa berjalan lebih tenang…

Langkah Ketiga: Teguran


Ada kalanya manusia segera menoleh kepada-Nya saat dipanggil. Namun banyak juga yang pura-pura tuli seperti aku. Sehingga harus ditegur dengan sebuah lemparan batu dari atas, agar mengaduh dan reflek mendongak walau dengan hati gusar.

Maka, tibalah titik itu. Saat di mana aku merasa semua masalah datang bertubi-tubi. Dan tak ada satu pun yang dapat kuajak bicara apa lagi meminta tolong. Karena semuanya sedang bermasalah denganku! Pelajaran berantakan, teman-teman yang bergesekan dan orangtua yang entah ke mana.

Ya, aku memang malas belajar dan jadi uring-uringan dengan hasil nilaiku. Bicara pada teman sebangku pun aku sudah bisa menebak apa katanya nanti, “Makanya to, Far, belajar! Kamu itu sebenarnya pintar, tapi malas.” Ah, bosan! Kalau aku pintar, mestinya aku tak perlu belajar, kan?

Menurutku, ini semua karena para guru yang terlalu ribet saat menilai. Mengapa memangkas langkah perhitungan tidak boleh? Mengapa harus ditulis lengkap? Aku kan tidak membutuhkan langkah sepanjang itu untuk mendapatkan hasil yang sama.

Pelajaran Ilmu Sosial pun lebih mengecewakan lagi. Mengapa jawaban esai harus ditulis dengan kalimat panjang lebar? Mengapa tidak cukup dengan menyebut intinya saja? Dan aku terus kecewa pada setiap orang yang kutemui. Tidak ada satu pun di antara mereka yang beres di mataku. 

Lama-kelamaan, aku lelah menghadapi semua orang. Aku lelah menghadapi hari. Aku lelah menghadapi diriku sendiri. Mengapa aku marah pada semuanya? Mengapa semua orang salah dan hanya aku yang benar? Jangan-jangan, justru sebenarnya aku yang bermasalah.

Ada yang salah dengan diriku. Ada banyak hal yang salah pada diriku. Sepertinya, selama ini aku begitu sombong, kasar, nekad, tidak peduli aturan dan masih banyak lagi. Itulah yang membuatku begitu kacau belakangan ini. Kemudian, aku bingung. Bagaimana cara menyelesaikannya?

Langkah Keempat: Penyerahan



Saat manusia tak ada yang dapat diajak berbicara, siapa lagi yang bisa diandalkan selain Allah? Tapi, ah… Mana berani aku meminta pada-Nya? Aturan-Nya saja banyak yang kulanggar. Salatku terburu-buru. Puasaku sepertinya hanya tentang lapar dan haus saja.

Namun, aku begitu lemah. Sangat membutuhkan bantuan. Kesendirian ini menyiksaku. Aku hanya bisa menangis tersedu-sedu di hadapan-Nya. Tanpa berani memohon ini-itu. Aku pun sudah tak tahu lagi apa yang baik untukku. Selama ini sepertinya aku terlalu sok tahu tentang keinginanku sendiri.

Masalahku ibarat gulungan benang besar dan sangat kusut. Aku bingung mengurainya. Aku membutuhkan bantuan-Nya. Puas bermalam-malam menangis, aku pun mulai terpikir untuk merayu-Nya. Demi memantaskan diri untuk ditolong. Aku mencari apa yang bisa kuperbaiki.

Salat yang tak khusyu’ kemarin, puasa yang tak bermakna Ramadan lalu, bagaimana memperbaikinya? Aku hanya bisa menata kembali langkah selanjutnya. Salatku wajib lebih berarti. Tindak-tandukku perlu diasah remnya. Keras kepalaku harus ditaklukkan. Lalu, apa lagi?

Langkah Kelima: Pencerahan


Siang itu, aku sedang berkumpul dengan teman sesama Pecinta Alam di sekretariat. Hingga tiba-tiba saja ketua kami menyeletuk, “Da… Da… Rambutmu kok jelek banget, sih?”

Eh, iya ya? Jelek?” tanyaku.
Banget! Malu ih, rambut jelek gitu dipamerin,” katanya tanpa basa-basi.
“Ya, abis gimana, dong. Aku juga malas pakai topi karena pusing,” alasanku.

Tutupin kerudung, dong! Kamu nggak punya, ya? Sini, aku beliin. Asal beneran dipakai, ya. Aku beliin warna putih dan cokelat buat sekolah. Mau, nggak?” ucapnya sungguh-sungguh.
Hmm… Boleh juga. Kamu beliin, ya. Ntar aku pakai,” jawabku antusias.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Penampilan. Ya, penampilanku harus juga diperbaiki. Jika Allah memintaku untuk menutupinya, mengapa tidak kulakukan? Diam-diam, aku mencari buku tentang cara memakai kerudung. Ada! Aku berusaha menghafalnya.

Esoknya, sepulang sekolah, aku minta ikut Mariana, salah satu teman sekelasku yang sudah berkerudung, untuk mampir ke kamar kosnya. Di sana, aku memperhatikan caranya melepas kerudung. Kemudian aku memintanya memakai ulang.

Hah? Buat apa?” tanyanya.
“Aku ingin tahu caranya,” jawabku.
Hei, kamu mau memakai kerudung, ya?” serunya berbunga-bunga.
“Ya enggak kalau kamu cerewet terus. Mana bisa aku memakainya?” sahutku bersungut-sungut. Temanku ini seperti tak peduli. Dia dengan sigap mengajari dan memintaku mencobanya.

Nah, gampang kan?” tanyanya.
Mmm… Iya, sih. Cuma gini aja, ya? Kirain ribet gimana, gitu. Ini nanti nggak lepas begini aja?” tanyaku. Sederet tips memilih dalaman dan bahan kerudung meluncur agar tetap nyaman dan rapi.

“Mar, kamu punya seragam berapa? Kalau ada sisa, aku mau dong, pinjam dulu buat sekolah,” pintaku.
“Oh, O.K. Coba aku tanya teman-teman, ya. Siapa tahu ada yang punya dan pas denganmu,” jawabnya.

Langkah Keenam: Sandungan


Pulangnya, aku diminta menemani Bunda ke rumah salah satu tetangga. Sambil menunggu yang punya rumah datang, kami duduk di halamannya, di bawah pohon yang bergoyang lembut ditiup alunan angin. Tekadku sudah bulat. Kusampaikan keinginanku untuk menutup aurat pada Beliau.

Bunda hanya membisu. Hela nafasnya terdengar berat. Beberapa menit kemudian, keluar juga komentarnya, “Apa tidak cukup dengan memperbaiki yang lain dulu? Berjilbab itu berat, lho. Susah cari kerja, cari jodoh…”

“Ya, semua diperbaiki sambil jalan, Bun. Soal rezeki dan jodoh kan sudah ada Yang Mengatur. Yang penting, aku harus berusaha mengikuti semua tuntunan-Nya. Betul, kan?” tanyaku.
Hmm… Beli kerudung dan baju panjang itu juga perlu uang. Kita harus nabung dulu buat beli sedikit-sedikit,” alasan Bunda.

“Ya, yang penting ada untuk sekolah dulu, deh. Kalau buat pergi-pergi, kan aku bisa pinjam baju Bunda,” jawabku bersemangat.
“Itu kan modelnya ibu-ibu. Nggak pantas buat kamu,” kata Bunda.
“Ya pantas, lah. Kan ibu-ibu juga perempuan. Sama kayak aku,” timpalku cuek.

Langkah Ketujuh: Pertolongan



Jumat itu, sepulang sekolah, Mariana menarik tanganku agar mengikutinya. Seorang siswi menyerahkan bungkusan besar, “Ini dari teman-teman. Semoga cukup, ya.” Isinya seragam panjang putih abu-abu 2 pasang dan seragam pramuka sepasang, lengkap beserta kerudungnya.

Tanpa menunda lagi, esok hari, Sabtu 13 Maret 1999, aku berangkat ke sekolah mengenakan seragam baru. Ini memang hari terakhir pelajaran, di tingkat terakhir, di caturwulan terakhir. 

Kok nanggung sekali? Tidak sekalian saja kalau sudah lulus, atau setidaknya Senin besok?” tanya seorang teman.  
Nanggung gimana? Kalau tertunda sehari, apa aku kuat nanggung dosanya?” tanyaku balik. 

Salah satu yang menguatkanku untuk langsung memakainya hari itu adalah karena sepulang sekolah nanti akan ada pemotretan untuk buku tahunan. Aku tak ingin dikenang dalam keadaan aurat terbuka.

Langkah Kedelapan dst: Selalu Memperbaiki Diri


Itulah titik balik perjalanan menuju syar'i yang kualami. Selanjutnya, aku terus memperbaikinya dengan menggunakan pakaian yang lebih terjaga, tidak tipis, tidak membentuk tubuh, tidak mudah tersingkap dan tidak menyerupai pakaian laki-laki.


Makna jilbab yang sebenarnya bisa kita periksa dalam kamus Arab-Indonesia Al-Munawwir. Di halaman 199, terdapat kata ‘al-jallabiyya(h/-tu)’ dan ‘al-jilbaab(un)’ yang berarti ‘baju kurung panjang, sejenis jubah.’ Sejak mengetahui ini, aku pun konsisten selalu berjubah jika keluar rumah.

Saat ini, gamis syar’i sangat mudah ditemukan. Tidak seperti dulu yang harus menjahit dulu agar tetap sesuai dengan ketentuan syariat. Koleksi busana muslim terbaru dan hijab terbaru bertebaran di mana-mana.

Jadi, Teman-Teman, jangan tunda lagi perjalananmu menuju penampilan yang lebih syar’i, ya. Yuk, mulai dari sekarang juga! Semoga Allah memaafkan segala kesalahan kita yang telah lampau dan menguatkan langkah kita untuk tetap konsisten di jalan-Nya. Amin.

Rabu, 19 September 2018

Hotel Bintang 5 di Bandung: Tips Memilih Hotel yang Tepat untuk Liburan

Jalan Braga (hanyahasya.blogspot.com)

Liburan, jika hanya satu hari, pasti rasanya kurang puas. Terlebih jika mengunjungi salah satu kota yang memiliki banyak tempat wisata menarik. Tentunya kita membutuhkan waktu beberapa hari untuk bisa mengeksplorasi tempat-tempat wisata yang ikonik berikut dengan wisata kulinernya. 

Selasa, 18 September 2018

4 Aktivitas Berlibur Ini Gratis Dilakukan di Paris!

Arc de Triomphe (Sumber: insidr.co)

Biaya ke Paris memang tidak murah. Namun, bersenang-senang di kota ini ternyata tidak harus mengeluarkan banyak uang, lho! Berikut ini berbagai aktivitas gratis yang dapat kita lakukan di Paris. Yuk, disimak!

Minggu, 16 September 2018

Menularkan Hanya Kebaikan untuk Anak


Hari itu, aku bersama anak-anak mampir ke sebuah minimarket untuk membeli beberapa keperluan. Saat tiba di deretan camilan, ada yang menarik perhatianku. Peanut Butter Sandwich. Hmm... Yummy! Ingatanku pun melayang pada kepingan cracker selai kacang camilan masa kecilku.

Jumat, 14 September 2018

Barcelona Park Guell, Paduan Keindahan Alam dan Arsitektur


The Park Güell adalah sistem taman umum yang terdiri dari taman dan elemen arsitektonik yang terletak di Carmel Hill, di Barcelona, Spanyol. Park Güell terletak di La Salut, distrik Gracia Barcelona. 

Rabu, 12 September 2018

Ini Modus Copet di Paris dan Cara Menghindarinya!

Salah satu sudut pemandangan Paris berlatar Menara Eiffel (Sumber foto: insidr.co)

Kota Paris memang cantik. Namun ia juga kerap ‘dihiasi’ oleh para copet dan tukang tipu. Sudah beberapa kali aku mendengar cerita tentang ini dari yang pernah ke sana. Yuk, baca artikel ini agar tetap dapat berlibur di Paris dengan aman dan nyaman!

Jumat, 07 September 2018

Semoga Laptop Jadul Tinggal Kenangan, ASUS di Genggaman

 

Laptop ibarat sudah menjadi salah satu anggota keluarga kami. Untuk menunjang kegiatan sehari-hari, kami kerap menggunakan laptop saat bekerja, belajar, bermain atau keperluan lainnya. Berhubung selama ini dia bukan gawai utama, jadinya agak jadul spesifikasinya.

Senin, 03 September 2018

Pengalamanku Mengikuti Wisata Budaya di Klub Merby


Hai, hai.. Siapa yang sedang menunggu berita terbaru hari ini dariku? Kali ini, kabar terkini dariku adalah tentang pengalamanku beberapa minggu lalu mengikuti Wisata Budaya di Klub Merby, Semarang.