Doa Akhir Ramadan untuk Putriku

Menyembuhkan Luka

Bulan Ramadan seharusnya merupakan bulan penuh rahmat. Segala kebaikan tumpah ruah di dalamnya. Sayangnya, tidak semua orang bisa memahaminya dengan cara yang sama. Seperti putri sulungku, misalnya.


Saat Ramadan Bukan Lagi Rahmat


Setiap kali memasuki Bulan Ramadan, ia justru merasakan kekawatiran yang sangat. Tak heran, karena memang beberapa tahun yang lalu, ia banyak mendapatkan perundungan di bulan suci ini. Bulan Ramadan dan hari ulang tahunnya adalah dua di antara momen pemicu trauma bagi dirinya.


Bulan Ramadan dalam benaknya identik dengan berkumpul bersama anak-anak TPA yang kelewatan isengnya, mercon, dan berbagai luka yang diabaikan. Semua selalu dibungkus dengan kebungkaman atas dalih tuntutan agama untuk saling memaafkan serta tidak membicarakan aib orang lain.

Kejadian yang terus berulang, yang tak pernah dibagikan pada orang-orang terdekat seperti orang tua, dan tetap didukung atau didiamkan oleh orang-orang yang melihatnya, membuatnya menumpuk dan menghasilkan PTSD dalam diri putriku.

PTSD (post-traumatic stress disorder) atau gangguan stres pascatrauma adalah gangguan mental yang muncul setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa yang tidak menyenangkan. PTSD merupakan gangguan kecemasan yang membuat penderitanya teringat pada kejadian traumatis.

Selain itu, tahukah kalian? Kecemasan yang dialami putriku ini semakin tebal akibat rajin mengikuti berbagai program pesantren kilat. Entah mengapa, di dalam hampir semua pesantren kilat yang diikuti putriku, selalu ditutup dengan acara muhasabah yang merangsang anak-anak untuk menangis.

Biasanya, tema yang diangkat adalah tentang bakti kepada kedua orang tua. Caranya adalah dengan mempertontonkan video tentang orang tua dan anak yang kemudian sang orang tua meninggal. Anak-anak pun diminta ikut membayangkan jika seandainya orang tuanya sendiri yang meninggal.

Siapa yang tidak akan menangis karena itu? Tentu saja program muhasabah ini kemungkinan besar agar berhasil membuat anak-anak menangis. Namun, apakah sudah dipertimbangkan efek buruknya bagi sisi psikologis mereka?

Cara muhasabah seperti ini mungkin bagus bagi orang dewasa karena rata-rata orang tua mereka sudah mulai memasuki usia lanjut. Sebuah fakta yang seharusnya memang mau tidak mau menuntut kita mempersiapkan diri untuk sewaktu-waktu kehilangan kedua orang tua kita.

Namun, bagaimana dengan anak-anak? Akal mereka belum sempurna. Mengapa diberi bayangan yang sangat kelam? Mengapa diberi kejutan peristiwa yang bahkan orang dewasa pun belum tentu sanggup tegar menghadapinya?

Tidak adakah cara yang lebih aman untuk menanamkan rasa bakti pada kedua orang tua? Sependek pengetahuanku, dalil-dalil yang mengingatkan kita untuk berbuat baik kepada orang tua tidak ada yang disampaikan dengan cara traumatis.

Kebanyakan, isinya berupa penyebutan jasa-jasa kedua orang tua kita yang telah mengandung, melahirkan, menyusui, merawat, menafkahi, mendidik, dan melindungi kita. Tidak pernah aku dapati tuntutan untuk berbuat baik pada orang tua karena sewaktu-waktu mereka bisa meninggal.

Akibatnya, setiap malam pertama Ramadan, putri sulungku akan sering menangis diam-diam, kadang sampai sesenggukan, atau bahkan meraung-raung karena ketakutan jika kedua orang tuanya tiba-tiba wafat.

Seharusnya, Bulan Ramadan adalah bulan penuh rahmat. Jika kalian mendapati orang-orang terdekatmu tidak berpikir demikian, tolong, peluklah dia. Bisa jadi, kita-kita inilah yang telah membuatnya kesulitan merasakan berkah Ramadan.

Menyembuhkan Luka

Mampukah Ekstrovert Menyembuhkan Diri Sendiri?


Banyak yang berpikir, bahwa orang introvert lebih rentan mengalami trauma dan depresi. Padahal, tidak juga. Keduanya berpotensi sama, hanya saja cara dan alasan trauma serta depresinya bisa jadi berbeda.

Kelebihan seorang introvert adalah dia biasanya lebih mampu self healing karena memang lebih suka dan terlatih untuk mengatasi masalahnya sendiri. Sedangkan seorang ekstrovert, selalu membutuhkan bantuan orang lain untuk menyembuhkan luka.

Depresi akan terjadi saat kebutuhan ekstrovert ini tidak terpenuhi karena buntunya akses untuk meminta bantuan. Karenanya, jangan hanya memperhatikan anak introvert untuk selalu didampingi (yang bisa jadi mereka merasa jengah, karena lebih suka sendiri) dan mengira anak ekstrovert pasti akan langsung bercerita begitu membutuhkan uluran tangan kita.

Saat kondisi sedang tidak ideal, anak ekstrovert bisa jadi tidak mampu menyampaikan kebutuhannya. Hal ini bisa mengantarkan pada depresi yang lebih dalam dibandingkan anak introvert yang selalu punya cara untuk menghibur diri sendiri.

Doa Akhir Ramadan


Bagaimana pun, kemampuan menyembuhkan diri sendiri sangat dibutuhkan oleh setiap orang. Tidak setiap saat kita bisa bergantung pada orang lain. Jika kita terus berlatih untuk bersandar pada Zat Yang Maha, insyaallah, Dialah yang menyembuhkan kita.

Sebagai seorang anak yang masih sangat membutuhkan uluran bantuan, aku sangat berharap agar putri sulungku bisa menjadi pribadi yang lebih kuat dan dapat kembali ceria seperti sedia kala. Mungkin kita sudah hafal doa-doa yang dianjurkan untuk dibaca di sepuluh hari terakhir Ramadan. 

Allahumma innaka afuwun tuhibbul afwa fa’fu annaa (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau mencintai permaafan, karena itu maafkanlah daku).

Semoga kita semua termasuk orang-orang yang mampu memaafkan diri sendiri dan orang lain, agar mendapatkan ampunan-Nya. Di hari-hari yang istimewa ini, aku memohon berkah yang besar dari-Nya.

Sebagai orang tua yang terus berjibaku dengan serangan mental pada diri anak selama bertahun-tahun di sepanjang Ramadan, sungguh aku mengiba belas kasihan-Nya agar menitipkan kemampuan menyembuhkan diri sendiri ke dalam hati anak-anakku.

Ya, Allah, kabulkanlah! Sesungguhnya, Engkaulah Zat Yang Mengabulkan Doa dan tidak pernah membiarkan hamba-Nya tersia-sia. Amin.

Posting Komentar