Rahasia Visualisasi dalam Resensi Novel Si Anak Badai

kampoeng rawa

Banyak yang bertanya terkait Resensi Novel Anak Badai yang kutulis lebih dari seminggu yang lalu, terutama soal lokasi pemotretan gambar ilustrasi di dalam resensi. Berikut ini beberapa tanya-jawab yang bisa kukumpulkan.

Tanya: Apakah ilustrasi dalam resensi ini dari penerbit buku?
Jawab: Bukan, semua gambar adalah koleksi foto milikku pribadi, aku yang memotretnya.

Tanya: Apakah gambar-gambar ini diambil di lokasi yang sebenarnya seperti dalam latar tempat novel, atau di tempat yang mirip dengannya.
Jawab: Nggak mungkin di lokasi yang sebenarnya, dong. Kan, latar tempat yang dipakai dalam Novel Si Anak Badai, yaitu Kampung Manowa, adalah fiktif. Jadi, aku mencari tempat yang mirip dan bisa mewakili visualisasinya.

Tanya: Terus, ini di mana motretnya?
Jawab: Di beberapa tempat. Mulai dari yang terbanyak adalah di Kampoeng Rawa, Pantai Marina, ruang seminar gerai Lunpia Cik Me Me, rumah sendiri dan kampung nelayan Tambak Lolok yang semuanya berlokasi di Semarang. Selain itu juga ada koleksi foto di Kota Delta, Sidoarjo.

Sebenarnya, aku juga berburu foto di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang. Sayangnya, tidak ada hasil foto yang layak dipajang dan cukup merepresentasikan suasana Manowa. Kendala utamanya adalah juntaian kabel, tiang-tiang listrik dan jalanan beraspal yang susah sekali dihindari.

Padahal, beberapa momen terasa pas, sihMisalnya, kebetulan saat itu juga sedang ada proyek pembangunan. Jadi, ada banyak bapak bertopi proyek putih dan kuning. Ada buldozer dan eskavator yang sedang mengeruk tanah di pinggir laut juga. Tapi, akhirnya tidak kutampilkan dalam resensi Si Anak Badai.

Iya, aku memang seniat itu mengejar gambaran Kampung Manowa di dalam benak, karena aku ini orang visual. Walau tentu saja, ilustrasinya tidak bisa 100% sama ya, dengan apa yang diceritakan di dalam Novel Si Anak Badai.


Mengenal Kampoeng Rawa


kampoeng rawa

Baiklah, berhubung aku sudah pernah menulis tentang Pantai Marina dan Lunpia Cik Me Me, membahas rumahku sendiri rasanya tak penting, sementara aku tak mengeksplorasi mendalam tentang kampung nelayan Tambak Lolok, jadi aku bahas tentang Kampoeng Rawa saja, ya.

Kampoeng Rawa adalah sebuah ekowisata yang dibangun sejak 2012 dengan memadukan antara wisata buatan yang dikelola penduduk dan keindahan alam yang tersedia. Tanah bengkok desa ini diapungkan dengan drum plastik untuk menghindari bahaya karena dekat lokasi rawa.

Ya, sekitar 60-80% area Kampoeng Rawa ini memang berdiri di atas danau Rawa Pening nan luas yang diapit oleh 5 gunung sekaligus, yaitu: Gunung Merbabu, Gajah Mungkur, Gunung Merapai, Telomoyo serta dataran tinggi yang bernama Ungaran. 

Bisa dibayangkan ya, bagaimana keindahan yang diberikan Kampoeng Rawa untuk memanjakan mata kita. Dimulai dengan hamparan sawah dan jajaran daun teh, berlanjut dengan perairan luas dan dipagari gunung-gunung menjulang. Belum lagi udaranya yang sejuk. Benar-benar membuat betah.


Cara Menuju Kampoeng Rawa


kampoeng rawa

Kampoeng Rawa berlokasi di Jalan Sarbini Km 03, Kelurahan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Jika kita berangkat dari arah Kota Semarang, kita akan sampai ke sana melewati jalan tol baru Semarang – Bawen. 

Keluar dari pintu tol Bawen, belok ke kanan mengikuti arah menuju Yogyakarta. Setelah itu, menuju Kota Ambarawa melewati Jalan Lingkar Ambarawa. Sekitar dua kilometer sebelum perempatan Muncul - Ambarawa, akan terlihat gerbang utama lokasi Kampoeng Rawa di sebelah kiri jalan.


Harga Tiket Masuk Kampoeng Rawa


kampoeng rawa

Nah, ini! Sebenarnya, kami sekeluarga tidak sengaja mengunjungi tempat ini. Jadi, ceritanya kami berencana ke Gumuk Reco di Banyubiru. Namun berhubung perjalanan yang terlalu panjang, sementara waktu sudah hampir sore, kami mencari lokasi wisata yang lebih dekat.

Muncullah nama Kampoeng Rawa ini di aplikasi peta. Kami datang ke sini tanpa membaca referensi terlebih dulu. Ternyata, itu sebuah keuntungan. Sepulangnya dari sini, aku baru tahu kalau banyak artikel yang menyebutkan bahwa harga tiket masuknya 90-100 ribu!

Padahal, berdasarkan pengalamanku, harga tiket masuk ke Kampoeng Rawa ini hanya 2.000 rupiah, lho. Itu pun hanya orang dewasa yang dihitung. Selain itu, ada juga harga tiket masuk bagi kendaraan seperti yang tercantum dalam foto di atas.

Coba kalau aku membaca artikel tentang Kampoeng Rawa dulu sebelum ke sini, pasti kami sudah membatalkan perjalanan karena harga tiket masuk yang mahal. Mungkin memang ada perubahan kebijakan, ya? Mengingat tahun lalu Kampoeng Rawa sempat ditutup.


Resto Apung Kampoeng Rawa


kampoeng rawa

Sepertinya, rumah makan ini adalah daya tarik terbesar dari Kampoeng Rawa. Sensasi berbeda langsung menyergap karena kita harus menggunakan rakit tambang untuk menuju resto. Tak perlu bingung bagaimana caranya, karena ada petugas yang membantu.

Wajar saja jika resto apung Kampoeng Rawa membuat para pengunjung antusias, karena kita seakan sedang makan di dalam kapal yang berlayar tenang di danau. Balai tanpa dinding memungkinkan pengunjung menikmati hidangan dan pemandangan sekaligus.

Pengunjung bisa memilih menikmati hidangan di ruang utama berkapasitas 100 orang ataukah di balai-balai kecil di sekitarnya.

Sajian menu di resto apung Kampoeng Rawa ini berupa olahan dari daging ayam dan ikan yang dipanen dari puluhan keramba nelayan yang berada di Danau Rawa Pening. Ada Gurami, Nila, Lele, Kerapu, Ikan Mas dan aneka hidangan dari daerah lain khas Indonesia.

Demikian pula, beras dan sebagian besar bahan mentah untuk ramuan kuliner di resto apung eksotik ini dibeli dari petani dan UKM. Kabarnya, di sini juga tersedia minuman unik yang terbuat dari eceng gondok.

Kami memang belum berkesempatan untuk mencicipi makanan di sini, sehingga aku tidak bisa berkomentar tentang rasanya.


Permainan di Kampoeng Rawa


kampoeng rawa

Kalau tidak makan, lalu kita bisa ngapain aja di sini? Banyak! Ada berbagai wahana seru yang bisa kita gunakan untuk beraktivitas di Kampoeng Rawa. Misalnya, dengan mengarungi danau di depan resto apung menggunakan bebek air.

Kampung Rawa

Selain itu, masih ada banyak jenis permainan yang bisa dinikmati dengan tarifnya masing-masing. Bisa diintip informasinya pada foto di atas. 

Putraku sempat merasakan memancing di sini. Areanya dihiasi dengan caping-caping aneka warna yang menggantung. Kata putraku, "Ikan di sini pintar-pintar. Mereka selalu bisa lepas setelah kena kail." Hahaha, pantas saja dia tidak membawa hasil tangkapan seekor pun.

kampoeng rawa

Sebagaimana umumnya tempat wisata, di Kampoeng Rawa juga kita bisa menemui aneka pedagang menjajakan mainan, makanan dan minuman. Anak-anak senang sekali ketika mendapati gelembung sabun yang dibelinya bisa menjadi panjaaang ...


Musala dan Fasilitas Lain di Kampoeng Rawa


Kampoeng Rawa

Musala di sini bisa langsung terlihat dari jalan besar, karena posisinya yang berada di sisi luar. Tampak mencolok di tengah sawah dan di atas genangan rawa. Yang mengejutkan, musala ini mirip dengan masjid dalam Novel Si Anak Badai.

Berdinding kayu dan hanya dapat diakses melalui jembatan kayu yang sedikit bergoyang saat orang berjalan di atasnya. Karuan saja, aku mengeluarkan Novel Si Anak Badai yang memang kubawa ke mana-mana. Aku berniat memotretnya di lokasi yang mendukung.

Kampoeng Rawa ini juga dilengkapi dengan joglo besar yang bisa digunakan untuk beracara. Selain itu, lahan parkir di sini juga luas.


Naik Perahu di Kampoeng Rawa


kampoeng rawa

Menurutku, dan sepertinya juga seluruh anggota keluargaku yang ikut ke Kampoeng Rawa, aktivitas paling mengasyikkan di sini adalah naik perahu mengarungi danau Rawa Pening. Harga tiketnya dihitung per perahu motor berkapasitas 10 orang, yaitu 100.000 rupiah.

Mengapa kami suka naik perahu di Kampoeng Rawa? Pertama, karena tidak perlu menunggu hingga perahu cukup banyak penumpang baru meluncur. Berhubung memang tarifnya dihitung per perahu, ya.

kampoeng rawa

Kedua, karena memang kami suka menjelajahi perairan. Aktivitas seperti ini kan, tidak selalu bisa kami lakukan dalam keseharian. Ketiga, karena lintasannya jauh dan durasinya juga lama. Jadinya puas!

kampoeng rawa

Keempat, pemandangan yang menakjubkan! Kalau sebelumnya kita sudah dibuat terkesima dengan pemandangan sejak memasuki pintu gerbang Kampoeng Rawa, maka panorama di tengah danau ini benar-benar tak tergantikan!

Ayunan air danau, ketekunan para nelayan menangkap ikan, siluet biru pegunungan ditimpa semburat emas langit senja, ... Ah..

kampoeng rawa

Belum lagi bonus tambahan saat kami bisa menyaksikan bangau dari dekat hingga terbang gagah di tengah udara. Juga riuhnya pasukan bebek yang seolah tak bosan menceburkan diri, naik ke daratan dan kembali bermain air sejak perahu kami berangkat hingga pulang.


Waktu Buka Kampoeng Rawa


Segala sensasi indah milik Kampoeng Rawa ini bisa kita nikmati mulai pagi jam 8 hingga malam hari jam 7. Kampoeng Rawa buka setiap hari, bahkan di hari libur nasional dan keagamaan.



Jadi, kapan mampir ke Kampoeng Rawa?

10 komentar

  1. Wiih... Ada ya di Jawa Tengah kampung yang berdiri di atas Rawa dan diapit oleh 5 gunung. Kok keren sih kampungnya.

    Kalau untuk suhu di kampungnya gimana Kak? Dingin / panas?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah disebutin sebenarnya di artikel. Udaranya sejuk karena kan di kaki gunung

      Hapus
  2. Wah keren.. niat sekali...
    Btw, saya juga lg keranjingan menulis novel nih... hehe...
    itu postingan terakir blog saya juga mengenai novel yang rencananya sedang saya garap... minta masukannya ya...

    BalasHapus
  3. waaa bagus banget ya pemandangan di sanaa, btw aku dibuat salfok nih sama harga tiket masuk nya yang sangat sangat terjangkau yaa hihhihi, aku belum pernah ke sana hehehe

    BalasHapus
  4. Seru banget melihat foto-fotonya serasa ikutan berjalan jalan kesana mba, nice writing anyway!

    BalasHapus
  5. tempat hiburannya lengkap. bikin betah sekeluarga.. cocok nih utk itinerary liburan klo ke semarang..

    BalasHapus
  6. Ngeliat postingan liburan ke alam kayak gini langsung deh pengen liat tgl liburan Natal nanti

    BalasHapus
  7. Aku harus tahan diri ini, tahaann... jangan iri.. nanti bisa buat liburan, meski gak tau kapan hahahah

    BalasHapus
  8. Tempat yang bagus adalah tempat yang memicu inspirasi. Salah satunya di Kampoeng Rawa ini. Sebuah spot yang meski disentuh modernitas, tetap tidak hilang nuansa alamnya.

    BalasHapus

Hai, terimakasih sudah berkunjung.
Jejakkan komentarmu di sini ya... ^_^